Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Cemburu lagi


__ADS_3

[Tante, aku belum bisa pulang sekarang. Masih ada kelas pengganti sampai jam 7 malam.] Celine menerima jawaban dari Nico dalam perjalanan pulang di mobil Ardy.


 


Celine menutup poselnya dan menyenderkan kepalanya pada senderan seater mobil. Ardy yang duduk disampingnya, memperhatikan Celine, kemudian ia tersenyum.


 


Ardy memutar player lagunya, kemudian ia bersenandung sambil terus menyetir. Jarinya ia ketuk-ketukkan di kemudinya. Celine yang mendengar senandung Ardy, mulai membuka mata dan memperhatikannya, lalu tertawa.


 


“Bahagiamu sederhana sekali, Dy.” Tuturnya lembut. Ardy tersenyum, taktiknya berhasil membuat Celine bereaksi.


 


“Bahagiaku itu memang sederhana, Cel. Bisa makan, tidur layak, musik enak, bisa melakukan hobi, itu cukup. Selalu bersyukur.” Sahutnya sambil mengangguk-angguk mengikuti ketukan nada lagu. Celine melihat sisi lain dari Ardy yang dikenalnya selama ini sebagai karyawan kantoran.


 


Mereka tiba di lobby apartemen. Ardy menghentikan mobilnya, lalu turun dan membukakan pintu Celine. Dia memang gentleman.


 


“Thank you ya Ar, sampai ketemu hari Senin.” Ujar Celine sebelum masuk ke lobby apartemen.


 


“Besok mau kemana-mana ga, Cel? Perlu aku dampingi?” Tanya Nico. Celine menggelengkan kepalanya.


 


“Nggak usah, besok aku ga kemana-mana. Mungkin cuma berenang aja di apartemen.”


 


“Ok kalau begitu. See you on Monday ya.” Ardy mengangguk sambil mengitari mobilnya, masuk kembali ke kursi pengemudi dan meninggalkan apartemen.


 


Celine berjalan mengarah ke lobby. Tiba-tiba matanya bertemu dengan mata seseorang yang berdiri menghadapnya di lobby. Celine tersenyum.


 


“Nic!” Sapanya. Pemuda itu menatap datar padanya, tanpa senyum. Celine tidak terpengaruh, dia langsung menghampiri Nico lalu memeluknya dan mencium kedua pipinya.


 


“Kamu bilang ga keburu balik, ada kelas pengganti? Kamu ngerjain Tante ya?” Ujarnya. “Ayo naik!” Ajaknya sambil menarik tangan Nico.


 


Nico diam saja, namun ia menuruti Celine menuju ke lift. Tangannya tetap dalam genggaman Celine.


 


Di lift, mereka membisu namun tetap bergandengan. Wajah Nico tetap keruh, namun wajah Celine berseri-seri.


 


Didalam apartemennya, Celine menyodorkan sekaleng minuman ringan dingin ke Nico yang duduk di sofa.


 


“Kamu menginap malam ini, kan?” Ujar Celine.


 


Nico mengangguk. “Om tadi siapa, Tan?” Tanyanya datar.


 


Celine menelengkan kepalanya.


 


“Om? Yang mana ya?” Celine tampak berpikir sambil menatap Nico. Tiba-tiba bayangan Ardy melintas di kepalanya.


 


“Oh, Ardy! Dia asisten Tante di kantor.” Celine lalu menceritakan kejadian dua hari terakhir, sampai akhirnya Papa Hendrawan menugaskan Ardy untuk mengantar jemput Celine. Nico mendengarkan cerita Celine, wajahnya menjadi murung.


 


“Jadi… Tante hampir 24 jam bersama dia?” Tanya Nico sendu.


 


“Yaa, begitulah…” Celine mengedikkan bahunya. “Kamu kenapa?” Lanjutnya, ketika melihat Nico murung.


 


“Oh!” Selintas pikiran muncul di pemikiran Celine. “Kamu cemburu?” Tanya Celine sambil tersenyum.

__ADS_1


 


Nico menundukkan kepalanya. “Apa aku boleh merasa cemburu?” Tanyanya.


 


“Tentu saja boleh!” Seru Celine sambil tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Nico, memperhatikannya dari dekat. “Cemburu itu tanda sayang, kan? Berarti kamu sayang Tante.” Senyumnya.


 


Nico menatap balik ke Celine, ia juga tersenyum.


 


“Lagipula kamu kan calonnya Tante.” Ujar Celine lagi, membuat senyum Nico semakin lebar. Dengan perlahan, ia mendekat ke Celine dan mendekapnya di dadanya.


