Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Mimpi Itu


__ADS_3

Nico berjalan di sebuah kebun bunga. Dia merasa sangat bahagia dan damai. Deretan bunga di kanan dan kirinya membingkai jalan setapak yang saat ini dilewatinya. Diujung jalan setapak ini, dia melihat sebuah tanah luas berumput hijau yang diteduhi oleh beberapa pohon besar dan danau yang memantulkan cahaya matahari. Surga dunia, gumamnya.


 


TIba-tiba Nico baru menyadari, ada sesuatu yang mengalung di siku tangannya. Dia seperti tengah digandeng seseorang. Nico menoleh, dan dia tersenyum bahagia ketika menyadari bahwa Celine sedang melingkarkan tangannya di siku Nico.


 


Celine sangat cantik hari itu. Dia menggunakan gaun terusan selulut berlengan tiga perempat berwarna putih gading yang sederhana, namun sangat pas dengan tubuhnya. Rambutnya berwarna cokelat dan diikal simpel, riasannya juga minimalis namun mampu membuat kecantikan alami Celine lebih terlihat nyata. Celine juga tersenyum memandang Nico, sambil tangannya terus melingkar di lengan Nico dan dia terus berjalan mengikuti langkah Nico.


 


Setelah lepas dari jalan setapak, Nico melihat sebuah tempat yang dipersiapkan dengan sangat indah. Menara-menara bunga memagari tempat duduk-tempat duduk yang disusun berjajar di pinggir danau, menghadap ke sebuah panggung yang juga dihiasi oleh susunan bunga-bungaan. Sungguh indah, pikir Nico. Apakah ini hari kami menikah?


 


Sebuah suara bergaung di tempat itu.


 


“Nicolaus Daniel Sutanto, maukah Saudara menikah dengan Anastasia Celine Hendrawan yang hadir disini dan mencintainya dengan setia seumur hidup, baik dalam suka maupun dalam duka?”


 


Secara spontan, Nico menjawab, “Ya, saya mau.”


 


Suara itu terdengar lagi.


 


“Frederika Shirley Hendrawan, maukah Saudara…”


 


What? Wait! Shirley? Nico terkejut, dia segera memalingkan wajahnya kearah Celine.


 


Nico terkejut bukan kepalang ketika melihat Celine telah berubah menjadi Shirley yang kini sedang berdiri dengan sangat manis disampingnya. Nico langsung menjerit dan menepiskan tangannya dari genggaman Shirley. Pada saat itulah, Nico terlompat dari tempat tidurnya.


 


Nico sukses mendarat di lantai dengan jeritan yang cukup keras. Tubuhnya berkeringat dan napasnya ngos-ngosan. Sungguh mengerikan mimpinya hari ini.


 


Mama menghambur masuk ke kamar Nico dan langsung memeluk Nico yang masih terduduk di lantai.


 


“Co! Nico! Kamu kenapa, Nak? Kamu ga apa, Nak?” Mama panik sambil terus memeluk Nico dan mengelus-elus punggungnya. Nico terpaku sesaat, kemudian dia menggeleng dan melepaskan tubuhnya dari pelukan mamanya.


 


“Nico ga apa, Ma, mimpi buruk aja. Sudah ga apa-apa sekarang.” Katanya.


Setelah mama, giliran papa yang menyerbu masuk ke kamar Nico. Dia langsung menubruk tubuh Nico dan istrinya yang sedang berpelukan dan duduk dilantai.


“Co? Kamu ga apa, Co? Bunyi apa itu barusan? Apa ada gempa? Atau ada ledakan dimana?” Katanya panik sambil celingukan ke sudut-sudut kamar Nico.


Plak! Mama akhirnya menggeplak bahu papa untuk menyadarkannya. Sontak papa sadar dan langsung melotot menatap mama.


“Kenapa aku dipukul?” Katanya sewot.

__ADS_1


“Makanya Papa kalau nanya itu yang benar! Mana ada ledakan dan gempa bumi disini? Nico ini loh yang jatuh dari kasurnya, bukan gempa bumi! Kalau menebak-nebak wong kira-kira, kenapa ga sekalian tanya apa ada meteor mendarat disini?” Papar mama dengan gemas sambil mencubit papa. Papa mengaduh.


“Papa cuma kepikir gempa bumi dan ledakan, Ma. Tapi kalau ga ada, ya syukurlah.” Ujar papa cuek sambil melepaskan tubuh Nico dan mama. Dengan santai dia berjalan keluar kamar.


“Papa tidur dulu ya.” Pamitnya.


Mama menggeram kesal. “Tuh, papa kamu tuh Co, ga pedulian banget!” Sengitnya.


Nico tersenyum lemah. Dia masih lemas karena terbangun mendadak.


“Sudahlah Ma, ga apa. Mama tidur lagi juga ya, maaf Nico bikin keributan pagi-pagi.”


