Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Kangen


__ADS_3

Shirley akhirnya bertemu Nico dikampusnya pada hari Senin. Kebetulan hari Senin itu jadwal kulian Nico sejak pagi sampai jam tiga sore. Nico tidak ingin berlama-lama dengan Shirley, dia merasa risih dengan gadis agresif itu.


“Hai, Co!” Sapa Shirley sore itu, saat mereka bertemu di sebuah mall dekat kampusnya. Tanpa risih, Shirley mencium kedua pipi Nico, membuat Nico jengah.


“Ih, Sher, malulah, jangan kayak begitu!” Tolaknya.


Shirley hanya menangkat bahu, lalu duduk di hadapan Nico. Kemudian ia memandangi Nico sambil tersenyum.


“Apa kabar, Co? Bener dugaan gue, lo makin ganteng!” Senyumnya.


Nico hanya tersenyum. “Thanks Sher, lo juga makin cantik, makin modis.” Pujinya. Shirley tersenyum senang.


“Gimana, kita mau kemana hari ini?” Tanya Shirley lagi. Dia sangat bersemangat berjalan-jalan dengan Nico.


“Duduk aja disini dulu. Kita ngobrol aja, udah lama ga ketemu kan?” Ucap Nico, membuat senyum Shirley semakin berkembang. Shirley pikir Nico mulai tertarik padanya.


“Oh, ok,” Sahut Shirley. “Gimana kabar lo?”


“Gue baik. Kabar lo gimana? Dalam rangka apa ke Jakarta?” Cecar Nico cepat. Dia tidak ingin terlalu banyak membuka diri ke Shirley, lebih baik dia yang lebih banyak mengorek gadis itu. Namun hal ini malah membuat Shirley makin senang, dia mengira Nico mulai perhatian padanya.


“Gue juga baik. Gue ke Jakarta bareng bokap, bokap mau ketemu om gue yang punya usaha disini, mereka mau kerjasama. Gue kira-kira seminggu disini, pokoknya lo mesti temenin gue seminggu ini ya! Gue kan jarang-jarang ketemu lo.” Ujan Shirley seenaknya. Nico langsung mengerutkan dahinya.


“Gue ga bisa, Sher! Kan gue udah bilang, gue lagi persiapan mid test sekarang ini. Emang lo ga mid test di Surabaya? Kok sempat-sempatnya lo jalan-jalan ke Jakarta?”


“Ga apa, gue kan ikut bokap gue kesini. Gue udah ijin kampus, udah dikasih ikut susulan. Bokap gue kan donator terbesar kampus, jadi bokap yang minta ijin ke Dekan. Urusan itu mah udah beres.” Shirley melambaikan tangannya, menanggap enteng.


“Oiya, bokap lo yang punya kampus ya?” Ujar Nico menyindir, tapi Shirley malah tertawa senang. “Kalau gitu lo liburan aja lah, kalau gue ada waktu ketemuan, baru kita ketemu. Sorry ya, tapi bokap gue bukan yang punya kampus disini, jadi gue ga bisa ikut remedial kayak lo.” Shirley semakin tertawa mendengar sindiran Nico. Dasar crazy rich, sindiran membal semua, pikir Nico.


“Lo ga usah rajin-rajin kuliah lah Co, nanti ikut kerja bareng gue dan bokap gue aja. Bokap lagi mau usaha export sama om gue, nanti gue bilang ke bokap supaya lo dikasih kerjaan. Om gue juga tajir banget, tahu kan keluarga Hendrawan? Yang punya usaha pengalengan itu loh!” Papar Shierly.


Om Hendrawan? Papa Celine? Celine dan Shirley, sepupuan juga? Ternyata tiga serangkai ini bersaudara sepupu? Celine, Stella dan Shirley.. Kening Nico berkerut dalam sekarang.


-----


Sore itu, Celine iseng membuka-buka social medianya. Sebuah postingan dari teman di sosmednya menarik perhatiannya.


Sepupunya dari luar kota, Shirley, mem-posting foto dirinya bersama seorang pemuda yang ternyata pemuda itu adalah Nico dan disertai caption “bareng calon suami masa depan”, dan foto itu di-tag ke social media Nico.

__ADS_1


Setelah bertemu di mall dekat kampusnya kemarin, Shirley memang memaksa jalan-jalan dengan Nico diluar mall. Akhirnya mereka ke wisata kolam air mancur yang terletak dekat kampus, dan Shirley mengambil beberapa foto mereka disana.


Celine menarik bibirnya tipis. Hilang Stella, muncul Shirley, gumamnya. Kamu laku banget sih, Dek, senyumnya, bakal perang dunia keempat nih.


Ia teringat luapan hati Stella waktu itu, bagaimana sepupunya itu begitu iri dan ingin menghancurkannya. Celine semakin memantapkan diri untuk menjaga bisnis papanya. Dengan hubungan bisnis antara Celine dan Andy, bukan tidak mungkin dimanfaatkan oleh Stella untuk menghancurkan usaha Pak Hendrawan. Celine harus memperingati Ardy untuk memperkuat penjagaan legalitas bisnis mereka dengan perusahaan Andy untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Sekarang muncul Shirley. Anak ini kelihatannya lebih nekat, lebih berani tapi tanpa taktik. Apa yang harus aku siapkan untuk mempertahankan Nico? Apakah hati Nico akan berpaling, karena Shirley lebih pantas untuknya? Mereka seumuran, Shirley sangat cantik, pemberani dan agresif, dan anak orang kaya pula. Sebuah kekhawatiran mulai terselip di hati Celine.


