Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Mengejar Cinta Lama


__ADS_3

Hubungan Nico dan Stella semakin dekat. Bagi Nico, Stella lebih dari sekedar wali kelas, ia sudah seperti sahabat. Nico menceritakan kisah kehidupannya kepada Stella, aktifitas dan kegiatannya sehari-hari, bahkan sampai kegundahannya. Kisah apartemen lantai sepuluh unit sebelas juga sering diceritakan oleh Nico, bahkan Stella pernah membantu Nico menggedor unit tersebut walaupun tanpa hasil. Stella sudah seperti tempat curahan hati bagi Nico.


 


Dengan perbedaan umur enam belas tahun, membuat Nico menahan perasaannya. Namun entah kenapa, ia merasa Stella membuka kesempatan untuk Nico untuk lebih intim dengannya. Seperti hari ini disaat les private mereka yang kelima kalinya, Stella melakukan sesuatu di luar kewajibannya sebagai guru Nico.


 


Pukul tujuh malam, Nico sudah tiba di tower apartemen Stella sambil membawa buku Fisikanya. Saat pintu lift terbuka di lantai lobby, Stella keluar dari lift sebelum Nico sempat memasuki lift. Melihat Nico, Stella tersenyum, lalu menarik tangan Nico menjauhi lift. Nico tertegun melihat penampilan Stella yang sangat cantik, dengan blouse off shoulder pink lengan panjang namun menerawang memperlihatkan lengannya yang putih mulus, dan celana super pendek sewarna dengan blouse yang ia kenakan. Dandanannya juga lebih berani hari ini, dibandingkan dandanan natural yang sering dikenakannya setiap hari bila sedang mengajar.


 


“Hari ini temani saya ya, saya suntuk. Kita ga usah belajar dulu hari ini, besok ga ulangan, kan?” Senyum Stella sambil menggandeng lengan Nico, menuju tempat parkir mobil.


 


“Ki-kita mau kemana, Bu?” Gagap Nico.


 


“Kita party hari ini.” Jawab Stella ringan. “Stt, ingat. Jangan kasih tahu siapa-siapa. Dan jangan panggil saya Ibu, saya bukan ibu gurumu hari ini. Panggil saya Stella.” Tambahnya sambil tersenyum sambil memasang seat belt di kursi driver. Ia meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nico, lalu menyentuh ujung hidung Nico. Membuat Nico semakin deg-degan.


 


Dengan perlahan, mobil itu membelah jalanan kota Jakarta yang baru mulai menyambut keramaian malam. Tujuan mereka saat itu adalah sebuah café di kawasan pusat distrik Jakarta, sangat nyaman untuk bersantai dan nongkrong menghilangkan penat setelah beraktifitas sehari penuh.


 


Di café tersebut, mereka makan malam sambil mengobrol. Tanpa risih, sesekali Stella menyuapkan makanan ke mulut Nico, bahkan sesekali melap ujung bibir Nico dengan tissue. Nico menikmati saat-saat itu, selama ini ia belum pernah dekat dengan seorang gadis sedekat ia dengan Stella seperti saat ini. Ia beberapa kali membalas menyuapkan makanan ke mulut Stella, dan disambut dengan senang oleh Stella.


 


Café tersebut ternyata hanya tempat persinggahan untuk Stella. Setelah menjelang pukul sepuluh malam, mereka menuju tempat tujuan yang sebenarnya diinginkan oleh Stella. Sebuah klub malam.


 


Nico ragu-ragu masuk ke klub malam tersebut. Namun tarikan tangan halus Stella di lengannya membuat Nico akhirnya ikut masuk tanpa melawan.


 


Di klub itu, Stella membuka meja dan mengajak Nico minum.


 


“Kamu sudah tujuh belas tahun kan, Co? Sudah boleh minum, tapi sedikit saja ya.” Tawar Stella dengan gayanya yang menawan. Ia menyodorkan sloki ke arah bibir Nico.


 


Nico menyesap sloki itu. Ia mengenyit, lidahnya terasa terbakar. Berbeda dengan Stella, yang dengan mantapnya menelan minuman itu, sloki demi sloki. Lama kelamaan ia semakin tidak terkendali, ia menikmati minuman itu langsung dari botolnya. Nico tidak mampu mencegahnya, dan tak lama kemudian Stella pun mulai mabuk.


