
Mood Celine rusak seharian ini. Setelah jam makan siang, dia benar-benar tidak bersemangat meneruskan pekerjaannya lagi. Dikepalanya terbayang-bayang tuduhan yang diteriakkan Andy di restoran gedung sebelah jam makan siang tadi. Apakah semurahan itu dia, sampai Andy pun harus mencemburui Ardy?
Tiba-tiba bayangan senyum Nico melintas. Nic, kamu dimana, Dek… Celine mengambil ponselnya, menelepon Nico. Ia berharap dengan mendengar suara Nico, moodnya dapat membaik.
Ternyata sampai panggilan terputus, Nico tidak menjawab teleponnya. Mungkin sedang di kelas, pikir Celine. Celine pun mengirimkan pesan pada Nico, dan setelah ditunggu-tunggu pun, Nico tidak membaca apalagi membalas pesannya itu.
Celine berusaha menahan diri dan melanjutkan pekerjaannya walaupun dia tidak bisa berkonsentrasi. Akhirnya, satu jam sebelum jam kantor berakhir, Celine meninggalkan kantor. Dia mau berbelanja mingguan sekaligus memperbaiki mood-nya. Supaya tidak terjebak macet, Celine memutuskan untuk pergi supermarket yang terletak di dalam mall yang ada didekat apartemennya saja.
Celine sudah tiba di mall itu. Dia berkeliling melihat-lihat sebuah department store dulu sebelum menuju ke supermarket. Di department store itu, sebuah pemandangan mengejutkannya. Celine melihat Andy sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita. Jantung Celine berdegup kencang. Andy selingkuh?
Dengan mengendap-endap diantara jejeran pakaian, Celine membuntuti pasangan tersebut. Ternyata mereka tidak berbelanja, tapi sekedar melihat-lihat saja. Selama berjalan Celine melihat Andy cenderung dingin terhadap pasangannya, namun wanita tersebut cukup agresif. Beberapa kali Celine melihat wanita itu mengelus lengan Andy, bahkan sesekali mengecup punggung tangannya. Sayang sekali, Celine belum berhasil melihat wajah wanita itu.
Tidak lama kemudian mereka sudah keluar dari department store dan menuju sebuah restoran. Celine tetap membuntuti mereka dengan hati-hati.
Di dalam restoran, Celine memilih tempat duduk yang membelakangi pasangan itu. Ia masih berusaha mengetahui siapa wanita itu dan mencoba merekam kegiatan mereka dengan kamera depan poselnya. Ia mau mengumpulkan bukti untuk mencecar Andy nanti.
Posisi duduk Celine ternyata juga membawa keuntungan lain. Celine dapat mendengarkan pembicaraan pasangan itu.
“Kamu mau makan apa?”Tanya si wanita. “Ayolah Dy, semangatlah. Dunia ga sedaun kelor. Kalau Celine sudah ga mau sama kamu, aku mau kok.” Ia tertawa.
Celine seperti pernah mendengar suara itu. Siapa ya?
Ting! Sebuah pesan masuk ke ponsel Celine. Celine memeriksa ponselnya, ternyata pesan dari Nico.
[Halo, Tan, sori aku baru bubaran kerja kelompok. Tante tadi call aku, ada apa?]
[Hai Nic, iya, kangen banget tadi J Nic, boleh Tante minta tolong? Kalau bisa ke Restoran XXX di mall XXX sekarang, Tante tunggu.] Celine mengarahkan Nico untuk menunggu di restoran yang berada di samping restoran tempat Celine berada sekarang.
[Wah kangennya ga nahan ya Tan, hahaha… Ok Nic otw sekarang]
Sementara itu, pembicaraan di meja Andy terus berlangsung.
“Aku ga bisa meninggalkan Celine begitu saja. Aku punya project dengan dia. Perusahaan Pak Hendrawan bisa menyokong perusahaanku. Tanpa dia, perusahaanku juga bisa jadi besar, tapi perlu waktu lama.”
Ternyata benar, aku dimanfaatkan oleh Andy, gumam Celine.
