Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Cemburu 1


__ADS_3

Akhir minggu kembali datang.


 


Setelah kejadian sakitnya Nico, komunikasi antara Nico dan Celine terjalin lebih lancar. Celine lebih cepat membaca dan membalas pesan yang Nico kirimkan setiap hari. Nico begitu senang dengan perubahan ini, ia merasa Celine menjadi lebih perhatian kepadanya.


 


Satu yang menjadi beban Nico, Stella semakin menempel kepadanya. Nico merasa Stella semakin mengejar dan memata-matainya. Baik di sekolah maupun di lingkungan apartemen, Stella sering kali muncul tiba-tiba. Terkadang ia menyapa Nico, terkadang bertingkah seakan-akan kemunculannya adalah sebuah kebetulan. Seperti di lapangan basket sekolah hari ini, Stella mendadak muncul dan menyapa para murid yang sedang duduk di pinggiran lapangan basket sambil mengobrol. Memang dia tidak secara khusus menyapa Nico yang juga berada diantara gerombolan para murid tersebut, namun Nico tetap merasa terganggu dengan kehadiran Stella yang terkesan sengaja dan tiba-tiba.


 


Nico sempat terpikir, apakah prilaku Stella dipicu juga oleh Nico sendiri yang sekarang mulai mengurangi jam pelajaran extranya dengan Stella? Nico memang menyusun banyak alasan agar tidak perlu mengambil pelajaran extra lagi, mulai dari dirinya yang sudah dapat menyesuaikan diri, tidak ada kesulitan di pelajaran fisika, sibuk dengan kegiatan lain, ingin istirahat, hingga pergi dengan orang tuanya. Stella tidak dapat menyanggah alasan-alasan itu, tapi akibatnya ia sering muncul dimana Nico berada.


 


Selain itu, Nico mulai merasa tidak bebas bila hendak mengunjungi Celine. Nico khawatir berpapasan dengan Stella di apartemennya, terutama di lobby. Bila itu terjadi, Nico belum dapat menemukan alasan apa yang akan digunakannya. Apakah perlu ia membuka rahasianya bahwa ia sudah berhubungan baik dengan Celine, walaupun resikonya adalah amukan Stella? Namun akhirnya, Nico memutuskan untuk menyimpan rahasianya dan akan mengajak Celine untuk pergi berjalan-jalan saja.


 


Namun ternyata mengajak Celine berjalan-jalan juga tidak mudah. Jadwal Celine sangat padat, bahkan pada saat weekend. Nico sudah mencoba selama dua minggu ini, namun keinginannya belum terwujud. Celine masih tidak punya waktu untuknya.


 


Sampai akhirnya Nico tidak tahan lagi, dia ngambek.


 


“Kakak bilang akan selalu menemani aku, meluangkan waktu untukku. Tapi mana buktinya? Aku minta setengah hari Kakak saja di Sabtu ini, Kakak tidak sempat. Kalau hari kerja, aku maklum Kakak tidak sempat. Tapi ini weekend, Kak! Memangnya Kakak kerja saat weekend? Aku bikin janji juga ga dadakan, ini H-3 Kak! Kakak ga keluar kota lagi, kan?” Serunya saat menelepon Celine sore ini.


 


Celine terdiam. Saat ini Celine berada di kantornya. Ia terkejut Nico akhirnya meluapkan emosinya. Namun apa mau dikata, sebelumnya Celine sudah punya janji dengan orang lain.


 


“Nic, Kakak minta maaf ya. Bukannya Kakak mau ingkar janji ke kamu, tapi Kakak benar-benar ada janji weekend ini. Minggu depan deh, Kakak janji, kita akan pergi. Ya?” Bujuk Celine.


 


“Janji sama siapa, Kak? Urusan pekerjaan bukan? Kalau bukan, apa boleh Nico ikut? Hitung-hitung kita jalan-jalan sama-sama.” Nico masih berusaha agar minggu ini dia bisa melancong bersama Celine.


 


“Ga bisa Nic, ga enak sama teman Kakak…” Belum selesai Celine berbicara, Nico sudah memotongnya.


 


“Laki-laki?”


 


Celine terdiam sejenak. “Iya.” Jawabnya singkat.

__ADS_1


 


“Huh, ya sudah deh.” Nico langsung mematikan sambungan teleponnya, ia benar-benar kesal. Nico sudah membayangkan, bisa saja Celine janjian dengan pacarnya yang dilihat Nico di klub malam itu. Atau bahkan pacarnya yang lain.


