Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Kehadiran Shirley


__ADS_3

Hari Senin.


"Selamat pagi!" 


Ardy memasuki ruangan PA dengan bersemangat. Nico yang sudah berada didalam ruangan itu, menoleh heran.


"Selamat pagi, Pak. Semangat sekali?" Tanyanya.


"Semangat dong! Memangnya kamu ga semangat? Kalau ga semangat, minta dopping dulu sama Ibu Bos!" Ujar Nico sambil mengarahkan jempolnya ke ruangan Celine.


Nico tertawa lebar, lalu berbisik, "Untuk saat ini sudah cukup, Pak, sudah puas." Lalu menunjukkan jempolnya.


Ardy tertawa, menggelengkan kepalanya. "Dasar pasangan mesum!" 


Ardy mengetuk pintu ruangan Celine, lalu masuk.


"Pagi, Cel!" Sapanya. Celine yang sudah mulai tenggelam di tumpukan dokumennya, menoleh.


"Pagi, Ar. Semangat amat?" Ucapnya, lalu kembali mengarahkan pandangan ke laptopnya.


"Dasar suami istri, pertanyaan kalian sama.” Gumam Ardy sambil tersenyum menatap Celine.


Celine tergelak. “Nico bertanya yang sama? Ya iya lah, kamu memang hari ini beda dari biasanya.”


“Hari ini Shirley mulai ngantor disini.” Ucap Ardy sambil tersenyum. “Kau tahu, dimana dia ditempatkan?”


Celine menggelengkan kepalanya. “Kalau kau mau tahu, tanya saja HRD.” Ucap Celine acuh.


“Tsk, justru karena aku sudah tahu, aku senang!” Ucap Ardy, gusar melihat respon Celine. “Dia ditempatkan di PA Marcomm!” Sambungnya senang.


Celine menoleh terkejut. PA Marcom? Berarti di bawah kendalinya? Di bagian yang sama dengan Ardy dan Nico?


“Aku ga dapat konfirmasi dari HRD. Kenapa dia ditaruh di bagian kita?” Ujar Celine kesal.


Ardy tertawa melihat Celine yang mulai gelisah.


“Divisi kita memang isinya para calon bos, kau tahu? Karena intisari perusahaan kita adanya disini. Kau takut dia mendekati Nico lagi ya? Jangan khawatir, aku akan membantumu menjaga Nico. Ups, maksudku, aku akan menjaga Shirley.” Ucap Ardy sambil tersenyum penuh arti.


Celine menatap Ardy.


“Kau punya rencana? Aku sebanarnya juga punya rencana untuk Shirley, tapi aku ga menyangka dia masuk ke divisi kita. Dia terlalu dekat ke circle kita, apa nggak bahaya?” Tanya Shirley lagi.


“Oh ya? Apa rencanamu?” Tanya Ardy tertarik.


“Mau menjodohkan kamu dengan Shirley.” Ucap Celine polos. Ardy tertawa lebar.


“Klop! Aku juga maunya begitu. Jadi begini, Nico kan sudah lama dibawah bimbinganku. Aku akan menganggap dia sudah mampu membantu kamu. Jadi, Nico akan aku alihkan 100% dibawah kamu. Aku akan fokus di Shirley. Bagaimana?” Tanya Ardy sambil mengedipkan matanya.


Celine tersenyum tipis. “Dasar pencari kesempatan dalam kesempitan! Tentu saja aku setuju!” Ardy tertawa senang mendengar Celine setuju.


“Sip kalau begitu! Aku kembali ke ruanganku dulu, aku akan persiapkan Nico dulu. By the way, nanti jangan pacaran saja ya! Aku laporkan ke Pak Hendrawan kalau produktifitas kalian menurun!” Ancam Ardy.

__ADS_1


“Itu juga berlaku buatmu! Awas kau kalau dating melulu, nanti dimintakan data, gak bisa ngasih.. Dipanggil meeting malah mangkir…” Ancam Celine. Ardy tertawa sambil menunjukkan jempolnya, berjalan keluar ruangan Celine.


 


------


 


Pukul 10.30.


Tok.. Tok…


“Masuk!” Suara tegas Ardy menjawab ketukan pintu.


HRD Manager masuk ke ruangan PA Marcomm, mengantarkan seorang karyawati baru yang ternyata adalah Shirley. Shirley menoleh-nolehkan kepalanya, dan segera menangkap sosok Nico di salah satu pojok ruangan. Ia tersenyum senang.


