This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Terima Hukuman


__ADS_3


"Buka bajumu!"


Butuh sekian detik bagi Mario berpikir untuk otaknya mencerna kembali dengan baik. Mengirimkan sinyal ke alat pendengarannya bahwa apa yang didengarnya bukan hanya tipuan semata. Ucapan Davina barusan sungguh memberikan efek luar biasa baginya. Hingga dia hanya mampu termangu bagai orang yang terkena hipnotis.


Setelah mereka kembali bersama. Itu kalimat pertama yang dilontarkan Davina malam ini padanya.


"Astaga! Kenapa jadi bengong begitu?!"


Mario tersentak mendengar teriakan Davina dari balik pintu lemari - entah apa yang diambil oleh istrinya itu. Dia mengerjap cepat. Buru-buru jari jemarinya berlomba-lomba membuka kancing kemeja kasual bergaris dan berlengan panjang serta berwarna merah mudanya ini. Segera dilemparkannya---entah ke mana---seakan berlomba dengan kecepatan suara yang keluar dari belah bibir Davina, sebelum sosok manisnya berubah pikiran.


Pria muda ini tersenyum lebar dan menjurus sedikit aneh. Terlebih ketika Davina telah kembali berada di depannya. Dengan kaus kebesaran yang menutupi seluruh tubuhnya, bahkan celana pendeknya pun ikut tenggelam. Kelihatan jadinya Davina seperti tidak bercelana. Dan itu sukses membuat Mario semakin berfantasi liar.


"So? Apa lagi setelah ini, Vin?" tanyanya dengan sebelah alis naik turun, serta seringaian tipis hadir di sudut bibirnya. Tak mampu lagi menyembunyikan raut kegembiraan di wajah tampannya.


Katakanlah dia pervert. Dan jangan salahkan dia sepenuhnya. Kenapa bisa berpikiran sepervert itu. Sebelumnya, ketika mereka makan malam bersama. Davina-lah yang memancingnya duluan. Berbisik padanya. Memberikan sinyal bahwa tunggu dia di kamar setelah meninabobokkan Eleanore.


Ternyata menidurkan batita yang banyak maunya---sangat mirip dirinya itu---membutuhkan waktu lama, hingga jam sekarang ini menunjukkan angka dua belas malam. Barulah selesai.


Dan ketika pintu terbuka, tanpa ba-bi-bu lagi, Davina melontarkan dua kalimat yang membuat seluruh tubuhnya ikut menegang. 'Buka bajumu!' Hell. Itu kalimat yang tak pernah disangkanya ketika pintu kamar terbuka tadi.


Mungkinkah Davina tak sabar untuk bertempur dengannya? Yang katanya sih, orang hamil itu kadar hormonnya sangat tinggi. Selain cepat naik darah atau selalu marah-marah, juga gairah seksualnya meningkat tajam.


Mario tercengir lebar akan pemikirannya ini. Sementara Davina memutar bola mata melihat tingkah pria bertubuh atletis itu - benar-benar tercetak jelas mesum di wajah tampannya itu.


"Ck! Dasar mesum!" Davina mencibir. Ia menggeleng, lalu memutar tubuhnya. Meninggalkan Mario yang mengelus tengkuk, salah tingkah. Tak bisa dia mengelak akan makian sang istri yang benar adanya.


“Eh ... tunggu, Vina Sayang. Kenapa malah pergi?”


 


 


 


 


*This Is Your Baby*


 


 


 


 


"Vin?!"


"Jangan ganggu penglihatanku, pergi dari sana!"

__ADS_1


"Tapi, Vin ..."


"Cepat menyingkir!"


Mario menghela. Untuk kesekian kalinya, dia menarik napas dan diembuskannya. Menatap datar Davina yang berselonjor menguasai sofa tunggal, sembari mengemil dan menikmati acara film di televisi.


