Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Namanya Celine


__ADS_3

Sore ini, seperti biasa mama minta diantar ke supermarket untuk belanja mingguan. Karena papa sedang ada jadwal dengan teman-temannya, kali ini Nico yang akan mengantar mamanya.


 


Seperti biasa, mama selalu lama bila berbelanja. Karena itu Nico memilih menunggu di coffee shop yang ada di seberang kasir supermarket daripada mengantar mama berkeliling diantara rak-rak supermarket. Terbukti, dua jam sudah Nico menunggu namun belum ada tanda-tanda mama selesai berbelanja.


 


Saat sedang asyik dengan ponselnya, Nico dikejutkan suara dehaman seseorang. Ketika menoleh, ia terkejut melihat mama sudah ada didepannya dengan seorang wanita. Wanita yang pernah menabraknya di depan tower apartemen Adeline.


 


“Nico, surprise! Ingat ga, ini Celine!” Seru mama heboh. Nico melongo menatap Celine, Celine menatap Nico sambil tersenyum tipis. Senyum yang manis, namun terkesan mahal. “Nama lengkapnya Celine Hendrawan, kita manggilnya Celine. Nama lengkap ini juga Mama baru tahu tadi.” Lanjut mama sambil tertawa.


 


“Hai, Nico. Kita ketemu lagi.” Celine mengulurkan tangannya. Nico menyambutnya, namun karena kaget ia tidak bisa berkata-kata.


 


Mama tertawa melihat reaksi Nico. Nico tersadar saat mendengat tawa mama yang begitu keras.


 


Mama Nico dan Celine duduk di kursi yang ada di depan Nico.


 


“Kebetulan banget loh, Cel, kita ketemu disini. Ini Nico juga sudah nanyain kamu terus. Dia ingat nama kamu tapi ga ingat muka kamu.” Ujar mama. Lagi-lagi Celine hanya tersenyum tipis mendengar cerita mama.


 


“Wajarlah, Tante. Berapa ya umur Nico saat itu? Dua atau tiga tahun, ya? Pantas saja kalau ga ingat muka aku.” Jawab Celine.


 


“Stella?” Ucap Nico tiba-tiba. Mama dan Celine langsung menoleh menatap Nico.


 


“Apa dulu aku panggil kamu Stella? Eh, maaf, aku ga sopan.. Maaf, Tante.”


 


Bugg! Jantung Celine serasa terkena bogem mentah. Tante? Aku dipanggil Tante?


 


“Tante?” Ternyata reaksi Mama lebih cepat dari Celine yang masih terpaku. “Jangan panggil ‘tante’ dong, Co, Celine masih cantik begini loh. Panggil ‘kakak’ aja.” Imbuh mama lagi.


 


“Eh iya, maaf Kak.” Nico merasa tidak enak melihat Celine yang terpaku.


 


“Ga apa, Tan, Nic. Iya, kakak aja panggilnya, ga apa.” Jawab Celine lagi sambil tersenyum.


 


“Stella ya… Dulu aku punya boneka cantik, namanya Stella. Boneka itu yang sering aku pakai untuk bujuk kamu kalau kamu ga mau makan atau mandi. Lama-lama kamu jadi panggil aku Ella.” Tambah Celine lagi.


 


“Mandi?” Muka Nico memerah. “Aku mandi sama kamu? Kamu yang memandikan aku?”


 


Tawa mama membanjir mendengar pertanyaan Nico. Celine juga mulai tertawa.


 


“Sudah Mama bilang, kamu sayangnya setengah mati sama Celine, Co. Kalau ga sama Celine, ga akan mau. Untung kamu ga pindah rumah ke apartemen Celine. Jadi, ya kamu jawab aja sendiri, dimandiin ga kamu sama Celine?”


 


Wajah Nico makin memerah.


 


“Pokoknya Celine udah lihat semuanya, udah pegang semuanya juga. Hayo loh, gimana tuh Co?” Goda mama lagi. Wajah Nico semakin memerah.


 


“Ma!” Rengek Nico. Rasa malunya sudah tidak tertahankan lagi. Tawa Mama masih berderai.