“Ah, kalau itu papaku juga bisa. Papaku juga tangan kanan Om Hendrawan, kamu tahu kan? Kalau kita kerjasama, Papa bisa jadi orang nomor satu nantinya di perusahaan Om Hendrawan. Nantinya kamu bukan cuma bekerjasama dengan perusahaan itu, tapi kamu akan jadi pemiliknya! Kita bisa mendongkel Celine, kita ga perlu dia. Dia cuma anak angkat, kamu tahu kan?” Wanita itu berceloteh membujuk Andy.
Deg! Jantung Celine serasa berhenti berdetak. Om Hendrawan? Suara itu… Stella?
Ya, sekarang Celine yakin, wanita dimeja belakang itu adalah Stella. Stella mau menghancurkannya? Stella, yang dikiranya sudah reda rasa irinya, ternyata masih mendendam padanya. Dia bahkan nekat mau merebut Andy dan menggunakannya untuk merebut perusahaan papanya.
Dulu, papa Stella yang bernama Robert memang mendekati Celine untuk mendapatkan hati Celine dan orang tuanya. Celine mulai bekerja di perusahaan Papa Hendrawan sejak dia berumur tiga puluh tahun. Sampai saat Celine mulai bekerja itu, Om Robert dan istrinya yaitu Tante Nina sangat sayang padanya, dan terus meminta agar Papa Hendrawan memberi ijin pada Om Robert untuk mendampingi Celine. Namun seiring berjalannya waktu, Celine menyadari bahwa Om Robert berusaha memanfaatkan posisi Celine untuk mengambil keuntungan pribadi. Celine melaporkannya kepada Papa Hendrawan, yang segera menarik wewenang itu dari tangan Om Robert. Sebagai gantinya, Papa Hendrawan menugaskan Ardy yang juga merupakan tangan kanannya untuk mendampingi Celine. Sejak penggantian itu, hubungan Celine dan keluarga Om Robert pun memburuk. Walaupun Om Robert masih bekerja di perusahaan Papa Hendrawan dan memegang jabatan yang besar, namun tentu saja wewenangnya tidak sebesar Celine atau Ardy.
Celine tidak menyangka, Stella sampai memiliki rencana seperti itu, memanfaatkan Andy dan orang tuanya sendiri demi menghancurkan Stella. Walaupun tidak akrab dengan keluarga omnya, namun Celine sayang pada Stella. Mereka sempat hidup berdekatan saat masih kecil. Dulu Celine bahkan menganggap Stella sebagai adiknya, dia selalu memuji-muji Stella yang cantik, bahkan menamai boneka cantiknya dengan nama Stella.
Air mata Celine sudah mulai mengalir. Bukan air mata kesedihan, tapi kemarahan. Celine bertekat akan mengumpulkan barang bukti, untuk menggagalkan rencana Stella dan Andy.
__ADS_1
[Tan, aku sudah didepan restoran.] Tiba-tiba pesan dari Nico masuk ke ponsel Celine. Celine bergegas keluar dari restorannya, menuju lokasi tempat Nico menunggu.
Nico tersenyum melihat Celine datang, namun senyumnya hilang saat melihat mata Celine yang memerah.
“Tante kenapa, kok sembab?”
Belum selesai Nico berbicara banyak, Celine sudah menyeretnya ke lokasi lain yang lebih tersembunyi. Namun dari tempat persembunyiannya, Celine masih dapat melihat bila Stella atau Andy meninggalkan restoran.
“Nic, Tante mau minta tolong. Kamu temani Tante cari barang bukti sekalian jadi saksi mata ya?” Ujar Celine.
“Barang bukti apa, Tan? Saksi mata apa?” Nico kebingungan. Celine celingukan melihat kea rah restoran. Nico yang melihat Celine celingukan ke arah itu, ikut mengarahkan matanya kesana.
Pada saat itulah Andy dan Stella keluar dari restoran. Celine langsung meyembunyikan tubuhnya dibalik tiang sambil menyeret Nico.
Dibalik tiang, Nico sempat-sempatnya menghapus air mata Celine. Celine mendongak menatap Nico, Nico tersenyum.
“Tante lagi nangis aja cantik, apalagi kalau lagi senyum. Senyum dong, Tan.” Rayunya.
“Ga usah jadi buaya deh kamu. Ayo cepet!” Elak Celine sambil menyeret tangan Nico, namun tak urung dia tersenyum juga mendengar gombalan Nico.
Saat mengendap-endap di belakang Celine, saat itulah Nico baru mengenali Stella dan Andy.