Dan dia? Dianggurin oleh Davina begitu saja, nyaris setengah jam terlewati. Kalau begini, untuk apa dia disuruh buka baju? Padahal sengaja dia bolak-balik di depan Davina menghalangi pandangannya. Yang terjadi, justeru sebaliknya, si manis terus berteriak kesal karena menganggu acara menontonnya.


Aih, astaga! Mario mengacak rambut hitam lebatnya menjadi sangat berantakan. Kesal. Mengembuskan napas sangat keras. Sengaja, agar sang istri tahu seberapa frustasinya dia malam ini. Dia pikir, Davina akan mengajaknya melewati malam panas bersama di atas tempat tidur.


Nyatanya, dia hanya melewati malam dengan tubuh kedinginan akibat suhu pendingin ruangan diatur rendah. Ketika berniat mematikannya, justeru dirinya kena bentak si manis.


"Vinaaa!!!" teriak Mario.


"Apa?!" balas Davina tak kalah berteriak. "Ck! Menganggu kesenangan orang saja," lanjutnya berdecak sebal sembari menikmati cemilan kentang panggang di tangannya. Menatap datar Mario; bersidekap di depannya tanpa memakai baju - kembali tubuh atletis itu menghalangi televisi.


Buru-buru Davina berpaling. Bukan karena dia marah. Sebaliknya, tak tahan akan godaan di depannya. ABS Mario terpampang jelas di matanya. Untung saja dia tak melotot, atau lebih parahnya lagi menurunkan harga dirinya. Dengan misalnya, tiba-tiba saja mengeluarkan air liur di sudut bibir. Oh astaga! Andai itu terjadi, bisa hancur harga dirinya.


Hn! Dia bersyukur dalam hati. Mengelus perut buncitnya. Untung saja, masa mengidamnya sudah lewat. Bisa bahaya kalau jabang bayinya malah mengidam perut berotot Mario. Habis sudah dia di makan pria mesum ini.


Davina menyeringai tipis. Untuk sementara dan kali pertama, biarkan Mario sekarang ini menjalani hukuman ringan dulu---seperti yang dikatakan Mario sendiri---sengaja dia membiarkan Mario membuka baju di tengah rasa dingin menusuk tulang. Dia sangat tahu sifat mesum Mario yang takkan tahan kedinginan, dan pastinya akan mencari kehangatan dari tubuhnya.


Dia ingin melihat. Seberapa tahan Mario akan godaan tubuhnya, memperlihatkan paha putih mulus, tapi tak bisa disentuhnya itu. Kalau berani menyentuh... Hmmm... Davina tertawa evil dalam hati. Bukankah ini hukuman yang setimpal, hum.


"Aku kedinginan," terang Mario ambigu. Dan Davina sudah tahu itu, dia hanya memutar bola mata sebagai respon. Masa bodoh.


"Siapa peduli!" katanya ketus.


"Hn! Bukankah kau sendiri yang mau menuruti perintahku. Aku juga tak melarang." Davina berucap enteng, terkekeh kecil sembari mengambil satu iris kentang panggang dan dikunyahnya dengan lambat.


"Astaga!" Mario mengembuskan napas, menatap sekilas langit-langit kamar, lalu tertawa sumbang. Dia kesal. Ternyata Davina hanya mempermainkannya saja. seharusnya ia sudah tahu itu. Bahwa ini adalah hukuman dari sang istri. Tetapi, tetap saja ....


Grrr ... dia menggeram tertahan. Menarik napas dalam-dalam. Baiklah, dia akan menyelesaikannya dengan caranya sendiri.


"Oke, Vin ..." Mario menyeringai membuat Davina menaikan salah satu alisnya. Heran.


"...kalau begitu aku juga takkan mengulur waktu lagi!" Selesai berkata, Mario segera melompat ke sofa, merampas mangkuk berisi cemilan kentang dari tangan Davina dan memindahkannya ke meja.


