
Di sebuah pojok, Ardy sedang menghampiri seorang gadis yang berdiri sendirian sambil menyesap minumannya. Gadis yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Nico, tanpa Nico sadari.
“Halo.” Sapanya ramah. Si gadis menoleh, namun kemudian kembali membuang pandangannya.
Ardy menyodorkan sebuah piring berisi buah-buahan. Gadis itu, Shirley, hanya meliriknya namun tidak mengambil makanan itu.
“Sendirian?” Sapa Ardy ramah. Shirley masih tetap mendiamkannya, seakan-akan tidak ada orang yang mengajaknya bicara. Ardy tersenyum tipis, dia tidak beranjak, tetap berdiri di samping Shirley.
“Kamu ga mau makan? Disana ada yang enak…” Belum selesai Ardy berbicara, Shirley sudah membentaknya.
“Berisik! Siapa sih kamu? Sok kenal sok dekat!” Omelnya.
Kerasnya suara Shirley membuat Celine yang berdiri di dekat pasangan itu berada, menoleh. Ia tersenyum melihat Ardy sedang berusaha mengajak Shirley ngobrol. Ardy perlu kerja keras, seleranya ga main-main, gumam Celine.
Dibentak oleh Shirley, Ardy malah tersenyum dan mengulurkan tangannya. “Kenalkan, aku Ardiansyah Pratama, kamu bisa panggil aku Ardy. Aku bekerja sebagai PA di Hendrawan Jaya Group.”
“Gak nanya!” Dengus Shirley.
Ardy tertawa. “Tadi bukannya kamu yang tanya aku siapa? Ayo kita kenalan supaya kamu ga bilang aku sok kenal sok dekat.” Senyum Ardy.
Shirley membuang napasnya kesal, dia langsung beranjak berpindah tempat menuju balkon venue sambil membawa minumannya. Disana dia berdiri sendirian.
Dari atas balkon, Shirley memandang deretan mobil yang terparkir. Aku kehilangan Nico, pikirnya sedih. Papa yang biasanya bisa membantuku, kali ini pun menemui jalan buntu.
Ia terbayang lagi Celine yang beredar ke sekeliling ruang resepsi sambil menggandeng Nico, tanpa malu dengan perbedaan usia mereka. Shirley agak menyesal tidak mendekati Nico sejak mereka ada di Surabaya. Seandainya mereka bisa dekat pada waktu itu, mungkin saat ini Nico akan bersamanya dan bukan bersama Celine.
“Halo. Sendirian?” Sebuah suara kembali menyapanya. Shirley menoleh, dan melihat seorang pemuda seumuran dengan dirinya, tengah menatapnya sambil tersenyum. Dengan arorannya, Shirley memandang pemuda itu dari ujung kepalanya sampai ke ujung kakinya, lalu kembali lagi dari ujung kaki ke ujung kepalanya. Hal ini membuat senyum pemuda itu memudar, sedikit merasa terhina.
“Kamu manis sekali, tapi sayang sekali kamu kurang belajar tata krama. Tidak sopan menilai orang dari ujung rambut sampai ujung kaki, Nona!” Ujar pemuda itu, masih tersenyum namun kali ini tersenyum sinis.
“Mata juga mataku, terserah aku mau melihat orang seperti apa! Lagian kamu juga kepo banget, main sapa orang yang ga dikenal!” Omelnya.
Pemuda itu tersenyum sinis. “Sombong sekali! Kau perlu diajar tata krama!” Pemuda itu mencoba meraih pergelangan tangan Shirley. Shirley menepis tangan pemuda itu dan dengan setengah berlari berusaha masuk ke ruang pesta.
Pemuda itu menghalangi langkah Shirley dan dengan cepat meraih pinggang Shirley yang sedang berjalan cepat melewatinya.
“Lepaskan!” Bentak Shirley sambil memberontak dari pelukan pemuda itu. Namun pemuda it uterus mempertahankan pelukannya dan kini malah mendekatkan wajahnya ke wajah Shirley.
“Beri aku lima menit untuk kita berkenalan, setelah itu aku jamin, kita akan selalu berdekatan!” Bisiknya di telinga Shirley. Lalu pemuda itu mengecup telinga Shirley.
