![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
[Empat belas bulan yang lalu ....]
“Hey! Mau sampai kapan kau berdiri di sana?”
Mario bersidekap. Pandangannya begitu tajam menusuk pada Davina. Sosok itu hanya berdiri saja di ambang pintu hotel milik keluarganya. Ditariknya lengan jas yang dibuat khusus untuk pernikahannya. Ya. Pernikahannya bersama gadis itu. Gadis yang dia sendiri belum mengenal persis siapa dirinya.
Baru lima belas menit yang lalu acara resepsi pernikahan mereka diadakan. Setelahnya mereka disuruh oleh ketua keluarga Archielo untuk menginap di hotel. Andaikan saja nenek Erika tidak memaksanya menginap di hotel, sudah tentu ia memilih untuk pulang ke mansion, tidur di kamarnya sendiri. Bisa saja dia pergi meninggalkan gadis ini sendirian di sini. Tetapi mengingat ancaman nenek Erika tidak main-main padanya, mencoret namanya dari daftar keluarga Archielo selama-lamanya.
Well. Dia sih fine-fine saja dikeluarkan dari keluarga Archielo mengingat dirinya cukup mapan untuk menghidupi diri sendiri. Tetapi Roxanne. Memohon padanya agar tidak keluar dari keluarga Archielo. Ya. Dengan sangat terpaksa ia menuruti semua kehendak nenek Erika, demi ibunya, termasuk menikahi gadis ini---tidak, sekarang sudah resmi menjadi istrinya, yang bahkan ia sendiri baru tahu siapa nama gadis itu ketika mengucapkan janji suci tadi. Kalau tidak salah namanya adalah Davina. Nama yang cukup bagus dan indah.
Tetapi sekali lagi dia tekankan, tidak tertarik sama sekali pada semuanya. Sejujurnya, ia masih ingin menikmati masa mudanya tanpa terikat pernikahan. Masih ingin menikmati semua keindahan surga dunia tanpa ada yang melarangnya.
Tetapi kini ... Mario menarik paksa dasinya, seolah ikatan dasi itu mencekik lehernya. Serta melemparkan jasnya ke lantai, seakan ingin menarik beban yang begitu berat dipikulnya. Auranya begitu muram, bagaikan ingin menelan sosok yang masih saja berdiri bagai patung di ambang pintu itu. Terlihat jelas dari tingkah pria ini, bahwa dirinya sangat tidak menyetujui pernikahan kilat ini.
Baru tiga kali dirinya bertemu dengan gadis ini. Pertama, seminggu yang lalu, ketika menidurinya. Kedua, keesokan harinya---setelah kejadian menidurinya---dia dipaksa sang nenek pergi ke rumahnya untuk melamarnya. Dan pertemuan ketiga, saat mengucapkan janji suci, hari ini. Setelah hari ini, dirinya akan terus bersama wanita ini.
Astaga! Mario mengusap wajahnya. Sungguh tidak menyangka akan jadi begini. Lihatlah wajah wanita itu. Begitu bodoh atau memang berpura-pura bodoh. Pantas saja dia berani menyerahkan keperawanannya, ternyata untuk menjeratnya dalam pernikahan.
Sialan. Seharusnya aku tidak menidurinya waktu itu, kalau tahu akan terjadi begini. Mario bersungut kesal dalam hati sembari membuka satu persatu kancing kemeja putihnya.
“Hey! Kau dengar, bodoh!” Kembali Mario berteriak kala Davina tetap diam bagai patung.
“Kau sekarang punya dua pilihan. Pergi dari sini, atau segera masuk dan tutup pintunya!” perintah Mario menatap tajam Davina.
Davina tersentak mendengar teriakan Mario. Ia tak punya pilihan selain masuk. Pergi? Sama saja mempermalukan dirinya sendiri dan nama keluarganya. Mana ada pengantin kabur di hari pertama pernikahan mereka.
Davina menghela napas pendek. Segera menuruti ucapan Mario. Dengan pelan menutup pintu. Dan sekarang apa yang akan dilakukannya setelah berada di dalam? Oh, tentu saja hal pertama dilakukannya adalah mengganti gaun pengantin yang melekat di tubuhnya ini. Seperti yang dilakukan pada pria yang sudah berstatus menjadi suaminya itu. Mario, setelah mengganti pakaiannya segera tidur dengan posisi membelakanginya. Tidak peduli apa pun pada dirinya.
