![This Is Your Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/this-is-your-baby--tamat-.webp)
"Suatu saat nanti tindakan kakak akan ketahuan juga olehnya. Dari pada kena semprot oleh Vina duluan, lebih baik temuilah dia secara baik-baik," saran Ravi menyeruak di antara lamunan Mario.
Oh, astaga. Ravi mengacak rambutnya lagi. Rasanya sudah puluhan kali dia memberikan saran seperti ini dan hanya membal di telinga Mario.
“Bro!”
“ .... ”
“Brooo.”
“What the hell.”
“Ha ha ha.” Ravi tergelak-gelak puas melihat wajah kesal Mario. “Makanya, kalau orang bicara itu didengarin.”
“Sialan.” Mario mengumpat. Mengelus pahanya yang dicubit ala capit kepiting oleh adik laki-lakinya ini. “Tidak sampai begini juga menyadarkan orang, Rav. Sakit tahu,” lanjutnya balik meninju lengan Ravi.
“Auh.” Ravi mengerang kala rasa sakit bagai dipukul dengan palu godam menghantam lengannya. “Gila, Bro. Sakitnya sampai ke tulang.”
“Salah siapa yang duluan.” Giliran Mario yang terkekeh menertawakan ekspresi Ravi, bagai baru saja ban mobilnya dikempesi oleh gadis cantik dan seksi. Serba salah jadinya. Mau marah, tidak sampai tega. Tidak marah hati yang kesal.
*This Is Your Baby*
"Meski kalian berpisah sementara. Setidaknya, beri dia kesempatan menunjukkan pada anak keduanya, bahwa dia seorang ayah yang bertanggung jawab, Vin." Ty mengulangi lagi ucapannya. Mungkin sudah ketiga kalinya ia mengulanginya kala tak ada respon dari Davina.
Sedang wanita muda ini terdiam cukup lama mendengar nasihat Ty. Kesempatan? Dia menghela. Sebenarnya ada banyak kesempatan untuk Mario kembali padanya. Salah satunya, dia tak melanjutkan gugatan cerainya ke pengadilan hingga sekarang. Sebab amplop coklat yang dia minta untuk ditanda tangani oleh Mario sampai sekarang tak kunjung dikembalikan.
Sementara dia sendiri malas untuk membuat ulang surat gugatan tersebut. Malas? Mungkin alasannya saja, karena sejujurnya dia juga tak menginginkan perceraian.
Namun ... di sisi lain sakit hatinya juga besar. Maka dari itu dia memilih berpisah sementara untuk menenangkan hatinya, sampai dia bisa menerima Mario kembali. Hitung-hitung memberi pria itu pelajaran tentang hidup orang lain.
Samar Davina mendengkus sebal. Agar Mario bertanggung jawab? Sampai sekarang pria itu tak muncul di depannya. Kalau memang mau bertanggung jawab, setidaknya mencari tahu kabarnya. Apalagi kini dia sedang hamil.
Apa mesti diberitau dulu? Grrr ... benar-benar menjengkelkan, Davina bersungut kesal dalam hati seraya meremat ujung gaun hamilnya.
"Yup, harus diberitahu, Vin. Dan kau bisa menghukum dia sepuasnya secara langsung. Daripada mengajukan berpisah sementara seperti ini. Tak ada untungnya, kan." Ty berucap memberikan solusi, seakan menjawab apa yang digerutukan oleh Davina saat ini.
"Hitung-hitung sekalian menyembuhkan luka hatimu pula." Ty menghentikan laju mobilnya saat berada di jalur traffic light.
Salah satu alis Davina terangkat, bertepatan dengan rambut-rambu lalu lintas kembali hijau, mobil yang dibawa oleh Ty pun perlahan melaju kembali bersama kendaraan lainnya.
Samar, sudut bibir wanita muda ini menyeringai tipis akan ide Ty. Bergumam dalam hati, heum, Ty benar. Awas saja kalau ketemu nanti kau macan kumbang, akan kuhukum kau---
"GYAAA!"
__ADS_1
Hanya seperkian detik dari teriakan yang keluar keluar dari celah bibir Davina, disusul kemudian bunyi ban mobil yang berdecit di jalan beraspal, akibat Ty mengerem mendadak.
Pria berambut hitam dengan model top knot ini melotot sembari mengembuskan napas, sementara pandangannya menatap nanar jalanan di depannya. Nyaris saja dia menyebabkan kecelakaan beruntun.
