
Beberapa tahun berlalu, Nico sudah lulus dari kuliahnya.
Saat ini Nico berusia dua puluh empat tahun. Sehari-hari, dia sibuk sebagai seorang pengusaha muda. Usahanya yang bergerak di bidang restoran steak cukup sukses dan sudah mempunyai beberapa cabang. Menu makanan yang enak dan terjangkau serta ambience restoran yang nyaman untuk anak-anak muda, membuat restorannya disukai untuk nongkrong anak-anak muda, baik kegiatan-kegiatan yang serius maupun yang santai.
Selain itu, usaha pengalengan steaknya dengan perusahaan Hendrawan Jaya Grup juga berjalan lancar. Walaupun belum di-export, namun sangat terkenal didalam negeri karena praktis, enak dan harganya yang terjangkau.
Hubungan Celine dan Nico terus terjalin baik. Beberapa kali Nico bertemu dengan Papa Hendrawan, membicarakan segala sesuatu terkait perusahaan dan usaha steak-nya, dan terutama mengenai hubungannya dengan Celine. Papa Hendrawan dan Mama Michelle sudah menanggap Nico seperti anaknya sendiri.
Pak Robert masih bekerja di Hendrawan Group, namun dengan pengawasan ketat dari Ardy, dia tidak dapat berbuat banyak diluar wewenangnya. Apa yang diberikan oleh Pak Hendrawan, itu saja yang dibawanya pulang. Namun demikian, hidupnya dan keluarganya tetap makmur, karena Pak Hendrawan termasuk orang yang tidak pelit kepada saudaranya sendiri, terutama untuk adiknya yang sudah bekerja di perusahaannya.
Pernikahan Andy dan Stella sudah dikaruniai sepasang anak kembar, Nicky dan Chloe. Mereka sudah tidak sering bertengkar lagi. Waktu yang mereka lewati sebagai keluarga, telah menumbuhkan cinta diantara keduanya.
Papa Angga dan Mama Renny tetap tinggal di Jakarta, namun Papa Angga kini bekerja di kantor Papa Hendrawan.
Cinta tak terduga muncul antara Ardy dan Shirley. Setelah bekerja bersama-sama dikantor yang sama, Shirley sering kali merasa kehilangan bila tidak ada Ardy di sisinya. Shirley tidak pernah mengatakan dia telah jatuh cinta dan sering kali dia tetap mendorong Ardy menjauh dari sisinya, namun pada akhirnya mata Shirley tetap akan mencari sosok Ardy.
Setelah beberapa keli pertemuan dengan Papa Hendrawan, pada akhirnya Nico mendatangi Pak Hendrawan dan menyampaikan maksudnya melamar Celine secara resmi. Pernikahan akan dilakukan tahun depan.
Pak Hendrawan menyambut baik niat Nico. Ia menyetujuinya, disamping karena mengetahui Nico dan Celine saling mencintai, mereka juga saling mendukung satu sama lain. Sifat mereka pun saling melengkapi. Usia yang berbeda jauh dapat mereka atasi dengan kedewasaan sikap dan komunikasi yang baik.
------
Di hari sabtu.
Papa Angga, Mama Renny dan Nico sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Sejak Jumat kemarin, Nico menginap di rumah papa mamanya, sekedar kumpul keluarga karena mereka bertiga sudah jarang berkumpul akibat kesibukan pekerjaan masing-masing.
“Pa, Ma, setelah sarapan, Nico pamit ya. Masih harus siapkan data meeting besok, Nico kerjakan di apartemen saja.” Ujar Nico membuka percakapan.
“Pagi sekali pulangnya. Mama masih kangen.” Ujar mama sendu. Papa langsung melirik.
“Ga usah kangen-kangen sama Nico, Ma. Kan ada Papa,” ujar papa sambil menepuk dadanya, “Kalau kangen, peluk saja Papa.” Lanjutnya sambil tertawa.
“Idih, kau ini. Setiap hari juga dipeluk, lebih malah. Masih kurang?” Ujar mama sambil wajahnya merona. Papa terbahak.
“Iya, kalau menginap disini, Nico dengar kok setiap malam kamar Papa dan Mama berisik.” Senyum Nico.
Wajah mama makin merona, dia memegang pipinya. Papa langsung menoel pipi mama.
“Itu namanya menikmati.” Ujar papa. Mama langsung memukulnya. Nico tersenyum melihat kemesraan orang tuanya.
Kemudian mereka mulai sarapan.
“Bagaimana hubungan kamu dengan Celine, Co?” Tanya papa disela-sela makannya.
“Kami baik-baik, Pa. Celine cantik, baik hati, matang…”
“Sematang apa maksud kamu?” Potong Mama.
__ADS_1
“Matang pohon, Ma.” Kelakar Nico disambut tawa papa dan mama. “Dia bisa membimbing Nico, Ma. Pilihan Nico sudah mantap kali ini. Ya sudahlah kalau begitu, tolong lamarkan Celine untukku Pa, Ma.” Ujar Nico sambil tersenyum.
