Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Macan Betina vs Kucing Liar


__ADS_3

 


Keesokan harinya.


Hari ini adalah hari kedua Shirley bekerja di Hendrawan Jaya Grup. Hari ini sekaligus hari pertamanya bertemu dengan Celine, setelah kemarin seharian Shirley dibawa Ardy untuk meeting diluar kantor.


Pada saat Shirley datang kekantor, terlihat Nico sudah duduk di meja kerjanya. Dengan perasaan senang, Shirley langsung menghampiri Nico yang sedang asyik dengan ponselnya.


“Co!” Sapanya ceria. Nico hanya melirik sekilas. “Kemarin kan kita ga jadi makan siang bareng, makan siangnya jadinya hari ini ya.”


“Aku ga bisa. Nanti jam sebelas aku ada meeting dengan Bu Celine diluar.” Jawab Nico acuh tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


Shirley merengut, ia mulai emosi karena rencananya terus gagal.


“Kamu…” Belum selesai Shirley berbicara, Celine keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa lembar Dokumen.


“Nic…” Pandangan mata Celine beradu dengan Shirley. Ia sontak terdiam, terbayang lagi di mata Celine betapa kurang ajarnya Shirley pada saat menyerbu apartemennya terakhir kali. Di sisi lain, Shirley juga langsung terbayang kejadian yang sama, betapa berantakannya penampilan Celine dan Nico saat itu. Sontak emosi kedua wanita ini naik.


“Nic, ke ruanganku sekarang!” Seru Celine keras. Nico yang membaca gelagat buruk dari pertemuan dua wanita ini segera angkat kaki menuruti perintah Celine. Baginya lebih cepat mereka menyingkir akan lebih baik, daripada menyulut pertengkaran.


“Kenapa?” Ucap Shirley pada saat Celine dan Nico sudah berjalan mengarah ke ruangan Celine. Namun mendengar pertanyaan Shirley, pasangan ini kembali membalikkan badannya dan menatap Shirley.


“Kenapa kalian jadi masuk ke ruangan? Kenapa tidak jadi kerja disini?” Sinis Shirley. Pertanyaan ini memancing emosi Celine naik lebih tinggi.


“Apa urusanmu? Saya mau bekerja dimana, itu urusan saya!” Ketus Celine.


Shirley tertawa dibuat-buat. “Siapa yang tahu panggilan itu cuma modus? Kalian mau pacaran pagi-pagi begini? Hahaha.” Shirley kembali tertawa sinis.


Celine ikut tertawa sinis. “Mau pacaran atau tidak, itu juga urusan saya. Saya tidak perlu laporan ke kamu! Lagipula saya juga pacaran dengan pacar saya, bukan dengan pacar kamu!” Balas Celine telak.


Emosi Shirley memuncak. Dengan cepat ia berjalan menghampiri Celine dan melayangkan tangannya, hendak menamparnya.


Diluar dugaan, Celine menangkap tangan Shirley lalu langsung membalas menamparnya! Nico sangat terkejut, ia tidak menyangka Celine bisa membalas dengan begitu keras. Celine yang dikenalnya selama ini adalah Celine yang sangat lembut, namun yang tampak didepan matanya saat ini adalah Celine yang berbuat kekerasan.

__ADS_1


Shirley memegang pipinya yang memanas akibat tamparan itu. Air matanya mengalir, kemarahan dan kesakitan bercampur, emosinya menggelegak. Pada saat itu, Ardy masuk ke dalam ruangan dan menyaksikan tamparan Celine ke Shirley. Ia berlari-lari menghampiri ketiga orang itu.


“Celine!” Tegur Ardy. Ia juga terkejut, baru kali ini Celine melakukan kekerasan terhadap seseorang.


Celine melambaikan jari telunjuknya, menujuk wajah Shirley. “Kamu cuma karyawan magang disini, jangan kurang ajar! Kamu bisa bekerja di sini cuma karena campur tangan ayahmu, jadi tidak usah bersikap seolah-olah kau seorang penguasa yang berhak mengatur ini itu! Apapun yang aku lakukan adalah urusanku. Ini perusahaan ayahku, juga perusahaanku! Kalau kamu ga bisa menjaga sikap dan ga bisa menghormati aku, lebih baik kamu keluar! Kami tidak butuh orang seperti kamu disini!”


Shirley juga sepertinya akan segera meledakkan emosinya. Sebelum itu terjadi, Nico dengan cepat menarik tangan Celine untuk masuk ke ruangannya sendiri, dan Ardy menarik tangan Shirley supaya tidak lebih jauh bertindak kurang ajar kepada Celine.


Didalam ruangannya, Nico segera memeluk Celine. Celine yang sudah begitu emosi tidak membalas pelukan Nico. Nafasnya masih terengah-engah dan matanya masih memancarkan kemarahan.


“Sayang… Sayang… Tenang…” Ucap Nico berulang-ulang sambil terus membelai kepala Celine dalam pelukannya, mengecupnya, membelainya lagi, begitu terus menerus. Nico berharap dapat menenangkan gejolak kemarahan Celine. Celine memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya beberapa kali, berusaha meredam emosinya. Tubuhnya yang gemetar karena kemarahan juga berangsur mereda. Dia begitu cepat tenang dalam dekapan Nico.


Nico menuntun Celine untuk duduk di sofa setelah tubuh Celine tidak lagi gemetar. Sambil berlutut didepannya, Nico memperhatikan wajah Celine. Menatap dalam matanya. Tidak ada air mata, tapi ada pancaran kerasnya hati. Celine tidak menyesal telah menampar Shirley.