Nico hanya melirik melihat orang-orang yang masuk kedalam ruangan mereka, kemudian ia kembali menundukkan kepalanya, tenggelam dalam pekerjaannya.


“Selamat siang, Pak Ardy. Saya mengantar karyawan baru untuk Divisi PA Marcomm.” Ujar HRD Manager. Ardy menganggukkan kepalanya, lalu pandangannya beralih kepada Shirley.


“Selamat siang.” Sapanya sambil tersenyum kepada Shirley. Shirley membuang mukanya.


“Selamat siang.” Sapa Ardy lagi, namun lagi-lagi Shirley tidak menjawab dan tetap melihat kearah lain.


“Shirley, kamu ada didepan atasan kamu! Saya harap kamu bisa bersikap sopan!” Tegas HRD Manager. Shirley melirik ke HRD Manager dengan tatapan sinis.


“Biar saya saja, Pak Handy.” Jawab Ardy, lalu menoleh kembali kepada Shirley.


“Se-selamat siang, Pak.” Sapanya pelan dan ragu-ragu.


Ardy menganggukkan kepalanya, lalu berkata pada HRD Manager, “Baik Pak, karyawan ini saya terima. Terima kasih.”


Pak Handy menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan ruang PA.


“Baik, selamat datang di Divisi PA Marcomm. Sebelum kamu mulai bekerja, saya akan informasikan  peraturan bekerja di perusahaan ini dan terutama di Divisi PA.” Ardi berbicara dengan wajah serius sambil memutari tubuh Shirley yang berdiri didepan meja Ardy. Shirley merasa terintimidasi, nyalinya ciut melihat karakter Ardy yang berbeda dari biasanya.


“Pertama, kantor mulai jam sembilan, jadi kamu harus sudah dikantor sebelum jam sembilan. Jelas?” Serunya. Shirley refleks menganggukkan kepalanya. “Jelas, Pak.”


“Bagus. Kedua, kamu harus sopan dan tunduk pada atasan dan senior kamu. Divisi ini dibawah kendali Ibu Celine sebagai Wakil Direktur, saya sebagai PA Koordinator dan Nico sebagai senior kamu. Paham?” Tegasnya lagi. Shirley kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. “Paham, Pak.”


“Good. Ketiga, tugas utama kamu adalah meng-asistensi saya, sedangkan Nico meng-asistensi Ibu Celine. Tidak ada tukar menukar pekerjaan atau mem-back up pekerjaan. Mengerti?” Ujar Ardy lagi. Shirley mengangkat kepalanya, memandang Ardy. Apa ini artinya aku tidak akan bersama Nico walaupun kami satu divisi?


“Kenapa, mau protes?” Tantang Ardy.


Shirley menggelengkan kepalanya gugup. “Tidak, Pak.” Sahutnya dengan suara bergetar.


“Bagus!” Seru Ardy. Ia tersenyum tipis, dan tanpa Shirley sadari, Nico juga tersenyum mendengar ketegasan Ardy dan respon Shirley.


Shirley merutuk dalam hati. Maksud hari meminta bantuan Papa Markus agar bisa bekerja dikantor ini dan mendekati Nico, ia malah terjebak dibawah kendali Ardy. Apalagi Ardy tidak ada segan-segannya kepadanya yang adalah keponakan Pak Hendrawan.


“Meja kamu disini.” Ujar Ardy sambil menunjuk meja disudut kiri yang berada disebelah mejanya. Meja yang sangat berjauhan dengan meja Nico yang berada disudut kanan, dekat pintu masuk ruangan Celine. Shirley menghela napasnya.

__ADS_1


“Susun barang-barang kamu senyaman kamu, tapi harus rapi! Saya tidak suka melihat meja berantakan. Setelah jam makan siang, kita keluar kantor. Kamu ikut saya!” Tegas Ardy lagi.


Nico hampir terbahak melihat wajah pias Shirley. Sangat terlihat dia tidak suka harus tugas keluar kantor dengan Ardy.


“Nico!” Tegur Ardy tegas, mengalihkan pandangannya ke Nico. “Ikut saya!” Sambungnya.


“Siap, Pak!” Nico berdiri seperti robot, lalu berjalan mengikuti Ardy menuju ruangan Celine.


-----


Celine menoleh ketika pintu ruangannya dibuka tanpa diketuk. Setelahnya, masuklah dua lelaki yang berwajah merah menahan tawa.


“Hahahaha!!” Nico dan Ardy tertawa keras setelah pintu ruangan Celine tertutup. Untung ruangan Celine kedap suara, bila tidak sudah pasti suara tawa mereka terdengar sampai keluar ruangan.


