![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
"Rio? Masuklah!"
Sebuah tepukan ringan mendarat di bahunya. Sontak Mario terkesiap. Menyadarkannya dari rasa termenungnya. Ah, entah berapa lama hanya berdiri tertegun di depan pintu ruangan ini. Tanpa melangkah sama sekali - mendekati tempat tidur beberapa jengkal darinya. Hanya mampu menatap nanar sosok yang tak sadarkan diri beberapa jam yang lalu. Berbaring lemah, membuat kinerja jantungnya pun ikut berhenti berdetak seketika.
"Dia baik-baik saja Rio, hanya luka ringan di kepalanya."
Helaan napas lega samar keluar dari cela bibir Mario---sedikit mengurangi rasa cemasnya---kala mendengar penjelasan dari Chase. Dokter yang menangani langsung keadaan sang istri.
"Hanya saja, dia---"
Degh!
Mario berusaha menekan detakan jantungnya. Irisnya begitu lekat menyoroti kakaknya. Memperhatikan raut wajah Chase berubah serius, serta sedikit menegang. Bila seperti itu. Tak ayal membuatnya ikut-ikutan tegang. Jantungnya semula berhenti berdetak, kembali berdebar kencang seketika. Saat ini keadaan dirinya bagaikan menaiki roller coaster terpanjang di dunia.
Mario meneguk salivanya berulang kali, tampak begitu gugup. Dirinya hanya diam, menunggu penjelasan terputus dari belah bibir kakaknya.
Chase membenahi letak kacamatanya - sedikit melorot dari batang hidungnya. Memberikan papan klip pada suster, kebetulan lewat di depannya. Dengan satu helaan napas panjang - terasa sangat sesak menghirup udara pengap di sekitarnya. Kembali bersiap melanjutkan ucapannya yang tertunda. Sangat berat untuk mengucapkan kata selanjutnya, meluncur dari bibirnya saat ini. Itulah yang ditunggu dengan cemas oleh adiknya sedari tadi.
"Sebaiknya ... kau ikut keruanganku saja, Rio. Banyak yang ingin kujelaskan padamu." Chase meremat bahu tegap adiknya, berlalu dari hadapannya.
Mario mengembuskan napas berat. Pada akhirnya, Chase tetap menyuruh ke ruangannya. Benar-benar mengkhawatirkan. Melirik sekilas pada sosok manis-nya, terbaring diam di atas ranjang. Masih setia memejamkan matanya. Sementara dia masih tetap tak mampu mendekatinya. Sudahlah, nanti saja. Sebaiknya sekembali dari ruangan Chase saja mendekati sosok manis-nya.
Pria muda ini memutar irisnya, beralih menatap sosok lain di sisi Davina. Ah, ia baru sadar. Lelaki berpakaian formal, berdiri tegap, bagai model berjalan di atas catwalk itu dengan ekpresinya begitu datar dan dingin, sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku slim fitnya. Kalau tak salah ... dia adalah pengacara Alexander Brave.
Kedua alisnya bertautan, kenapa pengacara muda itu bisa ada di sisi istrinya? Kenapa Davina bisa terluka? Serta jatuh pingsan begitu? Lalu, soal ibunya ....
Ah, ia menggelengkan kepalanya, sungguh tak mengerti. Ada banyak pertanyaan dalam benaknya. Ia pun berbalik, lebih baik ke ruangan Chase, mendengar penjelasan soal sang istri. Itu lebih penting saat ini - mengetahui kondisi sosok manisnya.
*This Is Your Baby*
"Vina? Astaga! Akhirnya sadar juga."
Suara serak Fabian perlahan mengalun di telinga Davina. Ia mengerjap beberapa kali. Mengusap kepalanya yang berdenyut. Eung, sudah berapa lama dia pingsan? Menatap sekeliling ruangan. Oh baru ingat, sebelum tak sadarkan diri, ia berada di rumah tak berpenghuni. Terlibat bentrok dengan Roxanne dan Darrel, lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap, bersamaan pusing di kepala menyerangnya.
Wanita muda ini mendecak sebal bila mengingat kejadian yang membuatnya harus berbaring di ranjang rumah sakit ini. Tangannya terkepal. Amarahnya kembali meluap. Berang sudah pasti. Mengetahui kalau Darrel yang selama ini dikenalnya ... ternyata tak sebaik yang disangka. Hanya memanfaatkan kakaknya untuk mematainya.
