Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Pindah Sekolah


__ADS_3

“Papa pindah tugas lagi.”


 


Deg! Jantung Nico serasa berhenti mendengar kabar dari papanya saat sarapan pagi ini. Pindah sekolah lagi?


 


Nicolaus Daniel, adalah seorang remaja kelas dua SMU dan saat ini tinggal di Surabaya. Ia dan keluarganya bukan asli Surabaya, namun papanya yang berkecimpung di bidang business research membuat Nico dan keluarganya sering pindah kota demi pekerjaan sang papa.


 


“Kita baru tinggal di Surabaya tiga bulan terakhir, Pa. Memangnya pekerjaan Papa sudah selesai disini?” Tanya Nico pada papanya.


“Iya, sudah selesai. Kali ini Papa dipromosi dan kita akan ke kantor pusat di Jakarta. Semoga kota ini jadi tempat tinggal kita yang terakhir.” Jawab papanya sambil tersenyum.


“Papa yakin? Kita pernah di Medan dua tahun, Palembang satu tahun, Pontianak delapan bulan, Makassar satu setengah tahun, Bali tujuh bulan. Itu baru sebagian kota, belum semuanya. Baru kali ini cuma tiga bulan di Surabaya. Papa yakin kota berikutnya untuk seterusnya?” Tanya Nico ragu.


 


“Papa yakin delapan puluh persen. Kali ini bukan karena pekerjaan seperti biasanya, tapi Papa memang dimutasi ke kantor pusat. Pekerjaan luar kota mungkin masih Papa jalani nantinya, tapi jangka pendek saja dan sifatnya supervisi. Jadi kamu tenang saja, ga akan capek-capek packing lagi untuk ikut Papa pindahan.” Papa tergelak membayangkan wajah cemberut Nico setiap kali mereka berkemas untuk pindah kota.


 


“Siapa yang ga capek disuruh berkemas melulu? Wajar saja Nico manyun kalau disuruh berkemas!” Timpal Mama yang baru saja bergabung di ruang makan sambil membawa sepiring omelette dan sosis goreng kegemaran Nico.


“Bukan cuma berkemas, Ma, Pa, tapi siapa yang gak capek harus penyesuaian diri lagi di lingkungan baru? Pindah sekolah lagi, tetangga baru lagi, teman baru, guru baru…”


 


“Gebetan baru…” Tambah papa sambil kembali tergelak. “Ambil sisi positifnya dong, Co! Makin banyak kamu bisa kenalan dengan gadis-gadis manis di berbagai kota!”


 


Stella… Nama itu langsung terlintas di benak Nico. Nama yang sering terngiang, tapi tidak ia ingat wajahnya.


 


“Stella… Papa dan Mama ingat dengan temanku yang namanya Stella? Aku kok lupa, dulu punya teman yang namanya Stella di kota mana ya?”


 


“Hahaha, sudah langsung ingat Stella saja! Kenapa, cinta pertama ya? Nanti kalau sudah di Jakarta, bisa sepuluh Stella kau dapatkan!” Lanjut papa sambil tertawa.


 


“Wah wah… Ternyata anak Mama sudah pernah jatuh cinta ya? Mama gak dikasih tahu nih, yang mana sih Stella-nya?” Goda Mama sambil tertawa, dan sukses membuat merah wajah Nico.


 


“Idih, aku aja nanya ke Papa dan Mama, ingat ga teman aku yang namanya Stella? Aku tanya karena aku juga ga ingat Stella itu yang mana, cuma ingat namanya saja. Ah sudah deh, ga usah dilanjutkan. Kapan rencananya kita pindah?” Tanya Nico menutupi malunya sambil berusaha mengalihkan pokok pembicaraan.


 


“Karena kita sering pindah dan Papa Mama juga sibuk kerja dan menjalin relasi, terus terang Mama ga ingat teman kamu yang namanya Stella. Maaf ya, Co.” Jawab mama.


 


“Iya, Papa juga ga ingat. Tapi tenang saja, kau masih bisa dapat sepuluh Stella lainnya.” Gelak papa yang sukses membuat Nico merengut sebal. “Kita pindah bulan depan, tolong kabari ke sekolahmu ya Co, urus surat-surat kepindahanmu seperti biasanya.” Lanjut papa.


