
Masih di hari pertama masuk sekolah.
Karena hari ini hari pertama masuk sekolah, pelajaran resmi belum diberikan. Kelas itu sibuk dengan perkenalan, mengatur pembentukan kelompok dan pembagian jadwal piket, pemberian jadwal pelajaran harian, penunjukan ketua kelas, wakil ketua serta bendahara, dan kegiatan lain yang akan mendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar nantinya. Alex sebagai siswa yang populer dikelas itu, terpilih sebagai ketua kelas.
“Nico, bantu Ibu bawa barang-barang ini ke ruang guru ya.” Panggil Ibu Stella saat bel usai sekolah berbunyi. Nico yang sedang membereskan alat tulis di mejanya, menganggukkan kepala. Murid-murid lainnya sudah bergerak cepat meninggalkan kelas.
“Baik, Bu.” Nico cepat beranjak sambil membawa tas sekolahnya. Ia mengambil tumpukan buku-buku dan gulungan karton di meja guru, lalu mengiringi langkah Ibu Stella menuju ruang guru. Sambil berjalan, keduanya sambil bercakap-cakap.
“Ibu tinggal dimana?” Tanya Nico setelah selesai meletakkan barang-barang di meja Ibu Stella di ruang guru. Ibu Stella terlihat sudah mengangkat tasnya, ia juga akan segera pulang.
“Saya di apartemen Green Village.” Sahut Ibu Stella.
Deg! Jantung Nico serasa berhenti. Apartemen yang sama denganku?
“O ya? Saya juga di Green Village, Bu. Ibu di tower mana?” Tanya Nico lagi.
“O ya?” Jawab Ibu Stella terkejut. “Saya di Tower Adeline.”
Deg! Sekali lagi jantung Nico serasa berhenti berdenyut. Stellaku?
“Kamu di tower mana, Co?” Tanya Ibu Stella.
“Ibu di lantai berapa?” Tanya Nico dengan wajah pucat. Karena sangat gugup, bukannya menjawab pertanyaan Ibu Stella, ia malah balik bertanya.
“Saya dilantai tiga. Ga mau tinggi-tinggi, biar setiap hari bisa olahraga naik turun tangga.” Jawab Ibu Stella sambil tertawa ringan.
“Ibu sudah lama tinggal di lantai tiga? Atau baru-baru ini saja? Sebelumnya di lantai berapa?” Cecar Nico lagi. Pikirannya mulai kalut, ia menduga Ibu Stella adalah Stella-nya yang ia cari selama ini.
Ibu Stella berhenti berjalan, melihat kearah Nico sambil mengerutkan keningnya. Ia bingung mendengar pertanyaan aneh Nico.
“Saya sudah tinggal di lantai tiga sejak lima tahun lalu, waktu mulai mengajar di SMU Pijar Harapan. Sebelumnya saya kuliah Fisika di Yogya. Kamu kenapa, Co? Kok tanyanya sampai seperti ini?” Tanya Ibu Stella kebingungan.
“Ga apa, Bu. Maaf, saya juga sedang mencari teman Mama yang dulu tinggal di Tower Adeline, namanya juga Stella. Tapi sudah lama, kira-kira empat belas tahun lalu.” Jawab Nico.
Raut wajah Stella berubah.
“O… Dilantai berapa?”
__ADS_1
“Lantai sepuluh, Bu.”
“O, ya sudah. Semoga cepat ketemu, ya. Ayo, Co, Ibu duluan ya.” Jawab Ibu Stella ketika mau masuk ke lobby towernya.
“Ya, Bu. Saya juga pamit ya, Bu.”
Ibu Stella mengangguk, memutar tubuhnya dan mulai berjalan ke arah lift dan tangga darurat towernya. Nico masih terus menatap punggung Ibu Stella yang menjauh darinya.
Terlalu banyak kebetulan, batin Nico. Apa perlu aku buntuti? Tapi kalau dia berbohong, untuk apa?
-----
Nico mengendap-endap di Tower Adeline. Ia berhasil menyusup dari lobby, bersamaan dengan seorang penghuni yang kebetulan baru saja men-swipe access card-nya. Nico naik tangga darurat hingga tiba di lantai sepuluh.
Ia menghampiri unit nomor sepuluh, mengingat-ingat kenangan kala ia sekeluarga tinggal disana. Sangat sedikit yang diingatnya, mungkin bisa dibilang hampir tidak ada. Diliriknya unit nomor sebelas, lalu menimbang-nimbang apakah perlu ia mendatangi unit itu sekarang. Dengan ragu ia menuju unit sebelas, lalu menekan bel.
Berarti betul Ibu Stella tidak tinggal disini. Kalau dia disini, dia pasti membuka pintu. Gumam Nico kecewa.