Sialan. Jadi selama ini Darrel juga terlibat dalam kematian kak Lana atas perintah Roxanne.
"Vina?"
"Eung ..."
Davina hanya menjawab ucapan Fabian dengan dengungan samar, bersamaan seorang suster masuk ke ruangan. Iris coklat beningnya, memperhatikan lekat suster itu - memeriksa kepalanya. Sedikit menekannya.
"Apakah masih sakit, Nyonya Davina?"
"Sedikit ... euuum, masih terasa berdengung--- kepalaku ... tak ada luka yang serius, kan, suster?" tanya Davina.
"Sejauh ini ... tidak ada." Sang perawat menggeleng. Tersenyum tipis.
Davina menghela napas lega. "Syukurlah, setidaknya aku bisa pulang cepat, kan, suster? Jujur, aku tak mau berlama-lama di rumah sakit." Irisnya beralih menatap Fabian - masih setia berdiri di sampingnya. Pengacara muda ini hanya mengangkat kedua belah bahu. Keputusan sepenuhnya ada di tangannya.
"Tentu saja bisa. Tapi ... setidaknya, tunggu persetujuan dari Dr. Chase dahulu," jelas suster, tersenyum ramah. Lalu berbalik meninggalkan ruangan.
__ADS_1
"Ck! Jadi kakak ipar yang menanganiku. Astaga!"
Davina mengerang frustasi. Mengempaskan tubuhnya, berbaring kembali ke atas tempat tidur. Menutupi setengah wajahnya dengan lengan. Dibiarkan saja Fabian menyelimuti tubuhnya.
"Kurasa ... Dr. Chase tahu, kalau kau sudah sembuh dari amnesiamu, Vina." Fabian mengelus dagunya. Mengingat-ingat kembali kala dokter muda itu memeriksa keadaan Davina. Dr. Chase tak banyak bicara. Hanya mengerutkan dahi saja. Dari sana, Fabian bisa menarik kesimpulan.
"Ck! Berengsek! Ini semua karena ulah dua bedebah gila sialan itu! Andai mereka tak memukulku, tentu aku tak berada di sini! Errrgh ... Pergi ke neraka saja mereka! Tak pantas hidup di dunia ini!" geramnya menyumpah serapah.
Dirematnya selimut di sebelah sisinya. Menyingkirkan lengan di wajahnya. Davina menoleh ke samping. Menatap lurus keluar jendela. Giginya gemerutuk. Sakit hatinya kembali menguak kepermukaan saat mengingat kembali kelakuan busuk Darrel. Bekerja sama dengan Roxanne, hingga menyebabkan Arlana meninggal.
"Mulai dari sekarang kau bisa tenang, Vin. Berkat kejadian ini, Roxanne dan Darrel langsung diciduk polisi. Sebab telah menghilangkan nyawa seseorang, hukuman mereka menjadi hukuman seumur hidup. Selamanya mendekam di penjara." Fabian menjelaskan. Menenangkan amarah Davina.
"Heum, baguslah. Mati membusuklah mereka di penjara. Sialan! Aku tak ingin ada sidang lanjutan untuk kasus ini. Kau tau sendiri kan, Fabian."
Fabian menyeringai. "Tentu saja aku tahu, Vin."
Ya. Bila sidang kembali digelar, bukan tak mungkin, Roxanne bisa bebas melenggang keluar dari penjara. Mengingat kekuatan yang dimiliki keluarga Archielo tak main-main di kota ini.
Dan sampai mati pun, Davina takkan mencabut tuntutan tersebut. Biarkan Roxanne menerima balasan atas perbuatannya. Bukankah semuanya sangat setimpal?
Setidaknya, Davina masih berbaik hati. Tak balik menuntut nyawa Roxanne dihukum mati. Membiarkan wanita tua itu menghabiskan sisa akhir masa tuanya di dalam penjara, sembari menunggu kematian menjemputnya. Menuai apa yang ditanamnya.
Davina menghela napas lega. Setidaknya, satu masalah besarnya telah selesai. Meski meninggalkan sisa luka mengangga di hatinya dan kedua orang tuanya.