 


Stella meracau macam-macam saat mabuk. Bahkan Nico sempat membantunya ke toilet untuk memuntahkan minumannya.


 


Saat mengantar Stella ke toilet, pandangan Nico tertumbuk pada sepasang pria dan wanita yang duduk di pojok klub. Si pria sibuk menikmati leher jenjang sang wanita, sedangkan sang wanita sambil mendongak, memeluk kepala sang pria sambil memejamkan matanya. Nico tertegun, ia merasa mengenal wanita tersebut. Cantik, berambut panjang, ikal dan berwarna cokelat. Tiba-tiba bayangan wanita yang menabraknya di dekat lobby apartemen melintas di kepalanya. Ya, wanita itu adalah wanita yang pernah secara tidak sengaja menabrak Nico di apartemennya.


 


Tiba-tiba wanita tersebut membuka matanya, dan matanya bertemu dengan mata Nico yang sedang menatapnya. Nico terkejut dan segera memalingkan wajahnya. Nico segera meneruskan langkahnya mengantar Stella yang bergelayutan di bahunya, menuju ke toilet. Wanita itu meneruskan aktifitasnya menikmati sesapan pria itu di lehernya, walaupun sudah tertangkap mata dengan Nico.


 

__ADS_1


Setelah mengantar Stella ke toilet, Nico memutuskan untuk mengantarkan Stella pulang. Karena Stella dalam keadaan mabuk, maka Nicolah yang mengendarai mobil Stella. Selama perjalanan, Stella terus bergelayut di bahu Nico, bahkan sesekali mencuri c**man di pipi Nico.


 


Di apartemen, tingkah Stella semakin menjadi-jadi. Setelah dibaringkan diatas kasurnya oleh Nico, sambil melantur dia menarik tangan Nico untuk berbaring disisinya.


 


“Jangan pulang dulu, Co. Temanin aku ya. Aku selalu sendirian. Malam ini aku ga mau sendirian.” Racau Stella sambil memeluk lengan Nico.


 


Nico dengan perlahan menepis tangan Stella. Ia tahu, tingkah Stella dikarenakan keadaannya yang tidak sadar. Ia tidak berani mengambil resiko. Sudah terbayang di kepalanya, kehebohan apa yang akan terjadi esok pagi bila Nico menuruti nafsunya. Ya, Stella sangat menggoda dengan pakaian minimnya dan kemanjaannya saat ini.


 


“Jangan, Bu, Ibu akan menyesal besok pagi. Saya pulang dulu ya. Ibu istirahat saja.” Ujar Nico sambil membantu melepaskan stiletto Stella.


 


Stella mulai terisak mendengar jawaban Nico.


 


“Kenapa semua orang ga mau dekat denganku? Dulu Papa dan Mama, sekarang kamu, Co. Kenapa aku selalu sendirian?” Ratapnya, membuat pilu hati Nico. Tiba-tiba Nico terjengat saat Stella memeluknya dan menyandarkan kepalanya di dada Nico.


 


“Temanin aku, Co. Malam ini saja. Sudah lama aku ingin dipeluk kamu. Aku sayang kamu…” Lirih Stella dan membuat Nico terpaku. Stella suka padanya? Dengan galau, Nico balas memeluk Stella dan mengelus punggungnya. Tanggapan Nico membuat Stella lebih tenang, isakannya mulai berhenti. Dia menggumam lembut, sambil terus mengusak wajahnya di dada Nico.


 


Gairah Nico mulai terbakar. Sentuhan Stella membuat gairah yang sejak sore tadi ditahannya, kini semakin tinggi. Dengan ragu, ia menundukkan wajahnya dan membaringkan tubuh Stella di ranjangnya. Dengan lembut, ia mulai menangkup bibir Stella dengan bibirnya.


 


 


Tiba-tiba, Stella mendorong tubuh Nico.


