Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
BonChap - Persiapan Bulan Madu


__ADS_3

“Tolong bereskan ini ya, Dy. Ini juga. Ini juga.” Celine mengoper tiga file sekaligus ke Ardy. Ardy hanya membuka kedua tangannya, bagai sebuah nampan yang selalu menerima operan file dari Celine.


 


“Ada lagi?” Pertanyaan Ardy seperti menantang Celine. Celine memicingkan matanya.


 


“Kau betulan bertanya atau menantangku?” Tanya Celine sinis. Ardy tertawa.


 


“Nanya dong, mana mungkin aku berani menantangmu? Siapa tahu kamu masih lupa satu atau dua pekerjaan lagi. Niatku baik, supaya kau tenang selama bulan madu.” Ucap Ardy sambil tersenyum.


Celine mendecih, tidak percaya pada ketulusan Ardy. Dia duduk dikursinya, melipat tangan di dadanya dan memangku kakinya dengan anggun.


“Masih besok aku berangkatnya. Hari ini, apa ada hal urgent yang harus kita kerjakan?” Tanya Celine lagi.


Ardy menggeleng, ia mengangkat file yang tadi diberikan oleh Celine.


 


“Tinggal ini saja. Lainnya serahkan saja padaku, pasti beres. Kau pulangnya, berberes dulu, packing barang-barangmu dan Nico. Kadoku jangan lupa dibawa.” Senyum Ardy.


 


“Kadomu?” Tanya Celine sambil mengingat-ingat, yang mana kado dari Ardy. “Kenapa kadomu harus kubawa?” Tanya Celine lagi.


 


“Supaya aku cepat dapat keponakan, hahaha…” Ardy tergelak. Ia sangat puas membayangkan pasangan Nico-Celine sedang menggunakan kado darinya.


 


“Cih, mencurigakan. Pasti kadomu isinya ga benar!” Gerutu Celine.


“Cari saja di tumpukan kadomu. Kadoku berwarna merah emas. Sudah dulu ya, bosku dan anak buahku cuti, mereka mewariskanku pekerjaan yang lumayan. Aku mau mulai kerja dulu.” Ujar Ardy sambil berjalan menuju pintu ruangan Celine. “Selamat liburan!” Serunya sambil melambaikan tangan dan keluar dari ruangan Celine.


 


Celine menekur di mejanya. Mungkin lebih baik aku bekerja sampai tengah hari dulu, setelah itu baru aku pulang dan bersiap untuk besok, gumamnya dalam hati. Dengan niatan itu, Celine memulai pekerjaannya hari ini.


 


❤️❤️❤️


 

__ADS_1


Niat tinggalah niat. Celine tidak bisa pulang tengah hari itu karena kesibukannya yang menumpuk. Ditambah lagi dengan pemikirannya yang kejar target karena sadar ia akan cuti dalam waktu lumayan lama, hingga Celine ingin menyelesaikan seluruh pekerjaannya dalam satu hari ini. Akhirnya ia baru bisa meninggalkan kantor pukul sepuluh malam. Nico sendiri, memanfaatkan hari terakhir sebelum cuti mereka untuk memeriksa kegiatan operasional restaurant steaknya.


 


Pip! Pip! Pip! Pip! Klik! Celine membuka pintu apartemennya. Ketika ia masuk, dilihatnya Nico sudah tertidur di sofa ruang tamu. Gadgetnya terletak di dadanya. Sepertinya Nico tertidur ketika sedang memainkan gadgetnya.


 


Celine mengendap-endap menuju kamar tidur tanpa membangunkan Nico. Ia ingin mandi dulu sebelum membangunkan Nico.


Celine melewati ruang makan sebelum mencapai kamarnya. Diliriknya meja makan, sudah ada beberapa menu praktis diatasnya. Celine tersenyum, sepertinya malam ini Nico memasak makan malam. Hmm, menu yang tidak bisa dilewatkan, gumam Celine. Masakan Nico selalu enak baginya.


 


Di kamar tidurnya, dengan cepat Celine masuk ke kamar mandi. Ia ingin secepatnya mandi, yang paling praktis adalah dengan shower air hangat. Dengan cepat, Celine langsung membuka seluruh pakaiannya dan menuju ke bawah shower.


 


Hujan air hangat menyambut Celine, membasahi ujung rambut hingga kakinya. Dengan cepat Celine meraih shampoo dan body washnya, membersihkan dirinya. Ia menikmati ritual mandi itu, sampai sepasang tangan secara tiba-tiba meraih pinggangnya.