Sekali lagi Davina menghela napas pendek. Meraih pakaian tidurnya di dalam lemari - sebelumnya telah disiapkan oleh pihak keluarga Mario. Segera memasuki kamar mandi. Lama Davina berdiri di depan cermin. Memandang sosok wanita muda yang berbalut pakaian pengantin di depannya.
Diusapnya cermin di depannya. Sebulir cairan bening mengalir di sudut matanya. Sungguh ia tidak memimpikan hal seperti ini terjadi. Seharusnya gaun putih yang dipakainya ini adalah simbol kebahagiannya. Seperti yang diimpikan para wanita mana pun di dunia ini. Menikah dengan pria pilihan hatinya. Bukan sebaliknya.
Sebenarnya pernikahan ini bisa saja tidak terjadi, andaikan nenek Erika tidak memaksanya. Memohon padanya dan kedua orang tuanya. Dengan kalimat-kalimat yang mampu membuatnya luluh pada permintaan nenek Erika.
*This Is Your Baby*
“Sebenarnya apa yang kau katakan pada nenek Erika, hingga dia memaksaku sangat ingin menikahimu, heh!”
Davina begitu terkejut mendengar suara berat Mario. Dia pikir, pria ini telah berlabuh ke alam mimpinya.
Mario bersidekap dan menyenderkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur ketika Davina baru saja hendak naik ke tempat tidur mereka.
“Tidak ada.” Davina menjawab datar. Segera menarik selimutnya dan berbaring nyaman dengan membelakangi suaminya. Pria itu pikir hanya dia saja yang bisa bersikap cuek padanya. Davina pun demikian. Sama seperti Mario. Ia juga tidak menginginkan pernikahan ini terjadi.
“Cih. Jangan berbohong. Wanita sepertimu sudah tentu punya maksud tertentu.”
Davina mengepalkan tangannya, segera berbalik menatap tajam pada Mario. “Aku tidak punya maksud apa pun. Kalau bukan nenek Erika memohon padaku. Aku tidak akan mau menikah denganmu. Satu lagi, kalau bukan kau meniduriku malam itu, sudah tentu aku tidak berada di sini.”
“Hn! Pandai sekali kau berbohong.” Mario tersenyum sinis.
“Terserah. Mau percaya atau tidak, bukan urusanku.”
__ADS_1
*This Is Your Baby*
Davina sedang asyik membereskan tempat tidur ketika smartphone-nya berdering di atas nakas. Segera menghentikan kegiatannya. Beralih meraih smartphone dengan casing hellokitty itu. Casing yang dibelikan khusus oleh Arlana, ketika merasa rindu pada saudara perempuan satu-satunya itu bisa mengingat hal-hal kesukaannya - termasuk pernak-pernik hellokitty ini.
Sudut bibir plum wanita muda ini tersenyum lebar manakala irisnya menatap layar persegi panjang di tangannya. Ibunya menelepon. Setelah sebulan dirinya menikah dan tinggal di mansion keluarga Archielo. Setiap minggunya, sang ibu rutin meneleponnya. Atau sebaliknya, ia yang mengabarkan keadaannya pada sang ibu.
“Bagaimana kabarmu, Nak?” sapa sang ibu dengan nada suara penuh bahagia manakala sambungan teleponnya diangkat.
“Vina baik-baik saja, Mom.” Davina tersenyum lega sembari duduk di sisi tempat tidur. Perasaan sesak yang menghimpit di dada---akibat perlakuan keluarga Archielo terhadapnya---selama sebulan ini langsung lenyap entah ke mana saat mendengar lantunan suara merdu ibunya.
Andaikan saja wanita paruh baya itu ada di depannya, sudah tentu dipeluknya dan menangis tersedu-sedu. Walau pun dirinya tidak mengatakan pada keluarganya tentang keadaannya di keluarga Archielo. Bagaimana kasarnya perilaku mereka padanya. Sepertinya keluarganya sudah tahu.