Dengan lesu, Nico turun lagi melalui lift dan menuju ke unit apartemennya sendiri. Letak Tower Adeline dengan Tower Veline yang cukup jauh membuat Nico banyak berpikir tentang Stella. Stella ibu gurunya dan Stella memori masa kecilnya.
Bruk! Karena jalan sambil melamun, Nico menabrak seorang wanita yang juga sedang melangkah terburu-buru. Wanita itu baru turun dari mobilnya.
“Ups, maaf!” Nico terkejut merasakan sentakan akibat benturan di tubuhnya. Wanita itu menabrak dada kiri Nico. Karena tinggi tubuh Nico yang 185 sentimeter, membuat kepala wanita yang tingginya sekitar 165 sentimeter itu terbentur dada Nico.
“Aduh!” Wanita itu meringis. “Maaf ya, saya buru-buru.” Ucap wanita itu sambil berlalu.
Nico menundukkan badannya sekilas, lalu melanjutkan perjalanannya. Sedangkan wanita itu berjalan dengan cepat, menuju Tower Adeline, menekan tombol lift lantai sepuluh, dan masuk ke unit sebelas.
-----
“Ella…. Ella….” Suara seorang bocah laki-laki menggaung. Nico menoleh kanan dan kiri, suara siapa itu?
__ADS_1
“Iya Nic, sini dipangku dulu…” Suara seorang gadis menjawab. Tiba-tiba Nic merasa tubuhnya terayun, seperti ditimang. Ia merasa sangat nyaman. Matanya segera terpejam. Lalu ia merasa pipi kanan dan kirinya dikecup bergantian.
“Nic, ini hari terakhir kita. Besok Nic mau pergi jauh sama Papa dan Mama. Jangan lupakan Ella ya? Ella sayang Nic.” Suara sang gadis menggema lagi.
“Ella… Ella… Peluk, Nic ngantuk.”
“Iya, Ella gendong ya. Nic bobo yang nyenyak. Selamat malam, Sayang.” Kecupan itu datang lagi, kali ini di dahinya. Lalu Nic kembali merasa ditimang. Ia merasa sudah jauh tertidur ketika tiba-tiba tubuhnya terasa terbanting.
Nic tersentak, terbangun dari tidurnya. Sangat terkejut karena terbangun dengan sangat tiba-tiba dari tidurnya.
Mimpi itu lagi, gumamnya. Apa ini wujud Stellanya? Mimpi seperti ini memang sering muncul bila ia sering berpikir tentang Stellanya. Apakah seperti yang di mimpi itu, Stella sesayang itu padanya?
Nic kembali membaringkan tubuhnya, namun kali ini ia tidak langsung tertidur. Aku harus cari cara lain untuk menemukan Stella…. Aku harus segera menggedor apartemen itu lagi…
------
Hari Sabtu, sore hari.
Seorang gadis sedang duduk di pojok coffee shop yang terletak disebuah apartemen. Seorang gadis yang manis, matanya bersinar cerdik, berambut pendek dan berkacamata. Ia tampak sedang menunggu seseorang.
Ting! Seorang gadis lain yang berparas cantik dan berambut panjang, keluar dari lift. Dengan terburu-buru, dia berlari kecil menuju pintu keluar lobby dan menghampiri sebuah mobil yang sudah menunggu di drop off lobby. Si gadis berkacamata dengan cepat berjalan dibelakang si gadis berambut panjang, lalu menghampiri mobilnya sendiri yang terparkir disamping lobby.
Kedua mobil tersebut berjalan beriringan di jalan raya, namun tetap menjaga jarak. Si gadis berkacamata beberapa kali menelepon seseorang, berbicara ini dan itu, mengikut perintah ini dan itu. Sampai akhirnya kedua mobil itu sampai di sebuah hotel.
Si gadis berkacamata menyeringai. Dia mengambil foto pasangan yang diintainya. Sekali, dua kali, tiga kali, dan seterusnya.
Ia mengirimkan foto-foto itu kepada seseorang melalui ponselnya, lalu menelepon lagi, memerintahkan ini dan itu.
Ketiganya masuk ke restoran yang terletak di lantai dasar hotel tersebut. Mereka duduk di dua meja yang terpisah agak jauh.
Si gadis berkacamata mengamati lagi pasangan itu dari jauh. Kali ini perhatiannya terpusat pada si laki-laki. Tampan juga, pikirnya. DIperhatikannya bagaimana perilaku si laki-laki, bagaimana pria itu menggenggam tangan si gadis, mengelus pipinya sesekali dan menyisipkan anak rambut di belakang telinga si gadis. Ia tersenyum sinis, sebuah ide terbesit di otaknya. Kalau kau bisa mengambil milikku, aku juga bisa mengambil milikmu…
__ADS_1