
Masih dalam rencana perkenalan Nico dengan Papa Hendrawan.
Berbagai rencana sudah tersusun dalam benak Celine. Untuk awalnya dan melatih mental Nico, Celine berencana mempertemukannya dengan Ardy. Mereka bertiga akan bertemu di lobby apartemen Celine pada hari Sabtu minggu depan.
Sabtu itu, Ardy sudah menunggu di lobby apartemen Celine. Nico yang baru datang, dengan mantap menghampiri Ardy yang sedang duduk di coffee shop apartemen sambil memperhatikan Nico yang berjalan mendekatinya. Bagus, dia percaya diri, gumam Ardy.
"Pagi, Om." Sapanya, lalu mengulurkan tangannya kepada Ardy yang sekarang juga sudah berdiri menyambutnya.
"Pagi juga. Duduklah." Jawab Ardy.
"Saya akan jemput Celine dulu diatas." Kata Nico.
Ardy mengangguk setuju, Nico segera berjalan menuju lift setelah sedikit membungkuk hormat pada Ardy.
Mannernya bagus, pikir Ardy, dia anak yang sopan. Modal awalnya sudah cukup untuk menemui calon mertua.
Nico segera menuju unit apartemen Celine. Pip! Pintu utama apartemen Celine sudah terbuka.
"Sayang!" Panggil Nico.
Celine keluar dari kamarnya. Ketika melihat Nico, ia langsung tersenyum.
"Hai, kesayanganku." Ucapnya ceria sambil menghampiri Nico dan mencium bibirnya.
Nico langsung memeluk Celine erat.
"Kangen, Sayang." Ucap Nico lembut sambil terus mendekap Celine. Mereka terus berpelukan beberapa waktu, sampai akhirnya Celine menepuk lembut punggung Nico.
"Sudah yuk, kita turun. Ardy sudah menunggu dibawah." Ucap Celine.
Nico melepaskan pelukannya, lalu dengan bergandengan tangan mereka menuju ke lobby tempat Ardy menunggu.
Ardy memperhatikan Celine dan Nico dari kejauhan. Keduanya tampak serasi. Tubuh Nico yang lebih tinggi dari Celine maupun wajah Celine yg cantik manis dan awet muda, membuat penampilan mereka tidak terlalu kontras seperti tante dan berondongnya. Mereka seperti terpaut usia dua atau tiga tahun saja.
"Kalian cocok." Tutur Ardy saat pasangan itu tiba di tempat Ardy duduk. Celine tersenyum manis sambil duduk di kursi yang ditarikkan Nico untuknya.
"Thanks, Ar." Jawab Celine. Nico hanya melihat dengan tatapan dingin ke arah Ardy.
__ADS_1
"Nah, mari kita mulai." Ujar Ardy. Segera setelah itu, mengalirlah percakapan mereka mengenai latar belakang dan kegiatan bisnis perusahaan Pak Hendrawan, perkembangan perekonomian nasional dan dunia saat ini, sampai kerjasama perusahaan Celine dengan Andy pun turut dibahas. Intinya, Ardy dan Celine berusaha memberikan pengetahuan umum sebanyak-banyaknya kepada Nico agat Nico percaya diri dan berpengetahuan luas saat berbicara dengan Pak Hendrawan.
Lokasi pertemuan mereka pun berpindah-pindah, mulai dari lobby apartemen, kantin apartemen, sampai coffee shop dideretan depan apartemen.
Secara keseluruhan, terlihat rasa puas terpancar dari wajar Ardy. Nico ternyata cukup aktif dan responsif dalam pertemuan itu, ia banyak bertanya dan juga banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan Ardy. Otak Nico pun cukup cerdas untuk menyerap informasi yang Ardy berikan. Celine memperhatikan interaksi kedua lelaki itu dan hanya sesekali menimpali.
"Demikian pelajaran untuk hari ini." Ucap Ardy. Saat itu sudah jam setengah sepuluh malam. Nico tidak terlihat lelah, ia masih menatap Ardy. Matanya masih memancarkan semangat dan rasa ingin tahu. Celine tersenyum lalu menggenggam tangannya, membuat Nico menoleh.
"Kamu naik dulu, ya, tunggu aku diatas. Aku mau bicara dulu dengan Ardy."
Nico mengangguk, kemudian mengalihkan lagi pandangannya ke Ardy.
"Ok Om, thanks ya. Nanti hati-hati di jalan." Katanya sambil berdiri, lalu sekilas mencium pucuk kepala Celine. Celine hanya menggumam, ia menikmati keberanian Nico mengekspresikan rasa sayangnya di depan umum.
Ardy hanya tersenyum sampai Nico berlalu. "Kalian benar-benar bucin." Ledeknya.
Celine mendelik ke arah Ardy. "Itu lelaki kesayanganku, tahu!" Sungutnya, tapi setelah itu dia tersenyum.
"Ya, ya, ya, terserahlah kalau begitu. Aku sudah memberikan apa yg bisa aku berikan, untuk selanjutnya tugasmu. Beri dia pelajaran mengenai Andy dan Stella, jangan sampai nanti mentalnya diinjak-injak oleh dua orang itu." Ujar Ardy.
Celine menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, akan kuajarkan bocah polos itu caranya membalas mulut pedas suami istri itu."
"Ardyy!!" Celine berteriak tertahan, ia ingin menghajar Ardy namun Ardy sudah berlalu.
-----
Pip! Klik! Celine sudah sampai di unit apartemennya sendiri.
Bau harum menyeruak ketika Celine membuka pintu. Harumnya, gumam Celine, lelaki tampanku benar-benar husband material.