Pada akhirnya kesabaran Mario jebol juga. Dia pun segera menindih tubuh sang istri. Tidak sepenuhnya menindih, karena terhalang perut buncit Davina. Serta tangannya yang berada di sisi tubuh Davina, menumpu berat tubuhnya.


"Nah, Vin. Sekarang giliranku, memberikan pelajaran buatmu!"


Mario tersenyum smirk. Hendak mengecup bibir ranum merah menggoda---hampir delapan bulan dirindukannya---persis berada di depan wajahnya, bahkan dia bisa mencium aroma wangi napas dari cela mulut Davina. Perlahan dia pun memejamkan mata. Membiarkan insting liarnya yang mengambil alih selanjutnya. Mario bersorak dalam hati. Sangat senang. Akhirnya Davina menyerah.


Sementara wanita muda itu, hanya menaikkan alisnya secara bergantian. Kali ini dia tak menghindar ketika Mario menindih tubuhnya. Justeru dia menutup mulut, menyembunyikan seringaian tipis di sudut bibir cherry-nya.


Hm. Hitung-hitung percobaan hukuman pertamanya,--- karena Mario berani menyentuhnya. Dia nyaris terkikik geli melihat sang suami memejamkan mata sembari mulai mendekati bibirnya. Kemudian ...


 


 

__ADS_1


Zrrrt!


 


 


"Asdfghjkl ... VINA!"


Mario menjerit. Meraung keras. Refleks segera melompat dari sofa. Menjauhi perut buncit sang istri. Ia tertunduk, mengerang menahan sakit pada bibirnya.


Astaga! Dia merasakan kesetrum ribuan volt listrik. Terutama pada bibirnya yang menjadi sasaran utama. Ya ampun. Pasti saat ini bibir seksinya sangat bengkak, bagaikan disengat segerombolan tawon.


"Vin! Aku bukan minta dicium dengan alat." Mario mengerang. Ia melotot tajam sembari memegangi bibir. Masih terasa berdenyut dan bergetar. Dia bersungut kesal, berusaha berdiri terhuyung-huyung akibat shock terapi singkat tadi.


"...alat apa sih itu, Vin?" lanjutnya bertanya. Kedua alisnya bertautan, penasaran akan alat yang disembunyikan di belakang tubuh sang istri. Menatap lekat Davina yang telah duduk bersender.


Davina tersenyum lebar. Mengeluarkan benda dari belakang tubuhnya hingga Mario membelalak seketika. Astaga! Alat kejut listrik?


"Benar!" jawab Davina bisa membaca apa yang dipikirkan Mario saat ini. Dia berdiri, dan Mario mundur.


"Kenapa? Ayo! Sentuh tubuhku lagi ..." Davina tersenyum semakin lebar. Namun Mario yang melihatnya malah ketakutan, menciut tubuhnya. Seolah senyum sang istri mengandung racun mematikan.


"Kenapa diam, Rio?! Ayo! Kemarilah!"


"Tidak!"


"Aih, jangan lari, bedebah!" teriak Davina. Akan tetapi tak bergeming untuk mengejar sang suami yang berusaha kabur dari kamar. Justru dia tampak tenang bersidekap, karena dia tahu ...


"Astaga, Vina! Kenapa pintunya kau beri pasword!" Mario mengerang. Memutar-mutar kenop pintu, namun nihil tak terbuka. Berapa kali pun dia membukanya, tetap tak bisa terbuka.


"Mau minta pasword, Mr. Rio?" goda Davina mulai mendekati Mario yang menempel erat di pintu dengan kaki gemetaran. Takut kalau disetrum lagi.


Mario menggeleng-geleng. Bola matanya bergerak gelisah. "Tidak, Vin. Terima kasih saja."


Secepat kilat Mario menghindar saat Davina menarik tangannya. Dia pun berlari menuju tempat tidur.


"Riooo! Jangan lari!" pekik Davina ikut mengejar dengan perut buncitnya.


"Kyaaa!"


"Ya, Tuhan! VINA!"



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


__ADS_2