Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

“Kita sampai!”


Nico terbangun mendengar seruan papanya. Kepalanya agak pusing karena terbangun tiba-tiba didalam mobil, setelah sebelumnya subuh tadi berangkat dari Surabaya menuju Jakarta. Dia sudah tertidur didalam pesawat yang waktu penerbangannya hanya satu jam, lalu lanjut tertidur lagi dalam perjalanannya dari bandara menuju tempat kediaman baru keluarganya. Dia melirik keluar dari jendela mobil. Tampak bangunan megah di hadapannya.


Apartemen? Batin Nico.


“Kita tinggal di apartemen, Pa?”


“Iya, sementara ini. Setelah ini Papa dan Mama akan segera mencari rumah yang nyaman untuk kita tinggali.” Jawab papa.


“Pindahan lagi dong dari apartemen ke rumah? Astaga Pa, mendingan nanti kalau sudah dapat rumah baru kita pindah ke Jakarta! Ini kita bakal berkemas-kemas lagi loh!” Gerutu Nico kesal.


“Apartemen ini full furnished, kamu tinggal bawa baju saja. Barang-barang kita nanti akan langsung dikirim dari Surabaya ke rumah baru kita. Jadi kamu ga akan angkut-angkut, kok!” Jawab papa kesal mendengar gerutuan Nico.


Mama menyenggol lengan papa lembut, mengisyaratkan agar papa bersabar menghadapi kekesalan Nico. Papa segera terdiam. Mereka memaklumi kegalauan hati Nico yang harus berpindah kota lagi, meninggalkan teman-temannya di kota lama.


“Ayo Co, kita naik, Kita lihat apartemen baru kita.” Ajak Mama sabar. Nico menganggukkan kepalanya.


------


“Tower Veline 31AD. Selamat datang di surga baru kita.” Senyum papa sambil membuka pintu apartemen. Apartemen yang cukup nyaman untuk keluarga mereka, dilengkapi dengan dua kamar tidur yang cukup luas. Dindingnya berwarna krem cerah, perabotannya terlihat cukup modern dan bersih serta terawat. Ada teras kecil yang dilengkapi meja kecil dan dua kursi outdoor, terlihat cukup nyaman bila mereka mau menikmati senja sambil minum kopi. Pemandangannya menghadap ke kolam renang, menambah sejuk pemandangan.


Nico berjalan dan membuka pintu teras, menikmati sejuknya udara dari ketinggian apartemen. Matanya tertumbuk sebuah gereja dihadapan matanya. Gereja yang sangat khas, dengan sebuah patung ayam di pucuk atasnya. Dia merasa seperti pernah melihat gereja tersebut dengan view yang sama seperti saat ini.


“Pa, apa kita pernah tinggal disini sebelumnya? Di apartemen ini?” Tanya Nico pelan.


“Di apartemen ini? Pernah, tapi beda tower. Dulu kita di Tower Adeline. Kamu juga masih kecil waktu itu, kira-kira masih umur dua, tiga tahun. Betul ga, Ma?” Jawab papa.


“Iya, kamu ingat saat itu? Padahal kamu masih kecil sekali saat itu.” Timpal mama.


“Mungkin ingat cinta pertamanya, Ma. Hahaha.” Imbuh papa sambil tertawa. Mama ikut tertawa, Nico hanya diam mendengar pembicaraan orang tuanya.


Cinta pertama?


“Mama masih ingat perempuan itu? Tetangga kita, perempuan kantoran itu. Siapa ya namanya? Ck, Papa lupa.” Ingat-ingat papa sambil mengernyitkan dahinya.


“Angeline? Eveline? Eline? Siapa ya? Mama lupa-lupa ingat.” Mama ikut mengerutkan dahinya seperti papa.


“Yang pasti, kamu sayang sekali sama dia. Apa-apa maunya sama dia. Kalau makan, maunya disuapi sama dia. Mandi juga maunya sama dia. Kalau dia ga ada, kamu nangis. Mamamu sampai ngambek, kamu itu sebenarnya anak mama atau anak perempuan itu?” Gelak papa, membuat bibir mama mengerucut sebal.


“Iya lah, siapa yang ga kesal kalau anaknya lebih pilih perempuan lain daripada mamanya sendiri? Mama pernah tanya sama Papa, jangan-jangan Papa yang pernah naksir perempuan itu waktu Mama hamil kamu, makanya kamu lebih suka perempuan itu daripada Mama.”


Papa tertawa lagi mendengar penuturan mama. Dia segera merangkul istrinya yang masih memasang tampang masam.

__ADS_1


“Nggaklah, mana mungkin Papa suka perempuan lain saat Mama hamil anak Papa? Yang ada Papa makin cinta mati sama Mama.” Rayunya.


