Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Curahan Hati 1


__ADS_3

Seminggu kemudian.


 


Rabu ini Nico berangkat sekolah agak siang. Ia merasa tidak enak badan, namun karena ada ujian mingguan di mata pelajaran tengah hari, ia terpaksa berangkat sekolah.


 


Saat menuju tempat parkir motor, mata Nico tidak sengaja menangkap sosok Celine yang sedang berjalan menuju parkiran mobil. Kelihatannya Celine akan berangkat ke kantor, ia sudah rapi dengan kemeja putih dan rok span abu-abu yang pas membungkus tubuhnya. Nico sangat ingin menyapa Celine, namun rasa kecewanya masih ada.


 


Sejak sabtu kemarin, memang Nico sama sekali tidak menghubungi Celine lagi, dan Celine pun tidak mengirimkan pesan kepada Nico. Nico berusaha menahan keinginannya untuk meneriakkan nama Celine. Jarak Celine dari dirinya tidak terlalu jauh sehingga Celine pasti mendengar bila Nico memanggilnya. Alhasil, ia hanya melihat sosok tubuh belakang Celine yang berjalan menjauhinya.


 


Diluar dugaan, Celine membalikkan tubuhnya, dan matanya tertumbuk pada sosok Nico yang sedang berdiri mematung menatapnya. Celine tersenyum dan segera berjalan kembali menghampiri Nico.


 


“Hai Nic, apa kabar?” Sapa Celine disertai senyumnya.


 


Nico hanya diam memandang Celine. Berbagai pemikiran berkecamuk lagi di kepala Nico. Celine yang sedang berciuman di klub malam, Celine yang sedang berbelanja di supermarket dengan gaya kasual, Celine yang berdandan ala wanita professional seperti sekarang ini. Mana Celine yang sesungguhnya?


“Percuma aku kabari Kakak. Kakak ga pernah balas pesanku, paling cuma dibaca saja. Ditanya sedang apa juga, Kakak ga menjawab. Jadi buat apa aku selalu kabari Kakak?” Nico menjawab dengan lemah, cenderung menggumam.


 


“Kamu ngambek ya?” Celine tertawa. Ia tersenyum sambil meraih tangan Nico. “Hei, kamu demam? Kamu sakit, Nic?” Tawa Celine berubah menjadi kerutan kekhawatiran di dahinya ketika menyentuh lengan Nico yang agak panas.


 


“Iya, Kak. Agak ga enak badan. Tapi aku harus sekolah, ada test mingguan hari ini.” Jelas Nico lesu.


 


“Ijin saja dulu. Percuma kamu ikut test mingguan kalau sedang sakit begini, yang ada nilai kamu jelek karena ga bisa konsentrasi. Kabari saja ke sekolah kalau kamu sakit, nanti ikut remedial saja.” Saran Celine sambil menarik tangan Nico, masuk kembali ke lobby apartemen Tower Adeline.


 


“Kita mau kemana, Kak?” Jawab Nico bingung karena tangannya ditarik Celine, menuju unit apartemen Celine.


 


“Ke apartemenku, kamu istirahat saja disini. Papa Mama kamu pasti sedang keluar rumah kan, ga ada yang rawat kamu di apartemenmu.” Jawab Celine sambil terus menarik tangan Nico menuju lift. “Aku juga sebenarnya malas ke kantor, aku masih capek. Aku kan juga baru balik tadi subuh.” Tambah Celine sambil memencet tombol lift, menuju lantai sepuluh.


 


Sambil berjalan menuju apartemen Celine, Nico mengetik pesan untuk Stella.


 


[Selamat pagi Bu, mohon maaf saya tidak bisa masuk sekolah hari ini. Saya sakit, Bu. Untuk test mingguan hari ini, boleh saya minta jadwal remedial, Bu?]


 


[Pagi, Nico. Kamu ga apa, Co? Dimana kamu sekarang?] Stella langsung membalas pesan Nico. Nico mengerutkan keningnya, kekhawatiran Stella seperti bukan kepedulian seorang guru kepada muridnya.


 


[Saya di apartemen Bu, sedang istirahat. Tadinya mau berangkat, tapi ga jadi karena ga enak badan. Jadi tiduran saja saat ini.] Nico sengaja tidak memberitahukan keberadaan Celine untuk menjaga kestabilan emosi Stella. Nico masih ingat betapa Stella tidak suka dengan Celine, bahkan mencemburuinya.


 


[Kamu mau saya ke apartemen kamu sekarang?] Jawaban Stella mengejutkan Nico. Bisa gawat bila Stella datang ke apartemennya tapi Nico tidak di rumah.