 


Sedangkan Celine terpaku, masih menggenggam teleponnya. Ia terkejut, Nico yang dikenalnya berpembawaan tenang, ternyata bisa emosional juga. Celine mencoba menelepon Nico lagi untuk memberikan pengertian, namun Nico tidak mengangkat teleponnya. Setelah dikirimi pesan pun, Nico tidak menjawab. Celine menghela napas panjang. Dasar bocah, pikirnya.


 


-----


 


Sabtu pagi.


 


Pagi itu, Nico sudah keluar apartemen dengan mamanya. Lagi-lagi, karena papa sibuk bersosialisasi dengan calon temannya yang seorang pejabat, papa melewatkan kebiasaannya mengantar mama belanja ke supermarket.


 


Saat Nico mengendalikan mobil mama menuju pintu keluar apartemen, ia melihat Celine keluar dari lobby apartemennya sambil bergandengan tangan dengan seorang laki-laki. Seketika hati Nico begitu sedih, ia merasa ada sesuatu yang hilang dari hatinya. Sambil menyetir, perlahan ia mengambil ponselnya, membuka kamera dan memotret Celine yang sedang bergandengan tangan.


 


Setelah mama memasuki supermarket, seperti biasa Nico menunggu sambil duduk di coffee shop depan kasir supermarket. Ia membuka gallery foto di ponselnya, menatap lagi foto Celine yang baru ia ambil tadi. Dikirimkannya foto itu ke Celine, dengan caption ‘Selamat berbahagia, Kakak’.


 


 


Di sisi lain, Celine sangat terkejut melihat foto yang dikirimkan oleh Nico. Apalagi melihat captionnya. Cemburukah dia? Pikir Celine. Celine mencoba menghubungi Nico, tapi Nico tetap tidak mengangkat teleponnya. Dikirimi pesan pun, Nico tidak menjawabnya.


 


Andy, pacar Celine, yang saat ini duduk di kursi pengemudi, melihat kagelisahan kekasihnya. Ia menggenggam tangan Celine, membuat Celine menoleh kearahnya.


 


“Ada apa?” Tanyanya lembut, sambil mengelus jemari Celine dengan menggunakan jari jempolnya yang sedang ditumpangkan di tangan Celine.


 


Celine menggelengkan kepala, dia tidak mau menceritakan perihal Nico kepada Andy. Celine sudah berhubungan dengan Andy selama delapan bulan ini, dan Celine sudah mengenal karakter Andy yang pencemburu dan pencuriga. Ia tidak mau memancing kecurigaan Andy dengan menyebut nama Nico.


 


Andy adalah salah satu pengusaha muda yang cukup sukses. Perusahaan start up minuman teh yang didirikannya pada saat ia berusia dua puluh satu tahun, kini sudah sukses dan telah bekerjasama dengan perusahaan papa Celine yang bergerak dibidang pengalengan. Andy lebih tua dua tahun dari Celine, ia tertarik dengan Celine setahun yang lalu saat menjajaki kerjasama antar dua perusahaan tersebut. Gayung bersambut, papa Celine merestui hubungan mereka dengan pertimbangan bibit bebet bobot Andy, apalagi kedua perusahaan mereka bisa saling menyokong satu sama lain. Jadilah Celine juga mencoba menjajaki hatinya, siapa tahu bisa menerima Andy untuk mengisi hatinya.


 


Andy tersenyum. “Kita ke kantorku sebentar ya, aku cuma mau ambil data presentasi saja. Setelah itu, kita bisa keliling, shopping, makan, lalu ke klub yang kamu suka.” Celine tersenyum tipis mendengar rencana dating mereka hari ini.

__ADS_1


 


Andy sudah tahu bahwa Celine suka ke klub malam. Kebetulan, Andy juga dari jenis yang sama. Jadilah mereka juga menjadikan klub malam sebagai salah satu tempat dating mereka.


 


Setelah jam menunjukkan pukul delapan malam, mereka telah selesai mengelilingi sebuah mall, makan siang, nonton dan makan malam. Celine minta langsung diantar pulang saja, dia tidak berminat mengunjungi klub malam seperti yang diidekan sebelumnya oleh Andy. Akhirnya Andy setuju untuk mengantarkan Celine pulang.


 


-----


 


Sudah pukul sembilan malam. Nico merasa bosan, seharian ini dia tidak keluar rumah. Setelah mengantar mama ke supermarket, Nico hanya bermalas-malasan di kamarnya. Akhirnya Nico turun menuju minimarket yang ada sederetan dengan lobby apartemen Celine. Ia ingin duduk sambil menikmati kopi saja disana.


 


Ketika sedang nongkrong di minimarket, lagi-lagi Nico menangkap bayangan Celine yang sedang bergandengan dengan laki-laki itu, laki-laki yang tadi pagi menjemputnya. Mereka berdua menuju ke lobby apartemen. Nico segera bangkit, berjalan perlahan mengikuti pasangan itu.