“Cih, merayu. Makin tua makin bisa saja mulut Papa. Awas ya, kalau berani merayu perempuan lain di luaran.” Mama tidak bisa menahan senyumnya mendengar rayuan papa.


“Stella?” Tiba-tiba Nico bergumam.


Papa dan mama serentak menoleh mendengar gumaman Nico. Terlihat mata Nico menatap nyalang, sepertinya ia sedang mengingat-ingat sesuatu dan tidak memperhatikan interaksi orang tuanya.


“Perempuan itu? Nggak, bukan Stella. Namanya ada ‘Lin Lin” begitu dibelakangnya, bukan Stella.” Tambah mama.


“Tower apa, apa Mama ingat?” Tanya Nico.


“Tower Adeline. Dulu apartemen kita dilantai 10. Papa jual apartemennya waktu kita mau pindah ke Yogya.”


“Perempuan itu… Tinggal dimana?” Tanya Nico lagi.


“Pas disebelah unit kita. Kita di unit sepuluh, dia di unit sebelas. Kenapa, kamu mau kesana? Itu sudah lama, Co, sudah empat belas tahun yang lalu. Belum tentu juga dia masih tinggal disana.”


Nico terdiam mendengar asumsi mamanya. Ia mencatat semua di otaknya. Aku akan mampir kesana nanti…


-----


Hari ini hari pertama Nico menginjakkan kakinya ke sekolah yang baru. Sekolah yang tidak jauh dari apartemennya tempat ia tinggal.


Apartemen yang disewa papanya memang terletak dalam real estate yang cukup besar, bisa dikatakan seperti kota kecil didalam kota Jakarta. Seluruh fasilitas lengkap disana, ada sekolah, rumah sakit, mall dan sebagainya. Kebetulan apartemen berada di area yang dekat dengan area sekolahan. Untuk saat ini, Nico diantar oleh papanya yang juga akan berangkat ke kantor. Papa menjanjikan akan membelikan motor agar Nico lebih mudah pergi dan pulang dari sekolah.


“3 IPA 1….” Gumamnya sambil berkeliling mencari ruang kelas barunya. Setelah didapatinya, ia masuk dan duduk di bangku belakang. Terlihat Nico masih malu dan canggung karena tidak mengenal siapapun, sehingga ia berusaha agar tidak menarik perhatian teman-temannya.


Bel berbunyi, kelas yang awalnya riuh berangsur tenang dan murid-murid mulai menempati tempat duduknya masing-masing.


“Wali kelas kita siapa ya?” Tanya gadis bertubuh gempal yang duduk dibangku depan Nico, kepada teman sebangkunya, seorang gadis berkacamata.


“Belum tahu ya, semoga guru pelajaran primer tapi jangan yang killer. Amit-amit kalau punya wali kelas galak.” Kata si gadis berkacamata. Yang dimaksud ‘pelajaran primer’ dari si gadis berkacamata adalah mata pelajaran utama dari kelas IPA yaitu Fisika, Kimia, Biologi dan Matematika. Ia berharap si guru akan berbaik hati memberikan bimbingan atau bahkan bocoran soal bila akan ulangan atau ujian, karena si guru juga merangkap sebagai wali kelas pasti berharap anak-anak didikan di kelasnya dapat memperoleh nilai yang tinggi.


“Bocorannya sih Bu Stella.” Timpal anak laki-laki kurus yang duduk didepan si gadis berkacamata.


Stella? Gumam Nico. Lagi-lagi nama Stella yang beredar di sekeliling Nico.


“Puji Tuhan kalau Bu Stella. Fisika kita bakal seratus semua!” Girang si gadis berkacamata.


“Halo, kamu anak baru ya?” Tiba-tiba si gadis gempal memutar badannya dan menyapa Nico.


“Heh?” Nico terkejut. “Eh, halo,” sapanya gugup. “Iya, saya Nico, pindahan dari Surabaya. Salam kenal ya.” Jawabnya lagi sambil tersenyum gugup.

__ADS_1


“Halo, kenalin gue Angel. Ini Ines, dan ini Dimas.” Jawab di gadis gempal sambil menunjuk gadis berkacamata di sampingnya dan anak laki-laki kurus di depannya.


“Halo, halo.” Sapa Ines dan Dimas sambil melambai-lambai pada Nico. Nico tersenyum membalas sapaan teman-teman barunya.


“Dimas, sini, pindah aja duduknya ke samping Nico,” ujar Angel sambil menepuk meja disamping Nico. Meja itu memang masih kosong.


“Nanti gue ga kelihatan ke papan tulis lagi. Eh, tapi boleh juga deh, jadi gampang kalau mau nyontek, haha. Kalau gue ga kelihatan nanti, bacain ya bro?” Ujar Dimas.