Nico sedang sibuk berkutat di dapur. Dengan mengendap-endap, Celine menghampiri dapur dan bersembunyi di samping lemari bufet yang membatasi ruang tamu dan dapur. Nico sedang menghadap ke kompor, sedang menggoreng sesuatu. Figurnya yang proporsional sedang membelakanginya dan menghadap ke dapur, sungguh mempesona Celine. Nico seperti seorang bapak rumah tangga penyayang keluarga yang sedang mengolah makanan untuk menyajikannya untuk keluarganya.
Celine sangat tersentuh. Dengan perlahan, dia menghampiri Nico lalu memeluknya dari belakang. Kedua tangannya melingkar dipinggang Nico dengan lembut dan kepalanya bersandar di punggung Nico.
Nico agak terkejut karena tiba-tiba ada sepasang tangan yang melingkari pinggangnya. Namun kemudian ia tersenyum, lalu mengelus kedua punggung tangan itu.
"Hati-hati, Sayang. Ada minyak, panas." Ucapnya.
__ADS_1
Celine menggelengkan kepalanya, lalu mengeratkan pelukannya. Nico berusaha melonggarkan pelukan itu, lalu memutar tubuhnya sendiri, kemudian kembali memeluk Celine dari depan.
"Sayang...." Bisik Nico sambil memeluk Celine. Sesekali ia mengelus rambut Celine, lalu mendaratkan ciuman di pucuk kepala Celine. Dia membiarkan Celine memeluknya sampai puas.
Setelah rasa harunya sudah terlampiaskan, Celine melonggarkan pelukannya kemudian mendongak menatap Nico. "Kamu husband material banget, Sayang. Jadi pingin cepat-cepat menikah sama kamu. Pasti aku bahagia sekali, tiap hari dimanjakan kamu." Ucap Celine sendu.
Nico tertawa. "Hei, kenapa jadi baper begitu? Cuma gara-gara aku masak? Ini cemilan malam kita, Sayang. Duduk dulu ya, tunggu di meja bar saja. Untung tadi aku sempat matikan kompornya, kalau nggak, pasti semua sudah gosong semua."
Celine tersenyum, lalu beranjak ke meja makan mereka, yang berupa meja bar mengelilingi area dapur tempat Nico memasak. Dari tempat duduknya, Celine masih bisa melihat Nico menyelesaikan hidangannya.
Tidak seberapa lama, Nico mulai meletakkan hidangan cokelat panas dan roti goreng isi rogut keatas meja bar. Celine kembali mengendus-endus, harum makanan dan cokelat panas kembali menggoda penciumannya.
Celine segera meraih roti goreng dan menggigitnya sebelum Nico menawarinya. Nico tertawa melihat Celine begitu bersemangat memakan cemilannya. Nico duduk di hadapan Celine, lalu menyodorkan cokelat panas ke Celine dan dirinya sendiri. Lalu mereka mulai makan sambil ngobrol.
"Ardy bilang kamu bagus." Ucap Celine.
"Iya dong, aku kan anak pintar." Sahut Nico sambil memasang wajah imutnya. Celine tergelak.
"Jangan pasang muka begitu di depan Papa, ya. Ardy bilang kamu perlu ibu peri yang bisa buat kamu dua puluh tahun lebih tua. Kalau muka kamu seperti sekarang, yang ada kamu lima tahun lebih muda.” Tawa Celine.
Nico ikut tertawa. "Siap, Tante! Di depan Papa Mertua nanti, aku akan pasang muka serius!" Ucapnya lagi sambil memberi hormat. Celine terus tertawa mendengar kata-kata Nico.
"Satu lagi yang perlu kamu perhatikan. Nanti kamu akan ketemu Papa di resepsi Andy dan Stella. Apapun yang kamu lihat atau dengar yang bersangkutan dengan hubungan kita, tidak usah kamu pikirkan ya? Orang-orang diluaran sana tidak tahu apapun tentang kita, mereka hanya bisa menilai. Jadi mereka ga layak didengar." Ucap Celine. Nico mendengarkan Celine dengan perhatian penuh.
"Lebih-lebih Andy dan Stella, kalau mereka berdua berkomentar macam-macam, ga usah didengar."
Celine melirik ketika Nico hanya diam saja. Nico sedang memandang Celine tanpa berkedip.
"Hei, kamu dengar ga aku ngomong apa?" Tanya Celine sambil mengetukkan jari telunjuknya di meja depan Nico.
"Cantik amat sih kamu, Sayang..." Jawab Nico melantur.
Celine secara refleks memegang kedua pipinya yang mendadak panas. Nico langsung terbahak. Ia meraih pinggang Celine, lalu mendudukkannya di pangkuannya.
"Jangan khawatir, Sayang. Papamu saja aku hadapi, apalagi hanya dua pencuri kecil." Bisik Nico.
"Pencuri?" Tanya Celine.
__ADS_1
"Iya, pencuri kebahagiaan kita." Bisik Nico lagi di dekat telinga Celine, kemudian ia ******* telinga Celine. Celine mendesah, bulu kuduknya meremang. Nico mulai mengelus-elus punggung Celine.
Semakin lama, bibir dan tangannya semakin nakal. Bibir Nico sudah berpindah ke bibir Celine, dan tangannya berpindah ke dalam tshirt mini Celine, meraih apapun yang bisa diraih dan mengusapnya. Ketika suhu tubuh keduanya semakin panas, Nico menggendong Celine menuju kamar. Sekali lagi, mereka menikmati malam panas dan panjang berdua, menyalurkan cinta dan kasih sayang kepada pasangan terkasihnya.