 


“Aduh, Mama ga tahan. Mama ke toilet dulu ya, kalian ngobrol saja dulu. Mama titip belanjaan ya, Co.” Mama langsung melarikan diri ke toilet.


 


Nico dan Celine duduk dalam kebisuan. Untungnya, tak lama seorang pelayan datang, mengantarkan pesanan kopi mama dan Celine. Kesempatan itu dipakai Nico untuk mengajak Celine mengobrol.


 


“Kakak apa kabar?” Sapanya setelah ia menawari Celine minum.


 


“Baik. Kamu sudah dewasa ya, sekarang. Sudah umur berapa?”


 


“Aku delapan belas tahun, Kak, sudah SMU tiga.”


 


Celine mengangguk, lalu menyesap kopinya.


 


“Kakak tinggal dimana sekarang? Sekarang sibuk apa?” Tanya Nico lagi.


 


“Kakak masih di apartemen yang dulu, Adeline 1011. Kalau sibuknya, ya sibuk kerja aja.” Sambung Celine.

__ADS_1


 


Tebakan Papa benar juga, Kak Celine tipe pergi subuh pulang rubuh (oleng/ lelah/ tengah malam), batin Nico.


 


“Kamu sekolah dimana? Ambil jurusan apa?” Tanya Celine, menyambung pembicaraan.


 


“Aku di SMU Pijar Harapan Kak, ambil jurusan IPA.”


 


SMU Pijar Harapan? IPA? Batin Celine.


 


“Oh, itu almamater Kakak juga. Kamu kenal Ibu Stella?” Imbuh Celine.


 


“Kenal, Kak. Bu Stella wali kelasku. Kakak kenal Ibu Stella?” Tambah Nico lagi.


 


“Lumayan. Kakak ketua alumni disana.” Senyum Celine sambil menyesap kopinya.


 


Oh, pantas Bu Stella kenal Kak Celine juga. Ketua alumni toh. Tapi, apa hubungannya dengan papa mama Bu Stella ya?


 


Nico masih bertanya-tanya tentang ceracau Stella kemarin malam. Tapi dia merasa tidak enak bila bertanya pada Celine lebih jauh lagi, karena ia merasa baru mengenal Celine.


 


Sekembalinya mama dari toilet, mereka masih duduk sambil menikmati kopi selama beberapa saat di coffee shop tersebut, sebelum akhirnya pulang ke apartemen masing-masing. Celine dan Nico pun saling bertukar nomor ponsel, untuk mempermudah komunikasi mereka berdua. Masih banyak pertanyaan dalam hati Nico yang ingin ia tanyakan pada Celine.


 


-----


 


Malam harinya. Nico masih menimbang-nimbang, apakah dia akan meghubungi Celine malam ini? Nico sangat penasaran dengan hubungannya dengan Celine di masa lalu, ia ingin mendengar cerita mengenai masa kanak-kanaknya, dan apa saja yang biasa mereka lakukan. Juga mengapa mama dulu sampai secemburu itu kepada Celine, seperti yang pernah diceritakan oleh Papa.


 


[Malam Kak.] Nico akhirnya mengirimkan pesan kepada Celine. Ternyata Celine dengan cepat membaca dan membalas pesan Nico.


 


[Hai Nic, malam juga. Sudah dirumah?] Balasnya.


 


[Iya, Kak, sudah dirumah. Kakak lagi sibuk ga? Apa ada waktu ngobrol?] Tanya Nico lagi.


 


 


[Aku ke tower Kakak saja, ada kantin di ruko samping lobby kan?] Tanya Nico lagi.


 


[Oh, boleh kalau begitu. Kakak tunggu sekarang ya? See you.]


 


Jawaban akhir Celine membuat Nico melompat dari ranjangnya. Ia menyambar tshirt dan celana panjang, kemudian hoodienya. Setelah berganti baju, dengan terburu-buru ia keluar dari kamarnya untuk pergi ke apartemen Celine.