Tiba-tiba, Celine teringat senyum dan kemanjaan Nico. Berkali-kali Nico menunjukkan perasaan sayangnya pada Celine, bahkan Nico berada di pihak yang lebih mengkhawatirkan dirinya tidak disayang oleh Celine.  Aku harus menjaga bocah itu dari mantan guru ganjennya dan teman agresif posesifnya, gumam Celine sambil tersenyum. Anak manis, ga cukup satu perempuan yang mengejarmu, sekarang malah ada dua, imbuhnya. Celine tertawa kecil membayangkan Nico yang sedang berlari ketakutan sambil minta tolong, dan dikejar Stella dan Shirley dibelakangnya yang hendak memeluknya.


-----


“Kok caption lo begitu sih? Hapus ga!” Nico sedang marah-marah dengan Shirley. Sore itu mereka bertemu lagi, namun bukannya jalan-jalan seperti harapan Shirley, mereka malah bertengkar.


“Idiihh, apaan sih? Itu kan cuma social media, santai aja kali Co. Itu cuma buat have fun aja!” Kilah Shirley.


“Buat lo cuma have fun, buat gue itu sudah pencemaran nama baik! Hapus ga! Gue ga suka ya, lo sebut-sebut ‘suami masa depan’ segala! Lo datang ke Jakarta dan minta ketemu masih gue ladenin, karena gue masih menghargai lo sebagai teman! Kalau seperti ini caranya, kita bahkan ga usah temanan lagi!” Omel Nico keras.


“Ihh, lo mah ga asik! Itu ga ada apa-apanya kok. Orang lain aja bisa posting macam-macam, masa gue ga boleh? Gue cuma posting tentang pertemuan kita, lo udah marah-marah begini!” Shirley masih membela dirinya.


“Hei, bukan fotonya yang bikin gue marah! Tapi caption lo yang menggiring opini kalau kita calon suami istri! Gue ga suka itu!” Nico berusaha keras menahan emosinya yang terus merangkak naik menuju ubun-ubun. “Papa Mama gue sampai ditanyain orang-orang, tau ga, ada hubungan apa gue dengan anak perempuan Markus Hendrawan!”


Ya Tuhan, aku harus bicara pakai bahasa apa lagi, batin Nico. Ia menggeretakkan gigi dan memaki didalam hati. Bila Shirley bukan perempuan, ingin rasanya ia layangkan sebuah bogem mentah agar otaknya yang bergeser jauh itu bisa kembali ke tempatnya.


“Nggak! Kita nggak jodoh! Gue ga punya perasaan ke lo! Gue sudah punya jodoh sendiri! Jadi mulai sekarang, jauhin gue! Gue ga mau berteman sama lo lagi! Sekarang gue benar-benar tahu, lo punya maksud lain di balik pertemanan ini dan gue ga suka dipaksa! Lo toxic, lo udah terlalu ambisius! Lo ga usah hapus fotonya, gue yang akan hapus tag itu dan block lo selamanya!” Nico langsung membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Shirley. Tidak dipedulikannya Shirley yang menjerit-jerit memanggil namanya.


“Co, lo becanda, kan? Lo belum punya jodoh, kan? Lo cuma bohongin gue supaya gue mundur kan? Ga segampang itu, Co! Itu taktik murahan! Co! Stop! Nico! Jangan tinggalin gue! Nico! Nicoo!!” Jeritnya kalap. Tidak diperhatikannya orang-orang yang melihat kearah mereka di sekitaran air mancur tersebut.


Shirley membanting kakinya. Ia menggeram marah. “Nggak segampang itu, Co! Gue selalu dapat apa yang gue mau! Dan sekarang, gue mau lo! Lo pasti jadi milik gue!” Gumamnya marah dengan mata menyala.


-----


Malam ini, Nico menelepon menggunakan video call dengan Celine. Ia menjelaskan kepada Celine mengenai foto-foto yang di-posting oleh Shirley. Celine muncul di postingan tersebut, dan memberikan tanda hati. Nico langsung sadar Celine melihat foto itu dan pasti membaca caption-nya. Nico takut Celine marah dan cemburu padanya. Namun diluar perkiraannya, Celine hanya tertawa.


Celine yang baru selesai mandi, menerima teleponnya dengan hanya menggunakan bathrobe sambil menggosok-gosok rambutnya yang masih basah. Nico duduk di kursi meja belajarnya di apartemennya dekat kampus.


“Kenapa Tante ketawa? Aku udah marah setengah mati ke Shirley, Tante cuma tertawa?” Ujar Nico dongkol.