Beruntung, mobil yang berhenti di depannya mulai melaju ketika dia berhenti mendadak tadi. Sementara untuk mobil yang berada di belakangnya. Terpaksa Ty menebalkan kupingnya saat mendengar umpatan kasar dari sang pengemudi ketika melewatinya.
"Kenapa, Vina? Kau ingin melahirkan?!" oceh Ty mulai panik. Menatap cemas Davina yang memegangi perut buncitnya.
"Sialan, kau dinosaurus!" umpat Davina seraya memberikan Ty tendangan gratis di kakinya. Tak peduli meski Ty adalah bosnya.
"Kau ingin aku betulan melahirkan mendadak di dalam mobil, ha!" pekik Davina dengan memberikan tatapan tajam membunuhnya pada Ty.
Ty tercengir meski dalam hati bersungut kesal. Sialan! Meski hamil begitu, ternyata tenaganya tetap kuat. Aku simpati padamu, Rio. Tetap tabah menghadapi sikapnya selama ini.
"Bukan begitu, Vin. Justeru kupikir, kaulah yang akan segera melahirkan dengan teriakan begitu." Ty membela diri seraya bersungut-sungut. Mata tajamnya menatap sekali lagi kondisi sosok manis di sebelahnya. Memastikan keadaannya. Kemudian mengelus dada, begitu lega kala mengetahui tak terjadi apa-apa pada istri sahabatnya ini, hanya terkejut sedikit akibat ulahnya yang mengerem mendadak tadi.
"Kenapa teriak-teriak begitu, Vin?" tanya Ty di sela-sela kembali menjalankan mobil.
"Tasku ketinggalan," jawab Davina enteng dengan bibir mengerucut.
Astaga! Ty nyaris menginjak kembali pedal remnya secara mendadak. Namun, kali ini bisa menguasai rasa terkejutnya. Pria muda ini mengerjap. Masa hanya karena tas ketinggalan, Davina berteriak bagai orang baru saja kena copet? Atau bahkan seolah ingin melahirkan saja.
"C'mon, Ty! Putar balik ke rumahku." Davina memberi titah seraya menggamit lengan Ty.
"Tidak bisa, Vin. Kalau mau belok, simpang untuk putar arah sudah lewat," jelas Ty cemberut. "Kali ini tak usah kerja tanpa tasmu yaaa," bujuknya.
"Tidak mau!" tolak Davina sembari melotot tajam. "Harus putar balik lagi, Ty!"
"Astaga, Davina Archielo!" Ty mengerang keras, malas sebenarnya harus memutar arah yang tentunya akan memakan waktu lama. Diacaknya rambut hitamnya. Sekali lagi menatap wanita muda di sampingnya.
"Geez, sedari dulu aku mengenalmu, sifatmu tak pernah berubah. Ceroboh dan pelupa, Vina, Vina," cibir Ty sembari mendesis.
Ty menyeringai senang saat menemukan alasan yang tepat menggoda Davina---membujuknya secara halus---agar balikan dengan sahabatnya. Maka dengan itu, tugasnya mengantar jemput Davina pulang pergi bekerja atas perintah Mario selama ini pun selesai.
Yup. Saat mengetahui Davina bekerja padanya, Mario datang meminta bantuan untuk menjaga Davina. Mengingat saat ini, hanya dialah yang dekat dengan Davina. Sementara Mario sendiri, tak bisa sepenuhnya mengawasi sang istri di tengah pekerjaannya yang juga menyita perhatian.
*This Is Your Baby*
"Ayo, Kakak El! Kita buat susumu~"
Usai menutup pintu---lima menit setelah kepergian Davina---nyonya Oswalden memapah sang cucu berjalan pelan menuju ke arah dapur.
Baru tiga langkah wanita paruh baya itu berjalan, pintu di belakangnya kembali dibuka. Tanpa menoleh ke belakang, dia tahu siapa yang membukanya. Siapa lagi yang punya kunci selain dia dan Davina, kalau bukan sang pemilik rumah ini.
"Lihat, Kakak El! Siapa yang datang." Wanita paruh baya itu tersenyum kala mendapati sosok Mario berdiri di belakangnya.
__ADS_1
Seperti biasa, setiap pagi sebelum pergi ke hotel. Dan yang paling penting Davina tak berada di rumah lagi, Mario pun akan ke sini. Bermain sebentar dengan Eleanore dan menyiapkan semua kebutuhan untuk penghuni di rumah ini.
