This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Hubby


__ADS_3


Ternyata apa yang diucapkan Mario memang benar adanya. Pria itu sama sekali tak berbohong tentang keindahan rooftop miliknya. Ketika pertama kali Davina memasuki area rooftop. Dirinya langsung disuguhi dengan pemandangan yang memukau mata. Warna hijau segar mendominasi bersamaan salju-salju mulai mencair. Bahkan mulai mengering oleh sinar matahari.



"Pegang ini!"


Mario menatap bingung pada minuman kaleng yang telah berpindah ke tangannya - beberapa detik yang lalu diberikan oleh Davina tanpa melihatnya sama sekali. Dan tanpa disadari oleh Davina sendiri, kakinya telah tergerak meninggalkan Mario bersama tanda tanya dalam benaknya.


Perhatian Davina telah terserap sepenuhnya akan keindahan pemandangan di depannya. Kakinya begitu ringan melewati satu set kursi santai, atau pun kursi panjang kayu yang tertata rapi di sampingnya. Hidungnya segera mengendus aroma segar dari rerumputan mau pun tanaman hijau di sekitarnya - dikala kakinya menapaki taman.


Sosok manis itu merentangkan kedua tangannya sambil menyesap aroma segar. Kepalanya menengadah menatap langit luas nan cerah - sebagai atap ruang terbuka rooftop. Setelah puas menghirup udara segar untuk paru-parunya. Davina kembali melangkahkan kakinya melewati taman. Bahkan berlari tak sabaran menuju pagar besi dengan dindingnya yang berbahan kaca dan setinggi dada orang dewasa - mengelilingi seluruh area rooftop ini.


Davina tersenyum lebar mematikan laju larinya. Tangannya mencengkram jeruji pagar - sedikit bergidik dingin kala bersentuhan dengan besi stainless di tangannya. Kakinya berjinjit seraya pandangannya lurus ke depan - seakan ingin meraih pemandangan nyata di hadapannya. Gedung-gedung bertingkat pencakar langit nampak seperti permainan lego. Serta jalanan yang dipenuhi dengan lalu lalang kendaraan - bagaikan titik koordinat geografis. Davina terpukau. Tak pernah dia dapati pemandangan seperti ini ketika berada di rumah orang tuanya - di desa mereka.


"Kau suka tempatnya, Vin?" suara berat Mario---berdiri beberapa jengkal di belakang Davina---mengalun menyeruak di antara rasa terpesonanya Davina akan pemandangan di depannya.


"Lebih dari suka." Refleks Davina mengangguk dengan perasaan gembira.


Mario hanya tersenyum simpul merasakan kebahagian Davina. Pria itu duduk melantai dengan kaki tertekuk nyaman di atas taman rumput yang masih sedikit basah. Namun dia tak peduli. Di mana sebelumnya, sosok manis itulah yang berada di posisi ini - berdiri menatap langit luas. Disusul kemudian, Mario meletakkan dua buah minuman kaleng bersoda, dan keranjang buah di samping tempat duduknya.


"Syukurlah kalau kau suka. Kuharap kau betah di sini untuk ke depannya," lanjut Mario setengah menggumam. Tetapi bisa didengar dengan baik oleh telinga Davina - hanya diam tak menanggapi.


"Vina ..."


Spontan Davina memutar setengah badannya, lantas menyenderkan tubuh rampingnya ke pagar pembatas - dengan kedua tangannya tertekuk mencengkram jeruji pagar. Sementara kepalanya tetap menoleh ke samping - tak ingin melewatkan pemandangan indah di matanya.


"Ya?"


Bila Davina tiada hentinya terpesona akan pemandangan di rooftop ini. Maka Mario sebaliknya. Pria itu terpesona akan sosok manis di depannya. Dengan siluetnya yang nampak dari samping, bak model yang sedang melakukan fotoshoot - terlihat begitu indah dan cantik.


Helaian-helaian pucuk rambut almond yang menutupi mata indahnya, bergerak-gerak lembut tertiup oleh angin, yang berembus pelan menerpa kulit wajah beningnya - bagai berlian yang berkilauan di tengah lautan luas dengan bertabur cahaya matahari senja.