Shirley terkejut dengan kecupan itu, dia kembali memberontak. Namun pelukan pemuda itu benar-benar keras, Shirley tidak dapat melepaskan diri.
“Sayang!” Sebuah suara lagi terdengar di balkon itu. Pemuda itu terkejut dengan kehadiran orang ketiga diantara mereka, dan sontak melepaskan pelukannya.
Shirley juga terkejut dan menoleh. Dia melihat Ardy berjalan dengan tenang menghampirinya. Merasa pelukan di pinggangnya sudah terlepas, Shirley segera berlari menghampiri Ardy dan memeluk pinggang Ardy.
__ADS_1
Ardy merangkul pinggangnya lembut dan mengusap punggungnya.
“Kamu ga apa?” Bisiknya. Shirley mengangguk.
Ardy memandang pemuda itu dengan tatapan mata tajam. Pemuda itu meringis memandang Ardy, lalu mengangkat kedua tangannya.
“Sorry!” Serunya, lalu dia berbalik badan dan meninggalkan balkon itu.
Untuk beberapa saat, Shirley masih berada di pelukan Ardy. Jantungnya berdegup kencang, dia sangat ketakutan. Sudah terlintas di pikirannya, pemuda itu akan berbuat macam-macam kepadanya.
Ardy terdiam, dia membiarkan Shirley tetap memeluk pinggangnya sampai tenang. Setelah detak jantungnya mulai mereda, Shiley baru melonggarkan rangkulannya di pinggang Ardy.
Ardy menatap wajah Shirley dari dekat. “Sudah lebih tenang? Kamu mau minum? Ayo, kita ambil minum dulu.” Ujarnya lembut.
Shirley yang mulai sadar langsung mendelik. Ia sontak melepaskan tangannya dari pinggang Ardy.
“Kamu lagi!” Bentaknya.
Ardy meringis. “Aku cuma membantumu. Lagipula kamu yang berlari memeluk aku!” Kilah Ardy membela diri.
“Ish, ikut campur urusan orang!” Omel Shirley, lalu bergegas bejalan masuk ke venue resepsi, meninggalkan Ardy.
“Kamu yakin mau masuk sendiri?” Seru Ardy, membuat langkah Shirley terhenti. “Pemuda itu juga ada didalam sana. Papa dan Mamamu sedang meeting mendadak dengan Pak Hendrawan dan Pak Angga. Kamu sendirian!”
Akhirnya mereka selalu berjalan berdua selama resepsi berlangsung. Pak Markus dan istrinya memang tidak tampak lagi di pesta itu, membuat Shirley tidak dapat meninggalkan Ardy. Ia sesekali masih menangkap bayang-bayang pemuda yang memeluknya di balkon tadi. Setiap kali pemuda itu muncul, Shirley langsung menggenggam erat siku jas Ardy. Hal ini membuat Ardy tersenyum, dan merangkul pinggang Shirley seakan-akan untuk melindunginya.
Shirley membiarkan Ardy merangkul pinggangnya. Namun bila pemuda itu sedang tidak ada, Shirley selalu menepis tangan Ardy. Ardy hanya tersenyum melihat reaksi Shirley.
------
“Nico…”
Sebuah suara lembut menyapa Nico. Nico yang sedang berdiri di salah satu sisi ruang resepsi, segera menoleh. Tampak Stella berdiri di belakangnya.
Nico tersenyum dan segera menghampiri Stella lalu mengulurkan tangannya.
“Bu, selamat ya untuk pernikahannya. Maaf tadi saya ga naik ke pelaminan, karena sudah mendampingi Pak Hendrawan ke rekan-rekan bisnisnya.” Ucap Nico.
Stella tidak menjawab sapaan Nico, matanya memandang Nico sambil berkaca-kaca.
“Kamu bahagia, Co?” Ucapnya lirih. Senyum Nico menghilang ketika mendengar pertanyaan Stella dan melihat matanya yang berkaca-kaca.
“Ibu kenapa? Ibu ga bahagia?” Tanyanya.
“Aku sudah kehilanganmu. Bagaimana aku bisa bahagia?” Lirih Stella.
