
Hari Sabtu, hari pernikahan Andy dan Stella.
Nico sudah mengarah ke gedung resepsi pada sabtu siang. Di gedung resepsi tersebut, akan diadakan proses pencatatan sipil, pemberkatan dan juga resepsi pernikahan Andy dan Stella. Dia juga menyiapkan sebuah kejutan untuk Papa Hendrawan dan Celine.
Nico berdandan sangat keren malam itu. Dia menggunakan jas resmi berwarna hitam dan kemeja biru muda, membuat penampilannya resmi namun segar. Disaku jasnya tersemat sebuah kuncup mawar berwarna putih.
Ketika Nico tiba di gedung perhelatan acara, dia langsung disambut oleh Ardy. Saat itu Celine dan papanya belum tiba.
Stella dan Andy sudah tiba di gedung saat Nico tiba. Pasangan itu sempat melihat Nico saat Nico memasuki gedung. Emosi Andy naik, melihat betapa bernyali dan percaya dirinya Nico datang ke momen hidupnya dengan Stella. Dan sebentar lagi, Nico pasti akan menggandeng Celine, wanita yang masih mengisi hatinya.
Andy melirik Stella. Stella terlihat masih memandang Nico dengan sendu. Emosi Andy kembali naik.
"Ehem!" Sentaknya, membuat Stella menengok kaget. "Mau membatalkan pernikahan kita? Kalau mau, masih ada kesempatan!" Geramnya, lalu beranjak meninggalkan Stella.
Stella memang sedang memandang Nico dengan pikirannya yang sedang bernostalgia. Masih teringat jelas masa perkenalannya dengan Nico dan Nico yang mendampingi Stella sehari-hari sebelum kehadiran Celine. Nico yang lembut, polos, humoris dan penurut. Sekali lagi, Stella menyalahkam Celine yang dianggapnya telah merebut Nico sekaligus membuatnya terjebak dengan Andy yang arogan dan pencemburu.
Stella tersentak ketika mendadak Nico memandangnya. Stella segera mengalihkan pandangannya dan bergerak menyusul Andy.
Nico berdiri berdampingan dengan Ardy didekat pintu masuk. Saat itu, sebuah mobil mewah berhenti di area drop off.
Nico memandang mobil itu. Tampak Pak Marcus dan istrinya Lusia, serta Shirley dari dalam mobil.
Tatapan Shirley langsung terkunci pada Nico. Ia ingin menghampiri Nico, namun ia menahan dirinya. Ia teringat lagi sudah beberapa kali Nico menolak dirinya. Shirley juga merasakan tatapan tajam papanya yang seakan melarangnya mendekati Nico.
Pak Markus sudah mengetahui bahwa Nico menolak putrinya. Dengan ditolaknya penawaran pekerjaan dari Pak Markus kepada Pak Angga, Pak Markus sudah bisa membaca bahwa Pak Angga tidak mendukung hubungan Shirley dan Nico. Hal ini kemungkinan besar karena Nico sudah terikat hatinya dengan Celine, seperti yang Shirley ceritakan padanya saat meminta bantuan papanya untuk mengikat keluarga Nico. Jadi Pak Markus langsung mengingatkan putrinya, "Ingat harga dirimu, tidak usah mengejar laki-laki yang tidak menginginkanmu. Masih banyak lelaki lain yang mau membuka hati dan mencintaimu dengan tulus. Lebih baik kau dicintai, daripada hanya kau yang mencintai." Akhirnya Shirley berlalu, mengikuti langkah orang tuanya memasuki gedung acara tanpa menyapa Nico.
Ardy memperhatikan interaksi antara Nico dan Shirley. Yang satu menahan diri, yang satu lagi acuh tidak peduli, senyum Ardy. Ardy memperhatikan Shirley, dia baru menyadari betapa manisnya gadis itu.