Mama memperhatikan Nico lagi. Setelah yakin Nico tidak terluka dan sudah naik ke ranjangnya lagi, akhirnya mama kembali kekamarnya sendiri bersama Papa.


“Sembayang dulu sebelum tidur, Co.” Ujar mama sambil menutup pintu kamar Nico. Nico mengangguk tanpa suara, namun ia langsung melipat tangannya dengan sikap doa.


Semoga mimpi awalku terjadi, ya Tuhan, tapi jangan yang mimpi akhir…


-----


Sore harinya.


“Papa pulang!” Suara papa menggema, seperti biasanya pada saat beliau tiba di rumah sepulangnya bekerja. Yang membuat Nico mengernyitkan dahi, tumben Papa pulang jam enam sore, biasanya mendekati jam sembilan malam.


“Papa, kok tumben?” Nico mendengar suara mama. Ternyata yang keheranan bukan hanya Nico sendiri.


“Papa ada panggilan meeting di SCBD, dan ternyata selesai jam lima tadi. Daripada balik ke kantor lagi, lebih baik pulang kan?” Ujar papa.


Setelah itu Nico hanya mendengar suara papa dan mama secara samar, tidak menyimak dengan jelas apa yang mereka bicarakan.


“Co, ayo makan.” Panggil mama tiba-tiba. “Ada yang mau Papa dan Mama tanyakan ke kamu.” Lanjut mama.


Nico menghampiri papa dan mamanya di meja makan. Matanya bertanya-tanya, apakah mereka mau menanyakan perkembangan kuliahnya?


Uhuk! Nico sontak terbatuk karena terkejut. Ada angin apa tiba-tiba Papa menanyakan Celine? Apakah hubunganku dengan Celine sudah terendus Papa?


“Masih, kenapa Pa?” Nico berusaha tenang.


“Kamu tahu PT. Anugerah Sukses? Itu salah satu anak perusahaan Hermawan Jaya Grup.” Ujar papa.


“O… Ok.” Sahut Nico, dia tidak bisa menjawab lebih dari itu karena merasa tidak mengenal perusahaan itu.


“Perusahan itu pusatnya di Surabaya. Papa tadi dapat panggilan interview dari perusahaan itu.”


Deg! Surabaya? Interview? Nico mendelik.


“Kita akan pindah lagi?” Tanya Nico curiga.


“Justru itu yang ingin Papa tanyakan ke kamu. Apakah kamu dan Celine pernah membahas mengenai Papa? Perusahaan ini anak perusahaan dari Hermawan Jaya Grup, itu grup milik keluarga Celine kan? Penawaran tunjangan dan salary-nya bagus sekali, terus terang Papa akan mempertimbangkannya. Apakah ini memang permintaan dari Celine, Co?” Tanya papa.


“Kami ga pernah membahas Papa,” ujar Nico bingung. “Kalaupun Celine perlu bantuan Papa, kenapa Celine ga pernah bicara apapun ke Nico?” Ujarnya lagi.


Nico dan papa sama-sama terpekur.


“Apa mungkin kredibilitas Papa sangat bagus sehingga perusahaan kompetitor mau membajak Papa?” Ujar mama memaparkan sebuah kemungkinan.


“Mungkin juga.” Ujar Nico. “Mungkin nama Papa sudah terdengar di perusahaan itu…”


Tiba-tiba Nico terdiam tanpa menyelesaikan kalimatnya. Ia terpikir sebuah kemungkinan.


“Surabaya? Apa ownernya Pak Markus Hendrawan?” Tanya Nico menebak. Papa menganggukkan kepalanya.


“Betul sekali, kamu tahu perusahaan itu? Perusahaan itu bergerak di bidang expor impor, tadi yang meng-interview Papa adalah Pak Markus sendiri. Kebetulan beliau ada di Jakarta…”


Nico menepuk jidatnya sendiri. Shirley!

__ADS_1


“Papa mau menerima tawarannya?” Tanya Nico. Papa memandang Nico dengan tatapan ragu.


“Kalau Papa menerimanya, kemungkinan besar kita harus pindah ke Surabaya lagi. Penawarannya cukup bagus, tapi…” Ujarnya. Nico menunggu papa melanjutkan kata-katanya.


“Apakah ini atas permintaan Celine, Co? Terus terang Papa curiga. Papa merasa ada yang ditutupi oleh Pak Markus, kelihatannya dia sangat bernafsu Papa masuk ke teamnya. Apa kau bisa menanyakannya pada Celine, Co?” Tanya papa lagi.


Nico mengangguk. “Ok Pa, aku akan tanyakan pada Celine.”


Setelah itu acara makan malam berlanjut. Papa dan mama dapat menikmati makan malamnya, berbeda dengan Nico yang terpikir beberapa kemungkinan di kepalanya.


