
Selain pada Om Robert dan keluarga Andy, Celine juga memperlihatkan video itu pada papanya, Hendrawan. Tujuannya agar Hendrawan berjaga-jaga atas taktik baru Andy dan Om Robert, juga untuk memberitahu papanya bahwa Celine telah putus dari Andy.
Hendrawan cukup terkejut dengan pengkhianatan Andy. Dimatanya, Andy adalah seorang laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Hendrawan sudah bertemu beberapa kali dengan Andy, instingnya sebagai pengusaha muda cukup tajam. Papa Hendrawan langsung menginterogasi Celine, menanyakan mengenai kemungkinan mempertahankan hubungan bisnis mereka. Celine memaparkan keuntungan dan kerugiannya, ternyata masih lebih baik mempertahankan kerjasama mereka. Namun ada beberapa pengetatan di pemasaran dan legal yang perlu ditingkatkan, agar penyalahgunaan dapat dicegah.
-----
Tok… Tok.. Celine menoleh, Ardy masuk ke ruangan Celine sambil tersenyum.
“Halo, Cel, masih sibuk?” Sapanya.
“Hai Ar, lumayan nih. Ada apa kesini?” Tanya Celine. Ia melirik jam tangannya, jam sudah menjelang makan siang. Pantas dia mulai merasa lapar.
“Mau diskusi saja. Tadi aku dipanggil Pak Hendrawan. Kau ada waktu untuk ngobrol? Terserah mau sekarang atau sekalian kita makan siang saja.” Jawab Ardy.
Celine mengangguk. “Sambil makan siang saja, Ar. Aku juga sudah mulai lapar.”
Ardy mengangguk setuju. Dengan beriringan, mereka meninggalkan gedung kantor itu dan menuju sebuah restoran.
-----
“Papamu memberi aku jobdes baru.” Tutur Ardy membuka percakapan. Mereka sudah duduk didalam restoran dan memesan makan siang mereka.
“O ya? Jobdes apa?” Tanya Celine ingin tahu.
“Bodyguard.” Sambung Ardy sambil memperhatikan Celine.
Celine terbahak. “Bodyguard? Come on Ar, ini bukan jaman film Kevin Costner lagi. Kocak amat Papa mau main bodyguard-bodyguard-an. Eh, tapi… Kamu mesti jadi bodyguard siapa, Papa?”
“Bodyguard kamu.” Jawab Ardy tenang, masih tetap memperhatikan Celine.
Celine terdiam. “Tapi, kenapa?” Jawabnya. “Aku ga butuh bodyguard. Nanti saja kalau aku sudah jadi artis, baru aku cari bodyguard.”
“Pemikian papa kamu masuk akal, Cel. Pak Hendrawan sudah cerita semua ke aku tadi. Ada ancaman dari Stella, Andy dan Pak Robert. Itu melingkupi semua circle hidup kamu. Dirumah, dikantor. Jadi aku akan dampingi kamu terus, mulai dari kamu berangkat sampai kamu pulang kantor.” Papar Ardy.
“Kalau weekend?” Cetus Celine.
“Sekali kamu keluar dari apartemen, aku akan dampingi.” Jawab Ardy lagi.
“Idih, ngelebih-lebihin suami!” Cetus Celine lagi. Tapi kemudian dia terdiam, melirik ke arah Ardy. Ardy semakin lekat memandang Celine, membuat Celine meremang.
“Kamu ga serius kan, Ar?” Gumam Celine pelan. Ardy mengambil serbet dan meletakkannya dipangkuannya. Makanan yang mereka pesan telah datang.
“Aku serius. Papa kamu juga serius. Kalau kamu keberatan, bicara saja dengan papa kamu.” Ucap Ardy sambil mulai menyendokkan sesendok salad ke mulutnya, namun matanya masih memandang Celine.
Celine dengan lesu mulai mengaduk-aduk nasi goreng dihadapannya. Sudah terbayang hilang sudah kebebasannya.
__ADS_1
“Oh ya, satu lagi.” Ujar Ardy, membuat Celine mendongak, memandang Ardy.
“Mulai besok pagi, aku jemput jam delapan.” Ujar Ardy sambil mengunyah. Celine langsung kehilangan nafsu makannya.
-----
“Pa, kenapa Papa minta Ardy jadi bodyguard Celine?” Tanya Celine sore itu pada papanya di kantor.
