This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]
Menyerang Balik


__ADS_3


"Hentikan, Vina!"


"Tidak akan!"


"Vina! Cepat jauhkan alat itu dariku atau---"


"Atau apa?!" potong Davina cepat dan melotot tajam, terus mendekati Mario yang mundur selangkah darinya. Sedari tadi pria itu terus menghindari serangannya.


Dia marah. Kesal. Salahkan Mario yang justru membawanya kembali ke kamar tanpa melaksanakan hukumannya terlebih dahulu, hingga dia kembali bermain-main dengan alat kejut listrik di tangannya ini.


Mario mengusap wajah kusutnya. Semakin frustasi di tengah rasa lelah menggelayutinya. Bertanya-tanya dalam benaknya. Apakah semua orang yang hamil tingkahnya seperti Davina?


Segala keinginannya harus dituruti. Astaga! Kalau begini siapa yang mesti disalahkannya. Chase-kah? Ya, berkat Chase yang meneleponnya di saat tak tepat, hingga dia harus menghadapi keinginan absurd istrinya saat ini.


"Jadi, Riooo!" Suara Davina menyeruak di antara lamunan frustasi Mario. "Pilih menuruti keinginanku atau pilih dicium alat ini?!"


Mario meneguk ludah. Bergantian menatap ngeri alat kejut listrik dan wajah manis sang istri. Tentu saja tidak ingin dua-duanya. Tidak ingin merasakan alat itu, juga tak ingin dihukum berendam, hanya demi mendapatkan satu ikan---seukuran tiga jari---di kolam yang luas itu. Sementara dirinya cuma diperbolehkan menangkap ikan memakai jaring kecil. Hell ... sampai menjelang matahari terbit esok hari, dia takkan pernah bisa menangkap ikan tersebut.


Jalan satu-satunya. Tentu saja bertarung, memperebutkan alat tersebut. Lihat saja, siapa yang punya kekuatan lebih di antara mereka. Akan ia buktikan kali ini.


"Woah, ternyata Mr. Rio memilih dicium alat ini." Davina terkikik senang melihat sang saumi yang ternyata memilih maju menghadapinya. Secepat kilat mulai melesatkan serangannya ketika Mario dengan gesit menangkap tubuh berisinya.


 


Zrrrt!


 


"Errrgh ..." Bersamaan Mario menggeram lirih tertahan, diapun memeluk erat tubuh Davina - berusaha merebut alat tersebut. Sementara giginya terus gemerutuk menahan sengatan listrik yang menyentuh tubuhnya, serta mengabaikan teriakan sang istri; tak menyangka dirinya akan berbuat senekad ini.


"Lepaskan pelukanmu, Rio!" hardik Davina memekik kesal, segera memberontak, berusaha melepaskan rangkulan tangan Mario di pinggangnya. Melingkar erat, bak ular melilit di ranting pohon.


"Kalau aku tak mau?" Kini Mario yang menantang Davina. Napasnya menderu menerpa wajah manis sang istri. Sama sepertinya, napas sang istri ikut memburu, naik turun tak beraturan akibat saling serang. Menggoyangkan alisnya. Sudut bibirnya menyeringai, bersamaan ide jahil melintas di otaknya.


Sedang Davina menggertakkan gigi, mulai terprovokasi. Tanpa berpikir lagi segera menyerang kembali.


"Hn, jadi kau menantangku ya! Nih ras---kyaaa ha ha ha ..."


"Hm."


"Ha ha ha ... Ri-ooo, gel-li booodoh!"


"Kenapa, Sayang?" Mario bertanya, pura-pura tak tahu, sementara tangannya terus bergerilya di perut buncit dan pinggang sang istri. Disenderkan kepalanya di bahu mulus sosok manisnya - menggusel di sekitarannya sembari menyesap aroma wangi tubuh sang istri. Bau cologne Baby El.


"Lepaskan tanganmu! Jangan gelitiki perutku ha ha ha ..."


"Ya, teruslah tertawa, Sayang." Mario menyeringai berusaha membuat pertahanan sang istri lemah.

__ADS_1


"Rio, jauhkan kepalamu di leh---yaaa, kembalikan ..."


"Yes! DAPAT!" Mario melambaikan tinggi-tinggi alat kejut listrik itu di tangannya. Secepat kilat menjauhkannya dari jangkauan sang istri.


