
Nico menggandeng tangan Celine, mereka sedang berjalan-jalan di taman bunga. Kali ini mereka sengaja berkunjung ke taman bunga untuk merelaksasi pikiran setelah lelah selama beberapa bulan terakhir mempersiapkan pernikahan. Di akhir minggu ini, mereka akan resmi menikah.
“Capek?” Tanya Nico lembut kepada Celine. Celine tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Enak jalan-jalan sore begini, relaksasi. Kamu sendiri gimana, capek?” Tanya Celine.
“Aku ga akan pernah capek menggandeng kamu. Kalau kamu capek, bilang ya. Supaya aku bisa menggendong kamu.” Celine tersenyum mendengar kata-kata Nico.
“Kamu itu ya, makin lama makin pintar merayu! Aku jadi curiga, apa kamu diajarin Ardy?” Celine mengelak dari rasa malunya karena dirayu Nico. Wajahnya merona.
“Yang ada aku yang mengajari Ardy merayu. Mana bisa Ardy merayu? Dia tahunya baca grafik dan tabel.” Tawa Nico.
“Karena itu dia ga dapat-dapat Shirley ya? Ternyata kamu itu don juan, merayu kanan kiri.” Tuduh Celine sambil tertawa.
“Kalau aku sih, ga perlu merayu juga langsung dua gadis klepek-klepek sama aku. Cuma sama tanteku ini,” Nico mencubit hidung Celine, “Aku harus merayunya. Kalau nggak, dia tetap maunya pacaran sama Om Andy!” Balas Nico. Celine tertawa.
“Andy ga ada apa-apanya sama kamu. Kamu hangat, ramah, lucu. Aku nyaman sama kamu.” Celine menyandarkan kepalanya ke bahu Nico.
“Setelah kita menikah, tetaplah seperti ini. Beritahu aku bila aku ada kekurangan, supaya aku bisa memperbaiki. Beritahu aku bila kamu ingin sesuatu, supaya aku bisa memenuhi. Beritahu aku kalau kamu bosan, kita akan mencari alternatif untuk penyegaran berdua.” Ujar Celine lagi perlahan.
Nico mengecup pucuk kepala Celine. “Kita akan habiskan umur kita berdua bersama. Mungkin aku juga tidak sempurna, tapi aku akan terus belajar dan beradaptasi. Dampingi aku dan terus beri aku pengalaman yang berharga untuk terus membahagiakanmu. Ajarkan aku kedewasaan untuk terus mendampingimu. ”Bisik Nico.
Mereka duduk di bangku taman dengan tangan saling menggenggam, menikmati suasana sore.
-----
Kekisruhan menjelang pernikahan belum selesai.
Celine sedang mengurusi masalah Best Male dan Braide’s Maid. Sebagai Best Male, Nico memilih Agung dari Surabaya dan Ardy. Agung yang selama ini masih menjalin hubungan baik dengan Nico, kesenangan ketika tahu akan diterbangkan ke Jakarta untuk menjadi Best Male Nico. Sedangkan untuk Bride’s Maid, Celine memilih salah seorang teman baiknya selama kuliah dan Shirley. Sebenarnya Celine ingin memilih temannya yang lain sebagai Bride’s Maid, namun Shirley memaksa agar dialah yang dipilih. Akhirnya Celine mengalah, daripada sepupunya itu mengamuk dan membuat keributan.
__ADS_1
Celine memijit keningnya karena pening. Hari ini calon pengantin dan para best dan brides berkumpul untuk fitting pakaian pesta. Shirley sejak awal sudah ribut, menghendaki ini dan itu untuk dikenakan. Dia cenderung memaksakan kehendaknya daripada menuruti konsep yang Celine tentukan.
Agung terkagum-kagum melihat konsep pernikahan Nico dan juga melihat Shirley. “Gile, kenapa lo jadi saudaraan dengan si crazy rich, Co? Walau bawel, dia makin lama makin cantik! Lo ga mau sama dia kan, Co? Lo kan udah mau kawin! Buat gue aja ya?” Bisik-bisik Agung ke Nico. Nico hanya nyengir mendengar bisik-bisik Agung.
Suara Agung ternyata masih bisa terdengar ke sekeliling mereka. Ardy yang sedang berada di lokasi yang sama, menggeram kesal.
“Ehem!” Ardy berlagak batuk dengan keras, sontak membuat Nico dan Agung menoleh. Mereka langsung beradu pandangan dengan tatapan dingin Ardy, membuat Agung bergidik. Nico sontak tertawa.
“Nah, kenalin,” ujar Nico sambil menunjuk Ardy, “Om itu singanya Shirley sekarang. Lo berani dekat-dekat Shirley, lo berhadapan sama om itu. Ilang aja nyawa lo.” Sambung Nico sambil menggunakan jari telunjuknya untuk menyilet lehernya sendiri.
“Hih! Serem amat!” Bisik Agung tergidik.
