Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Berharap Mimpi Jadi Kenyataan


__ADS_3

Menjelang malam, sepasang kekasih ini baru terbangun. Celine yang terbangun lebih dulu, mengusap-usap rambut Nico hingga akhirnya Nico terbangun.


 


Setelah bangun, mereka tidak langsung turun berpindah dari ranjang. Mereka berpelukan sambil ngobrol.


 


“Bagaimana reaksi Stella dan Andy sekarang kalau melihat Tante?” Tanya Nico.


 


“Sinis.” Jawab Celine singkat sambil tersenyum tipis. “Tapi apa peduliku? Yang penting mereka tidak berbuat macam-macam kepadaku dan usaha Papa. Selebihnya, terserah mereka.”


 


“Yang penting, mereka tidak membahayakan Tante kan?” Jawab Nico memastikan.


 


“Nggak, tenang saja Nic. Disampingku juga ada Ardy kan, jadi kamu ga usah khawatir.” Celine mengelus tangan Nico yang sedang mendekapnya. “Dan kamu ga usah khawatir atau cemburu ke Ardy. Aku sudah ceritakan mengenai hubungan kita, dan Ardy setuju untuk tetap sebatas karyawan atau teman saja kepadaku.” Tambah Celine.


 


Nico mengeratkan dekapannya, lalu mengecup puncak kepala Celine.


 


“Aku juga secara ga langsung menceritakan hubungan kita ke Papa dan Mama.” Ujar Nico. Lalu dia menceritakan bagaimana dia mengerjai papanya ketika mereka membicarakan tentang Shirley. Celine tertawa geli.


 


“Jadi intinya, tidak ada halangan dari keluargaku.” Ujar Nico. Celine mengangguk dan membalas pelukan Nico dengan erat.


 


“Tinggal aku yang mempersiapkan kamu supaya pantas menghadap Papa.” Ujar Celine sambil mengecup dada Nico.


 


“Aku ga akan membuatmu malu, Sayang. Aku akan berikan yang terbaik dari diriku. Hanya satu yang aku perlukan, yaitu waktu. Tolong tunggu aku sebentar lagi. Setelah itu, kita akan menghabiskan waktu seumur hidup berdua, Pengantinku.” Bisik Nico di telinga Celine, membuat Celine menggelinjang geli sambil tersenyum.


 


Nico tidak tahan melihat senyuman Celine beserta reaksi tubuhnya. Dengan cepat, dikecupnya lagi seluruh wajah Celine sambil membelai tubuhnya. Celine mulai mendesah.


 


Babak kedua dimulai.


 

__ADS_1


------


 


Senin pagi.


 


Nico sudah berada di kampusnya. Dia akan menghadapi ujian tengah semester selama seminggu kedepan.


 


“Vitamin” dan “Vaksin” yang diberikan oleh Celine kemarin dan juga dibekali tadi pagi, membuat Nico sangat bersemangat hari ini. Setiap Nico memejamkan mata, dia merasa bisa melihat lagi kegiatan yang mereka lakukan dengan penuh cinta itu. Nico tersenyum dalam lamunannya.


 


“Co.” Suara perempuan mengejutkannya. Nico menoleh dan terkejut melihat Shirley ada dibelakangnya. Mood-nya langsung memburuk.


 


“Ngapain lo disini?” Ujar Nico dingin. Saat itu Nico baru saja keluar dari kelas setelah selesai mengerjakan soal-soal ujiannya.


 


“Gue  mau bicara.” Ujan Shirley datar.


 


“Gue ga ada waktu. Gue udah harus pulang buat menyiapkan ujian besok.” Ujar Nico lagi, sambil mulai berjalan meninggalkan area kampus. “Lo juga harusnya pulang dulu, siapin diri lo bat ujian.” Tambahnya lagi.


 


 


Nico menghela napasnya, ia menoleh dan melihat Shirley. Masih gaya orang kaya seperti biasa dengan barang-barang branded-nya, namun terlihat lebih dapat mengendalikan emosi. Muncul rasa kasihan di hati Nico.


 


“Gue ga bisa lama-lama, paling sepuluh menit. Di kebun kampus samping aja, ga usah kemana-mana. Gue udah harus pulang.” Putus Nico. Shirley menanggukkan kepala, ia mau tak mau harus menurut kali ini.