“Memangnya kamu mau dia yang mengatur kamu, Co?” Tanya mama.
“Nico sih ga keberatan, Ma, toh dia waras tidak seperti Shirley.” Ucap Nico.
Mama melirik ke arah papa. Papa memutar matanya.
“Papa ga mau kasih pendapat lagi. Kalau Papa salah ngomong, nanti malam Papa nganggur lagi.” Ujarnya, dan langsung mendapat tepakan dari mama. Nico hanya tersenyum, keisengannya muncul.
“Celine cantik kan, Pa?” Tanya Nico. Papa melirik mama, disaat yang sama, mama melirik papa. Sontak papa mengangkat kedua tangannya seperti orang menyerah.
“Kamu jangan memancing-mancing Papa! Sudah jelas cantikan Mama. Apalagi kalau Mama, sudah tersenyum, duhh manisnya.” Senyum papa muncul. Mama memajukan mulutnya lalu tersenyum, ia berdiri dan berjalan mengarah kekamar.
“Ma, Papa ikut!” Seru papa sambil mengikuti mama.
“Pa!” Panggil Nico, papa menoleh. “Nico serius tentang melamar Celine. Tolong luangkan waktu ya, Pa.”
Papa mengangguk, lalu buru-buru menyusul mama. “Kamu hati-hati!” Ujarnya sebelum menutup pintu kamar.
Halah, bajak membajak sawah di pagi hari, keluh Nico sambil berdiri, dan bersiap berangkat ke apartemen Celine.
-----
Nico sudah membawa data-datanya sebagai materi laporan meeting hari Senin besok. Sudah menjadi kebiasaannya dengan Celine, setiap minggu mereka akan membahas apa saja yang dikerjakan Nico di kantor. Cara ini berguna sekali untuk keduanya. Selain review untuk Nico dan reminder untuk Celine, Celine juga menjadi tahu perkembangan bisnis Nico dan perkembangan perusahaan Hendrawan Jaya Grup. Apabila ada yang kurang, ia akan membimbing dan menyemangati Nico untuk meningkatkan nilai-nilainya. Nico paling suka bila Celine memberinya semangat, apalagi bila bentuknya pelukan dan kecupan yang membuat Nico merem melek.
Siang itu ketika Nico sampai di apartemen Celine, Celine sudah duduk di ruang tamunya dengan laptop di hadapannya. Dia sudah menggunakan kacamata anti radiasinya, membuatnya tampak seperti wanita karier yang cerdas.
Kemeja putih kebesaran membungkus tubuhnya, dilengkapi dengan hotpants berwarna hitam. Membuat Celine tampil semakin sexy.
“Sayang…” Nico menyapanya sambil tersenyum, kemudian menghampirinya, memeluknya dan mencium kedua pipinya. Celine tersenyum, kemudian mencuri ciuman kecil dari bibir Nico. Nico menguncupkan bibirnya dengan senang hati.
Sekilas, Nico bisa mencium aroma wine dari tubuh Celine.
“Semalam ke klub?” Tanyanya.
“Iya, entertain Om Markus. Hebatnya, ada Andy, Stella dan Shirley juga.” Ujar Celine. “Tapi kamu tenang saja, aku bareng Ardy. Jadi aku aman.”
“Hmm.” Nico tidak mau berkomentar lebih jauh. Setidaknya ada Ardy, dia harus mengandalkan Ardy bila ada tiga makhluk jahat yang berada di sekitar Celine. Akhirnya Nico memilih lebih baik diam daripada memancing perdebatan dengan Celine.
Ting! Ting! Ting! Ponsel Nico berbunyi, menerima beberapa pesan. Nico melepaskan pelukannya ke tubuh Celine dan mengambil ponselnya. Smirk-nya muncul ketika melihat pesan yang ia terima.
“Siapa?” Tanya Celine. Ia menyadari perubahan raut wajah Nico.
“Baru saja dibahas. Ternyata ada saja caranya mencemarkan nama baik orang lain.” Ujar Nico sambil menyerahkan ponselnya kepada Celine.
__ADS_1
Celine menerima ponsel itu dan membaca pesannya. Dari Stella. Dia mengirimkan beberapa foto Celine dan Ardy di klub semalam. Angle foto diambil sedemikian rupa sehingga seakan-akan Celine dan Ardy hanya berduaan ke klub. Dibeberapa foto, tampak Celine dan Ardy sedang mengobrol dengan jarak dekat, atau saling tersenyum memancarkan keintiman. Caption-nya pun cukup profokatif, “Lihat kelakukannya kalau kamu ga lagi bersamanya. Murahan.”
Celine tercenung. Ia tidak ingin sedih, tapi hatinya terasa sakit melihat betapa Stella masih tetap ingin menghancurkannya. Nico mendekati Celine dan memeluk pinggangnya dari belakang.