“Bu Stella? Om Andi? Ada apaan ini, Tan?” Tanya Nico sambil menarik tangan Celine.
“Ga usah banyak tanya! Ayo cepat! Nanti baru Tante cerita.”
“Aduh, nanti saja deh! Ketinggalan jauh nih! Ayo cepat, nanti mereka hilang!”
“Ga mau! Cerita dulu!” Nico tetap mogok jalan.
“Aduh, ya sudah deh. Mereka berdua selingkuh, Andy ga setia sama Tante. Tante perlu barang buktinya. Ayo cepat kejar dia!” Celine kelabakan Nico tidak mau bergerak lagi. Dia khawatir kehilangan jejak Andy dan Stella.
“Kalau itu mah, aku udah tahu.” Nico keceplosan. Ia segera mengunci mulutnya ketika mendapatkan tatapan horor dari Celine.
“Apa? Kamu sudah tahu? Kamu sudah tahu dan tidak memberi tahu Tante?” Celine melotot kesal. Nico menjadi salah tingkah.
“Ehh, ituu… Itu maksudnyaa…” Lagi-lagi Nico tergagap. Ia takut melihat kemarahan Celine.
“Kamu hutang penjelasan ke Tante! Tapi sebelum itu, ayo cepat kita kejar mereka dulu!” Celine kembali menyeret Nico. Kali ini Nico menurutinya karena takut dimarahi oleh Celine.
Pasangan Andy-Stella ternyata mengarah ke tempat parkir mobil. Celine dan Nico juga segera menaiki mobil Celine yang kebetulan diparkir di lantai parkir yang sama. Setelah beberapa saat berkendara, ternyata mereka pengarah ke apartemen.
Stella menggandeng Andy menuju lift apartemen. Mereka mengarah ke unit apartemen Stella di lantai tiga.
Didepan pintu apartemen Stella, Celine menyuruh Nico untuk membuka pintu apartemen Stella.
“Kamu pasti tahu passcode-nya kan? Ayo buka!” Bisiknya.
__ADS_1
“Ga ah, Tan, saya takut.” Lirih Nico.
“Buka! Buka nggak?” Paksa Celine. “Jangan bilang kamu ga tahu passcode-nya! Kamu sudah sering mondar mandir ke unit ini, ga mungkin kamu ga tahu passcode-nya! Pasti kamu pernah mengintipi Stella membuka kodenya, kan? Sekarang, ayo buka!” Lanjutnya lagi, semakin mendesak Nico.
Terpaksa Nico menekan passcode pintu apartemen Stella. Sementara itu, Celine mempersiapkan ponselnya dengan program kamera. Ia berniat menangkap basah Stella dan Andy. Setelah lama bergaul dengan Andy, Celine tahu persis apa yang akan mereka lakukan di apartemen.
Pip, klik! Perlahan-lahan mereka pintu mulai terbuka, Celine mendorong sedikit pintu itu sampai setengah terbuka. Ruang tamu sudah terang dan terdengar suara decapan disana. Celine memegang erat ponselnya ditangan kanan, dan tangan kirinya menggenggam tangan Nico. Nico ia tempatkan di belakang tubuhnya. Perlahan-lahan Celine mendorong pintu, dan yang tampak didepan matanya sungguh membuatnya berdebar.
Tampak Andy duduk di sofa dengan memangku Stella yang duduk menghadapnya. Beberapa kancing kemeja Andy sudah terbuka, menampakkan dada bidangnya. Stella sudah tidak mengenakan blusnya lagi, blusnya teronggok di lantai didekat kaki Andy. Tangan Andy sudah merayap kemana-mana, meremas kanan dan kiri. Tangan kiri Stella sibuk meremas rambut di kepala belakang Andy dan tangan kanannya mengarah ke pangkuan Andy. Mereka sedang berciuman dengan serunya, sampai tidak menyadari bila ada tambahan dua pasang mata dan satu kamera yang terarah pada mereka. Celine terpaku, melihat pengkhianatan didepan matanya.
Tiba-tiba Andy membuka matanya dan melihat ke pintu. Terkejut melihat Celine dan Nico, ia langsung mendorong Stella sampai Stella terjatuh.
“Ce… Cel! A… Aku bi… Bisa jelasin semuanya..” Gagap Andy. Dia berdiri dari sofa sambil mengancingkan resletingnya dan memasang kembali ban pinggangnya. Celine memicingkan matanya.