"Dad-dy ..." celoteh Eleanore memanggil Mario tanpa ada rasa canggung dan takut, seakan terbiasa melihat wajah Mario selama delapan bulan ini.
"Kemarilah, Kakak El." Mario berjongkok dan merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut sang putra, berjalan tertatih-tatih menuju dirinya tanpa bantuan sang nenek. Tersenyum lebar saat akhirnya sang putra berhasil sampai kepelukannya.
"Good boy! Jagoan Daddy memang pintar," puji Mario. Ia kembali berdiri dan memberikan kecupan pada kedua belah pipi gembul Eleanore dalam gendongannya.
"Kau mau sarapan, Rio?"
Seolah kehadiran Mario tidak asing lagi di rumah ini. Wanita paruh baya ini menyela ketika Eleanore balik menepuk kedua belah pipi Mario, lalu terkikik geli kesenangan.
"Tak usah, Mom. Tadi sudah sarapan sebelum ke sini dengan Ravi." Mario menjawab tanpa melihat nyonya Oswalden sama sekali.
"Oh ... kalau begitu kubuatkan minuman. Mau kopi atau teh?" tanya sang mertua lagi, kini mulai beringsut berjalan menuju dapur yang berada di ujung lorong rumah.
"Kopi juga boleh Mom,--- apa semua baik-baik saja selama seminggu ini, Mom?" Mario mengajukan pertanyaan ketika mulai melangkah - mengikuti sang mertua yang berjalan di depannya. Ditepuknya lembut butt kecil Eleanore ketika batita itu menggusel di lehernya. Sedikit geli karena rambut lebat batita itu menusuk kulitnya.
"Syukurlah, semuanya dalam keadaan baik-baik saja," jawab sang mertua berjalan pelan, karena ruang lingkup berjalannya sedikit terporsir oleh pakaian kimononya. Kendati demikian wanita paruh baya ini tak mengeluh sama sekali, sebaliknya dia suka.
"Bagaimana dengan kandungan Vina? Ada masalahkah?" Mario bertanya begitu seriusnya. Selang semenit kemudian mereka telah sampai di dapur. Dilihatnya sang mertua mulai menjerang air untuk membuat susu Eleanore dan juga kopi untuknya.
"Kandungannya sangat baik. Hanya saja ... kadang Vina mengeluh karena pegal di kakinya," jelas wanita ini. Sambil menunggu air mendidih, wanita paruh baya itu memasukkan tiga sendok susu ke dalam botol, serta memasukkan gula dan kopi ke dalam gelas, kemudian melanjutkan ucapannya, "yaaa, mungkin karena terlalu banyak bergerak, kakinya jadi sakit."
Wanita ini mengangkat bahu di sela-sela menghela napas, mengingat betapa keras kepalanya sang putri.
"Dia masih belum mengajukan cuti?" Mario mengalihkan perhatiannya dari wajah Eleanore pada sang mertua - sedang mematikan kompor. Kedua alisnya bertautan.
"Belum. Katanya masih ingin bekerja, sekitar dua minggu lagi dia baru mengajukan cuti."
"Menunggu dua minggu lagi? Kapan dia akan beristirahat, mungkin saja dalam minggu ini dia akan melahirkan," keluh Mario mengembuskan napas.
Sepertinya, dia harus kembali berbicara pada Ty. Membujuk sang istri untuk cuti, atau bila perlu pecat saja dari pekerjaannya?
Astaga! Haruskah dia berbicara langsung pada Davina?
Masihkah wanita muda itu marah padanya?
“Daddy ...”
Perhatian Mario kembali pada Eleanore, saat batita itu kembali menepuk pipinya, mencoba meminta perhatiannya. Ditepuknya pucuk kepala putranya. Seperti biasa, Mario akan menggelitiki perut gembul batita itu hingga Eleanore terkikik senang, akhirnya perhatian sang ayah fokus kembali padanya.
“Ayo, Kakak El! Beri Daddy jatah chuuu ...”
Mario tersenyum lebar seraya memajukan bibir, mengisyaratkan agar Eleanore memberinya kecupan di bibir. Diputarnya tubuh atletisnya. Dalam seperkian detik saja, tepat Eleanore menempelkan bibir mungilnya, bersamaan itu pula mata elang Mario membelalak. Tepat di belakang tubuh Eleanore, Davina juga membelalak melihatnya ....
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1