 


“Kamu ga usah cemburu ke Ardy ya, Nic. Dia bukan siapa-siapaku. Hubungan kami benar-benar sebatas hubungan kerja. Walaupun dia 24 jam bersamaku, hatiku sudah ada isinya. Ga ada ruang untuk tambah satu orang lagipun, meski hanya berdiri di pojokan sekalipun.” Seloroh Celine, membuat Nico semakin erat mendekapnya.


 


Setelah diam beberapa saat menikmati pelukan, tiba-tiba tercetus ide di kepala Nico.


 


“Aku juga mau kerja!” Serunya.


 


“Kerja apa?” Sahut Celine. Terkejut mendengar seruan Nico, Celine langsung melepaskan pelukannya.


 


“Aku mau kerja di kantor Tante. Magang aja ga apa!” Seru Nico, matanya menatap yakin ke Celine. Celine melongo, kemudian tertawa.


 


“Nic, mahasiswa semester dua mau magang apa? Ilmu kamu belum cukup untuk magang. Kalau nanti kamu di semester tujuh mau magang, Tante akan terima dengan senang hati.” Jawab Celine sambil mengelus kepala Nico.


 


“Tapi Nic juga mau menjaga Tante. Kalau Nic ada disamping Tante, Tante ga perlu dekat-dekat dengan om itu!” Kilah Nic. Celine kembali tersenyum.


 


“Kamu masih cemburu ternyata.” Ucap Celine, lalu menoel ujung hidung Nico. “Begini saja, Tante punya rencana. Tante akan buka hubungan kita ke Om Ardy.” Nico memperhatikan Celine, mencerna kata-katanya. “Kalau Tante ceritakan ke Om Ardy, mudah-mudahan kami ga akan punya hubungan yang lebih jauh daripada hubungan kerja. Lagipula Om Ardy itu bisa menyimpan rahasia kok, dia ga akan cerita kemana-mana.” Tutur Celine menjelaskan rencananya.


 


 


“Ya Tante tolak dong!” Ujar Celine sambil tertawa. “Ingat Nic, dalam hubungan itu diperlukan dua orang, bukan satu orang.”


 


Nico mengangguk. “Aku percaya Tante. Tapi awas saja kalau Tante pacaran sama Om Ardy, Nic bakal samperin kekantor Tante!” Ancam Nico. Ancamanmu ga galak amat sih, Nak, memangnya mau apa kamu dikantorku, gumam Celine sambil tersenyum. Ia mengacak-acak rambut Nico.


“Iya, iya. Ya udah, kamu mau makan ga? Tante punya shabu-shabu. Mau?” Tawar Celine sambil menunjuk kulkasnya dengan pandangan mata.


 


“Mau!” Seru Nico cepat. “Aku lapar! Sampai di apartemen niatnya mau kasih kejutan, yang ada malah terkejut. Aku mau Tan, Tante masakin ya? Dimasakin Tante, selalu enak!” Nico memberikan jempolnya. Celine tertawa, lalu segera bergerak mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat makan malam mereka berdua. Selama membuat makan malam, mereka sambil ngobrol dan sesekali saling mencuri ciuman dari pasangannya. Makan malampun diisi dengan saling suap menyuap dengan mesra. Baik Celine maupun Nico, benar-benar melampiaskan rasa kangen mereka, karena tidak bertemu selama seminggu.


 


Tidur malam pun mereka berpelukan. Posisinya berganti-ganti, kadang Celine menyembunyikan wajahnya di dada Nico, sedangkan tangan Nico meng-explore tubuh Celine, membuat Celine beberapa kali memukul gemas tangan Nico. Kalau sudah begitu, biasanya akhirnya posisi akan berubah, Nico yang akan menyembunyikan kepalanya di dada Celine. Namun bukannya tidur, mereka akan semakin berisik. Nico suka mempermainkan gumpalan didepan matanya, tangan dan bibirnya sibuk bekerja, atau malah Nico yang mengarahkan wajahnya ke ketiak Celine, menggelitiknya, membuat Celine menjerit kegelian. Begitu seterusnya sampai akhirnya keduanya tidur kelelahan dengan posisi berpelukan.


 


-----


 


Pagi harinya.


 


Ting! Suara notifikasi social media berbunyi di ponsel Nico. Nico yang terbangun karena bunyi itu, segera membuka inbox-nya.


 


[Halo Co, apa kabar? Gue mau ke Jakarta. Kita ketemuan ya?]


 


Busyet, ini siapa ya? Main tembak aja, pikir Nico. Ia segera membuka profile si pengirim pesan.


 


“Shirley? Siapa Shirley?” Gumamnya. DIperhatikannya lagi foto profile social media itu. Tiba-tiba Nico menepuk jidatnya.


 

__ADS_1


“Si crazy rich!” Pekiknya. Haduh, jawab apa ya?