“Baru sepuluh menit tiba di apartemen, sudah sampai buka resleting segala? Cepat amat, Dy?” Sindirnya.
“Cel, aku ga sengaja. Sungguh!” Kilahnya.
“Ga sengaja kok sampai berjam-jam jalan ke mall, makan-makan, gandengan, dan sekarang mau ML pula… Tapi ya sudahlah, selamat menikmati. Silakan dilanjutkan!” Ujar Stella tidak peduli, lalu membalikkan badannya.
“Cel, please. Aku mau jelasin semuanya. Ayo kita bicara!” Jawab Andy sambil menarik tangan Celine. Celine menepisnya.
“Jangan sentuh aku! Kamu tadi minta kesempatan lagi untuk kita memperbaiki semuanya, kan? Sekarang aku jawab, kesempatan itu ga ada lagi! Aku paling benci pengkhianat!” Jerit Celine.
“Kenapa, kamu kecewa?” Ujar Stella tibe-tiba. Dia sudah mengenakan kemejanya lagi, berjalan menghampiri mereka bertiga.
“Aku memang punya hubungan dengan Andy. Kami juga sudah pacaran sebulan terakhir ini. Apa yang kamu ga bisa berikan ke Andy, aku bisa. Kamu sudah ga berguna lagi buat dia. Aku juga bisa membantu dia mengembangkan bisnisnya.” Tambah Stella lagi.
Celine mendelik ke Stella. Sekarang kedua perempuan itu berdiri berhadapan.
“Aku kira kamu sudah berubah, Stel. Ternyata nggak, kamu selalu mengulang kejahatan kamu! Aku mengampuni kamu untuk kesalahan kamu yang lalu, tapi kamu ga kapok-kapok mau menghancurkan aku!”
“Kamu juga sama, kamu juga selalu mengulangi kesalahanmu yang sama!” Jerit Stella. Celine mengangkat dagunya, dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun pada Stella.
“Kamu mencuri Nico dariku!” Tambah Stella lagi. Celine melirik ke Nico, Nico terbengong heran. “Nico sejak awal datang padaku kan? Dia sudah berjanji akan terus ada disampingku! Tapi kamu bujuk dia, kamu rayu dia, sampai akhirnya kamu pacari dia! Hoo, jangan kita aku ga tahu Cel, kamu juga sudah jadian dengan Nico kan? Kamu juga pengkhianat!” Andy melebarkan matanya dan memperhatikan Nico. Jadi, pemuda ini? Bukan Ardy?
“Pacar tersayangmu itu juga sudah tahu aku berhubungan dengan Andy. Dia tidak memberitahumu? Haha, dia juga mengkhianatimu! Dia lebih setia padaku dengan menyembunyikan rahasiaku. Hahaha, selamat menikmati, Celine! Di dunia ini tidak ada yang berpihak kepadamu!”
Celine berbalik menatap Nico. Nico menutupi rahasia sebesar ini darinya? Nico salah tingkah ditatap sedemikian tajam oleh Celine. Aduh, mati aku…
Keempat orang di ruangan itu menatap satu sama lain penuh kemarahan, hanya Nico yang melihat sekelilingnya dengan kebingungan. Dia terjebak dalam hubungan rumit diantara tiga orang dewasa di hadapannya.
“Silakan kalau kamu mau berhubungan dengan Andy, Stel. Dia milikmu sekarang.” Ucap Celine pada Sella, kemudian matanya beralih kepada Andy.
“Congrats Dy, untuk hubungan baru kamu. Kita sudah selesai sekarang, jangan pernah membahas hubungan kita lagi. Itu sudah masa lalu.” Celine langsung mengalihkan pandangannya ke Nico. Ia tidak memberi kesempatan pada Andy yang mulutnya sudah kembang kempis seperti ingin menyampaikan sesuatu.
“Dan kau Nic, ayo ikut! Kita selesaikan masalah kita!” Celine langsung menarik tangan Nico, meninggalkan apartemen Stella. Dia tidak menggubris panggilan dari Andy, dan masih terdengar suara pintu yang dibanting oleh Stella. Celine dan Nico langsung menuju unit apartemen Celine di lantai sepuluh.
__ADS_1