Shirley melirik ke Ardy pada saat dia dan orang tuanya melewati Ardy dan Nico yang berdiri didepan pintu. Ardy sedikit membungkukkan badannya untuk menghomati keluarga Markus. Pak Markus sedikit mengangguk, tapi Ibu Lusia dan Shirley hanya berlalu tanpa membalas salam hormat Ardy.
Tak lama setelah keluarga Markus tiba, sampailah sebuah mobil mewah berhenti di drop off. Terlihat Pak Michael Hendrawan dan Ibu Michelle istrinya, serta Celine keluar dari kendaraan itu.
Senyum Celine langsung mengembang ketika melihat Nico. Ia langsung nenghampiri Ardy dan Nico yang masih setia menunggu di samping pintu.
"Hai, Ar. Hai, Nic." Sapanya sambil tersenyum manis. Ardy hanya mengangguk. Nico juga mengangguk, namun kemudian ia mencabut kuncup mawar putih dari sakunya dan memberikannya kepada Celine. Sontak Celine berbunga-bunga hatinya, matanya melebar dan berbinar. Ia tidak menyangka Nico seromantis itu.
"Bunga cantik untuk gadis paling cantik." Bisik Nico pelan, menggoda Celine. Celine tersenyum sambil menepuk lengan Nico. Kemudian ia segera menggandeng Nico dan membisikinya, "Ayo, itu Papa dan Mama."
"Pa, Ma, kenalkan, ini Nico." Ucap Celine ketika Pak Hendrawan dan Ibu Michelle telah melewati pintu masuk dan berdiri diantara tiga anak muda itu. Ardy sudah menempatkan dirinya, berdiri dibelakang pasangan Nico-Celine.
Pak Hendrawan agak terkesiap melihat Nico, ia memandang Nico dengan penuh minat. Ia memandang Nico yang masih tampak begitu muda. Diluar dugaan, Nico dengan berani menatap mata Pak Hendrawan, setelah sebelumnya sedikit menundukkan tubuhnya memberikan hormat kepada calon mertuanya.
"Selamat siang, Om, Tante. Perkenalkan, saya Nico." Ucap Nico sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Pak Hendrawan tersenyum, menyambut uluran tangan Nico.
"Siang, Nic, apa kabar? Ayo, kita masuk." Jawab Pak Hendrawan sambil merangkul bahu Nico. Nico menurut, kini ia berjalan menjajari Pak Hendrawan.
Celine melepaskan pegangan tangannya di lengan Nico. Akhirnya ia berjalan dibelakang Nico dan sang papa, menjajari langkah mamanya.
"Cel, ini Nico, bayi kecil yang sering kamu timang dulu? Yang fotonya banyak kamu jejer di kamar kamu?" Bisik mamanya. Celine mengangguk sambil tersenyum.
"Ooo... Sudah dewasa sekarang. Makin ganteng!" Puji Mama Michelle, membuat Celine tersenyum lagi.
Rombongan itu duduk di area VIP resepsi, sambil menunggu panggilan tanda dimulainya acara pemberkatan.
Pak Hendrawan banyak menanyakan ini itu pada Nico, terutama mengenai personalnya. Nico menjawab semua apa adanya.
"Celine itu sebenarnya mau Om jodohkan saja. Dia ga nikah-nikah, umur sudah tiga puluh lebih. Ga pernah kelihatan pacaran, tahu-tahu dia bilang ada kamu. Terus terang, Om kira dia membohongi Om." Jelas Pak Hendrawan.
"Jangan Om, jangan dijodohin!" Sanggah Nico cepat. Semua mata di meja itu menatap Nico dan Pak Hendrawan bergantian.
"Kenapa?" Tanya Pak Hendrawan, kembali merasa tertarik.
"Tante Celine milik saya, Om!" Nico menjawab tegas.
Uhuk! Celine terbatuk. Mama Michelle tertawa, Papa Hendrawan tersenyum. Tante? Duh nih anak, aku dipanggil tante didepan Mama dan Papa... Gumam Celine.
"Om suka semangat kamu. Bagaimana rencana masa depan kamu? Semangat kamu harus dibarengi dengan perencanaan. Percuma semangat tapi belum ada rencana." Ujar Pak Hendrawan lagi.
