Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Pernikahan dan Calon Om Baru


__ADS_3

Enam bulan berlalu. Nico sedang menjalani semester genap di tahun keduanya di dunia kemahasiswaan.


Sudah enam bulan sejak proyek expor direncanakan. Dalam waktu dekat, produk hasil usaha Andy itu akan perdana di expor ke Malaysia.


Papa Hendrawan sangat bangga atas usaha Celine dan Ardy. Kerja keras dan team work keduanya berhasil memantaskan produk tersebut untuk dipasarkan di dunia internasional. Dengan bantuan perusahaan Pak Markus, segera setelah Malaysia, beberapa negara asia tenggara dan asia tengah akan mulai memasarkan produk itu juga.


Andy dan Stella akan segera menikah. Dijadwalkan sebulan lagi keduanya akan sah sebagai suami istri. Walaupun Stella memaparkan hasil dirinya memata-matai Celine yang membuktikan Celine juga sering keluar masuk apartemen dan hotel bersama Andy, keputusan kedua keluarga tidak dapat diganggu gugat. Pada akhirnya yang mereka lihat adalah Andy dan Stella yang telah berhubungan selayaknya suami istri dan mengkhianati Celine. Disaat itu, Stella mara-marah karena dirinya belum bersedia menikah dengan Andy, sedangkan Celine tertawa puas karena kedua keluarga tidak termakan provokasi Stella.


Saat ini, Celine kembali dihadapkan ke Papa Hendrawan. Ada satu permintaan aneh dari Papa Hendrawan.


“Cel, kamu anak Papa satu-satunya. Kamu anak kesayangan Papa. Papa tidak pernah meragukan usaha kamu untuk terus membahagiakan Papa dan Mama. Karena itu, boleh Papa minta satu hal dari kamu?” Ujar Papa Hendrawan dengan lembut, siang itu di kantor sesaat setelah Papa dan Celine menyelesaikan makan siang bersamanya.


“Papa mau Celine berbuat apa?” Tanya Celine.


“Papa mau kamu menikah.” Ujar Papa lagi sambil memperhatikan wajah Celine.


Deg! Jantung Celine terasa berhenti mendengar kata-kata Papa.


“Me-menikah? Ke-kenapa, Pa?” Tanya Celine tergagap-gagap. Papa tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Celine.


“Kamu anak kesayangan Papa. Papa dan Mama sudah tua, sebelum Papa dan Mama pergi, kami ingin melihat kamu bahagia.” Jawab Papa. “Secara materi, mungkin kamu sudah tercukupi. Tapi Papa dan Mama ingin melihat kebahagian kamu secara rohani. Kamu perlu seseorang yang bisa menemani kamu, menjaga kamu, dan melengkapi hidup kamu.” Tambah Papa lagi. Celine menunduk mendengar kata-kata Papa.


“Cel, Papa dan Mama tidak bisa seterusnya ada di samping kamu dan melindungi kamu. Harus ada seseorang yang sepadan dengan kamu.” Ujar Papa lagi. “Cel, bagaimana, apakah kamu sudah bertemu orang ini?”


Celine mengangkat kepalanya dan menatap papa. Tatapan papa yang lembut, belum memberikan keberanian yang signifikan kepada Celine untuk membuka rahasianya mengenai Nico. Celine takut tatapan mata itu akan berubah menatapnya menjadi pancaran kekecewaan bila pemilik mata itu mengetahui putrinya berhubungan dengan pemuda yang sembilan belas tahun lebih muda darinya. Bagaimana ini, apakah aku harus jujur pada Papa? Tapi kalau aku tidak jujur, bagaimana kalau Papa menjodohkan aku?


“Celine?” Panggil papa lagi.


“Eh?” Celine terkejut. “Be-belum ada, Pa.” Jawab Celine, lalu ia menundukkan wajahnya.


Papa Hendrawan tersenyum. Beliau melihat kepanikan di mata Celine, ia tahu ada yang Celine sembunyikan.


“Kamu yakin?” Tanya Papa Hendrawan lembut. “Apa Papa perlu bertanya pada Ardy?”


Celine sontak mendongak dan menatap Papa Hendrawan. “Pa!” Serunya panik.


Papa Hendrawan kemudian tertawa. Ia berkata lagi kepada Celine dengan lembut, “Ayo Cel, cerita ke Papa.”