 


[Halo Sher, apa kabar? Lo kapan ke Jakartanya? Gue lagi sibuk kuliah nih, lagi persiapan ujian tengah semester.] Balasnya.


 


[Ini gue lagi otw. Kita ketemuan besok ya. Shareloc aja rumah lo atau kampus lo, biar gue yang samperin.] Ting! Balasan dari Shirley masuk ke ponsel Nico lagi, Nico langsung pusing setelah membacanya. Bisa gawat kalau dia tahu alamat rumah, mending kasih alamat kampus aja kali ya?


 


[Nanti gue kabarin lagi ya, Sher.] Nico cepat-cepat menutup ponselnya, dia tidak berharap bertemu lagi dengan gadis agresif itu.


 


Ting! Ponselnya berbunyi lagi, namun kali ini Nico mengacuhkannya. Cepat-cepat ditaruhnya ponsel diatas bantal kepalanya, lalu dia beranjak ke kamar mandi untuk mandi pagi.


 


Ting! Berbunyi lagi. Nico tetap berjalan.


 


Ting! Berbunyi lagi. Bodo amat! Maki Nico dalam hati sambil menutup pintu kamar mandi.


 


Beberapa saat kemudian, Celine yang baru selesai mempersiapkan sarapan, masuk ke kamar. Ponsel Nico berbunyi lagi dan menarik perhatian Celine. Celine segera mendekati ponsel itu dan menekan tombol on. Ponsel tidak terbuka, namun menampakkan preview pesan di halaman depannya.


 


[Pokoknya harus jadi ya, ketemuannya.]


[Gue kangen lo.]


[Udah setahun lebih kita ga ketemu. Lo pasti tambah ganteng, gue tambah cantik. Kita coba jalanin dulu, gue yakin kita berjodoh.]


 


Celine tersenyum masam membaca sekilas pesan itu. Sainganku, gadis seumurmu, Dek… Ditunggunya beberapa saat, namun ternyata si pengirim pesan tidak mengirimkan pesan lagi.


 


Klik! Nico keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat Celine duduk diranjang, disamping ponselnya.


 


“Tante? Ngapain?” Tanyanya sambil dag dig dug.


 


“Baca pesan dari penggemar kamu.” Jawab Celine sambil tersenyum. Nico terdiam sesaat.


 


“Tante cemburu?” Tanya Nico perlahan. Celine menggeleng.


 


“Maaf ya Nic, Tante baca pesannya sekilas. Ketahuan kok, kamu itu pihak yang dikejar, bukan mengejar. Jadi bukan kamu yang genit, tapi dia. Buat Tante, itu sudah cukup.”


 


Nico termangu. “Kalau menurut Tante, aku perlu menuruti dia untuk bertemu ga?” Tanyanya ragu.


 


“Ketemu aja, hitung-hitung reuni. Toh kamu ga langsung dia bungkus bawa pulang kan?” Tanya Celine sambil tertawa. Bibir Nico mengerucut.


 


“Ya ga langsung dibawa pulang sih, Tan. Cuma dijampi-jampi dan dirantai aja.” Bibir Nico bertambah manyun. “Memang Tante ga sayang aku ya? Katanya kalau orang cemburu, itu tandanya sayang.” Tambahnya.


 


“Nic, siapa bilang Tante ga sayang kamu? Kalau Tante ga sayang kamu, Tante ga akan menunggu sampai kamu umur dua puluh lima tahun! Lagian, kamu mau Tante cemburu buta ke kamu, cuma gara-gara pesan di sosmed terus ngamuk-ngamuk, begitu? Maaf ya Nic, Tante bukan tipe perempuan ABG pencemburu buta yang tahu-tahu meledak amarahnya cuma gara-gara pesan sepele. Tante sih lebih lihat background hubungan kamu dengan perempuan itu dulu, kalau kalian berdua sama-sama suka dan kita sudah ada komitmen, tentu saja Tante cemburu. Mungkin ga usah diminta, Tante yang akan kurung kamu dirumah!” Tukas Celine cepat, berharap Nico mengerti mengenai watak Celine sendiri.


 


Nico tersenyum sekarang. “Berarti aku disayang dong, Tan?” Tanyanya sambil melirik Celine. Celine diam saja, hanya memutar matanya keatas.


 


“Tanteeee…. Aku disayangkaann??” Ujar Nico lagi, kali ini sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Celine, mengosok-gosokkannya ke paha Celine. Celine akhirnya tidak tahan lagi, ia tertawa lalu menepuk kepala Nico.


 


“Anak bandel, ganjen, genit! Cepat sarapan sekarang, udah siang!”


 


Jadilah mereka bersantai dengan mesra pagi itu di apartemen. Siang sampai malam harinya mereka berjalan-jalan, makan siang dan nonton di mall.

__ADS_1


__ADS_2