"Omong-omong, Fabian. Kau tidak menelepon orang tuaku, kan?" Davina kembali bangun, menyenderkan tubuhnya ke sandaran ranjang. Sekilas ia meringis. Memegangi kepalanya yang berdenyut tiba-tiba. "Geez, sial," gumamnya sembari mengelus kepala.
"Tidak, Vin. Aku sangat tahu sifatmu." Fabian berdiri. Diambilnya satu botol air mineral dan membukanya, sekalian memasukkan sedotan ke dalamnya. "Minum ini, agar tak terlalu pusing," lanjutnya seraya menyerahkan botol minuman pada Davina.
"Terima kasih." Davina segera menyeruput air mineral tersebut. Seketika rasa dingin menyergap tenggorokannya. Meringis kecil setelahnya.
"Hn! Fabian ... Aku tak ingin kedua orangtuaku cemas bila mendengarku masuk rumah sakit. Lagipula, sore nanti juga sudah bisa pulang," sambungnya, meletakkan kembali botol minuman ke atas meja nakas.
Wanita muda ini menghela napas. Diliriknya Fabian - sibuk mengecek ponsel. Pria ini masih mendengar curhatan tadinya-kah?
"Fabian," panggilnya.
"Heum ..." Fabian hanya membalasnya dengan gumamam, fokus membalas chat di sosmed-nya.
Davina menggembungkan pipi. Ia menarik napas pendek-pendek. Kedua tangannya menopang dagu, kembali memandang lurus keluar jendela. Sudut bibirnya terangkat. Tersenyum tipis. Memperhatikan sepasang nenek dan kakek - bercengkrama di bangku taman rumah sakit. Aih, betapa bahagianya bila selalu bersama-sama sampai di hari tua. Saling menggengam tangan. Saling bercanda satu sama lainnya. Saling melempar senyum. Astaga, jadi iri.
Fabian menengadah. Memasukkan ponsel ke dalam jasnya.
"Omong-omong, Vin ... tadi ada Mario di sini. Eung ... Kau masih ingin melanjutkan kasus yang ini-kah?!"
*This Is Your Baby*
"Duduklah dulu, Rio!" Chase menunjuk kursi di depannya. Tak berapa lama dirinya datang ke ruangan - sang adik menyusulnya di belakang.
"Bagaimana kondisi Vina?" Serbu Mario tak sabaran. Baru saja pantatnya mencium kursi, dirinya sudah gelisah mendengarkan penjelasan selanjutnya - meluncur dari belah bibir Chase. Hatinya resah.
Dokter muda ini melepas kacamatanya. Meletakkan benda tersebut ke atas meja kerjanya. Berdiri dari kursi nyamannya. Beringsut berjalan ke arah kulkas mini di sudut ruangan. Mengambil dua buah minuman isotonik.
"Minumlah dahulu." Chase menyodorkan sebotol minuman segar ke depan Mario. Kemudian diletakkannya di atas meja kerjanya saat mendapati sang adik hanya diam bergeming, tanpa menyambut minumannya.
"Sudah kukatakan sedari awal, jangan berlebihan akan cemasmu. Dia baik-baik saja," lanjutnya begitu tenang sembari menarik kursi. Duduk kembali.
__ADS_1
"Arrgh, tetap saja Chase---"
"Kau tahu, Rio. Penyebab Vina masuk rumah sakit?" potong Chase, memandang lekat wajah panik nan gelisah adiknya.
Mario menggeleng pelan. Ia terpaku memandangi botol minuman di depannya - sama sekali belum disentuhnya.
"Sebelumnya, Vina dan Mommy terlibat bentrok."
"Apa?!" Mario membelalak, begitu terkejut. Pantas saja Chase menyebut ibu mereka di telepon tadi.
"Astaga, apa lagi kali ini ..." Berulang kali Mario mengembuskan napas, terasa makin berat mencekiknya. Diusapnya wajah kusutnya. Sungguh tak menyangka. Roxanne, ibunya kembali berbuat ulah, sampai menyebabkan istrinya masuk rumah sakit. Pantas saja tiga hari berada di luar kota, pikirannya selalu tidak tenang. Ternyata inilah firasat buruknya. Sosok manisnya masuk rumah sakit. Bahkan hingga kini, dadanya masih terus berdebar tak jelas.
