
Beberapa bulan setelah pernikahan Andy dan Stella.
Nico sudah kuliah di tingkat tiga fakultas bisnisnya. Dari kampus, menugaskan setiap mahasiswa semester lima harus mulai program magang di sebuah perusahaan, lalu menyusun laporan magang tersebut sebagai tugas pengganti ujian akhir. Selain itu, pada semester enam dan tujuh, mahasiswa diwajibkan membuat sebuah usaha baru atau starter up, dan melaporkan perkembangan dan kendalanya sebagai skripsi di semester delapan.
Seperti perintah Pak Hendrawan waktu itu, Nico diaturkan untuk magang di perusahaan milik Pak Hendrawan. Dia akan mulai magang di semester lima, kemudian di semester enam dan tujuh membuat sebuah perusahaan starter up yang mendukung perkembangan perusahaan Pak Hendrawan. Hal ini sejalan dengan permintaan dari kampus maupun permintaan Pak Hendrawan.
Nico ditempatkan di Divisi PA Marcomm, sebuah divisi yang dipimpin oleh Ardy. Untuk mempercepat proses belajarnya, Nico ditugaskan secara langsung membantu Ardy dalam mendampingi Celine. Nico yang merasa akan terus berdekatan, justru merasa senang diwajibkan membantu Celine.
Di jadwal magangnya, Nico berusaha keras mengikuti ritme jam kerja perkantoran sambil menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Ia juga mulai memikirkan usaha apa yang akan dibangunnya untuk tugas di semester enam dan tujuhnya nanti. Ardy yang juga atasannya di kantor, juga membantu memberikan ide-ide dan masukan untuk mendukung usaha starter up itu.
Nico tidak mendapat halangan berarti dalam pekerjaannya. Kecuali dengan Pak Robert, kekeluargaan di kantor itu membuatnya nyaman. Statusnya sebagai kekasih Celine juga sudah tersebar, namun Celine dan Nico tidak pernah berbuat tidak pantas dikantor. Mereka menjaga profesionalitas mereka sekaligus menjaga nama baik Pak Hendrawan.
"Capek, Nic?" Sapa Celine suatu sore, saat jam kantor sudah berakhir. Celine menghampiri Nico di ruangan PA yang ditempati Nico bersama Ardy. Ruangan itu sudah hampir kosong, sebagian besar karyawan sudah meninggalkan kantor, namun masih ada beberapa yang masih berada dikantor. Nico menoleh lalu tersenyum pada Celine yang sudah duduk didepan mejanya.
"Lumayan," jawab Nico, "Om Andy minta reportnya mendetil sekali, tentang promosi dan target penjualan teh melati." Sambung Nico. Lalu ia merenggangkan tubuhnya, menaikkan kedua tangannya keatas kepala.
"Nic, Papa tanya soal kita." Ujar Celine pelan.
"Apa, kapan nikah? Besok yuk, mau?" Ujar Nico sambil tersenyum dan menggoda Celine. Celine tertawa.
"Ih, kamu itu. Memangnya sudah siap kalau nikah besok? Memangnya sudah siap kasih makan aku?" Tanya Celine.
"Oh, itu gampang. Asal kamu masih makan nasi saja, bukannya makan emas." Jawab Nico sambil tertawa.
"Uang dari mana? Magang kan ga digaji?" Jawab Celine lagi. Nico tersenyum menggoda. "Starter up-ku sudah jalan dong, ga menunggu semester enam lagi.
"Oh ya? Kamu bikin starter up apa?" Tanya Celine penasaran.
"Aku akan ceritakan saat kita makan malam sabtu ini." Senyum Nico, sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Kamu sudah mau pulang, Sayang?" Tanya Nico sambil mengetik di komputernya.
"Pacarku belum pulang, aku menunggu pacarku." Kata Celine sambil memasang wajah imut.
Nico tersenyum lagi. Gemasnya...
"Sebentar lagi ya. Kamu ga mau aku dimarahi bosku gara-gara pekerjaanku ga selesai, kan?"
"Oh, bosmu galak ya?" Celine tertawa. "Kenapa dia, lagi datang bulan?"
"Sepertinya kasih tak sampai." Tebak Nico sambil tertawa.
"Masih Shirley juga? Hebat juga Ardy, maju terus pantang mundur." Puji Celine.
"Iya, tapi aku yg kena getahnya kalau dia lagi badmood gara-gara ditolak Shirley." Gerutu Nico.
Celine terbahak."Kalau gitu kenalkan dukunmu ke Ardy dong, Nic! Shirley sampai cinta mati begitu sama kamu, artinya dukun kamu hebat!" Goda Celine lagi.