Saat ini. Dunia Mario hanya berpusat pada Davina. Sosok yang mampu menggetarkan hatinya, mendebarkan jantungnya, dan membuat dadanya penuh sesak - karena rasa cinta yang tumbuh mengakar di hatinya. Tanpa disadari Mario, dirinya tak mampu menahan senyuman yang mengembang makin lebar di belah bibirnya.


Tak ingin melewatkan keindahan di depannya menjadi sia-sia. Mario meraba saku coatnya - mencari ponselnya. Ingin mengabadikan moment berharga ini untuk dirinya sendiri. Namun, sedetik kemudian. Pria ini mengembuskan napas panjang - kecewa. Seolah dirinya baru saja kehilangan Davina untuk kedua kalinya. Manakala dia ingat ponselnya ketinggalan di ruang kerjanya.


"Huft, sayang sekali," gumam Mario tertunduk lesu, menatap hampa jari-jari kakinya yang telanjang - menginjak langsung rumput tamannya. Lalu pandangannya beralih pada sepasang sandal berbulu, terus naik ke paha putih mulus di depannya. Ia menghela napas pendek, lantas mendongak. Irisnya langsung beradu pandang dengan iris cokelat milik Davina. Tanpa disadarinya, sosok manis ini telah berdiri menawan di depannya - sambil bersedekap dada.


Mario tersenyum tipis. Serta merta menjauhkan pandangannya dari paha putih mulus itu. Berangsur-angsur raut wajahnya kembali sedia kala. Tetap tenang - seakan sebelumnya tak terjadi apa-apa. Hal tersebut mengundang decakan sebal dari mulut Davina - kesal pada Mario yang pandai mengubah eksresi wajahnya dalam sekejap mata saja.


“Kau kenapa?” tanya Davina ingin tahu.

__ADS_1


"Tidak kenapa-kenapa. Memangnya kenapa? Kau kelihatannya begitu cemas terhadapku." Dada Mario bergemuruh hebat - senang rasanya mengetahui Davina diam-diam peduli padanya.


"Bukan begitu.” Davina menyangkal.


"Maksudnya?" Mario meraih minuman kaleng di sampingnya dan memutar-mutarnya. Tak berani mendongakkan kepalanya - yang pastinya pandangannya akan melewati paha yang terpampang jelas di matanya. Seakan menggodanya untuk menyapukan telapak tangannya di sana.


"Ekspresimu tadi, kau tampak frustasi seakan keinginanmu tak terpenuhi," jelas Davina begitu datar.


Sebab aku tak bisa mengabadikan wajah cantikmu itu ke ponselku ...


Monolog Mario berkeluh hati, mengembuskan napas tak kentara. Samar hidungnya mencium aroma vanilla yang menguar di tubuh Davina - terbawa oleh angin.


"Duduklah!" Mario menepuk lantai di sampingnya. "Kau tak lelah hanya berdiri saja seperti itu? Bisa-bisa kau terkena varises pada kaki indahmu itu,” sambungnya begitu serius.


Ucapan Mario, sukses membuat Davina terpengaruh. Serta merta mendudukkan pantatnya di atas rumput di samping Mario. Keduanya hanya diam tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kehabisan bahan bicara. Mario melirik sekilas pada Davina. Pria ini terusik ketika mendengar desisan dari cela mulut sosok manis ini, berusaha menahan hawa dingin yang menyentuh kulitnya. Meski wanita ini telah membalut tubuh rampingnya dengan jaket. Tapi, bila memakai celana hotpants pendek seperti itu. Tentu takkan cukup jaket tersebut memberikan sebuah kehangatan nyata padanya.


Tak ingin membiarkan sosok manis ini mati beku kedinginan. Mario lekas membuka coat tebalnya, dan menyelimutkannya ke tubuh ringkih Davina, sontak sosok manis itu terkesiap akan perlakuannya yang tiba-tiba.