Kekaguman Agung berikutnya adalah ketika melihat dan mengenal Celine. Dia terbengong-bengong ketika Celine menyapanya dan mengajaknya ngobrol.
“Gila bini lo, Co. Cakep banget dan baik banget!” Katanya sambil membuka mata dan mulutnya lebar-lebar. Nico spontan menggeplak kepala temannya itu.
“Sorry Co, namanya juga pemandangan indah. Tenang aja, gue ga makan temen kok, cuma cuci-cuci mata aja… Hehehe…”
Disisi lain keributan mulai berlangsung. Shirley dengan sombongnya memilih ini dan itu, tanpa menghiraukan pilihan Celine.
Nico beranjak dari samping Agung, berjalan menuju Celine dan duduk disisinya. Celine menoleh ke Nico, tersenyum lelah. Nico tersenyum, lalu menggenggam tangan Celine, mengusapnya beberapa kali dan mengecupnya. Adegan ini sontak membuat Shirley terdiam dan menatap tajam pada calon pengantin.
Nico menatap petugas bridal yang sedang membantu mereka, lalu mengeluarkan perintahnya, “Gunakan semua seperti yang diatur oleh Ibu Celine sebelumnya! Saya tidak mau ada perubahan apapun!” Ujarnya tajam sambil melirik ke Shirley yang membeku.
“Tapi, Co!” Ujar Shirley, ia masih mau mempertahankan pilihannya.
“Ikuti atau mundur!” Balas Nico dingin. Shirley sontak terdiam.
Ardy berdiri di samping Shirley, lalu berbisik dekat telinga Shirley, “Kalau sampai Nico meledak, aku akan langsung melamarmu ke Pak Markus. Dan aku jamin, Pak Markus akan langsung menerimaku!”
__ADS_1
Shirley melirik ragu kearah Ardy. Akhirnya dia terdiam, mengikuti konsep yang disusun sebelumnya oleh Celine.
“Terima kasih, Sayang. Aku capek sekali.” Bisik Celine sambil menyandarkan kepalanya di bahu Nico. Nico mengelus pucuk kepala Celine dengan sayang.
Shirley melihat ini dan mood-nya semakin jeblok. Dia membanting kakinya dan meninggalkan ruangan itu. Nico tergelak melihat ini dan Ardy menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalian ini, seperti ga tahu saja kalau kucingku belum move on! Jaga sedikit prilaku kalian, guys!” Ujarnya gusar.
Mereka meneruskan agenda fitting out hari itu. Selanjutnya seperti biasa, Celine selalu didampingi oleh Nico dan Shirley didampingi oleh Ardy.
-----
Hari H Pernikahan.
Setelah melewati satu tahun masa persiapan, akhirnya tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Hari ini Nico dan Celine akan saling mengikat janji.
Celine tampil cantik dengan gaun putihnya, gaun yang sama persis dengan yang pernah dimimpikan Nico. Nico tampil sangat gagah dan tampan dengan jas putihnya, senada dengan warna gaun Celine. Mereka berjalan berdua di pinggir danau, yang sudah disiapkan untuk prosesi pernikahan mereka, baik secara sipil maupun agama.
Dari deretan kursi yang tersusun rapi, para anggota keluarga dan handai taulan memandang kedua mempelai dengan kagum dan berbagai pikiran di benak mereka.
Mama Renny dan Mama Michelle menitikkan air matanya, dan dengan segera para suami memberikan tissue kepada istrinya masing-masing. Mereka maklum bila dalam acara seperti ini, para istri akan lebih emosional melepaskan anak-anaknya untuk membangun sebuah keluarga baru.
Papa Hendrawan memandang gadis kecilnya yang kini sudah berdiri di pelaminan. Gadis kecil yang dulu diadopsinya dan dibesarkannya dengan kasih sayang, kini akan meninggalkannya dan hidup bersama suaminya. Dia merasa terharu, teringat betapa dekat Celine dengannya, walaupun Celine bukan putri kandungnya.
Andy memandang Celine dari tempat duduknya, bersisian dengan Stella yang sedang memandang Nico. Keduanya mengingat hubungannya masing-masing dengan kedua pengantin dihadapannya.
Shirley juga memandang Nico dengan sendu dan menatap Celine dengan iri. Seharusnya aku yang berada disana, lirih Shirley. Lamunannya berganggu saat jemarinya diremas oleh orang disebelahnya. “Kepingin ya? Sabar ya, sebentar lagi aku yang akan membawamu ke pelaminan.” Bisik Ardy di telinganya. Shirley langsung membuang mukanya, namun kemudian ia tersenyum.
Demikianlah, sebuah keluarga baru bak perahu kecil mulai berlayar di lautan cinta yang luas. Mereka akan mengalami riak air, ombak kecil dan gelombang pasang surut yang akan menguji ikatan cinta mereka. Saling mendampingi, saling menguatkan, kepercayaan dan komunikasi akan menjadi pilar keluarga kecil itu untuk memelihara ikatan cinta mereka.
__ADS_1