 


Di lobby apartemen, Celine dan Andy langsung menuju ke lift apartemen. Nico yang melihat hal tersebut kembali kecewa. Ia menyadari, Andy pasti akan masuk ke apartemen Celine.


 


Namun tidak mau berburuk sangka, Nico berusaha untuk tetap mengikut ke lantai sepuluh. Karena sudah malam dan sudah jarang penghuni apartemen yang menggunakan lift, akhirnya Nico memilih untuk menggunakan tangga darurat untuk mencapai lantai sepuluh. Dengan menyamar sebagai penghuni yang akan menuju ke mailbox penghuni apartemen, Nico berbelok menuju tangga darurat dan mulai naik tangga ke lantai sepuluh.


 


Pukul setengah sepuluh malam, Nico sudah tiba di lantai sepuluh. Dia terengah-engah kelelahan. Namun dengan bersemangat, dengan cepat ia segera keluar dari tangga darurat dan menuju apartemen Celine.


 


Dengan perlahan, ia memasukkan passcode pintu unit apartemen Celine. Celine memang sudah memberitahukan passcode tersebut kepada Nico, jadi Nico bisa masuk sewaktu-waktu bila mereka janjian namun Celine belum tiba di apartemennya.


 


Klik! Pintu apartemen Celine terbuka. Dengan perlahan, Nico menekan tombol di gagang pintu dan pintu segea terbuka.


 


Ruang tamu apartemen Celine masih gelap. Nico mengendap-endap masuk, melewati ruang tamu, dan melirik dapur. Ia memperkirakan pasangan itu berada di dapur, namun ternyata tidak ada. Ia melihat sepasang sepatu pria dan wanita sudah ada di depan pintu masuk apartemen, jadi dimana mereka?


 


Nico melihat sependar cahaya dari bawah pintu kamar Celine. Dengan perlahan, ia menghampiri pintu itu. Semakin mendekati kamar, sayup-sayup Nico mendengar sepasang suara pria dan wanita. Terkadang suara berbisik dengan nada rendah, terkadang suara tawa cekikikan, dan yang membuat Nico terusik adalah seringnya terdengar suara *******. Dengan jantung berdegub kencang, Nico menempelkan telinganya di daun pintu. Benar saja, Nico dengan jelas dapat mendengar ******* dan kadang rintihan wanita.


 


Nico memberanikan diri menekan tombol pintu, dan segera daun pintu sedikit begeser, memperlihatkan pemandangan yang menyakitkan hati Nico. Suasana kamar yang remang-remang, hanya bermandikan cahaya bulan dari jendela yang terbuka tirainya. Celine terlihat berbaring di ranjangnya, dengan laki-laki yang tak dikenalnya sedang menelungkup menindih tubuh Celine. Tubuh mereka berdua tertutup selimut dari pinggang kebawah, sehingga Nico dapat melihat tubuh bagian atas Celine dan laki-laki itu yang tidak tertutup pakaian. Lelaki itu bertumpu pada kedua sikunya, dan sesekali laki-laki itu menghentakkan pinggulnya. Setiap hentakkan itu membuat Celine mendesis dan kadang merintih. Nico terpaku, air matanya mengalir melihat kakak yang ia sayangi sedang bersetubuh dengan pria lain. Tangan itu, tangan Celine yang kemarin masih memeluknya dan mengelus rambutnya, kini sedang menjambak rambut lelaki itu. Bibirnya, yang kemarin menjanjikan akan selalu ada untuk Nico, kini sedang meracau nikmat dibawah kendali hentakkan sang lelaki. Matanya, yang kemarin memandang Nico dengan berkaca-kaca, kini memandang lelaki itu dengan mesra dan sesekali terpejam, menikmati sensasi persetubuhan mereka. Nico ingin berlari, ia tidak tahan melihat pemandangan ini. Hatinya terlalu sakit.


 

__ADS_1


Tiba-tiba rintihan dan racauan Celine berubah menjadi jeritan yang semakin lama semakin keras. Nico terpaku, apakah Celine tersakiti? Hentakkan lelaki itu semakin sering dan cepat, dan akhirnya lelaki itu menggeram keras sambil menekan tubuhnya ke arah Celine. Celine menggeliat dan memberontak. Nico tidak tahan lagi, ia membalikkan badannya dan berlari menuju pintu apartemen tanpa menutup pintu kamar. Dibukanya pintu apartemen dengan cepat, kemudian ia berlari ke tangga darurat. Ia tidak peduli lagi dengan suara yang ditimbulkannya, ia berlari sambil menangis. Kesayangannya telah disakiti, tapi mungkin lebih sakit hati Nico yang kembali merasa kehilangan.


 


__ADS_2