"Lalu, Mommy sekarang di mana?" tanyanya dengan gigi beradu. Ia marah. Ternyata ibunya melanggar lagi larangannya. Astaga! Mario memijat dahinya yang berdenyut. Berapa kali ia harus mengulangi lagi, memperingatkan ibunya untuk tak menganggu hidup Davina.
"Mommy lagi di penjara," jelas Chase.
"Di penjara?! Kenapa bisa?" Mario nyaris terlonjak dari duduknya. Sangat kaget mendengarnya.
Chase mengembuskan napas. Dielusnya permukaan botol minuman isotoniknya.
"Mommy-lah yang selama ini menyebabkan Arlana meninggal dunia. Juga dalang di balik kecelakaan, serta amnesia Vina."
"Ya, Tuhan! T-tak mungkin ..." Rahang Mario seketika mengeras. Tak percaya akan penjelasan Chase. Berkali-kali ia menggelengkan kepala. Sulit dipercaya. Dia pikir, ibunya hanya benci pada Davina. Namun tak sampai berbuat senekad itu.
"Ya! Memang sangat sulit dipercaya, Rio. Tapi ..." Chase menatap lekat ekspresi terkejut adiknya. Mengingatkan akan ekspresinya pada kejadian beberapa jam yang lalu.
Semuanya tampak kacau secara bersamaan. Dirinya mendapat dua panggilan. Satu dari ayahnya, memberi kabar bahwa ibunya baru saja masuk penjara. Kemudian panggilan dari perawatnya, mengatakan bahwa Davina butuh pertolongan. Ternyata, dua kejadian itu saling berkaitan.
"...begitulah kenyataannya yang terjadi, Rio. Untuk Mommy, kami tak bisa berbuat banyak lagi," lanjutnya seraya mengangkat kedua belah bahunya. Menyerah. Karena ini sudah masuk ranah hukum. Serta berkaitan dengan menghilangkan nyawa seseorang. Mau bagaimana pun. Di sisi apa pun, ibu mereka tetaplah bersalah.
Mario mengelus dahinya. Sungguh kepalanya seakan mau pecah. Betapa informasi yang baru saja didapatinya membuat kepalanya makin berputar-putar. Belum lagi detakan jantungnya yang kian menggila. Menggigit bibirnya. Ah ... apa lagi setelah kejadian ini?
Adakah hal lain lagi yang menunggu dunianya runtuh kali ini?
"Tadi Mommy menitip pesan padaku, Rio ..."
Alis Mario terangkat sebelah. Menatap penuh tanya pada Chase - mengetuk-ngetuk meja kerjanya.
"Mommy terus mendesakku. Menyuruhmu untuk membujuk Vina. Setidaknya ... mencabut tuntutannya. Atau minimal, meminta keringanan hukuman untuk Mommy."
Mario mendesah keras. Mengusap kasar wajahnya. Astaga, itu sangat tidak mungkin. Bagai menegakkan benang basah. Mustahil untuk dilakukan. Mengingat betapa fatalnya kesalahan Roxanne kali ini. Melenyapkan nyawa manusia, apalagi itu keluarga istrinya.
"Huft! Baiklah, akan kucoba berbicara pada Vina. Tapi ... jangan terlalu banyak berharap dariku. Kau tahu sendiri, Chase. Bagaimana sikap Vina," jelasnya sembari mengembuskan napas ke udara. Ia sangat tahu, betapa sakitnya Davina saat ini. Sungguh tak memungkinkannya, untuk membahas hal ini.
"Ya, aku mengerti." Chase kembali memasang kacamatanya.
Lama keheningan terjadi di antara mereka. Hingga pria bermata bulat ini memilih beranjak dari duduknya. Tidak betah. Gelisah makin merajainya. Sebaiknya ia menemui istrinya di ruang inap.
"Chase, tak ada yang ingin dibicarakan lagi, kan? Aku ingin menemui Vina."
"Tunggu dulu, Rio ..."
Mario memutar tubuhnya. Ditatapnya heran sang kakak, seakan-akan ragu untuk mengatakan sesuatu padanya. "Apa lagi?" tanyanya.
"Vina ...” Chase menatap lekat mata elang Mario. “...ingatannya sudah pulih kembali."
====================
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1