 


“Kapan rencananya kita berangkat ke Jakarta, Pa?” Tanya Nico mengalihkan topik pembicaraan dengan orang tuanya mengenai Stella.


 


“Bulan depan,” sahut papa, “Kamu juga sudah mau ujian, kan? Sepertinya masih keburu, setelah ujian dan saat libur kenaikan kelas, baru kita pindah. Sekolah baru kamu sudah bisa Papa urus dari sekarang, Kamu tinggal minta surat kepindahan saja dari kepala sekolah kamu. Bisa kan?” Tanya papa dan diangguki Nico.


 


“Ok kalau begitu, Nico berangkat dulu.” Pamit Nico.


Dengan perasaan galau, Nico pun berangkat kesekolah.


----


“Pindah sekolah? Lo yakin? Ini udah mau ujian loh, Co!” Teriak Agung.


 


Agung, teman baik Nico, terkejut ketika Nico menceritakan berita kepindahan keluarganya ke Jakarta.


 


“Mau bagaimana lagi? Paling gue tunggu ujian kelar dulu aja, nanti nilai-nilai hasil ujian dan kenaikan kelas bisa ditransfer ke sekolah baru di Jakarta. Dasar nasib, bisa apa gue kalau bokap udah diputuskan mutasi!” Jawab Nico sambil menghela napas.


 


“Hhh… Kelas tiga mesti kerja keras extra lo, Co! Lingkungan baru, sistem belajar baru. Tapi btw, gue jadi pingin ikut. Gue belum pernah keluar kota Surabaya, hahaha…” Tawa Agung.


 


“Ah, elo. Gue aja pingin menetap, lo malah pingin pindah. Gak seru tau, capek!” Gerutu Nico.


 


“Tapi kan pengalaman lo bertambah, Co. Bisa lihat macam-macam kota juga. Serulah hidup lo!” Tukas Agung.


 


“Ah, terserah lo deh. Gue mau menghadap Pak Kepsek dulu. Lo mau ikut ga?” Ajak Nico.


 

__ADS_1


“Hayuk lah, gue temenin!” Jawab Agung. Mereka pun berjalan beriringan menuju kantor kepala sekolah. Kegalauan masih meliputi hati Nico, meskipun belum banyak teman di sekolah ini dan yang akrab dengannya masih bisa terhitung dengan jari sebelah tangan namun Nico sungguh ingin terus menetap di kota ini.


 


-----


 


Seminggu menjelang keberangkatan ke Jakarta.


 


Hari ini hari terakhir ujian kenaikan. Rencananya Nico akan mentraktir Agung makan di restoran yang ada disebuah mall besar di Surabaya.


 


Mereka sudah melepaskan seragamnya dan menumpangi sebuah bus trans menuju mall.


“Nanti mau makan apa, Gung?”


 


“Apa aja yang enak, Co. Tapi yang internasional dong, yang ga ada diluar mall.” Kata Agung. Dia ingin mencari pengalaman baru rupanya. Nico tertawa.


 


“Boleh, ikan mentah doyan ga lo? Kalo doyan, gue ajak makan sushi. Atau daging mentah doyan ga? Gue beliin steak medium rare lo, enak tuh.” Nico menawari Agung makan dengan cara yang membuat Agung mendelik.


 


“Lo kira kita masih hidup dijaman batu apa? Segala-gala mentah. Kaga mampu beli api lo? Sini gw bayarin beli geretan!” Gerutu Agung, membuat tawa Nico semakin kencang.


 


“Norak lo. Ini bukannya ga mampu beli api, tapi memang makanannya enaknya dimakannya begitu. Ikannya impor, banyak omega tiganya, memang enaknya dimakan mentah tinggal celup ke saus asinnya. Kalau steak, dagingnya masih lembut banget, empuk. Udah dimasak tapi setengah matang. Makanya jangan makan gorengan mulu lo, biar ga katrok!” Tawa Nico. Agung meremang mendengar penjelasan Nico, tapi ia sekaligus merasa tertantang.


 


“Hih, masih berdarah dong? Ya udah, lo aja yang makan, gue liat dulu. Kalau gue tertarik, nanti gue ikutan makan!” Putus Agung. Jadilah akhirnya mereka menuju restoran steak and sushi.