 


“Pa, Ma, Nico ketemu Celine dulu!” Ujarnya sambil menggunakan sendalnya dan berlari keluar dari apartemennya. Papa dan mama yang sedang duduk di sofa ruang tamu dan menonton TV, sudah tidak sempat menjawab teriakan Nico lagi. Mereka hanya bisa berpandangan sambil tersenyum. “Nostalgia,” ujar papa, dan disambut tawa mama. Mama sudah menceritakan pertemuan mereka bertiga di coffee shop supermarket siang tadi.


 


-----


 


Nico sudah sampai di kantin yang dia maksud. Terengah-engah, Nico duduk sambil memesan minuman dingin. Dihirupnya minuman itu dengan pelan, untuk meredakan debaran jantungnya yang aktifitasnya meningkat karena berlari.


 


Beberapa menit kemudian, Celine tiba. Walaupun mengenakan pakaian santai, ia tampak cantik dan segar. Harum sabun menguar dari tubuhnya, sepertinya ia baru mandi. Nico menjadi minder, karena terburu-buru dia jadi lupa mandi.


 


Celine tersenyum waktu melihat Nico sudah duduk didalam kantin. Dia segera memesan makanan dan minuman untuk mereka, lalu Celine duduk dihadapan Nico.


 


“Ngg… Maaf Kak, kalau aku mengganggu waktu Kakak.” Ujar Nico pelan. Dia masih merasa tidak enak karena mengganggu waktu malam Celine.


 


“Ah, nggak kok. Biasanya weekend begini aku pergi, kadang jalan-jalan sama teman, kadang urusan pekerjaan. Hari ini memang ga ngapa-ngapain, diam saja dirumah. Yang ada bersyukur kamu menghubungi aku, Nic, aku jadi ada teman makan malam.” Jawab Celine sambil tersenyum.


 


Nico ikut tersenyum. Keramahan Celine membuatnya mulai nyaman dengan Celine. Dengan perlahan, pembicaraan mereka mulai mengalir dan semakin lancar.


 


“Dulu aku kecil seperti apa sih, Kak?” Tanya Nico sambil mengunyah sayur brokoli. Celine tertawa sambil menunjuk piring Nico.


 


“Itu, brokoli. Dari dulu kamu doyan brokoli,” ujarnya sambil tertawa. “Bocah aneh, dimana-mana anak-anak itu ga doyan brokoli, eh kamu malah lebih doyan dibanding wortel atau bakso sekalipun.” Tambah Celine.


 


“Tapi efek ke dewasanya dong, Kak, jadi ganteng kan?” Seloroh Nico.  Celine pura-pura mengerutkan dahinya.

__ADS_1


 


“Ganteng? Kalo gantengnya sih memang bawaan bayi kok. Dari kecil kamu memang kelihatan bakal ganteng besarnya. Mata, garis muka, udah cowok banget. Makanya Kakak suka banget kan, apalagi kalau Tante Renny udah titipin kamu. Ugh, puas banget Kakak peluk-peluk dan cium-cium kamu.” Papar Celine. “Sekarang makin ganteng! Masih suka dicium ga? Kamu dulu kalau dimintain cium, suka langsung kasih pipi loh. Atau malah kadang langsung monyongin bibir. Sini coba bibirnya Kakak minta, masih kayak dulu ga rasanya?” Goda Celine. Nico langsung merona wajahnya, digoda seperti itu. Dia tidak menyangka Celine membalas jawaban over pedenya dengan godaan luar biasa. Pakai cium segala, rek…


 


“Kakak…” Wajah Nico sudah seperti kepiting rebus. Celine tertawa puas bisa menggoda Nico.


 


“Dulu, Kakak tinggal di apartemen ini waktu mulai bekerja di perusahaan konstruksi yang ada di ruko depan Cluster Oliver. Om Angga dan Tante Renny tinggal di unit sebelah Kakak. Waktu Kakak mulai tinggal disini, Tante Renny lagi mengandung kamu.” Kisah Celine.


 


“Hubungan kami cukup baik. Waktu kamu lahir, setiap weekend Kakak sering main ke unit Tante Renny. Papa kamu sibuk, dia baru mulai kerja ditempat baru waktu itu. Jadi Kakak suka mampir sekedar bantu Tante Renny merawat kamu. Kamu lucu sekali, bayi yang ramah. Ga cengeng kalau Kakak gendong, walaupun waktu itu kita baru kenal.” Kenang Celine sambil tersenyum, mengingat masa itu. Nico mendengarkan sambil sesekali ikut tersenyum bila Celine tersenyum.