__ADS_1


“Hahaha, aku tertawa karena aku geli. Lucu sekali Shirley. Dia nafsu sekali sama kamu loh, Dek. Kamu harus hati-hati, biasanya kalau Shirley mau sesuatu, papanya yang akan turun tangan, artinya uang yang akan bertindak. Kamu mengerti maksud Tante, kan?” Celine menjelaskan sambil tertawa.


“Selama aku ga dikawin paksa, aku ga akan apa-apa, Tan. Ini bukan dalam sinetron stasiun tv ikan terbang kan, yang si konglomerat bisa bikin keluargaku miskin melarat sampai harus menjual anaknya?” Bibir Nico mengerucut, dia masih kesal.


Tawa Celine makin keras. “Kalau sampai kejadian begitu, apa Tante bisa menebus kamu, Nic?” Godanya, membuat Nico makin kesal.


“Aku akan pinjam uang Tante sampai habis. Setelah itu aku akan menjual diriku ke Tante, selesai kan urusannya?” Kilah Nico sebal.


Tawa Celine perlahan-lahan mulai reda. “Nic, kamu harus hati-hati dengan Shirley. Entah apa yang kamu lakukan sampai dia suka sekali sama kamu, tapi memang Shirley itu selalu mendapat apa yang dia mau. Dia anak tunggal yang didapat dari pernikahan yang sangat lama, karena itu papa mamanya sangat memanjakan dia. Apalagi Tante Lusia sudah tidak bisa melahirkan lagi, jadi Shirley itu pewaris tunggal kekayaan ayahnya. Kamu yakin ga mau sama dia Nic?” Tanya Celine lagi. “Om Markus dan Tante Lusia selalu memenuhi permintaannya, walaupun itu tidak masuk akal. Memang bukan cara yang betul untuk mendidik anak, tapi kalau hati yang sudah bicara, sudah terlalu sayang, apa mau dikata.” Tutur Celine lagi.


“Aku mau sama Tante saja.” Wajah Nico mulai sendu.


Celine tersenyum, tangannya terulur membelai wajah Nico di layar laptopnya.


“Tante juga kangen kamu, Nic. Pingin sekali besok sudah weekend, jadi kamu bisa main kesini.” Ujarnya lembut.


“Nic kesana sekarang ya, Tan?” Ujar Nic bersemangat. “Nic juga kangen Tente.” Rayunya.


“Nggak, nggak! Besok kamu masih harus kuliah, kan? Ingat janji kamu, kamu mau belajar yang rajin, dapat ilmu yang banyak, jadi pengusaha sukses, jadi layak untuk meminang Tante!” Ujar Celine sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian menggerak-gerakkan jarinya didepan layar laptop. Tanpa ia sadari, tali bathrobe dipinggangnya mengendur sehingga menampakkan belahan bongkahannya. Nico tersenyum melihat itu.


“Kalau begitu, tolong bantu Nic menghilangkan kangen ini, Tan.” Ujarnya mesra.


Celine mengenyitkan dahinya. “Caranya?”


“Aku mau lihat itu.” Tunjuk Nico ke area dada Celine. Awalnya Celine bingung melihat arah jari Nico, namun setelah dia menunduk melihat dadanya, ia menjerit dan merapatkan bathrobe-nya.


“Tan, ayolah Tan!” Rengek Nico. “Aku sudah terlanjur lihat, nanti malam ini aku ga bisa tidur!”


“Ish, kamu genit! Kenapa sih pikiran kamu selalu kesitu? Kalau sedang mampir kesini, maunya juga macam-macam. Nanti mandi barenglah, tidur topless-lah, nanti menyusulah, nanti enam sembilanlah!” Omel Celine.


“Kali ini bukan aku yang minta, Tan, tapi Tante yang kasih lihat! Ayolah Tan, kasihani aku! Aku sudah kepingin, Tan.” Perlahan-lahan Nico mengeluarkan ‘senjata’nya dan memperlihatkannya di kamera laptop. Celine menjerit dan menutup matanya, namun ia membuka sela-sela jarinya untuk melihat layat laptopnya. Nico tertawa melihatnya.


“Ayolah Tan, pasti Tante juga kepingin kalau melihat ini. Untuk dinikmati, cuma boleh setelah aku umur dua puluh lima. Tapi kalau dilihat dan disentuh, sekarang juga boleh.” Senyumnya.


Celine mulai goyah, perlahan dia melepaskan kedua tangan dari wajahnya. Rasa kangen mulai membutakan akal sehatnya, nafsunya lebih mendominasi. Celine membuang pandangannya, namun tangannya melepaskan tali bathrobenya. Perlahan bathrobe itu mulai turun dari tubuhnya, dan berakhir dilantai.


Di apartemennya, Nico juga sudah melepaskan tshirt dan celananya. Ia memamerkan tubuhnya di kamera laptopnya, mengelus kanan kiri dan berusaha menggoda Celine. Celine tergoda, ia juga mulai mengelus tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Malam itu, di dua kamar yang letaknya berjauhan ratusan kilometer, ******* dan erangan terdengar di waktu yang sama. Mereka berdua berusaha memuaskan visual pasangannya dan dirinya sendiri. Rasa rindu mereka terlampiaskan melalui kegiatan tersebut.


__ADS_2