 


Mereka duduk di bangku taman dengan menjaga jarak. Sungguh, sebenarnya Nico malas berbicara lagi dengan Shirley, mengingat arogansi dan over percaya dirinya. Namun bila Nico melarikan diri, permasalahannya dengan Shirley tidak akan selesai dan pasti Shirley akan terus mencarinya. Karena itu, Nico memilih untuk menghadapi Shirley kali ini.


 


“Co, gue cuma mau bilang, biar bagaimanapun gue sayang sama lo. Gue ga bisa mengkhianati diri gue sendiri dengan ga memperjuangkan lo.” Kalimat pembukan Shirley sukses membuat emosi Nico perlahan-lahan naik.


 


“Tapi gue ga mau disayang sama lo. Gue ga perlu itu.” Tandas Nico pedas.

__ADS_1


 


“Kenapa sih Co, lo ga mau mencoba sama gue? Kekurangan gue apa? Pada saat laki-laki lainnya antri untuk dapat perhatian gue, lo malam menolak gue mentah-mentah!” Shirley masih berusaha menyadarkan Nico atas keberadaannya.


 


“Kalau begitu, lo pacaran aja sama laki-laki lain itu. Beri mereka perhatian. Ga usah gue! Gue ga perlu itu. Biarin gue hidup dengan tenang dengan pilihan gue sendiri!” Tandas Nico lagi.


 


“Tapi gue maunya elo!” Seru Shirley cepat.


 


“Tapi gue ga mau elo!” Potong Nico cepat. “Ingat Sher, dalam hubungan itu diperlukan dua orang. Kalau yang bersedia cuma satu orang, hubungan itu ga akan terjadi. Dan perlu gue tegasin lagi, gue ga mau lo! Gue sudah terikat komitmen dengan satu orang yang juga sudah bersedia menjalin hubungan dengan gue.” Sambung Nico lagi.


 


Hiks! Akhirnya tangis Shirley pecah.


 


“Kenapa lo sia-siain gue, Co?” Tangis Shirley.


 


“Karena hati gue sudah terisi oleh orang lain, Sher. Please, ngertiin gue. Pulanglah, cari laki-laki lain yang sanggup mengisi hati lo dan lo juga ada dihatinya. Stop bilang lo maunya gue, karena itu ga akan terjadi.” Ujar Nico lebih lembut. Dia merasa kasihan melihat Shirley menangis, tapi Shirley tidak boleh diberikan kesempatan lagi. Bisa merepotkan, pikir Nico.


 


“Padahal bokap gue udah support kita, Co. Papa mau bantu papa lo supaya perekonomian kalian naik.” Ujar Shirley lagi.


 


Nico menghembuskan nafasnya berat.


 


“Papa gue dan keluarga gue baik-baik aja, kami ga perlu peningkatan ekonomi lagi. Kami sudah hidup dengan baik dan cukup.” Ujar Nico lagi. “Stop ikut campur dengan urusan keluarga gue, Sher. Ga perlu tawarkan bokap gue pekerjaan lagi, dia sudah nyaman dengan pekerjaan dan posisinya yang sekarang.” Tambahnya lagi. “Tolong titip pesan saja ke papa lo Sher, terima kasih untuk penawarannya. Tapi papa gue akan tetap bekerja di perusahaannya yang sekarang.” Nico menambahkan lagi. Setelah itu, ia langsung beranjak meninggalkan Shirley di kebun itu tanpa memperhatikan perubahan wajah Shirley lagi.


 


-----


 


Ujian sudah memasuki hari ketiga. Setelah pertemuannya yang terakhir dengan Shirley, Nico tidak mendengar kabar lagi dari Shirley.


 


Papa Angga sudah mengabari Nico, beliau sudah menolak penawaran dari Pak Markus. Keputusan Papa Angga didukung Mama Renny yang tidak ingin pindah lagi ke Surabaya dan berjauhan dengan Nico. Nico menarik napas lega. Hampir saja hidupku jadi sinetron tivi ikan terbang, judulnya ‘Kujual Anakku Demi Karirku”, gumam Nico.

__ADS_1


 


Nico semakin sibuk belajar, ia berusaha mendapatkan nilai tertinggi di setiap mata kuliahnya. Ia ingin membuat Celine bangga padanya. Nico juga sedang memikirkan, bisnis apa yang perlu dirintisnya untuk mendukung bisnis keluarga Celine. Nico tetap memegang janjinya, di umur dua puluh lima dia akan sesukses Andy, bahkan bila mungkin melebihinya. Agar ia pantas untuk manyanding Celine di masa depan.


__ADS_2