
Hari senin di kantor Hendrawan Jaya Grup berlalu dengan damai, setelah pada pagi harinya agak heboh dengan kehadiran Shirley. Di setiap sudut kantor, para karyawan membicarakan tentang Shirley. Mereka sudah mengetahui bahwa keponakan bos besar sudah bergabung di kantor mereka, walaupun mereka baru melihat Shirley secara sekilas. Pada jam makan siang pun Shirley tidak terlihat di kantin karyawan, sehingga mereka tidak ada kesempatan melihat Shirley dari dekat. Mereka memperkirakan Shirley makan siang dengan Pak Hendrawan atau Celine, tidak ada yang memperkirakan bahwa Shirley akan langsung diboyong Ardy berkeliling ke beberapa relasinya.
Hari pertama kerja yang cukup berat untuk Shirley. Ardy benar-benar membuatnya bekerja. Ia mempersiapkan dan mengumpulkan data, membawa data-data itu dalam tasnya, mendampingi Ardy meeting, dan menyajikan data selama Ardy berbicara dengan kliennya. Shirley bahkan berlari kesana kemari membelikan minuman untuk Ardy dan kliennya sesuai permintaan Ardy.
Ardy bersikap sangat professional kepada Shirley hari itu. Tidak ada lagi rayuan, godaan dan pujian seperti yang biasa Ardy gunakan untuk mengganggu Shirley. Ardy tampil tegas, kaku dan dingin. Shirley seperti melihat Ardy dari sisi lain, bukan Ardy yang sedang mengejar-ngejarnya.
Shirley terhenyak dengan lelah di akhir hari, di sebuah café saat meeting terakhir hari itu berakhir. Matanya sayu, wajahnya berminyak, keringat terasa di kulit kepalanya. Ardy tersenyum tipis melihat kelelahan Shirley. Dasar princess, gumamnya.
Ardy meletakkan segelas frappucinno dihadapan Shirley, lalu meletakkan hot americano dihadapannya sendiri. Ia lalu duduk dihadapan Shirley. Shirley melirik Ardy namun ia tidak mengeluarkan suara apapun, terlalu lelah untuk itu.
“Capek?”Ujar Ardy lembut. Shirley menoleh heran, Ardy sudah kembali ke mode penyayangnya seperti yang biasa ia lihat.
“Maaf ya, aku bikin kamu capek hari ini. Kamu sudah bisa istirahat, jam kantor sudah berakhir. Kita istirahat sebentar, setelah ini aku antar kamu pulang ya?” Tutur Ardy lagi dengan lembut.
Shirley menganggukkan kepalanya, lalu meraih frappucinno yang ada dihadapannya. Ardy juga menyodorkan selembar tissue, yang akhirnya digunakan Shirley untuk menghapus keringat dan minyak diwajahnya.
“Kamu lapar?” Tanya Ardy setelah beberapa saat Shirley meminum kopinya. Shirley mengangguk.
“Tadi makan siangku ga habis,” keluhnya, “Aku keburu harus mengurus perubahan jadwal si bos jepang tadi. Waktu aku kembali, kalian semua sudah selesai makan. Mau ga mau kita langsung mulai meeting lagi tadi.” Lanjutnya lemah.
Ardy tersenyum. “Begitulah dunia kerja, kamu harus strong dan tahan banting. Kamu suka carbonara? Carbonara disini enak.”
“Mau. Aku lapar.” Sahut Shirley lagi. Ardy segera melambaikan tangannya, dan memesan menu itu pada pelayan.
Malam itu, mereka makan malam bersama. Belum banyak percakapan yang akrab diantara mereka, namun diam-diam Shirley mulai memperhatikan Ardy. Profilnya, postur tubuhnya, caranya bersikap saat kerja maupun saat setelah jam kantor, mulai sedikit diperhatikannya.
__ADS_1
Shirley juga masih merasa sungkan kepada Ardy, karena penolakan yang ia lakukan di hari Sabtu kemarin. Ia mulai merasa tidak enak dengan Ardy, orang yang sudah ditolaknya dengan kasar masih dapat bersikap professional kepadanya, tidak membalas kekasarannya kemarin dengan arogansi di hari ini.
Ardy sesekali melihat ke arah Shirley, namun Shirley dengan cepat mengalihkan pandangannya. Ardy tersenyum tipis, ia menyadari Shirley mulai memperhatikannya.
Aku akan membuatmu jatuh cinta, dek…
-----
Ardy menyentuh lembut pipi Shirley. Saat itu mereka berdua berada didalam mobil Ardy. Ardy mengantarkan Shirley pulang ke kediaman Pak Hendrawan, namun Shirley tertidur selama perjalanan. Selama tinggal di Jakarta, Shirley memang dititipkan Pak Markus di kediaman Pak Hendrawan.