Celine memejamkan matanya. Ia pasrah bila papanya akan marah nantinya.


“I-Iya, Pa. A-ada.” Jawab Celine singkat dan ragu-ragu.


“Bagus!” Ucap Papa Hendrawan keras. Celine terlonjak kaget.


“Bawa dia ke resepsi Andy dan Stella. Papa mau kenalan.” Ujar Papa Hendrawan sambil tersenyum dan berlalu pulang.


Mati aku, gumam Celine.


-----


Ardy tertawa keras. Celine yang sedang meletakkan dahinya di meja kerjanya, melirik sebal ke Ardy.


Celine baru saja menceritakan kejadian di ruangan direksi kepada Ardy, dimana Papa Hendrawan minta dikenalkan kepada Nico.


“Dy, kamu itu kalau tahu orang lagi kesusahan, tolong diberi masukan. Bukannya malah diketawain.” Ujar Celine sewot.


Celine menunggu hingga tawa Ardy reda.

__ADS_1


“Jadi, bagaimana rencanamu?” Tanya Ardy sambil tersenyum, dia penasaran apa yang akan Celine lakukan.


Sudah lama sebenarnya Ardy penasaran dengan Nico. Dia belum pernah secara personal bertemu dengan Nico, hanya sekali dua kali pernah  berpapasan di lobby pada saat Ardy mengantar Celine pulang kantor. Seorang pemuda yang terlalu muda untuk Celine dengan nyali tinggi, demikian penilaian Ardy waktu itu. Saat itu Nico menatap Ardy dengan tajam tanpa menyapa. Bagi seorang laki-laki, pandangan itu sudah seperti tantangan. Namun karena masih ada Celine disana, Ardy memilih mendiamkan Nico.


“Ya sudah, dandani saja Nico pakai tuxedo.” Ujar Celine lemas. “Atau kau kenal pengusaha muda yang bisa kusewa untuk jadi Nico?” Tanya Celine lagi, membuat Ardy kembali tertawa.


“Berondongmu itu perlu ibu peri yang bisa menyulapnya jadi dua puluh tahun lebih tua.” Tawa Ardy lagi. Celine tersenyum masam.


“Nanti tolong kau didik dia sebagai lelaki, Ar. Aku sudah mengurusi pendidikannya, tidak ada masalah kalau untuk pendidikannya. Dia cerdas.” Ujar Celine lagi.


“Bukannya didikan sebagai lelaki pun sudah kau berikan?” Tanya Ardy sambil menggerakkan alisnya turun naik. Celine langsung melempar Ardy dengan kotak tissue.


“Hati-hati mulutmu, Ar. Panjang urusannya kalau Papa sampai dengar!” Dengus Celine, wajahnya memerah karena malu.


“Ah, papamu pasti juga sudah tahu. Bukannya Stella sudah menceritakan bagaimana cara kau dan Andy berhubungan? Pasti papamu nantinya beranggapan begitu juga cara kau berhubungan dengan Nico.” Timpal Ardy. “Untung papamu masih membelamu ya, Cel. Aku ga bisa bayangkan kalau Andy harus menikahimu dan Stella sekaligus.”


“Maaf ya, aku bukan pendukung poligami!” Dengus Celine lagi. Ardy hanya tersenyum geli.


“Eh, tapi… Coba kau ceritakan bagaimana berondongmu, mantap ga goyangannya?” Bisik Ardy.


Celine bangkit berdiri hendak melepaskan sepatunya dan melemparkannya ke Ardy. Ardy tertawa sambil berlari keluar ruangan Celine.


-----


Ting! Sebuah pesan masuk ke ponsel Nico sore itu.


Nico sedang beristirahat sejenak, berbaring di ranjangnya di apartemen sepulang dari kuliah. Ia segera mengambil ponselnya,  memeriksa pesan yang diterimanya.


Dari Celine, sebuah foto loading. Setelah foto terpapar utuh, mata Nico melebar. Tampak foto Celine tersenyum, sedang mengenakan gaun pengantin off shoulder berwarna putih. Taburan manik-manik menghiasi gaun dibagian dada dan pinggangnya, membuat Celine semakin anggun. Cantik sekali, gumam Nico sambil tersenyum. Duh, jadi pingin nikah…


[Sayang, kamu pakai gaun pengantin? Cantik sekali…] Nico mengirimkan pesannya pada Celine. Celine pun merona membaca pesan Nico. Aku dipanggil ‘Sayang’? Gumamnya.