Nico membuang napasnya, ia berjalan mengambilkan air minum untuk Celine. Celine meminumnya, emosinya semakin mereda setelah menghabiskan minumannya.


“Kita balik lagi kerja, Nic. Aku sudah ga apa.” Ujar Celine pelan. Ia menyibakkan rambutnya dan mendongakkan kepalanya, mengambil udara sebanyak mungkin untuk melegakan perasaannya. Nico tersenyum, lalu mencuri sebuah kecupan kecil di leher Celine. Celine tersenyum.


“Ok, ayo kita mulai kerja lagi.” Jawab Nico. Setelah itu mereka kembali mulai bekerja, mempersiapkan data-data yang akan dipakai untuk meeting hari itu.


 


-----


Sesampainya di pantry, barulah Shirley berhasil menghempaskan tangan Ardy. Ardy membalikkan tubuhnya, memandang wajah Shirley yang sudah penuh air mata.


Ardy menatap mata Shirley yang penuh tatapan kemarahan.


“Lepas!” Teriak Shirley. “Kenapa kau pisahkan kami? Biarkan saja, aku harus menampar muka perempuan itu!” Geramnya.


“Perempuan itu adalah pimpinan sekaligus pemilik perusahaan ini.” Jawab Ardy tenang dan dingin. “Kamu memang salah, ga seharusnya kamu kurang ajar ke dia.”


“Apa? Jadi kamu juga menyalahkan aku?” Mata Shirley melotot, ternyata Ardy memihak pada Shirley.

__ADS_1


“Bukan menyalahkan kamu, tapi pasti kamu yang lebih dulu ga sopan ke Celine. Coba aku tanya, kamu sudah ucapkan ‘selamat pagi’ waktu kamu ketemu dia tadi pagi?” Tanya Ardy sambil menatap wajah Shirley dengan teduh. Shirley membuang pandangannya.


Ardy tersenyum tipis. “Pasti belum. Sudah tidak mengucapkan salam, tahu-tahu kamu memancing kemarahannya. Apa yang kamu lakukan? Mengejeknya? Atau menantangnya?” Ujar Ardy lagi. “Ingat Sher, kamu diminta untuk belajar disini untuk menjadi pengusaha nantinya, pengusaha besar sekelas papamu. Setiap orang besar, selalu menghormati orang lain, karena mereka sadar usaha mereka bergantung dari hasil kerja keras orang lain, terutama karyawannya. Bagaimana kamu mau jadi pengusaha sekelas papamu kalau kamu tidak bisa menghargai orang lain dan menghormatinya?”


Shirley hanya diam mendengar ceramah Ardy.


“Papamu pasti kecewa kalau berita ini sampai ke telinganya. Putri kebanggaannya gagal di perusahaan keluarganya sendiri karena tidak bisa menghargai anak pemilik perusahaan yang juga saudaranya sendiri. Papamu pasti merasa gagal karena tidak berhasil mendidik sopan santun kepada anaknya.” Lanjut Ardy lagi.


Shirley mendongakkan kepalanya sombong. “Silakan lapor ke Papa, aku ga takut! Aku ga perlu perusahaan ini. Lebih baik aku pulang ke Surabaya!”


“Ya, pulanglah ke Surabaya!” Sambar Ardy. “Pimpinlah perusahaan ayahmu tanpa pengalaman dan hancurkanlah usaha keras orang tuamu! Jangankan memimpin perusahaan besar seperti Anugerah Sukses, hanya menghadapi satu orang wakil direktur di Hendrawan Jaya Grup saja kau sudah kalah! Kasihan papamu, putri yang dibanggakannya gagal di hari kedua di perusahaan yang katanya hanya setengah besarnya jadi perusahaannya sendiri. Pulanglah! Benar kata Celine, kami tidak memerlukanmu. Kamu yang memerlukan kami, untuk mencari ilmu disini. Tapi kalau kau tidak mau, ya sudah!” Ardy mulai bergerak meninggalkan Shirley.


Shirley terpaku mendengar kata-kata pedas Ardy. Dan ketika ia menolehkan kepalanya, Ardy telah menghilang dari pantry. Ia sendirian.


 


-----


Ardy kembali ke ruangannya. Saat ia melihat bahwa Nico telah kembali ke mejanya, Ardy segera menghampiri Nico.


“Co..” Panggilnya. “Coba ceritakan tentang kejadian tadi.”


Nico segera menceritakan apa yang terjadi, tidak ada yang ia tambahkan atau kurangi. Ardy menekur, berpikir.


“Anak itu bentul-betul harus diajar sopan santun.” Ujarnya pelan.


“Dan kau,” ucap Ardy sambil mengangkat pandangannya, memandang Nico, “Awasi pacarmu! Selama ini aku menganggapnya kelinci yang lembut, ternyata dia macan betina. Jauhkan dia dari kucing liarku. Kita harus membagi tugas, kita harus membuat mereka bertemu seminimal mungkin. Kalau pun mereka bertemu, harus ada kita berdua disana.”


Nico tersenyum mendengar perumpamaan Ardy.


“Dia memang kelinci lembut, dia hanya mendengkur kalau kusentuh…” Pandangan Nico mulai menerawang.


“Mesum!” Ejek Ardy sambil tertawa. “Belai kelincimu supaya dia lebih tenang. Jangan sampai dia berubah lagi menjadi macan betina kalau sedang bertemu kucing liarku!”

__ADS_1


Mereka tergelak bersama.


__ADS_2