Lelah sekali tampaknya… Apa aku terlalu kejam padanya hari ini? Gumam Ardy dalam hati sambil mengelus pipi Shirley. Ardy kembali membayangkan Shirley yang pontang panting kesana kemari hari ini. Ia tersenyum sambil terus mengelus pipi Shirley, lalu merapikan anak-anak rambut yang jatuh didahi Shirley.
Shirley menggumam, ia mulai terbangun. Ardy segera menarik tangannya.
“Hm Hm, kamu capek sekali sepertinya. Masuklah, istirahat. Terima kasih sudah membantuku hari ini.” Ujar Ardy lembut sambil membantu Shirley melepaskan seatbelt-nya.
“Ngg… Iya, terima kasih, Pak.” Ucap Shirley sungkan, melihat kelembutan Ardy. Ia segera membuka pintu mobil dan ingin beranjak turun.
“Kenapa?” Tanya Ardy ketika melihat Shirley bergeming walau pintu mobil telah terbuka.
“Ngg…” Shirley terlihat ragu. “Maaf untuk Sabtu kemarin. Hati-hati dijalan.” Shirley berbicara sambil tetap menghadap ke pintu mobil, tanpa melihat wajah Ardy. Setelah itu ia segera turun dari mobil dan membanting pintu mobil, kemudian berlari menuju pagar rumah Pak Hendrawan.
Ardy terpaku melihat Shirley yang sedang berlari menuju rumah tanpa menoleh lagi. Kemudian ia tertawa kecil mengingat tingkah Shirley yang kekanakan. Menggemaskan, gumamnya sambil tersenyum, kemudian menggerakkan mobilnya meninggalkan kediaman Pak Hendrawan.
------
__ADS_1
Di apartemen Celine, Nico baru selesai mandi. Dengan tshirt polos dan celana pendek, ia menghampiri Celine yang sedang sibuk didapur, mengolah makan malam untuk mereka berdua.
Celine masih menggunakan kemeja kerjanya, namun rok spannya sudah tidak dikenakannya lagi. Ia menggunakan celana pendek agar lebih sigap bergerak didalam dapur.
Celine terjengat terkejut ketika Nico melingkarkan tangannya di pinggang Celine, kemudian menyerukkan wajahnya di leher Celine.
“Nic!” Tegurnya, namun Nico tidak menjawabnya. Nico menikmati moment itu, ia memejamkan matanya, menyesap khas harum tubuh Celine. Akhirnya Celine membiarkan Nico menempel di punggungnya sampai ia selesai memasak. Kebetulan Celine hanya memasak mie goreng, sehingga ia tidak banyak bergerak dari depan kompor.
“Nic.” Panggil Celine lembut saat ia sudah selesai memasak. Ia hanya tinggal menyajikan menu mie goreng praktir olahannya, namun ia tidak dapat bergerak selama Nico menempel di punggungnya. Celine mengelus punggung tangan Nico.
“Yuk, kita makan. Aku sudah selesai masak.” Ujarnya lembut. Nico melepaskan pelukannya setelah mencuri sebuah kecupan di pipi Celine, lalu beranjak mengambil piring makan untuknya dan Celine dan membantu Celine menyajikan mie gorengnya. Setelah itu mereka duduk di meja makan dan mulai makan malam.
“Malam ini kamu nginap?” Tanya Celine. Nico menganggukkan kepalanya.
“Sudah dapat kabar dari Ardy?” Tanya Celine. Nico menggelengkan kepalanya.
“Sepertinya kamu sudah ngantuk ya?” Tanya Celine lagi, melihat respon Nico yang tidak bersemangat. Nico mengangguk, lalu mengejap-ngejapkan matanya imut. Celine sontak tertawa.
“Ya sudah, cepat makan, habis itu kita tidur ya.”
Malam harinya ketika mereka tidur, Nico selalu berada di pelukan Celine. Dia bersembunyi didalam selimut sambil memeluk tubuh Celine, dengan wajahnya bersembunyi di dada Celine. Celine yang agak kegerahan, menepuk-nepuk lengan Nico.
“Kamu ini, kayak aku mau pergi kemana saja. Dari tadi ga mau lepas.” Kata Celine sambil menepuk-nepuk lengan Nico. Kemudian ia mengelus lembut rambut Nico beberapa kali dengan penuh sayang.
“Hmm…” Nico hanya menggumam sambil memejamkan matanya. Pelukannya ke pinggang Celine tetap erat. Akhirnya dengan posisi itu, mereka tertidur.
__ADS_1