 


[Tidak usah, Bu, terima kasih. Saya mau tiduran saja, istirahat. Ada Mama di apartemen.] Nico sengaja membawa nama mamanya agar Stella segan untuk mampir.


 


[Oooo… Ok kalau begitu. Kamu istirahat saja, ya. Untuk test, ga usah khawatir, bisa remedial besok-besok saja.] Jawaban Stella menenangkan Nico.


 


[Terima kasih, Bu.] Ketik Nico mengakhiri chat dengan Stella. Saat itu mereka sudah tiba tepat didepan pintu unit apartemen Celine.


 


Celine segera membuka pintu apartemennya, lalu menyalakan lampunya. Wangi feminin langsung merebak menyerbu penciuman Nico. Apartemen dua kamar dengan design minimalis, dindingnya berwarna putih dengan dominasi warna putih pada perlengkapan rumahnya, memberi kesan dingin dan simple, terbentang didepan mata Nico.


 


Setelah melepaskan sepatu mereka, Celine menarik tangan Nico menuju kamarnya untuk beristirahat. Kamar Celine juga berdinding putih, namun untuk sprei, bed cover dan perlengkapan didalam kamar didominasi warna merah muda. Celine segera mendorong lembut tubuh Nico untuk duduk di kasurnya dan beristirahat.


 


“Istirahatlah, Nic. Aku masakkan bubur ya? Dulu kamu suka bubur buatanku, sekarang ayo dicoba, masih suka atau nggak.” Kata Celine sambil tertawa, kemudian berlalu.

__ADS_1


 


Nico mengikuti langkah Celine dengan tatapan matanya, lalu melihat berkeliling. Di atas ranjang queen size Celine, ada beberapa boneka cantik. Salah satu dari boneka itu menarik perhatiannya. Boneka anak perempuan bermata biru jernih, berambut kepang berwarna cokelat, menggunakan baju kotak-kotak berwarna biru muda, menatap polos ke Nico dengan bibir merah mudanya yang tersenyum. Sambil berbaring, Nico mengulurkan tangannya dan meraih boneka itu.


 


Ketika Nico sedang memperhatikan boneka itu secara detail, Celine masuk sambil membawa semangkuk bubur.


 


“Wah, sudah ketemu Stella aja. Kamu ingat Stella, Nic?” Tanya Celine saat melihat Nico sedang mengelus rambut bonekanya.


 


“Stella?” Tanya Nico kembali. Celine menangguk.


 


“Yang kamu pegang itu boneka aku, namanya Stella. Dari kamu kecil, kamu paling suka sama dia. Tidur peluk dia, makan seakan-akan disuap dia, mandi pun harus ditungguin Stella dari atas washtafel.” Celine menjawab sambil tertawa. “Saking sukanya sama dia, akhirnya kamu panggil aku Stella.” Lanjut Celine lagi sambil tersenyum.


 


Terjawab sudah teka teki Nico selama ini. Dia tidak ingat Celine, tapi ia ingat Stella. Nama Stella yang selalu mengiringi masa kecilnya adalah nama boneka ini, tapi kenangan indah masa kecilnya diberikan oleh Celine. Celine-lah yang selama masa kecilnya di Jakarta merawatnya dan Nico sangat menyayangi Celine. Nico sudah bisa memastikan, Celine-lah yang selama ini dia cari, bukan Stella yang lain.


 


Nico tersenyum. Nilai Celine langsung naik beberapa kali lipat dimatanya. Ia sudah tidak peduli lagi Celine yang dilihatnya sedang berciuman dengan pria lain. Dihadapannya saat ini adalah Celine yang sangat dirindukannya sejak empat belas tahun yang lalu, masuk dalam mimpi dan ingatannya tanpa ia ingat wajahnya.


 


Nico bangkit dan duduk di tepi ranjang, meraih tangan Celine, menariknya dan memeluk tubuh Celine. Celine hanya bisa menuruti reaksi Nico dan membiarkan Nico memeluk tubuhnya.


 


“Akhirnya aku menemukan Kakak. Aku selalu ingat Kakak dengan nama Stella. Aku sudah cari Kakak sejak kami tiba lagi di Jakarta beberapa bulan lalu, tapi saat ini aku baru yakin kalau Kakak adalah Stella yang aku cari.” Nico tersenyum sambil memeluk Celine, mengelus rambutnya, lalu memeluknya lagi dengan lebih erat. Entah mengapa, Nico merasa begitu nyaman memeluk Celine, seakan-akan tubuhnya memang terbentuk sebagai bingkai yang sangat pas melingkupi tubuh Celine.