"Jaketmu itu takkan mampu melindungi tubuhmu dari serangan dingin seperti ini." Buru-buru Mario menjelaskan---ketika Davina tampak keberatan--- di sela-sela membenahi coatnya agar lebih merapat ke tubuh wanita muda ini.


Wajah Davina merah merona akan perhatian Mario yang tak terduga. Dia hanya bisa menunduk. Tak mampu menyangkal lagi - yang memang benar adanya. Dan membiarkan saja Mario mengancingkan coatnya yang hanya dua baris itu.


"Sudah tahu cuaca dingin, masih saja memakai pakaian tipis begini. Ditambah lagi hanya memakai hotpants pendek. Ini namanya mencari penyakit, Vina. Sudah bosan hidup sehat kamu, Vin!" cecar Mario bersungut-sungut. Segera menutupi paha mulus Davina dengan ujung coatnya dan menepuknya lembut. Lalu kembali ke tempat duduknya semula.


“Bagaimana denganmu? Bukankah kau juga kedinginan?" Davina melirik pria itu.


“Aih.” Davina memukul bahu lebar Mario diiringi gerutuan sebalnya. “Aku suka memakai celana ini karena nyaman."


Wanita ini melengos sambil menyilangkan kedua tangannya, menyambung kembali ucapannya, "lagipula ini salahmu mengajakku kesini, di ruang terbuka seperti ini pula.”


"Hum. Maafkan aku," sesal Mario, lagi-lagi dia memancing sosok manis ini marah padanya.


"Cukup, tak usah minta maaf. Seharusnya aku yang berterima kasih." Davina berkata berterus terang. Setidaknya ia bersyukur, Mario begitu perhatian padanya dan tak mengabaikannya - seperti yang selama ini diduganya.


"Vina," panggil Mario lembut. Setelah lama membiarkan semilir angin yang berbisik mesra - menemani kebisuan di antara mereka berdua.


"Y-ya?"  Davina tergagap manakala Mario meraih tangannya dan menggenggamnya. Rasa hangat segera mengalir ke seluruh tubuhnya saat Mario menyentuhnya.


"Vin, setelah semuanya jelas. Kuharap sekarang ini ... ke depannya kita tak usah mengingat kembali masa lalu." Pandangan Mario menyayu. Dadanya bergemuruh hebat ketika menyinggung soal masa lalu kelam Davina padanya. Jelas maknanya tersirat untuk Davina. Bila suatu hari nanti sosok manis ini mengingat semuanya, maka lebih baik Davina melupakan masa lalunya yang pahit tersebut.


"Dan yang harus kita lakukan ke depannya adalah ... menata kembali masa depan kita bersama Baby El, tanpa dibayangi masa lalu. Kita hapus kenangan buruk tersebut. Perlahan-lahan kita ganti dengan yang baru," lanjut Mario dengan suara yang begitu parau sambil memainkan jari-jari mungil Davina dalam genggamannya.


Dahi pria itu mengernyit manakala merasakan jari manis Davina. Ada sesuatu yang kurang di jari tersebut.

__ADS_1


"Vina, kumohon ... Ini demi Baby El. Anak kita." Wajah Mario terlihat cemas saat mendapati sosok manis ini, sedari tadi tidak membuka bibirnya sama sekali. Ia berharap Davina tidak egois dan perpikiran sempit. Seperti yang pernah dilakukannya di masa lalu. Sungguh ia menyesal kemudian. Mengetahui Davina hamil anaknya dan melahirkan Baby El tanpa dia di sisinya.


"Demi ... Baby El, akan kucoba ..." Davina menjawab nyaris berbisik sambil menggigit bibir. Entah mengapa ... di sudut hatinya yang paling dalam, dia begitu berat untuk kembali pada Mario. Namun, lagi-lagi Davina tak bisa menafsirkan arti kata hatinya ini.


Sudut bibir Mario mengembang mendengar keputusan Davina.