“Yang sabar, ya, Sayang. Mommy yakin, suatu saat nanti mereka akan berubah baik padamu.” Lagi-lagi sang ibu menguatkannya.
Davina mengembuskan napas pendek. Berusaha agar cairan bening di sudut matanya tidak berjatuhan. Dipandanginya pintu yang tertutup rapat di depannya. Lima menit yang lalu Mario masuk ke ruang ganti pakaian itu.
“Iya, Mom. Vina harap juga begitu.”
“Bagaimana dengan Mario? Apa dia masih bersikap dingin padamu?”
Davina menggigit bibir manakala ibunya menyinggung soal suaminya. Tentu saja sikap Mario tetap seperti pertama kali mereka menikah. Sampai detik ini tidak ada perubahan. Pria itu tetap cuek padanya. Seolah selama ini dirinya memang tidak ada di depannya.
“Ya, seperti yang Mommy tebak.” Tanpa Davina berkata blak-blakan, ibunya mengerti arah pembicaraannya. Tepat ia selesai berbicara pintu ruang ganti pakaian terbuka lebar. Muncul Mario telah berpakaian rapi layaknya eksekutif muda pada umumnya.
“Sudah dulu, ya, Mom. Nanti Vina sambung lagi.” Buru-buru Davina menutup sambungan teleponnya. Tidak ingin Mario salah paham. Cukup mertua dan adik iparnya saja yang selalu mengatakannya mengadu pada ibunya.
Davina meneguk ludah. Begitu gugup ketika pandangannya bertemu dengan mata elang Mario. Tanpa berbicara pria itu segera berbalik pergi. Selalu begini sikap Mario padanya. Meski mereka telah menikah. Mereka bagaikan dua orang asing dalam satu ruangan.
“Hey.”
Davina menengadah. Mario kembali membalik tubuhnya sembari bersidekap.
“Apa Nenek Erika sudah mengatakannya padamu?”
“Beliau memaksaku mengajakmu pergi menghadiri acara klien pentingnya. Nanti malam kau kujemput. Ingat, berpakaianlah yang menunjukkan derajatmu. Jangan mempermalukanku.”
Blam!
Davina terkesiap kaget ketika Mario menutup kasar pintunya. Menghela napas. Sebaiknya meminta tolong pada Rie, kakak iparnya, yang berkecimpung di bidang fashion, memilihkan gaun yang cocok untuknya.
*This Is Your Baby*
“Astaga, Vina. Bisa tidak kau jangan terus-terusan menginjak kakiku.”
“Maaf.”
“Jangan mempermalukanku, bodoh.”
“I-iya. Maafkan aku.”
Berkali-kali Davina mengucapkan kata maaf manakala kalimat-kalimat kekesalan dari belah bibir Mario tertuju untuknya. Saat ini mereka sedang melakukan dansa. Pria ini begitu erat memeluk pinggangnya. Sementara tangan Davina juga melingkar erat di leher Mario. Sedari tadi pandangan Davina tidak berani mendongak, menatap langsung mata elang Mario.
__ADS_1
Andaikan saja nenek Erika tidak memaksanya untuk berdansa dengan Mario, sudah tentu dirinya akan kabur dari acara ini. Sungguh dirinya tidak nyaman berada di tengah-tengah kaum elit seperti ini. Apalagi di bawah pandangan sinis dan menusuk dari Roxanne dan Lily di sudut ruangan. Keduanya sangat tidak suka melihat adegan yang dilakukannya bersama Mario.
“Cukup. Lama-lama kakiku bisa hancur kalau terus memaksakan berdansa seperti ini.”
Mario akhirnya menghentikan gerakan tubuh mereka. Menarik tangan Davina keluar dari kerumunan orang yang berdansa. Melewati begitu saja ibu dan adiknya yang melotot melihat mereka. Entah ke mana Mario membawa Davina pergi.
Mario menghentikan langkahnya di taman belakang hotel miliknya. Kebetulan klien yang bekerja sama dengannya menyewa ballroom hotel miliknya. Sudut mata elangnya melirik pada wanita muda di sampingnya. Davina melepaskan high heelsnya dan mengurut tumitnya.