 


“Panas…” Lirihnya, lalu tiba-tiba Stella mulai melepaskan pakaiannya sendiri. Nico terkejut, dia tidak menyangka Stella akan bertindak sejauh itu. Ini pertama kalinya Nico melihat seorang perempuan setengah t*l*nj*ng di depan matanya. Dengan spontan, dia melompat menjauhi ranjang.


 


“Nicooo!! Peluk lagi, Co…” Racau Stella sambil mengulurkan tangannya. Nico terpaku, ia tidak berani mendekati Stella lagi. Ia tahu apa yang akan terjadi bila ia sampai berani melanjutkan memeluk Stella lagi.


 


Reaksi Nico memancing isak Stella kembali.


 


“Hiks, kamu jahat! Kamu benar-benar seperti Papa dan Mama. Kamu ga sayang aku! Ya sudah, sana pergi! Pergi saja, cari Celine!” Jeritnya.


 


Deg! Nico terpaku mendengar satu nama disebutkan oleh Stella. Celine?


 


“Dulu Papa dan Mama juga lebih sayang ke Celine daripada ke aku, sekarang kamu juga begitu! Kalian sama saja! Sana, cari Celine kamu itu, gedor saja apartemennya sampai puas!” Jerit Stella sambil menggabrukkan tubuhnya di kasur.

__ADS_1


 


“Celine? Siapa Celine, Bu? Bu? Bu?” Cecar Nico sambil mengguncangkan tubuh Stella. Ia memberanikan dirinya mendekati Stella lagi, namun Stella tidak memberikan reaksi atas guncangan Nico. Ia telah tertidur.


 


Melihat usahanya sia-sia, Nico memutuskan untuk pulang. Akan lebih berbahaya bila ia terus di apartemen Stella dan dibenaknya, nama Celine mulai menari-nari. Lebih baik esok hari saja ia mulai menanyai Stella, siapa itu Celine.


 


-----


 


“Ma, bantuin Nico ya?”


 


Mama Nico menoleh. Acara sarapan hari Minggu pagi ini diisi oleh permintaan tolong yang sangat jarang diajukan oleh Nico.


 


“Tolong gedorin apartemen Stella, Ma. Nico benar-benar penasaran banget ini.” Keluh Nico.


 


Sebenarnya Nico termasuk santai dalam melacak Stella-nya, namun karena ocehan Stella semalam, semangat Nico kembali menggebu.


 


Papa tergelak mendengar permintaan Nico. Ia menoleh ke istrinya.


 


“Ya sudah, dibantu saja, Mam. Kasihan itu anakmu ga bisa tidur nanti.” Tawa Papa. “Coba cerita sama Papa, sampai dimana penyelidikanmu?”


 


Nico mulai memaparkan semuanya, mulai dari saat baru perkenalan dengan Stella sang wali kelas sampai celotehan Stella semalam. Namun adegan mabuk Stella sengaja ia lewati supaya ia tidak dimarahi orang tuanya.


 


“Kalau begitu, coba kau gedor pintunya pagi-pagi sekali, atau malam-malam sekalian. Siapa tahu kau salah jam, Co. Mungkin Stella-mu itu typical wanita pekerja yang berangkat subuh pulang larut.” Sambung papa.


 


Nico berpandangan dengan mamanya. Masuk akal, pikir Nico. Memang ia selalu menggedor apartemen itu sepulang sekolahnya, sekitar jam tiga sore. Baiklah, ia akan coba menggedor apartemen itu lagi malam ini.


 


“Ok Pa, Nico coba. Thank you sarannya.” Jawab Nico senang, merasa mendapat pencerahan.


 


“Satu lagi. Ma, ingat nama Celine?” Tanya Nico. Mama kembali menoleh.


 


“Apakah perempuan itu namanya Celine?” Sambung Nico lagi.


 


“Kemungkinan, ya. Mama ga begitu ingat, Mama cuma ingat nama belakangnya ada ‘Lin-Lin’ begitu. Kalau Celine, ya mungkin saja.” Jawab Mama.

__ADS_1


 


Ok, berarti namanya Celine. Tapi aku punya panggilan sayang untuknya, kupanggil dia Stella… Batin Nico. Senyumnya mulai terbit, memori itu sedikit demi sedikit mulai terungkap.


__ADS_2