 


“Waktu umur kamu tiga tahun, Om Angga ditugaskan ke Yogyakarta. Tante Renny dan kamu akan ikut pindah. Kakak sedih sekali kamu akan pergi, tapi Kakak bisa apa? Saat itu kamu juga sepertinya mengeti, kamu minta menginap di rumah Kakak loh.


 


** Flashback On


 


“Ellaaaaa…..”


 


Suara nyaring seorang bocah laki-laki terdengar, disusul bunyi derap langkah kaki kecilnya, berlari masuk ke lobby bangunan didepannya.


 


Seorang gadis yang sedang duduk di sofa dalam lobby menoleh, ia tersenyum melihat bocah laki-laki itu. Ia melambaikan tangannya, kemudian mambuka kedua tangannya untuk bersiap menangkap tubuh anak laki-laki itu. Benar saja, bocah itu langsung menubrukkan tubuhnya ke tubuh si gadis, menenggelamkan wajahnya di pangkuan si gadis. Si gadis langsung memeluknya, kemudian mengangkat anak itu dan memangkunya. Dia berbisik ke anak laki-laki itu, kemudian mencium kedua pipinya dan mendekap tubuh kecilnya.


 


“Ella, Mama bilang Nic boleh nginep.” Tutur anak itu senang. Gadis itu mengangguk.


 


“Iya, Nic nginep ya. Ayo naik.” Jawab gadis itu. Kemudian sambil menggendong anak lelaki itu, ia sedikit menundukkan badannya kepada seorang wanita yang berjalan menyusul dibelakang si anak laki-laki.


 


“Sore, Kak. Besok jadi berangkat?” Sapa si gadis pada wanita itu. Wanita itu mengangguk.


 


“Iya, besok jam enam pagi. Jam lima Kakak jemput Nico ya.” Jawabnya. Gadis itu menganggukkan kepalanya, kemudian menggendong Nic menuju lift.


 


Bocah kecil itu tidur dengan nyaman dalam pelukan si gadis. Namun ketika ia terbangun keesokan harinya, ia melihat kesekelilingnya, ia sedang terduduk dalam mobil.


 


“Mama…” Gumamnya.


 


Mama yang duduk di kursi depan menoleh dan tersenyum. “Halo Co, sudah bangun?”


 


“Mama… Ella?” Gumam Nic.


 


“Kita lagi jalan-jalan. Nanti baru ketemu Ella lagi ya.” Sahut mamanya.


 


Nic mengangguk. Ia kembali terkantuk-kantuk di carseat-nya.


 


** Flashback off


 


Nico termenung. Celine yang melihat Nico terdiam, mulai berbicara lagi dengan suara ceria.


 


“Tapi sekarang sudah ketemu lagi kan? Ayo cerita, kemana saja kamu?”


 


Nico tersadar dari lamunannya dan tersenyum. “Papa tuh Kak, ngajak kita muter-muter. Yang aku ingat, selain Jogja, ada Medan, Manado, Makassar. Yang paling terakhir Surabaya. Pokoknya


Kalau jadi anaknya Papa pasti puas deh, nyobain tinggal diberbagai kota.” Jawab Nico sambil tersenyum.


 


Celine mengangguk-anggukkan kepalanya. “Iya, Om Angga memang hebat. Kemarin Tante Renny bilang, papa kamu sudah promosi jadi Manager, jadi keluar kotanya nanti sesekali saja.”


 


Kali ini Nico yang menganggukkan kepalanya.


 


“Oh iya, Kak, aku mau tanya satu hal. Bu Stella, guru fisikaku, apa Kakak kenal dia?”


 


Wajah Celine berubah mendengar nama Stella.


 


“Dia saudara sepupuku.” Jawabnya singkat dengan nada tidak suka, membuat Nico melebarkan matanya.


 


Sepupu?

__ADS_1


__ADS_2