Lama Mario menatap Davina lalu menggertakkan gigi. Ia hanya butuh bertahan beberapa bulan lagi untuk menceraikan wanita yang bukan pilihannya ini. Jujur. Ia paling tidak suka dikekang. Mumpung pernikahannya masih berjalan beberapa bulan dan sebelum wanita ini hamil. Sebaiknya segera menceraikannya.
*This Is Your Baby*
Matahari senja telah lama menghilang di balik pegununan. Gelap mulai merangkak naik, bersiap menggantikan posisi cahaya senja. Sekawanan burung Pingai terbang bergerombolan mencari tempat untuk berteduh. Lalu berhenti di atas dahan pohon yang rindang. Bertengger nyaman, bersiap menyambut malam.
Davina duduk di sisi ranjang berukuran besar. Diam. Mendengarkan detak-detak jarum jam memenuhi ruangan, terus menunjukkan waktu yang berjalan lambat. Entahlah, berapa lama waktu berlalu, ia tak tahu. Setengah jam, satu jam, atau bahkan lebih. Yang dia tahu---sekilas mengerling di depannya pada kisi-kisi jendela---gelapnya malam telah mengintip di sana menggantikan semburat orange beberapa saat lalu.
Hawa dingin perlahan mulai merangsek masuk dari ventilasi jendela. Menyelimuti hawa panas yang mendominasi kamar bernuansa vintage ini. Beberapa saat lalu, suasana menjadi tegang. Setelah sosok dingin yang duduk tenang di sofa di sudut ruangan---di belakang punggung Davina---itu meletakkan amplop coklat di sampingnya.
Davina tersenyum miris. Entah menertawakan nasib malangnya atau merasa lega. Akhirnya terbebas dari belenggu menyakitkan ini. Tanpa membukanya dia tahu apa isinya. Gugatan cerai dari Mario.
Apalagi selain itu?
Surat wasiat?
Bahkan dunia ini terbalik pun hal itu takkan pernah terjadi.
Davina mengembuskan napas pendek. Ia kalah cepat. Niatnya, dialah yang akan menggugat Mario, setelah kematian nenek Erika, setidaknya berlalu setengah tahun. Tapi ... belum sebulan nenek Erika meninggal, ternyata Mario sudah tak sabaran untuk memutuskan ikatan semu mereka.
Tak ada alasan lagi untuk terlalu lama berada di sini. Dulunya ia bertahan demi nenek Erika. Sekarang sang nenek sudah pergi. Maka ia pun akan pergi dari sini. Davina beranjak berdiri. Tanpa menoleh pada Mario, ia menjawab surat dari pria dingin memuakkan itu sembari memegang erat amplop cokelat di tangannya.
"Sabar, tak usah buru-buru. Aku pasti menandatangani surat perceraianmu itu ..."
*This Is Your Baby*
Davina duduk merenung di stasiun. Menunggu kereta listrik yang akan membawanya ke desa. Kembali ke orang tuanya. Ia menghela napas dalam. Didekapnya begitu erat tas yang berisi dua dokumen penting. Perlahan ia memejamkan mata, berusaha cairan bening di sudut matanya tidak kembali berjatuhan. Berderai seperti di rumah sakit tadi.
Setelah pergi dari mansion keluarga Archielo, membawa pakaian seadanya serta dokumen perceraian dari Mario, ia bergegas ke rumah sakit. Memeriksakan keadaan dirinya. Davina tidak menceritakan pada siapa pun, bahkan pada ibunya bahwa sudah seminggu ini dirinya sering muntah-muntah.
Betapa kagetnya ketika ia memerisakannya tadi. Dokter mengatakan bahwa dirinya telah mengandung dua bulan. Astaga! Nyaris dia pingsan bila saja suster tidak memegangi bahunya.
Pelan Davina meraba perutnya. Bayinya. Benih dari pria bejat itu. Tekadnya sudah bulat. Mulai sekarang ia akan mengasuh bayinya seorang diri tanpa ada campur tangan Mario. Takkan ia beri tahu keberadaan bayinya pada keluarga Archielo, terlebih pada Mario.
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1