 


-----


Agung melongo melihat Nico makan.


 


“Co, gila lo Co, masih berdarah itu, Co!” Jeritnya ketika melihat Nico memasukkan sepotong daging steak ke mulutnya. Nico tertawa, dan timbul idenya untuk mengganggu Agung. Dengan garpunya, ditekannya daging dipiringnya itu dan segeralah mengembun darah dari sela-sela daging daging. Mata Agung semakin membesar dan ia bertambah panik.


 


“Co, Co, gila lo Co! Jorok lo Co!” Teriaknya sambil mengepak-ngepakkan telapak tangannya.


 


Agung celingak celinguk melihat ke sekelilingnya, beberapa pengunjung lain sedang menatap ke arah mereka sambil tersenyum lebar. Agung tertunduk malu, namun ia menendang kaki Nico di kolong meja.


 


“Aduh, apaan sih lo?”Jerit Nico kesakitan.


 


“Ada Shirley.” Gumam Agung.


 


“Shirley? Shirley siapa?” Tanya Nico bingung.


 


“Shirley anak kelas sebelah. Yg crazy rich itu loh.” Gumam Agung sambil melirik ke meja di tengah.


 


Nico menoleh ke meja tengah, dia melihat seorang gadis cantik seumuran dengannya, sedang melihatnya dan tersenyum. Ketika mata mereka bertemu, gadis cantik itu berdiri dan menghampiri meja Nico.


 


“Aduh, mati gue! Gue malu banget ini!” Agung semakin menunduk, seperti ingin menyembunyikan kepalanya dibawah meja. Nico ingin tertawa, namun sebelum ia mengeluarkan kata-kata untuk menggoda Agung, suara seorang gadis sudah terdengar menyapanya.


 


“Halo, Nico kan?” Sapanya lembut. Nico menoleh dan mengangguk, menjawab sapaan gadis itu.


 


“Gue lagi party di meja sebelah, gue ultah hari ini. Lo berdua mau join?” Tawarnya ramah.


 


Nico dan Agung berpandangan, mereka agak ragu. Meja Shirley sudah dipenuhi kira-kira sepuluh orang anak laki-laki dan perempuan sebaya mereka, namun hanya beberapa yang mereka tahu sebatas nama saja. Yang lainnya sama sekali tidak mereka kenal.


 


“Ngg… Aku dan Agung disini saja. Terima kasih ya Sher.” Ucap Nico dengan sopan, menolak tawaran Shirley. Ia merasa sungkan dan tidak bebas nantinya untuk ngobrol dengan Agung, karena banyak orang asing di sekitarnya.


 


“Iya, kita disini aja,” ujar Agung, ikut menjawab sebelum Shirley sempat membuka mulutnya dan mendesak mereka berdua untuk bergabung bersamanya. “Ini gue dan dan Nico juga lagi perpisahan, Nico mau pindah keluar kota sebentar lagi.” Lanjut Agung.


 

__ADS_1


Shirley melebarkan matanya mendengar penjelasan Agung.


 


“Betul itu, Co? Lo mau pindah?” Tanyanya. Nico mengangguk.


 


“Kalau begitu lo harus beneran gabung sama gue. Kita ga ada kesempatan makan-makan sama-sama lagi kan? Makanan lo bawa aja, ga apa gue yang bayar. Atau lo mau order makanan baru jug ga apa. Ayo Co!” Cecar Shirley sambil menarik tangan Nico. Nico yang selama ini belum akrab dengan Shirley, merasa risih Shirley begitu berani menggenggam tangannya. Agung melotot melihat kenekatan Shirley.


 


“Ngg…. Ga usah, beneran ga usah Shier, gue dan Agung disini aja. Ada yang lagi gue bahas sama Agung, private, ga bisa didengar orang lain.” Kilah Nico memberi alasan sambil dengan halus melepaskan tangannya dari genggaman Shirley. Shirley memandang Nico dengan lesu.


 


“Ya udah kalau begitu. Tapi nanti selesai makan, jangan pulang dulu ya. Gue mau ngomong sama lo.” Kata Shirley. Nico menangguk.