"Terima ka...sih---" ujar Mario terputus - ragu-ragu dan salah tingkah. Mengusap tengkuknya. Sebenarnya ia ingin segera merengkuh tubuh Davina ke dalam pelukannya. Akan tetapi, melihat sikap antipati Davina. Lagi-lagi ia hanya bisa berangan-angan kosong belaka.


“Mar---”


“Hubby,” potong Mario cepat.


“Hubby?”


“Ya, Hubby. Dulu, kau memanggilku begitu.” Mario terbatuk-batuk kecil ambigu.


Mata Davina membelalak tak percaya - sungguh terkejut. "Benarkah? Rasanya tak mungkin."


"Sangat mungkin! Kau saja yang tak ingat." Mario buru-buru berpaling ketika berbicara. Tentu saja ini bohong lagi.


“Oke. Itu dulu. Karena aku tak ingat. Mulai sekarang kupanggil Rio saja,” jawab Davina sambil meraih minuman kaleng dari tangan Mario, sebelumnya sudah dibukakan oleh pria ini.


Mario mengangkat bahu, tak acuh. Meski dalam hati sangat berharap Davina memanggilnya seperti itu.


"Terus, kau tadi mau ngomong apa?” lanjut Mario serius. Bahkan mata elangnya terus terpaku pada wajah manis Davina.


Wanita muda ini menggigit bibir. Menimang minuman kaleng di tangannya - belum diminumnya sama sekali. Tadinya dia ingin bertanya soal keluarga Mario. Tapi mengingat seharian ini, dirinya terus-menerus mendesak Mario - sampai-sampai Davina lihat pria itu sebegitu frustasinya kala meladeni pertanyaannya. Jadi, lebih baik diurungkan niatnya ini. Biarkan Mario menghirup udara bebas untuk hari ini.


"Tak ada. Lain kali saja." Davina mendesah dan menggelengkan kepala. Mulai menyesap minuman kalengnya. Meski sudah hati-hati cara meminumnya, tetap saja tidak bisa serapi Mario. Tetap ceroboh seperti biasanya dia minum hingga sudut-sudut mulutnya mulai belepotan, mengeluarkan cairan merah layaknya seorang drakula yang baru saja menghisap darah. Davina menggulirkan kedua maniknya manakala Minho menertawainya.


"Tertawalah, selagi bisa tertawa,” ucap Davina ironi dengan bibir tertekuk ke bawah.


"Ups! Maaf, Baby." Mario segera menghentikan tawanya. "Habisnya caramu minum masih tingkatan batita," lanjutnya, beringsut menggeser lebih dekat ke samping Davina. Dalam hitungan detik saja, jemarinya telah berada di sudut bibir wanita ini - menyapu sisa minuman tersebut.


Mario menelan air liur. Matanya begitu intens menatap bibir cherry yang basah di bawah sentuhan jemarinya. Mungkin karena terbawa suasana. Mario berangsur-angsur mendekatkan wajahnya ke wajah manis Davina - entah sejak kapan, sosok manis ini diam mematung.


Udara di sekitar mulai memanas, seiring degupan jantung keduanya kian berdetak kencang. Masing-masing bisa merasakan hawa panas yang keluar dari cela mulut lawannya - menerjang wajah masing-masing. Sesenti lagi bibir keduanya akan menyatu.


"Kau dengar Rio? Suara Baby El menangis. Sepertinya Baby El terbangun." Tiba-tiba saja Davina berdiri dari duduknya. Bergegas berlari tergesa-gesa meninggalkan Mario. Pria ini terpaku di tempat dengan hanya bertemankan minuman dan keranjang kecil buah di sampingnya.


Mario mengerang frustasi. Mengempaskan tubuh atletisnya di atas rumput. Terlentang menatap langit jingga di atasnya - lambat laun awan putih tersebut membentuk wajah manis Davina. Pria ini mendesah. Sepertinya dia harus banyak bersabar. Berusaha lebih keras lagi meluluhkan hati wanita muda itu. Di tengah dirinya juga mencoba - menghapus rasa bersalahnya secara bersamaan.


__ADS_1


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


__ADS_2