Hendrawan tertawa. “Bodyguard? Istilah dari mana itu?”.
Celine tersadar. Bodyguard itu pasti istilah dari Ardy sendiri, ia menganggap dirinya menjadi bodyguard Celine.
“Papa cuma mau kamu aman. Kamu kan tinggal di apartemen, Papa harus yakin kamu aman selama ada diluar apartemen. Atau kamu mau Ardy juga jadi tetangga kamu, supaya kamu aman 24 jam?” Tambah Hendrawan sambil tertawa.
Celine mengerucutkan bibirnya.
“Atau jadi suami?” Alis Hendrawan sudah mulai naik turun.
“Pa!” Celine menjerit. Hendrawan tertawa keras.
“Hahaha, siapa tahu kan, Cel. Eh, kalau Papa pikir-pikir, betul juga ya. Ardi itu paket lengkap ya Cel. Dia bisa menjaga kamu luar dalam, diluar rumah dan didalam rumah. Soal pekerjaan, dia juga bisa dipercaya. Insting bisnisnya juga bagus, bisa dipercaya dan bertanggung jawab, yang kurang darinya hanya modal. Tapi kalau Papa serahkan perusahaan ini ke tangannya, berdua kalian pasti bisa mengelolanya dengan baik. Jadi Papa juga bisa pensiun kan?” Tambahnya bertubi-tubi, membuat Celine tidak bisa bicara.
“Pa!” Celine memekik lagi. “Celine ga mau sama Ardy!”
“Loh, kenapa ga mau? Belum dicoba kok sudah bilang ga mau.” Heran Hendrawan. “Apa soal cinta? Nanti kalau kalian sering jalan sama-sama, lama-lama juga cinta, Cel. Kayak Papa sama Mama gini loh. Dulu kami ketemu terus di sekolah, lama-lama nikah juga kan?” Lanjut Hendrawan berusaha meyakinkan Celine. Karena membahas tentang Ardy, beliau jadi melihat Ardy sebagai prospek suami yang cocok untuk Celine.
“Papaaaa….” Rengek Celine. Seandainya dia bisa membuka rahasianya mengenai Nico, dia sangat ingin menampilkan Nico sebagai calonnya. Namun karena Nico masih dalam tahap ‘pematangan’, maka Celine belum berani mengajukannya ke Hendrawan. Kali ini Celine sudah kehabisan alasan.
“Sudah, Papa tidak mau kamu menolak kali ini. Jalani dulu apa adanya. Biar Ardy yang menemani kamu kemana-mana. Dia kan sudah jadi asisten kamu selama ini, sekarang tinggal ditambah antar jemput kamu saja. Kamu disuruh pulang ke rumah juga tidak mau, maunya di apartemen. Kalau kamu dirumah, kamu bisa pergi pulang bareng Papa kan?” Hendrawan tidak mau mendengar penolakan anaknya. “Papa sudah percaya pada Ardy. Malah harusnya Papa lebih mempertimbangkan Ardy dibandingkan Andy. Maafkan Papa, Papa belum bisa memilih yang terbaik buat kamu.”
Pastilah aku ga mau dirumah… Dirumah apa-apa diatur, ga bisa ke klub, ga bisa ke café… Tapi sekarang ada Ardy, masih bebaskah aku? Gumam Celine dalam hati. Kata-kata papanya sudah nyaris tidak didengarnya.
“Anehnya, Ardy membela kamu tinggal di apartemen,” lanjut Hendrawan, senyumnya muncul kembali. “Biarkan Celine bebas bergaul dan explore dunia, katanya, mumpung masih muda. Dasar kalian, memang jodoh, pemikiran yang satu dimengerti yang lain. Ya sudah, silakan kalian berdualah men-explore dunia bersama-sama.” Gelak Hendrawan.
Celine tidak menjawab lagi, dia mengunci mulutnya rapat-rapat. Sudah tidak berguna melawan. Seperti kata papanya, jalani saja dulu…
-----
Jam delapan pagi, Celine baru saja keluar dari lift menuju pintu enterance lobby. Dia melihat seorang laki-laki tegap dan keren, berjas hitam dan berkacamata hitam, berdiri dengan posisi siap sedang melihat kearahnya. Celine tersenyum dan menghampiri laki-laki itu.