Nico melirik Celine, Celine hanya tersenyum memandangnya kemudian ia pergi bersama Ardy untuk berjalan-jalan sekedar melihat-lihat keadaan sekitar. Segera setelah Celine pergi, Nico terlibat pembicaraan serius dengan Pak Hendrawan dan Ibu Michelle.
"Celine!" Pak Hendrawan melambaikan tangannya ketika Celine melintas didekat mejanya. Celine dan Ardy segera mendekati Pak Hendrawan.
"Tahun depan, atur Nico supaya bisa magang di kantor kita. Papa mau dia mulai belajar bisnis kita. Papa mau lihat company chain apa yang berhasil dia bangun." Perintah Pak Hendrawan kepada Celine. Celine tersenyum dan Ardy mengangguk. Dalam hati, Celine bersorak. Perintah papanya bisa diartikan Nico telah berhasil mengambil hati Pak Hendrawan dan mendapatkan sedikit kepercayaannya.
Nico tersenyum membalas senyum Celine. Ia mengedipkan mata letih, bulir-bulir keringat terlihat di dahinya. Ardy menyembunyikan tawanya melihat betapa stressnya Nico.
Pak Hendrawan berdiri dari kursinya. Ia menepuk bahu Nico sebelum ia beranjak pergi.
-----
Resepsi malam hari, masih di hari yang sama.
Ting! Sebuah pesan masuk ke posel Nico. Nico yang sedang menggandeng Celine, melirik ponselnya. Setelah membaca pesannya, ia berbisik pada Celine lalu meninggalkan ruang resepsi.
Di drop off gedung, terlihat Pak Angga dan Ibu Renny menunggu untuk dijemput Nico.
__ADS_1
Nico segera menghampiri orang tuanya, lalu mencium tangan papanya dan pipi ibunya.
“Calon istrimu dan calon besan papa sudah didalam?” Tanya Papa Angga. Nico mengangguk.
** flashback on
Seminggu sebelum pernikahan Andy dan Stella, akhirnya Nico berbicara jujur pada orang tuanya mengenai hubungannya dengan Celine. Semua hal yang terkait Celine diceritakannya, termasuk hubungan saudara antara Celine, Stella dan Shirley. Juga status Celine sebagai anak angkat Hendrawan. Tujuan Nico menceritakan hal sedetail ini agar orang tuanya tidak terkejut bila mendapati berita-berita ini dari luaran sana, dan mencegah orang-orang yang mempengaruhi pemikiran papa dan mamanya.
Papa Angga dan Mama Renny awalnya terkejut dengan pengakuan Nico, terutama Mama Renny yang memikirkan perbedaan usia antara Celine dan Nico. Namun Papa Angga yang memang berpikiran terbuka, menasehati istrinya mengenai perlunya saling melengkapi antara suami dan istri terkait sifat, sikap dan emosi, tidak melulu dipandang dari jeda usia yang dianggap baik oleh masyarakat. Apalagi mereka berdua juga telah lama saling mengenal walaupun baru-baru ini saja bertemu lagi.
Insting bayi tidak salah, slogan Papa Angga, dia bisa merasakan orang-orang yang tulus menyayanginya. Cinta sejak bayi juga cinta paling murni, tidak memandang fisik dan latar belakang seseorang. Ini juga slogan asal-asalan Papa Angga, yang berhasil membuat Mama Renny tertawa namun terbuka pikirannya. Celine memang sudah banyak nilai positifnya di mata Mama Renny, kelembutan dan kesabarannya mengasuh Nico kecil sudah menumbuhkan kepercayaan di hati Mama Renny bahwa Celine adalah perempuan yang baik. Dengan kedewasaannya juga, Celine dapat mengarahkan Nico untuk kehidupan yang lebih baik.