"Arrrgh. Mr. Riooo kau curaaang."


 


 


 


 


❁ This Is Your Baby ❁


 


 


 


 


"Tidurlah, Vin! Kau butuh istirahat," bujuk Mario sambil mengelus punggung Davina; berdiri bersidekap di sisi ranjang. Istri manisnya kembali merajuk setelah dia berhasil mengalahkannya. Butuh waktu lima belas menit baginya untuk merampas alat andalan Davina yang selalu dipergunakan untuk menghukumnya. Kini Davina tak punya apa-apa lagi untuk melawannya.


"Vin," panggil Mario saat tak ada jawaban dari Davina. Disekanya keringat dingin sang istri yang mulai bermunculan.


"Tidak usah." Davina berkata ketus.


"Maafkan aku, Sayang,” tutur Mario sepenuh hati. "Kau mau ke mana lagi?" lanjutnya mengerutkan kening - memperhatikan sang istri yang justru berbalik menuju pintu.


"Menangkap ikan."


"Astaga! Jangan bercanda, Vina." Mario berkata nyaris tertahan. Rahangnya mengeras seketika. Begitu terkejut.


"Aku sedang tidak bercanda. Aku serius. Aku ingin makan ikan goreng."


"Ya, Tuhan, Vina! Ini masih malam, besok pagi saja ya," untuk kesekian kalinya Mario membujuk sang istri di sela-sela mengerang frustasi.


"Ck! Siapa yang mau menyuruhmu!" Davina mengentak keras ubin persegi hitam putih dengan kaki telanjangnya.


"Say---"


"Kalau kau ingin tidur, tidurlah! Tak usah pedulikan aku!"


 


Blam!

__ADS_1


 


Mario terkesiap, pandangannya begitu nyalang menatap pintu yang tertutup rapat di depannya. Dia mengusap-usap kasar wajahnya.


"Fine, sesusai perkataanmu. Aku takkan memperdulikanmu, Vina!" Mario berteriak, menatap kesal ke arah pintu.


"Terserah kau saja, Mr. Rio!" balas Davina dari balik pintu.


"Ya betul, terserah aku. Silakan saja dengan kemauan kerasmu itu, Vina!" Mario kembali membalas teriakan Davina. Samar dia mendengar suara beradu di balik pintu. Entah itu apa. Palingan juga sang istri sedang membanting sesuatu. Merajuk. Mengepresikan kekesalannya.


"Hhh ... Aku tak peduli lagi!" gumam Mario mengangkat kedua belah bahu. Dengan kasar merebahkan tubuh atletisnya ke atas ranjang. Kedua matanya mulai terpejam dengan lengan menutupi wajahnya. Dia berani bertaruh. Sang istri cuma mampu bertahan sebatas dua menit saja di balik pintu kamar ini. Dan akan kembali ke kamar, mulai merengek la---


"Riooo ..."


See, belum sedetik dia menerka. Suara rengekan Davina memanggilnya.


"Riooo ..."


Mario mengembuskan napas panjang. Untuk kali ini, dia pura-pura tak mendengar. Biarkan Davina yang datang menghampirinya. Biarkan Davina tahu, bahwa dia juga tak main-main dengan sikapnya ini. Dia harus mendisiplinkan sikap keras kepala istrinya ini.


"Hiks ... Riooo ..."


..........


.....


...


 


Tik! Tok! Tik! Tok!


 


Jam kuno yang berdiri kokoh di sudut kamar terus berdetak menemani Mario yang sedari tadi setia memejamkan mata. Rasa gelisah mulai menyelinap di hatinya. Secepat kilat dia membalik badan, mengintip dari celah lengannya, memperhatikan jarum panjang pada jam kuno itu. Sudah lewat setengah jam. Dan Davina belum kembali juga?


Oh, astaga! Ternyata Davina sangat keras kepala sekali. Diacaknya rambutnya. Segera melecut tubuhnya dari tempat tidur. Buru-buru memasang sandal dan berjalan cepat ke arah pintu.


Tak ingin menerka apa yang dilakukan sang istri, lebih baik dia langsung mengeceknya. Segera membuka pintu. Tubuhnya seketika menegang. Darahnya berdesir. Dunianya seakan runtuh seketika.


"Ya, Tuhan, VINA!"



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 

__ADS_1


 


__ADS_2