 


Mereka berpelukan selama beberapa saat. Setelah melampiaskan rasa kangen mereka, Celine melepaskan pelukan Nico terlebih dulu, lalu kembali mendorong tubuh Nico untuk berbaring.


 


“Kamu istirahat dulu, masih demam tuh. Badan kamu panas.” Ucap Celine sambil tersenyum. “Ini buburnya, masih hangat. Kakak suapin, ya?” Lanjut Celine sambil mengangkat mangkuk bubur yang tadi ia bawa. Nico tersenyum lalu mengangguk.


 


“Ini seperti kembali lagi ke jaman dulu, kamu maunya selalu disuapi Kakak. Heran, kamu ga mau kalau disuapi mama kamu. Padahal rasanya kan sama saja ya, tapi ga tahu kenapa kamu ga mau kalau mama kamu yang suapi kamu.”


 


 


Celine tergelak. “Cinta? Kamu itu bayi umur tiga tahun, ngerti apa soal cinta? Yang ada tuh, kamu cintanya sama Stella, sedikit-sedikit kalau kesini carinya Stella.”


 


Nico jadi teringat dengan Stella. Akhirnya sambil disuapi Celine, ia mulai bertanya-tanya tentang Celine dan Stella.


 


“Kak, ngomong-ngomong soal Stella, Kakak kenal Ibu Stella guru Fisika kan? Dia wali kelasku, Kak. Tinggalnya di apartemen ini, di tower ini juga.”


 


Wajah Celine agak berubah mendengar Nico menyebut nama Stella.


 


“Kamu kenal dekat dengan Stella?” Tanya Celine.


 


Nico menyadari perubahan wajah Celine. Wah, ternyata Celine juga bermasalah dengan Stella, gumam Nico dalam hati.


 


“Dekat sebatas guru dan murid, Kak. Memang ada apa antara Kakak dengan Ibu Stella?” Jawab Nico, berusaha menjaga perasaan Celine.


 


Wajah dan suara Celine berubah sendu.


 


“Stella itu sebenarnya sepupuku. Papaku dan papanya kakak beradik. Tapi entah kenapa, sejak dulu Stella ga suka padaku, padahal aku sayang sekali padanya. Dia cantik, aku sampai menamai boneka kesayanganku dengan namanya.” Jawab Celine sambil menunjuk Stella si boneka cantik.


 


“Saat masih kecil, Kakak dan Stella sering main bersama. Tapi lama kelamaan Kakak dan Stella semakin menjauh. Dia semakin sering marah-marah dan pencemburu, apa yang Kakak punya, dia selalu menginginkannya juga. Akhirnya kami saling menjaga jarak, walaupun Kakak merasa dia selalu memantau Kakak. Akhirnya beberapa tahun lalu, Stella yang berhasil lulus menjadi guru, tinggal di apartemen ini juga. Sebenarnya Kakak kembali merasa dipantau lagi sih, tapi apa daya Kakak, apartemen ini milik umum kan? Siapa saja bisa membeli atau menyewa disini. Asalkan dia tidak mengganggu privasi Kakak, Kakak biarkan saja.” Tutur Celine menceritakan masa lalunya kepada Nico.


 

__ADS_1


Nico mendengarkan penuturan Celine sambil menikmati suapan bubur di mulutnya, disusul bergantian dengan kompresan. Nico merasa perutnya hangat, Celine merawatnya dengan baik.


 


Nico teringat omelan Stella pada saat ia mabuk. Ya, Stella memang mencemburui Celine. Stella merasa Celine merebut apapun miliknya dan perhatian yang seharusnya tertuju padanya. Akhirnya, sebuah pemikiran tercetus di benak Nico.


 


“Kak, waktu aku bertemu Bu Stella pertama kali, aku sempat menceritakan seluruh masa laluku kepadanya. Dia tahu aku mencari Kakak. Dia sempat membantuku menggedor apartemen Kakak. Tapi dia tidak jujur, Kak, dia tidak cerita tentang hubungan saudara Kakak dengannya. Atau bahkan, jangan-jangan dia punya nomor telepon Kakak, tapi tidak membaginya denganku. Dia tahu betapa sulitnya aku mencari Kakak, tapi kesannya dia malah menghalang-halangi agar aku tidak bertemu Kakak. Apakah jangan-jangan dia tidak mau aku bertemu Kakak?” Tebak Nico.


 


Celine termenung mendengar cerita Nico.


 


“Mungkin saja. Mungkin dia beranggapan kamu itu miliknya, jadi dia nggak mau kamu bertemu Kakak lagi. Dia takut kamu meninggalkannya kalau kamu sudah bertemu Kakak.”