“Kau lihat wajahnya tadi?” Ardy bertanya pada Nico ditengah tawanya. Nico mengangguk sambil tertawa.


“Keterlaluan galaknya lo, Pak. Pucat tuh, ga sangka bisa dibentak sama Pak Ardy.” Gelak Nico lagi.


“Biar saja, hitung-hitung aku balas dendam.” Senyum tipis Ardy muncul.


**Flashback on


Pada hari Sabtu kemarin, ketika Nico melamar Celine, Ardy juga sudah mempersiapkan sebuah acara romantis untuk menyatakan perasaannya kepada Shirley. I mem-booking meja di sebuah restaurant di salah satu gedung pencakar langit, menghiasi meja tersebut dengan lilin dan bunga-bunga. Beberapa kali ia bertukar pikiran dengan Nico, tentang yang mana yang lebih indah dan romantis menurut anak muda seumuran Nico dan Shirley.


Membawa Shiley ke restaurant tersebut juga sebuah perjuangan bagi Ardy. Ia terpaksa meminta pertolongan Pak Hendrawan, karena Shirley tidak mau beranjak begitu saja ketika mengetahui bahwa yang akan mengajaknya pergi adalah Ardy. Akhirnya dengan alasan pengenalan awal mengenai perusahaan mereka nantinya, atas perintah Pak Hendrawan, Shirley dapat diboyong Ardy. Shirley bersungut-sungut, hari sabtu masih disuruh juga untuk pergi dengan Ardy.


Setelah dalam perjalanan Ardy beberapa kali mendengar protes dari Shirley mengenai arah perjalanan mereka yang tidak menuju ke kantor, mereka tiba di restaurant itu. Wajah Shirley tertekuk melihat kenyataan bahwa ia dibohongi, ternyata sama sekali tidak ada pembahasan mengenai pekerjaan pada hari itu.


Kemarahannya memuncak ketika Ardy menyatakan perasaannya. Bukannya terharu dan berbunga-bunga seperti rencana Ardy, yang ada Shirley malah mengamuk. Ia mengomel tanpa henti, tidak menghargai usaha Ardy, membanting kakinya lalu pergi dari restaurant tanpa menyentuh makanannya. Ia pulang dengan menumpang taksi, meninggalkan Ardy di restaurant.


Ardy menceritakan pengalaman kelamnya itu pada Nico pagi ini. Nico memberi saran, sebaiknya Ardy menggunakan cara lain untuk menundukkan Shirley. Cara yang lebih dominan dan arogan, hingga Shirley tidak dapat meremehkan dan mengacuhkan Ardy.


** Flashback off


Celine menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.


“Aku turut berduka cita, Ar.” Kelakar Celine, membuat Ardy melotot. “Nico benar, kau harus berusaha keras menundukkan kucing liar itu. Semangat ya!” Ujar Celine lagi sambil mengepalkan tinjunya ke udara, memberi Ardy semangat.


“Jangan khawatir. Lihat saja, dalam beberapa bulan ini aku sudah bisa menghadap Pak Markus.” Ujar Ardy sombong.


Nico dan Celine tertawa. “Ya sudah gak apa, yang penting jangan ganggu aku dan Nico saja.” Ujar Celine, lalu mengedip-kedipkan matanya genit ke Nico. Nico mengeretakkan giginya gemas.


-----


Jam makan siang.


“Co…” Nico menoleh mendengar suara bisikan Shirley. Shirley sedang berdiri di pinggir mejanya, berbisik-bisik karena ia khawatir Ardy yang sedang serius bekerja di mejanya mendengar percakapan mereka.


“Nanti makan siang bareng ya?” Bisik Shirley lagi, lalu tanpa menunggu jawaban Nico, ia segera kembali ke mejanya.


“Shirley!” Panggil Ardy tiba-tiba. Shirley segera menghampiri Ardy, dan ternyata ia diberikan tugas yang lumayan banyak siang itu, dan harus dibawa pada saat mereka keluar kantor setelah jam makan siang.

__ADS_1


“Kita berangkat sekarang. Kita makan siang di jalan saja.” Ujar Ardy sambil bergegas meninggalkan ruangan. Shirley mengeluh, gagal sudah rencananya untuk makan siang dengan Nico. Shirley menoleh mencari Nico, namun ternyata Nico pun sudah menghilang masuk ke ruangan Celine. Akhirnya, tanpa bisa berbicara apapun, Shirley mengikuti langkah Ardy meninggalkan gedung itu.


__ADS_2