 


Shirley kembali ke meja teman-temannya. Nico dan Agung melanjutkan makan sambil berpikir. Berbagai hal simpang siur di pemikiran mereka, hasil dari kejutan kehadiran Shirley tadi.


 


“Ngg… Co, gue belum cerita sama lo tetang Shirley ya?” Tanya Agung pelan, ia takut Shirley mendengar namanya disebut atau membaca gerakan bibirnya.


 


Nico menoleh. “Cerita apaan?”


 


“Shirley itu sebenarnya naksir berat sama lo.” Jawab Agung. Nico terperangah.


 


“ Dia selalu mengaku-aku bakal jadian sama lo. Dia lagi nunggu-nunggu lo pedekate sama dia. Katanya, lo dan dia sering lirik-lirikan, cuma mungkin lo belum berani bergerak karena lo masih anak baru. Dia targetin di tahun ajaran baru nanti, bakal bisa jalan sama lo.” Papar Agung lagi. Nico melongo mendengarnya.


 


“Lirik-lirikan? Kapan?” Katanya kebingungan. “Tadi aja gue aja ga inget yang namanya Shirley yang mana… Boro-boro mau pedekate, inget mukanya aja kaga.” Nico menggeleng-geleng.


 


Agung nyengir sekarang. “Penggemar gelap lo tuh, Co. Siap-siap deh lo, habis ini doi mau ngomong tuh, hahaha…”


 


Nico menunjuk hidung Agung. “Heh, abis ini lo temenin gue ya! Awas lo selesai makan pulang! Pokoknya lo ga boleh biarinin gue berduaan sama dia! Nanti dia ribut bilang gw ***** dia, bisa berabe gue!” Agung tertawa makin keras.


 


-----


Nico dan Shirley sudah duduk di sebuah coffee shop. Secara halus Shirley mengusir Agung, ‘pembicaraan personal’ katanya. Akhirnya dengan enggan Nico mengijinkan Agung meninggalkan mereka berdua.


 


“Gue suka sama lo.” Shirley langsung menyampaikan pokok bahasan. Ia menatap mata Nico tanpa malu.


 


Nico menghela napas. Untung ia sudah diberitahu oleh Agung bahwa Shirley mengincarnya, jadi ia tidak begitu kaget mendengar curahan hati Shirley.


 


“Kok lo diam? Ga ada tanggapan?” Tanya Shirley.


 


“Lo mau gue menanggapi apa?” Jawab Nico sambil tersenyum. Dia berusaha menjawab dengan halus supaya Shirley tidak sakit hati. “Perasaan itu hak lo, Shier, gue ga bisa larang.”


 


“Terus, lo sendiri gimana?” Tanya Shirley.


 


“Terus terang gue belum ada ketertarikan dengan siapapun, Shier. Gue anak baru, teman gue juga baru beberapa. Kalau mau, kita juga temanan dulu aja. Kalau urusan jadi pacar atau hubungan yang lebih jauh lagi, tunggu nanti saja di masa depan.”Jawab Nico sabar.


 


“Tapi lo kan mau pergi? Kalau lo ga pergi, mungkin gue bisa sabar nunggu progress tahun depan, siapa tahu kita sekelas. Tapi kalau lo pergi, gue ga ada kesempatan lagi dong?” Ujar Shirley sambil mengerucutkan bibirnya.


 


“Jodoh ga kemana, Shier. Kalau memang kita berjodoh, nanti juga ketemu lagi.” Ujar Nico sok bijak, sambil tersenyum. Aslinya, dia terhuek-huek seperti mau muntah dalam hati. Ya Tuhan, anak ini pede sekali sih….


 


Shirley terdiam, lalu tiba-tiba menatap Nico dengan mata berapi-api. Nico tergidik. Psycho nih anak…


 


“Aku akan susul kamu ke Jakarta!” Seru Shirley. Nico terperangah. What the….


 


“Tunggu aku. Entah nanti lulus SMA atau lulus kuliah, aku akan susul kamu ke Jakarta. Aku akan cari kamu!” Ngotot Shirley.


 


Nico menghela napasnya. Terserah kaulah, Nyong, kau kira Jakarta itu sebesar biji kacang ijo…

__ADS_1


__ADS_2