"Bukan dukun aku yg hebat! Papa dan Mama yang pinter, adonannya pas, jadinya bisa seganteng aku kan? Makanya tiga cewek bersaudara berbarengan naksir semua ke aku." Nico menusuk-nusuk pipinya sendiri, memuji dirinya sendiri.
"Grr.. Awas ya kamu nanti malam!" Geram Celine gemas.
"Apa? Apa? Mau apa?" Tanya Nico sambil menaikkan dagunya sombong ke arah Celine.
"Hei, kerja!" Suara tegas dan keras tiba-tiba menggema di ruangan itu. "Pacaran saja! Kalau mau pacaran, di rumah saja! Buang-buang listrik kantor saja!" Suara itu kembali menggema, menggerutu.
"Ar! Aku SP kamu! Berani-beraninya marahin bos!" Omel Celine. Segera setelah mengomel, Celine meninggalkan ruangan PA. Ardy dan Nico tersenyum lebar.
"Gimana, persiapan sudah beres?" Tanya Nico berbisik pada Ardy.
__ADS_1
“Aku perlu satu masukan. Bunga mawar merah atau mawar putih?” Bisik Ardy pada Nico.
“Buatku mawar putih. Kata orang, mawar merah menggambarkan nafsu. Tapi lebih baik, kau tanyakan ke gadisnya apa yang dia suka.” Jawab Nico lagi, masih sambil berbisik.
"Baiklah, beres kalau begitu. Bakal meleot pasti." Senyum Ardy.
Kepala Celine tiba-tiba muncul di pintu ruang PA.
“Nic, pulang! Jangan buang-buang biaya listrik kantor!” Tegurnya ketus, lalu langsung meninggalkan ruangan PA. Nico dan Ardy tertawa melihatnya.
“Pacarmu ngambek. Tolong diservis yang benar sampai dia puas, supaya mood-nya membaik.” Gurau Ardy. Nico tertawa, lalu memberikan jempolnya. Ia lalu buru-buru membereskan mejanya dan mengejar Celine yang sudah lebih dulu keluar dari gedung.
Ardy dan Nico menepukkan kedua tangan mereka pelan. Tos! Sebuah rencana misterius sedang berjalan.
Selama bekerja di kantor Celine, Nico menyewa sebuah unit apartemen yang masih berada di satu tower dengan apartemen Celine. Tujuannya selain agar mudah menjaga dan berkomunikasi dengan Celine, tentu saja Nico ingin lebih dekat dengan Celine. Bahkan bila dihitung-hitung, Nico lebih sering berada di unit apartemen Celine daripada di apartemennya sendiri.
Seperti malam ini, sepulang kantor Nico dan Celine makan malam di apartemen Celine. Rencananya malam ini Nico akan menginap.
"Sayang, tadi kamu bilang, Papa menanyakan soal kita?" Tanya Nico disela-sela makannya.
Celine meletakkan sendok dan garpunya. "Iya. Papa tanya tentang perkembangan pekerjaan kamu, juga perkembangan hubungan kita. Kira-kira, kapan kamu ada waktu ketemu dengan Papa?"
Sekarang Nico ikut meletakkan sendok dan garpunya. "Kalau kamu mau, weekend ini bisa. Kita kerumah Papa?"
"Boleh, coba nanti aku sampaikan ke Papa ya." Celine menganggukkan kepalanya. "Kira-kira Papa mau bicara apa ya, Nic?"
"Apapun yang mau Papa sampaikan, aku siap.
Keesokan harinya.
[Co, kapan ada waktu? Gue mau ketemu.]
[Ada apa Sher? Gue lagi ga ada waktu, tiap hari kerja dan magang.] Balas Nico. Rupanya pesan dari Shirley.
[Sebentar aja. Hari ini bisa?]
Nico mengeluh lagi.
[Kalau begitu lo kekantor Pak Hendrawan aja. Gue tunggu jam enam sore.] Putus Nico.
[Ok, sip.] Sahut Shirley lagi.
Sore hari setelah jam pulang kantor, Nico membereskan mejanya dan bersiap menemui Shirley.
"Sayang..." Sapa Nico ketika memasuki ruangan Celine.
Celine yang masih bekerja didepan komputernya tersenyum melihat Nico menghampirinya. Nico mengecup bibir Celine sekilas sebelum duduk didepan meja Celine.
"Sayang, aku mau ketemu Shirley dulu sore ini ya. Kau mau pulang duluan atau mau tunggu aku?" Ujar Nico, membuat Celine menoleh.
"Tumben?" Jawab Celine penasaran.
Nico menunjukkan chatnya dengan Shirley. Celine tersenyum dan mengangguk.
"Aku tunggu saja disini, masih lembur sedikit. Nanti kita pulang sama-sama ya?" Ujar Celine lagi. Ia mulai memusatkan perhatiannya kepada komputernya lagi.