 


Masuk akal, pikir Nico. Berarti aku harus merahasiakan pertemuanku dengan Celine dari Stella. Kalau ketahuan, bisa rusuh dunia pendidikan, bakal jeblok nilaiku dan dijuteki selama setahun, gumam Nico.


 


Nico meneruskan percakapannya dengan Celine. Mengenai masa lalu dan masa sekarang mereka berdua, apa saja yang telah dan sedang mereka jalani. Pembicaraan serius namun santai itu dilalui dengan posisi Nico berbaring di ranjang Celine, dan Celine duduk di sisi ranjang.


 


“Kakak sekarang ini sibuk apa saja? Apa harus setiap malam pulangnya tengah malam, Kak?” Tanya Nico. Celine tersenyum, merasakan perhatian yang diberikan oleh Nico.


 


“Kakak sekarang ini bekerja di kantor Papa. Papa masih jadi direktur disana, Kakak jadi wakilnya. Kakak kan anak tunggal, tidak ada yang bisa bantu Papa mengurus perusahaannya. Nah, keluar kota kemarin itu, Kakak mewakili Papa me-review kinerja anak perusahaan di kota lain. Papa kan sudah tua, jadi untuk kegiatan luar kota lebih banyak Kakak yang menjalani. Papa biar mengawasi yang didalam kota saja.” Papar Celine.


 


“Kalau dulu waktu kamu masih kecil, Kakak jadi sekretaris di perusahaan konsultan yang kantornya ada di commercial area kawasan ini. Tujuannya waktu itu selain bekerja, juga dapat pengalaman untuk mengelola bisnis. Nah, untuk hiburan sehari-hari, Kakak dapat hibahan anak manis umur tiga tahun yang sukanya nempel seperti prangko.” Sambung Celine sambil tertawa. Telunjuknya menusuk pipi Nico.


 


Nico tersenyum, menikmati tusukan jari Celine juga tawanya. Ia benar-benar merasa nyaman dengan Celine. Kemudian ia teringat mengenai orang tua Stella dan asal usul Celine.


 


“Kak, apa Kakak kenal dekat orang tua Ibu Stella? Ini salah satu poin kecemburuan Ibu Stella ke Kakak. Katanya, orang tua Bu Stella lebih sayang ke Kakak daripada ke Bu Stella.”


 


Celine tersenyum miring mendengar pertanyaan Nico.


 


“Mereka om dan tantenya Kakak, pasti Kakak kenal. Kakak juga ga akan lupa tingkah dan tindakan mereka. Mereka mendekati Kakak dengan suatu maksud, Nic. Awalnya Kakak ga sadar, tapi lama-lama Kakak sadar, ada motif dibelakang kebaikan mereka. Tidak seharusnya Stella iri kepada Kakak, karena kasih sayang orang tuanya ke Kakak ga lebih dari modus untuk dapat menguasai perusahaan Papa di masa depan!”


 


Nico mengerutkan dahinya. Jadi ini masalah harta?


 


Celine melihat kerutan dari Nico. Ia menganggukkan kepalanya.


 


“Orang tua Stella ada maksud menguasai perusahaan Papa. Mereka merasa lebih berhak dibandingkan Kakak yang hanya anak angkat.”


 


Nico terkejut mendengarkan ucapan Celine. “Jadi Kakak sudah tahu?”


 


Celine tersenyum miring lagi. “Kenapa, Stella menceritakan ke kamu kalau aku itu anak angkat? Hmm, dia benar-benar ingin menjauhkan kamu dariku. Aku yang anak angkat, orang tuaku tidak jelas siapa, dia benar-benar ingin menjatuhkan image-ku didepan kamu.” Sengitnya.


 


Nico menggelengkan kepalanya.


 


“Nggak, aku ga akan menjauhi Kakak. Selama ini aku sudah mencari Kakak kemana-mana. Aku kangen Kakak.” Nico membuang pandangannya, malu setelah mengucapkan ini. Ia tidak memperhatikan mata Celine yang membesar dan menatap terkejut kepadanya.


 


“Aku selalu ingat Kakak dengan nama yang berbeda. Nama itu sangat berharga buatku, tapi aku tidak tahu kenapa. Rasanya ada yang hilang disini,” Nico menunjuk jantungnya, “Kangen tapi tidak tahu apa yang dikangeni. Ingat satu nama tapi tidak ingat wajahnya. Seperti sebuah blackhole, kosong tapi nyata.”


 


Perlahan Nico kembali melihat wajah Celine, yang juga sedang menatap Nico dengan mata besarnya.


 

__ADS_1


“Bersama Kakak, aku serasa pulang ke rumah…”


__ADS_2