Apa ini rencana Shirley supaya aku pindah lagi ke Surabaya?


-----


[Sore, Tan. Sudah dirumah?] Nico mencoba mengirimkan pesan kepada Celine.


[Sore, Nic. Tante masih di kantor. Ada apa Nic?] Stella langsung membalas pesannya.


[Tan, perusahaan Anugerah Sukses di Surabaya, apakah Tante yang mengendalikan?] Tanya Nico.


[Bukan Nic, itu milik P. Markus, adik Papa. Ada apa Nic?] Tanya Celine lagi. Ia agak bingung mengapa Nico tiba-tiba menanyakan anak perusahaan Hendrawan Jaya Grup.


Nico tidak langsung menjawab pertanyaan Celine. Ia khawatir bila ia hanya mengirimkan pesan, Celine akan salah menangkap maksud pembicaraan Nico. Karena itu  akhirnya Nico meminta ijin untuk menelepon Celine.


Nico menjelaskan semuanya, tentang papanya yang mendadak dipanggiil interview dan diberikan penawaran yang fantastis.


“Kami memang sedang ada kerjasama baru, mugkin Pak Markus perlu orang seperti papa kamu untuk membantu pekerjaannya. Tapi terus terang Tante tidak penah merekomendasikan Papa kamu, karena pada dasarnya Tante juga tidak terlalu mengenali karakter, background dan pengalaman papa kamu kan?” Ujar Celine.


Betul juga, pikir Nico.


“Kecuali…” Celine menambahkan, namun tidak menyelesaikan kalimatnya. Tapi Nico memahami apa yang akan Celine katakan.


“Apa yang Tante pikirkan sama dengan yang Nic pikirkan?” Tanyanya.


“Hm, hm… Shirley?” Jawab Celine. Nico mengangguk.


“Tante, ini bukan sinetron ikan terbang kan?” Tanya Nico, membuat Celine tertawa. Nico langsung teringat mimpinya, dimana pengantinnya berubah dari Celine menjadi Shirley. Nico tergidik.


“Hayo loh Nic, kamu harus mau sama Shirley tuh… Calon mertua sudah bertindak, hahaha…” Goda Celine.


Seandainya Celine saat itu melihat wajah Nico, pasti dia tidak akan menggodanya. Wajah Nico sudah pias, dia benar-benar terbayang mimpinya semalam. Apakah akan menjadi kenyataan?


“Nic? Nic?” Celine memanggila Nico beberapa kali. Ia agak curiga mengapa Nico bungkam. Setelah Nico tidak menjawab, akhirnya telepon itu berubah menjadi panggilan video. Nico segera mengangkatnya.


“Nic, kamu pucat sekali! Ada apa?” Tanya Celine setelah melihat betapa piasnya wajah Nico. Dengan tergagap-gagap Nico menceritakan tentang mimpinya. Celine terdiam beberapa saat.


“Nic, maaf ya, Tante ga tahu kamu sekhawatir itu. Jangan takut ya Nic, Tante ga akan ijinkan Shirley atau Stella menyakiti kamu dan keluarga kamu. Tolong bilang ke papa kamu, Tante ga ada andil dibalik penawaran PT. Anugerah Sukses untuk papa kamu. Mungkin ada baiknya kamu cerita mengenai Shirley ke papa mama kamu, jadi mereka bisa mengerti kondisinya.” Papar Celine.


“Iya, Tan, besok pagi aku bilang ke Papa dan Mama.” Ujar Nico pelan. Celine memperhatikan wajah Nico, kemudian dia tersenyum.


“Masih lemas aja. Kekurangan vitamin ya?” Ujarnya. Nico melirik, menatap Celine.


“Vitamin apa?” Tanyanya.


“Vitamin C dan D. Vitamin Cinta dan Vitamin Dada.” Gelak Celine, mau tak mau membuat Nico tersenyum.


“Tante, kangen. Ga asik banget weekend begini di rumah Papa.” Nico mulai merengek.


“Ah, kamu. Kalau Tante ga ingetin soal Vitamin C dan Vitamin D juga kamu ga kangen.” Goda Celine lagi. Nico mengerucutkan bibirnya, wajahnya menjadi benar-benar imut seperti bocah. Celine jadi gemas melihatnya.


“Besok kan hari minggu, setelah selesai bicara sama Papa, aku kesana ya Tan? Aku nginap sehari, senin pagi aku balik lagi ke kampus.” Ujar Nico. “Aku mau minta Vitamin B juga selain C dan D.” Tambahnya.


“Vitamin B? Apa itu?” Tanya Celine keheranan.


“Vitamin Bibiiirrr….” Tawa Nico, puas berhasil mengerjai Celine. Celine menepok jidatnya.

__ADS_1


__ADS_2