 


“Hah!” Celine terkejut, karena ia tidak mendengar siapapun masuk ke kamar mandi. Celine cepat menoleh, ternyata Nico sudah bergabung dengannya dibawah shower.


 


 


“Aku baru mau bangunin kamu setelah aku mandi…” Ucap Celine. Ia ingin melanjutkan kata-katanya, tapi tangan Nico yang sudah naik dari perutnya menuju dua titik sensitif didepan tubuhnya memecah konsentrasinya. Bukannya berkata-kata, Celine malah mendesah menikmati belaian dan remasan Nico.


 


“Nic…” Celine mengerang sambil mendongakkan kepalanya. Dengan cepat, Nico memanfaatkan kesempatan dengan menyambar bibir Celine, ********** dengan hangat.


 


Celine membalikkan tubuhnya. Kini keduanya dalam posisi berpelukan di bawah shower air hangat. Celine mendesah, Nico membelai seluruh tubuh bagian belakangnya dari atas hingga kebawah, meremas bagian indah tubuhnya yang terletak dibagian belakang. Sedangkan bongkahan indah Celine di bagian depan, menempel sempurna di dada Nico yang keras, menimbulkan getaran indah untuk keduanya. Tangan Celine pun tidak diam, ia membelai dan meremas setiap bagian tubuh Nico yang diinginkannya,


 


Nico yang semakin terbuai nikmat duniawi, kini mendesak Celine hingga bersandar pada dinding kamar mandi. Dengan mengangkat satu kaki Celine, terjadilah penyatuan yang seharusnya mereka nikmati pada malam pertama mereka kemarin. Namun karena kelelahan, mereka tidak melakukannya dan hanya tertidur melepas lelah.


 


Celine menikmati itu semua. Ini penyatuan mereka yang pertama sejak mereka menikah. Celine menatap mata Nico selama Nico menjalankan tugasnya sebagai seorang suami, sambil sesekali mencuri kecupan dari bibir Nico.


 

__ADS_1


“Nic…” Desahnya. “Ini yang pertama. Maafkan, aku tidak bisa menepati janjiku untuk melakukannya denganmu saat umurmu dua puluh lima.” Ujar Celine sambil terengah-engah, ditengah gempuran Nico.


“Hh… Hmm…” Nico tidak menjawab apapun, dia hanya menggumam dan sesekali menggeram nikmat. Nico terus melakukannya, hingga suatu saat gerakannya semakin intens dan cepat, mengejar kenikmatan untuk mereka berdua.


 


“Nic… Nic! Nic!” Celine menjerit. Nico mendekapnya dengan erat, tidak menyisakan ruang diantara tubuh mereka. Sebuah tembakan gunung berapi terasa dibawah sana, membuat Celine merasa tubuhnya melemah. Hangat dan nikmat.


 


Celine mengecup rambut dan dahi Nico beberapa kali. Saat ini Nico masih mempertahankan posisinya. Hanya saja ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Celine.


 


“Celineku… Kau terlalu menggoda untuk dilewatkan…” Ujar Nico, membuat senyum di wajah Celine terbit. “Aku tidak menyesal melakukannya sebelum umurku dua puluh lima.” Lanjutnya.


 


“Enak?” Tanya Nico sambil mengelus wajah Celine yang masih basah. Celine mengangguk dan tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di dada Nico.


 


Nico mengambil handuk dan mengeringkan tubuh mereka berdua, lalu memakaikan bathrobe untuk mereka berdua.  Tentu saja, tujuannya agar mudah dibuka lagi, hehehe…


 


Selanjutnya, mereka menuju ke ruang makan untuk makan malam dan beristirahat.


 


❤️❤️❤️


 


“Mana kado itu?” Pagi itu Celine sedang membongkar salah satu ujung ruangan lemari pakaiannya yang dipergunakan untuk meletakkan hadiah-hadiah pernikahannya. Akhirnya, ditemukannya sebuah kado yang berwarna merah dan emas.


 


“Apa sih ini?” Gumamnya sambil membuka hadiah itu. Ia penasaran, mengapa Ardy sampai menyuruhnya membawa hadiah ini ke acara bulan madunya? Dengan cepat, ditariknya pita emas yang melilit kotak tersebut.


 


“S*it!! Ardyy!!” Celine menjerit dalam hati ketika melihat hadiahnya dan mengangkatnya dengan tangannya. Sebuah lingerie sexy berwarna merah menyala dan beberapa butir obat kuat!


 


Honeymoon is in the air…❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2