Akhirnya diputuskan, Papa Angga dan Mama Renny akan ikut Nico menghadiri resepsi pernikahan Andy-Stella. Dalam suasana yang informal, kedua keluarga akan diperkenalkan. Ini merupakan tahap awal perkenalan keluarga untuk kelanjutan hubungan Nico dan Celine.
** flashback off
Mereka bertiga berjalan masuk ke ruang resepsi. Celine yang akhirnya melihat kehadiran Nico dan orang tuanya, segera menghampiri mereka.
“Om, Tante.” Sapanya sopan, sambil menundukkan kepalanya. Celine masih merasa segan, karena tanpa sepengetahuan Tante Renny, ia memacari anaknya.
“Celine!” Senyum Mama Renny sambil merangkul Celine, mencium kedua pipinya lembut. Tindakan Mama Renny membuat kecanggungan Celine perlahan hilang. Ia tersenyum, merasa Renny menerimanya.
“Nico sudah cerita. Tante terkejut, ternyata kalian berlanjut ya?” Ujar Mama Renny sambil tersenyum.
“Maaf Tante, Celine belum cerita ke Tante. Celine dan Nico memutuskan untuk menjalaninya dulu sebelum melibatkan keluarga.” Jelas Celine.
Papa Angga dan Mama Renny menganggukkan kepalanya, mengerti dengan alasan Celine.
Nico menggamit lengan papanya. “Pa, ayo ketemu Pak Hendrawan dulu.” Ajaknya. Papa Angga mengangguk, lalu berjalan mengikuti Nico. Nico menggandeng Celine, dan Papa Angga segera menggandeng istrinya.
Celine menyentuh bahu papanya. “Pa, ini ada papa dan mama Nico.” Jelasnya. Pak Hendrawan yang saat itu sedang berbicara dengan Pak Markus langsung menoleh, menatap Pak Angga. Mereka pun langsung saling diperkenalkan oleh Celine.
“Oh, jadi ini Angga Dharmawan Susanto, yang sudah menolak panggilanku untuk menghandling export area Asia Tenggara?” Seru Pak Markus dengan mata memicing. Ucapan ini ditanggapi tawa oleh Pak Angga dan Pak Hendrawan.
“Mohon maaf sebelumnya, Pak Markus, bukan maksud saya mengecewakan Bapak. Saya masih terkendala keluarga saya saat ini. Untuk saya, keluarga adalah yang utama, Pak. Mungkin nanti setelah keluarga saya siap saya ajak melanglang buana lagi, saya akan menanggapi panggilan Bapak lagi.” Senyum Pak Angga.
“Hei, Kus, jangan kau pindahkan dia jauh-jauh!” Tiba-tiba Pak Hendrawan berseru. “Aku juga perlu, perusahaanku juga memerlukan ilmunya. Pak Angga, kami juga perlu masukan Bapak untuk satu hal.”
“Hei, aku yang menemukan dia dulu!” Seru Pak Markus. “Kau cari lagi saja orang lain! Itu si Ardy, kau kembangkan saja dia! Pak Angga harus membantuku, aku sudah cukup pusing tidak ada yang membantuku di Surabaya!”
“Dia calon besanku! Kau tidak bisa mengambilnya tanpa ijinku! Dan tidak akan aku ijinkan, dia harus membantuku di skala nasional dulu, setelah ini baru expor akan kuserahkan padanya!” Seru Pak Hendrawan tidak mau kalah.
Segera saja ketiga orang dewasa beserta pasangannya terlibat pembicaraan yang cukup serius namun santai, disertai aksi bajak membajak dan umpatan akrab antar anggota keluarga. Gelak tawa seringkali terdengar.
__ADS_1
Celine dan Nico memisahkan diri. Mereka berkeliling sambil menikmati hidangan, tidak mempedulikan pandangan Stella maupun Andy dari atas pelaminan. Pada saat pengantin turun untuk menyapa para tamu, Nico dengan jahilnya menyeret Celine kemana-mana, sehingga mereka tidak berpapasan dengan pengantin. Celine tertawa-tawa melihat gaya Nico mengintai posisi pengantin demi menghindari mereka.