[Pantas banget itu, Sayang. Duh, ga sabar nunggu kita nikah. Nikah besok aja yuk?] Goda Nico. Nico tersenyum-senyum sambil menunggu balasan Celine.


[Seandainya bisa ya, Nic. Sekarang juga, aku nunggu kamu culik aku.] Celine cekikikan sambil membalas pesan Nico.


Nico tersenyum lebar. Semakin lama, dari hari ke hari menjalin komunikasi dengan Celine, Nico semakin yakin bahwa dirinya sudah ada dihati Celine.


[Iya, Sayang, tunggu aku ya. Aku akan culik kamu secara baik-baik dari papa mama kamu. Kalau kamu udah berhasil aku bawa, jangan harap akan bisa pulang lagi ya.] Balasnya.


Celine tersipu-sipu membaca balasan pesan dari Nico. Senyuman Celine tidak luput dari mata Andy dan Stella. Berbagai pemikiran terlintas di pikiran kedua orang itu.


Hari ini Celine memang mengikuti rombongan keluarganya mendampingi Andy dan Stella yang sedang fitting baju pengantin. Ketika mereka semua sedang sibuk memperhatikan Stella dan Andy, Celine memisahkan diri karena tertarik melihat sebuah gaun pengantin yang sekarang ia kenakan. Kebetulan karyawan bridal mengijinkannya mencoba gaun tersebut, jadi Celine mencobanya dan mengirimkan fotonya kepada Nico.


Andy memperhatikan Celine dengan sembunyi-sembunyi. Celine terlihat sangat cantik saat itu. Andy menyesal karena tergoda rayuan Stella dan mengkhianati Celine. Ternyata Stella tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Celine, mulai dari kecantikannya, karakternya, semangatnya, bahkan sampai kesexyannya.


Dilain pihak, Stella memperhatikan Celine tanpa sembunyi-sembunyi. Matanya yang menatap Celine penuh iri dan dendam, tidak bisa disembunyikan. Stella bahkan juga menangkap sorot mata Andy yang sesekali memandang Celine dengan kerinduan, apalagi saat Celine sedang tersenyum dan tersipu sambil memegang ponselnya. Pasti sedang menghubungi Nico, pikir Stella.


Tiba-tiba Celine mengangkat wajahnya, ia langsung bertemu pandang dengan Stella. Melihat begitu banyak kebencian dari tatapan Stella, Celine langsung membuang pandangannya lalu berdiri dan berlalu dari lokasi itu. Mumpung moodnya masih baik, ia tidak ingin Stella merusaknya. Ia ingin melepaskan pakaian pengantinnya dan kembali saja kekantor. Toxic sekali, pikir Celine.


-----


Nico sedang bahagia. Hari ini hari Sabtu, yang berarti dia akan segera menuju apartemen Celine.


Pip! Klik! Pintu apartemen Celine terbuka. Dengan sumringah, Nico memasuki unit apartemen itu.


“Sayaangg…” Panggilnya mesra. Dia memutar-mutar kepalanya, mencari keberadaan Celine.

__ADS_1


“Nic, aku di kamar.” Hanya suara Celine yang terdengar, tidak tampak wujudnya. Nico tersenyum, ia langsung berjalan menuju ke arah kamar Celine.


Nico membuka pintu kamar. Tampak Celine duduk di ranjangnya, kepalanya bersandar pada headboard. Melihat Nico, Celine tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya seakan minta dipeluk.


Nico segera menghambur dan menangkap tubuh Celine, mendekap Celine di dadanya. Diusap-usapnya rambut Celine dan dikecupnya pucuk kepala itu beberapa kali.


“Baru bangun, Sayang?” Ucap Nico setengah berbisik. Celine menganggukkan kepalanya.


“Mau sarapan? Aku sudah bisa masak sekarang.” Lanjut Nico lagi. Celine mendongakkan kepalanya.


“Serius? Kamu bisa masak?” Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidurnya.


Nico mengangguk pelan. “Kamu berbaring dulu saja, kalau sudah lebih segar baru mandi ya. Aku masak sarapan dulu.”


Celine tersenyum, lalu mencuri kecupan kecil dari bibir Nico sebelum ia berjalan menuju kamar mandi.