“Beres.” Jawab Nico singkat sambil tersenyum. Lumayan, pikirnya, di hari pertama sekolah, ia sudah punya teman baru yang lumayan ramah. Semoga mereka bisa berteman dekat untuk seterusnya.


Tidak seberapa lama, terdengar ketukan suara sepatu dari koridor sekolah. Bunyinya mendekat ke arah kelas Nico. Tak lama muncullah wali kelas yang ditunggu-tunggu oleh seluruh warga kelas. Seorang perempuan manis berkacamata, berusia sekitar tiga puluhan tahun namun masih terlihat awet muda karena penampilannya yang modis.


“Selamat pagi!!” Sapanya bersemangat sambil tersenyum, menatap ke sekeliling kelas.


“Selamat pagi, Bu!” Jawab para murid dengan lantang.


“Selamat datang di kelas tiga IPA. Semuanya sudah tambah besar ya, sudah ga boleh nakal lagi!” Lanjut ibu wali kelas yang disambut tawa murid-muridnya.


“Kelas tiga kelasnya belajar, kalian akan menghadapi ujian kelulusan tahun ini. Sudah ga boleh ngerjain guru-guru lagi, mengerti? Alex, awas kamu ya. Rudi, Dion!!” Lanjutnya dengan nada pura-pura galak sambil menunjuk dua matanya lalu menunjuk ke mata murid-murid yang namanya ia sebutkan, sebagai tanda bahwa ia akan mengawasi mereka. Murid-murid yang disebutkan namanya hanya tersenyum lebar, dan disambut tawa riuh murid-murid lainnya.


“Ah, Ibu. Kami kan ga ngapa-ngapain!” Jawab murid yang bernama Alex sambil cengar cengir jahil. “Ibu makin cakep aja, mana tahan ga gangguin Ibu. Mimpi apa semalam bisa dapat Bu Stella jadi wali kelas!” Tambahnya, sehingga membuat murid-murid lain makin riuh tertawa.


Bu Stella tersenyum kecut mendengarnya. “Huh, merayu!” Sungutnya, namun kemudian ia tersenyum.


“Dia Ibu Stella, guru Fisika kita. Orangnya baik, cantik lagi. Makin semangat deh gue belajar.” Bisik Dimas pada Nico. Nico mendengar bisikan Dimas sambil memperhatikan Ibu Stella. Manis, pikirnya.


“Di kelas ini juga ada anak baru pindahan dari luar kota. Boleh tolong maju ke depan dan memperkenalkan diri?” Sambung Bu Stella sambil kembali mengedarkan matanya ke sekeliling kelas.


Ragu-ragu Nico berdiri. Ibu Stella langsung melambaikan tangannya agar Nico menghampirinya ke depan kelas. Nico berjalan kedepan kelas dan berdiri disamping Ibu Stella, kemudian ia mulai memperkenalkan diri setelah diberi kode oleh Ibu Stella.


“Selamat pagi, teman-teman. Perkenalkan, nama saya Nicolaus Daniel, pindahan dari SMU Pertiwi di Surabaya. Saya biasa dipanggil Nico. Salam kenal semuanya.”


“Selamat pagi juga, Nico. Selamat datang di SMU Pijar Harapan. Selamat belajar dan semoga betah ya.” Sambung Ibu Stella sambil menatap Nico. “Ada yang mau ditanyakan ke Nico, anak-anak?” Sambung Bu Stella.


“Udah punya pacar belum?” Celetuk seorang gadis sambil mengedip-kedipkan matanya genit.


Kelas langsung riuh tertawa, bahkan Ibu Stella juga tertawa. Wajah Nico langsung memerah, ia menunduk malu.


“Wah, ditanya begitu aja langsung merah! Dia pasti masih perjaka!” Sambung Alex.


Suara tawa di kelas itu sudah tidak terkendali lagi. Nico semakin menunduk dalam, ia sangat malu. Ibu Stella mengetuk-ngetukkan penghapus papan tulis dengan keras untuk meredam tawa murid-muridnya.


“Alex! Awas kamu ya! Ini murid baru, jangan dikerjain!” Seru Bu Stella. “Nico, kembali ke tempat duduk.”

__ADS_1


Nico berjalan sambil menunduk di tengah derai tawa teman-temannya. Ibu Stella sempat menepuk-nepuk bahunya saat ia melewati tempat Ibu Stella berdiri. Nico tersentuh dengan keramahan gurunya ini, sambil berjalan tercium olehnya parfum Ibu Stella yang harum seperti vanilla. Membuat Nico mendongak dan memperhatikan wajah manis gurunya. Ia tersadar saat Ibu Stella mendorongnya agar segera duduk.


__ADS_2