“Morning, Ma’am.” Sapanya sambil menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum. Celine tergelak.
__ADS_1
“Kamu kayak MIB, Ar. Mau membasmi alien dimana?” Tanya Celine sambil berjalan melewati Ardy, menuju pintu lobby.
“Ga apa, yang penting keren.” Sahut Ardy, ikut tertawa.
“Kamu ga sekalian jemput aku di lantai sepuluh?” Goda Celine lagi. “Aku kan sudah turun pakai lift, kalau aku dibunuh di lift, bagaimana?
“Oh, boleh, kalau begitu nanti aku minta access card-nya ya.” Timpal Ardy lagi. Celine tertawa lagi.
“Idih, ogah ah. Kamu jemput di lobby aja aku udah malu, apalagi kalau kamu naik ke lantai sepuluh.” Jawab Celine sambil tertawa.
“Malu? Kenapa? Apa kamu malu jalan sama aku?” Tanya Ardy. Celine menggeleng.
“Bukan, aku merasa bukan selebriti, ga perlu dikawal begini. Lagian aku malu juga sama kamu, ga enak sama kamu. Kamu kan sudah asisten direksi, masa disuruh anter jemput aku… Papa ada-ada aja sih pemikirannya, takut aku celakalah. Aneh-aneh saja.” Tutur Celine. Celine merasa Ardy tiba-tiba merasa tersinggung, dia harus cepat menjelaskan supaya Ardy tidak marah.
Ardy menggeleng. “Aku ga keberatan kok, Cel. Lagian, papa kamu naikin gaji aku, hahaha…” Ardy tertawa senang. Celine ikut tertawa, dia lega Ardy tidak marah. Ardy memang asyik untuk diajak berteman dan bekerja.
------
Jam pulang kantor. Ardy sudah mengetuk pintu ruangan Celine. Celine melambaikan tangannya, menyuruh Ardy untuk masuk. Celine sendiri masih sibuk, kertas-kertas dokumen masih bertebaran di meja kerjanya
“Cel, mau pulang jam berapa?” Tanyanya ringan sambil duduk di kursi tamu didepan meja Celine.
Celine tersenyum. “Memang kerjaanmu sudah selesai? Sudah mau pulang saja.”
“Jam kantor itu jam sembilan sampai jam enam, Cel. Selebihnya, aku ga mau kerja.” Tawa Ardy.
“Heleh, omong kosong. Baru hari ini saja kau mau pulang cepat. Biasanya jadi karyawan teladan, ga tugas diluar kantor atau dalam kantor, pasti lembur. Lagipula ini hari Jumat, aku ga mau weekend-ku ketumpukan dokumen ini.” Sanggah Celine sambil tertawa.
“Nggaklah, karyawan teladan dari mana? Kita jalan-jalan yuk, sumpek nih.” Balas Ardy ringan.
Celine menatap aneh ke Ardy. “Jalan-jalan? Sumpek? Hello, kamu Ardy bukan ya? Sejak kapan Ardy anak kesayangan Pak Presdir Hendrawan bosan kerja? Bukannya itu hobimu ya?”
Ardy balas tertawa. “Memangnya kamu ga mau jalan-jalan?”
Celine menimbang-nimbang. Dia memang ingin sekali ke mall, tapi dengan Ardy? Rasanya aneh, biasanya mereka hanya berhubungan tentang pekerjaan, sekarang ke mall pun berdua. Daripada sama Ardy, mendingan sama Nico, pikir Celine.
Jumat, Nico kuliah sampai jam tiga sore. Setelah itu, kemana ya dia? Celine menggumam sambil mengambil ponselnya.
“Cel?” Ardy menegur Celine lagi. “Gimana, mau ga jalan-jalannya?”
“Huh? Eh, nggak deh, aku mau pulang ke apartemen saja. Capek.” Jawab Celine cepat.
“Oh, ya sudah. Yuk, kita pulang.” Ardy bangkit dari duduknya. Celine memperhatikan wajah Ardi, tidak ada raut kekecewaan disana. Mungkin dia hanya menawari jalan-jalan itu supaya aku tidak suntuk saja, pikir Celine. Ia segera membereskan dokumen-dokumennya dan mengikuti langkah Ardy menuju parkiran mobil.
__ADS_1