__ADS_1
Dengan ragu Nico mulai melihat ke sekelilingnya. Suasana ruang resepsi mulai sepi, resepsi telah berakhir dan sebagian besar tamu sudah pulang. Saat ini Nico terpisah dari Celine yang sedang mengikuti mamanya untuk diperkenalkan kepada salah seorang temannya.
“Bu, jangan begitu, Bu. Ibu sudah menikah sekarang.”
“Ini karena Celine!” Ujar Stella dengan getir. “Penikahan ini karena dia! Kamu juga direbut oleh dia!”
“ Bu, jangan begitu. Kami sudah bertemu jauh sebelum ini. Tidak ada yang merebut disini, cuma memori yang teringat kembali.” Ujar Nico, berusaha menenangkan Stella. “Ibu juga berhak bahagia dengan Om Andy sekarang. Tante Celine pernah bilang, Om Andy adalah laki-laki yang baik. Om Andy akan membuat Ibu bahagia. Ibu berjodoh dengan dia, kalian sudah menikah. Jangan seperti ini Bu, jangan menghalangi kebahagiaan Ibu sendiri.” Ujar Nico lembut. Dia tetap berusaha menenangkan Stella yang sudah terlihat hampir menangis.
Tiba-tiba Andy menghampiri mereka. Matanya memicing melihat Stella yang berkaca-kaca.
Sebelum sempat Andy berbicara, Nico berinisiatif mengulurkan tangannya. Ia ingin menjabat tangan Andy. Andy yang terkejut atas inisiatif Nico, secara refleks mengulurkan tangannya.
“Selamat ya, Om, selamat berbahagia.” Ucap Nico tulus. Andy menganggukkan kepalanya, lalu pandangannya segera beralih menatap Stella.
“Ayo, kita pulang.” Katanya, sambil menarik tangan Stella. Stella tanpa melawan mengikuti langkah kaki suaminya.
Nico termenung menatap punggung Andy dan Stella. Dia sungguh berharap Stella dan Andy dapat hidup berbahagia.
Tiba-tiba Nico merasakan tepukan di bahunya, ia segera menoleh dan segera tersenyum setelah melihat wajah Celine yang juga sedang tersenyum padanya.
“Bagus, kamu bersikap dewasa.” Ujar Celine sambil menggandeng tangan Nico. “Semoga dengan keramahanmu, kita kehilangan dua orang musuh.” Sambungnya sambil tertawa.
Nico tersenyum, lalu meraih pinggang Celine dan mengecup pucuk kepalanya. Lalu mereka berlalu untuk beranjak pulang.
-----
Hari Senin.
“Bagaimana hubunganmu dengan Shirley? Sudah ada kemajuan?” Tanya Celine jahil kepada Ardy. Ardy meringis mendengar pertanyaan Celine.
“Baru tahap awal, masih perlu perjuangan.” Jawabnya. “Sepupumu itu galak, ga sepertimu. Dia masih muda juga. Tapi aku suka semangat mudanya, rasanya aku jadi ikut awet muda.”
Celine terbahak mendengar jawaban Ardy.
“Kau suka meledek aku dengan berondong, ternyata sekarang kau pun dapat daun muda. Karma itu instan!” Ledek Celine lagi.
“Hei, bagaimana menurutmu? Kalau aku berhasil mendekati Shirley, apa aku akan memegang perusahaan Surabaya?” Ardy iseng bertanya bertanya sambil menyeringai.
Celine tertawa. “Jadi, itu tujuanmu? Menguasai PT. Anugerah Sukses?”
“Nggak juga sih, PT. Anugerah Sukses itu cuma bonusnya. Tujuan utamanya, aku dapat gadis muda yang sangat cantik dan bersemangat.” Ardy tertawa lebar.
“Selamat berjuang kalau begitu.” Ujar Celine sambil tersenyum. “Yang jelas, perusahaan kita akan lebih mudah berkolaborasi kalau kau yang mengendalikannya di Surabaya. Disini, biar aku dan Nico yang menjalankan.” Sambung Celine sambil menyusun rencana di benaknya.
Ardy tersenyum lagi. Gadis manis, here I come….
__ADS_1