“Tidak usah terlalu dipikirkan. Aku percaya padamu, Sayang. Biarkan dia sibuk memprovokasi kita, dia tidak tahu seberapa besar kepercayaanku kepadamu dibandingkan kepadanya.” Gumam Nico di dekat telinga Celine.
Celine tersenyum, dia merenggangkan pelukan Nico di pinggangnya lalu membalikkan badan dan memeluk Nico. Menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada Nico sambil memejamkan mata.
Nico menciumi rambut Celine, lalu mulai turun ke wajahnya. Dahi, mata, hidung, pipi tidak luput, dan terakhir bibir yang dilumatnya agak lama. Ketika dia baru mulai menyesap leher Celine, Celine mendorong dadanya.
“Aku masih banyak pekerjaan,” keluhnya, “Aku juga harus bantu kamu mempersiapkan bahan meeting besok.”
“Hmm, kalau begitu mari kita mulai.” Jawab Nico. Dia mengalah kali ini, namun dia akan meminta jatah dan bonusnya malam ini dari Celine.
Nico memaparkan rencana kerja expor variasi baru produk teh botolan milik Andy keluar negeri, apa saja yang dipersiapkan, kendala-kendalanya, dan sanggahan dari Andy, Om Robert dan Om Markus. Juga strategi yang saat ini telah disusun oleh Celine dan Ardy dengan sepengetahuan Papa Hendrawan. Celine mendengarkan dan sesekali memberikan ide-ide berdasarkan pemikirannya maupun pengalamannya.
Setelah itu, mereka makan siang dan melanjutkan pekerjaan dengan membahas data meeting besok. Data-data Nico tersusun rapi sehingga sangat mudah bagi mereka menentukan strategi marketing yang akan dijalankan, membuat Celine menghadiahinya ciuman di seluruh wajah Nico dan membuat Nico bersorak kegirangan.
“Aku mau bonus!” Seru Nico.
“Bonus apa!” Sentak Celine sambil tersenyum. Anak ini pasti mau mencari keuntungan lebih, gumamnya. “Ciuman tadi sudah jadi bonusnya!”
“Aku mau Vitamin B, C dan D!” Seru Nico bersemangat.
“Bibir, Cinta dan Dada? Itu jatah nanti malam!” Sanggah Celine lagi sambil tersenyum. Nico tertawa mendengarnya.
“Benar ya Sayang, itu jatah nanti malam. Aku akan tagih, loh.” Godanya.
“Ga usah ditagih, setiap kali juga kamu mintanya yang itu.” Gerutu Celine sambil memajukan bibirnya. Nico sangat gemas melihatnya.
Nico mendekat kearah Celine, lalu meraih pinggangnya. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Celine, lalu berbisik, “Kalau begitu, aku ga minta vitamin. Aku minta vaksin saja.” Bisik Nico dengan suara dalamnya. Suara sexy itu dan hembusan nafas Nico membuat Celine meremang. Apalagi setelah membisikkan kalimat itu, Nico mulai menyesap kembali leher Celine sambil mendorong Celine agar berbaring di sofa. Tangannya pun mulai bergerilya, menyusup di balik pakaian Celine, membelai dan meremas setiap titik sensitif di tubuh Celine.
Celine terpancing. Dia tidak bisa berhenti melenguh dan mendesis, menikmati kelembutan dan kehangatan Nico. Apalagi ketika jari dan lidah Nico meng-explore tubuhnya ke bagian paling peka di area atas dan bawah tubuh Celine. Celine menggelepar, tubuhnya sudah basah dan beberapa kali melengkung menikmati belaian Nico.
“Nic, aku ga tahan…” Celine kembali mendesah sambil meremas rambut Nico. Nico menatap Celine, menikmati wajah orgasme Celine.
“Kau mau… Aku menyelesaikannya?” Tanya Nico lembut.
Celine masih meliuk kekanan dan kekiri. “Nic… Nic… “ Sebutnya beberapa kali dalam desahannya. Kemudian dengan mata sayunya, ia menatap Nico.
“Nic, selesaikan Nic. Nic… Sayang…” Desahnya. Dan akhirnya pertahanan Nico runtuh.
Nic menggendong tubuh Celine, mereka beranjak ke kamar tidur Celine.
Ternyata, cukup dengan mengikuti instingnya dan juga mengikuti reaksi Celine, Nico dapat menjalankan permintaan Celine. Janji yang akan diwujudkan disaat usia Nico dua puluh lima tahun, ditunaikan sore itu. Gelombang cinta yang datang beberapa kali, akhirnya menghempaskan mereka berdua dalam kepuasan.
Nico mendekap Celine dengan erat menjelang puncak hubungan mereka itu, hingga akhirnya semua selesai. Ditengah detak jantungnya yang berlarian, Nico mengecup sayang pipi Celine. “Terima kasih, Sayang.”
__ADS_1
Celine tersenyum manis dan memejamkan matanya, menikmati hangatnya hubungan mereka. Mereka tidur dalam keheningan dan kemesraan.