Nico segera menuju dapur. Dilihatnya bahan makanan yang ada didalam kulkas. Sedikit banyak Nico sudah mulai terlatih mandiri, karena di apartemennya sendiri pun seringkali ia memasak sendiri makanannya.


Celine muncul di ruang makan pada saat Nico hampir selesai menyelesaikan hidangan sarapannya. Hidangan sederhana, sandwich berisi telur, mayonnaise dan keju leleh. Selain itu, Nico menggoreng sosis untuk pendampingnya. Nico tersenyum melihat kedatangan Celine dan menarik kursi makan untuk gadis tercintanya.


Celine tampak cantik dan awet muda dengan penampilannya. Tshirt press body dan celana super pendek, memang sengaja Celine gunakan untuk menggoda Nico. Walaupun hasil godaan itu tidak selalu berakhir di tempat tidur, namun Celine sering merasa gemas melihat wajah Nico yang menahan diri.


“Tuh kan, gangguin aku lagi kan…” Bisik Nico di telinga Celine pada saat Celine baru mendaratkan tubuhnya di kursi. Bisikan Nico langsung disusul dengan beberapa kecupan di leher Celine dan remasan di kedua lengan Celine, membuat Celine menggumam dan merinding. Setelah kecupan dan remasan itu, Nico menuju kursinya sendiri. Meninggalkan Celine yang masih termenung, menikmati sensasi sentuhan itu.


“Nicc….” Desah Celine walaupun Nico sudah tidak menyentuhnya lagi. Nico hanya menatap Celine sambil tersenyum, ia puas bisa membuat Celine mabuk akan sentuhannya.


Celine menatap Nic dengan tatapan mendamba. Akhirnya Celine tidak tahan lagi, ia berdiri dan menghampiri Nico, lalu duduk menyamping di pangkuan Nico.


Dengan senang hati, Nico merengkuh pinggang Celine untuk merapat ke tubuhnya. Setelah mengecup bibirnya beberapa kali, Nico mengambil sandwich yang dibuatnya dan menyuapkannya ke Celine. Mereka berbagi sandwich yang sama, menggigitnya bergantian.


Sambil makan, Celine memeluk leher Nico.


“Nic, Papa mau ketemu…” Ujar Celine tiba-tiba.


Uhuk! Nic tersedak sandwichnya. Kemudian ia menatap Celine dengan bingung.


“Papa? Papamu?” Tanyanya linglung. Celine mengangguk sambil tersenyum.


“Calon papa mertuamu.” Senyum Celine lagi.


“Papa tahu tentang kita?” Tanya Nico lagi.


“Papa tahu kamu ada. Baru sebatas itu. Dia ga tahu umur kamu, background kamu, keluarga kamu, sejarah kita.” Jawab Celine lengkap. Nico merenung sambil tetap memangku Celine.


“Nic, kamu sudah pede ketemu Papa?” Tanya Celine lembut. “Papa mau menjodohkan aku, Nic, kalau kamu tidak muncul sekarang."


"Ok, aku akan temui papamu." Jawab Nico cepat.


Celine sontak tertawa."Cepat amat jawabnya, Nic. Kamu yakin?"


"Daripada aku kehilanganmu, lebih baik aku hadapi papamu sekarang. Aku akan tunjukkan aku berpotensi besar dan layak untuk membahagiakan putrinya." Jawab Nico tegas.


Celine tersenyum bahagia. Dia suka Nico yang bersemangat dan percaya diri."Aku akan membantumu. Jangan takut, aku pasti mendampingimu menghadapi Papa." Ujar Celine sambil memeluk Nico dengan sayang.


Nico mengangguk. Dia mengambil sosis dan menyuapkannya ke Celine. Celine memakan sosis itu.


"Hmm...." Katanya sambil memasukkan dan mengeluarkan lagi sosis itu dari mulutnya sambil melirik menggoda Nico. Nico hanya terdiam, memperhatikan tingkah Celine. Celine berdiri dan mengubah posisi duduknya, kini kedua kaki Celine mengapit paha Nico."Mau sosis, Nic?" Bisiknya di telinga Nico. Belum sempat Nico menjawab, Celine sudah ******* bibir Nico dan mengoper potongan sosis yang ada di dalam mulutnya ke mulut Nico. 

__ADS_1


Pagi menjelang siang hari itu, Nico kembali dibanjiri oleh kasih sayang Celine. Mereka berdua saling melampiaskan kerinduannya.


__ADS_2