__ADS_1
Nico menganggukkan kepalanya. "Ok, aku ga akan lama. Lemburnya juga jangan lama-lama ya, Hun."
"Hun?" Celine menoleh lagi.
"Hunny, my honey." Nico berjalan cepat menghampiri Celine, ******* cepat bibirnya, lalu bergegas menghanpiri pintu keluar ruangan Celine sambil tersenyum jahil.
Celine termenung lagi di mejanya, ia tidak bisa berkonsentrasi lagi karena sikap romantis yang ditunjukkan Nico. Nico tergelak, lalu menutup pintu.
Nico bertemu Shirley di coffee shop di lobby gedung kantor Hendrawan Jaya Grup. Shirley sudah duduk menunggu dengan segelas frappuccino dihadapannya.
"Ada apa, Sher?" Tanya Nico setelah ia duduk dihadapan Shirley.
"Co, kamu bahagia?" Tanya Shirley.
Pertanyaan Shirley membuat Nico memicingkan matanya. "Kenapa kamu tanya begitu?"
"Aku pingin tahu aja. Di kehidupan kamu sekarang, kamu sudah bahagia?" Tanya Shirley lagi.
"Ga ada alasan aku ga bahagia. Pendidikanku cukup, orang tuaku lengkap, keluargaku bahagia, aku punya pekerjaan, aku punya calon istri dan aku cinta dan setiap hari aku bersamanya." Balas Nico cepat. Dia tahu kemana arah pembicaraan Shirley, tidak jauh-jauh dari pertanyaan Stella kemarin. Kenapa semua orang bertanya aku bahagia atau tidak?
Rasa sakit itu terlihat di mata Shirley.
"Mulai besok, aku juga akan mulai kerja dikantor ini. Aku perlu belajar binis skala nasional dulu sebelum aku membantu Papa ke skup internasional." Ujar Shirley.
Nico menggelengkan kepalanya.
"Itu terserah kamu, ga perlu kamu laporan ke aku. Aku bukan HRD." Jawab Nico cuek.
"Aku masih mau memperjuangkan kita, Co! Aku akan buat kamu sadar bahwa kamu ga akan bahagia dengan Celine!" Ujar Shirley gusar, ia menekan emosinya agar suaranya tidak terlalu kencang.
"Ga pernah ada sesuatu diantara kita yang perlu diperjuangkan!" Ujar Nico pedas. "Dari dulu kita cuma teman, bahkan sampai nantipun tidak akan ada sesuatu yang lebih dari itu. Urusan dengan Celine adalah urusanku, kamu ga perlu ikut peduli aku bahagia atau tidak. Jadi cukup, aku ulangi lagi tidak perlu lagi kamu ikut campur urusanku!" Emosi Nico naik lagi mendengar penilaian sepihak dari Shirley atas hubungan Nico dengan Celine.
"Aku mau memperjuangkanmu, Co!" Shirley masih ngotot.
"Aku tidak mau diperjuangkan!" Bantah Nico keras, ia langsung berdiri dari duduknya. "Untuk seterusnya, tidak usah menyapaku kalau kita bertemu! Anggap aku bukan seseorang yang kamu kenal! Aku ga mau selalu kamu ganggu dengan asumsimu sendiri bahwa aku cuma akan bahagia kalau bersama kamu!"
Nico bergegas meninggalkan coffee shop, meninggalkan Shirley yang masih menatapnya dengan nata membara.
Aku ga akan melepaskanmu, Co...
-----
Nico masuk ke kantor Celine dengan wajah gusar. Celine yang sedang membereskan mejanya menoleh terkejut, ketika mendengar Nico membuka pintunya dengan kasar.
"Nic? Ada apa?" Tanya Celine perlahan.
Nico tidak menjawab. Ia terus berjalan menghampiri Celine, lalu dengan kasar menarik pinggang Celine yang sedang berdiri di samping mejanya. Celine memekik terkejut, Nico langsung membenamkan wajahnya ke ceruk leher Celine.
Celine mengelus perlahan rambut Nico.
"Kenapa semua orang sok tahu kalau aku ga bahagia? Seakan-akan mereka lebih tahu soal kebahagiaanku dibanding aku sendiri." Ujar Nico kesal. "Mulai besok, Shirley akan mulai kerja disini. Bertambah lagi satu pengganggu kita!"
Celine terdiam sebentar, tapi kemudian dia memekik. Nico menggigit lehernya.
"Nic! Main gigit aja!"
"Aku gemas! Ayo kita pulang! Aku mau makan enak malam ini!" Ujar Nico sambil menarik tangan Celine untuk keluar ruangannya.
__ADS_1
"Makan enak? Makan apa, dimana?" Tanya Celine sambil berlari kecil karena diseret oleh Nico.
"Makan kamu! Dikasur!" Bisik Nico sambil memeluk pinggang Celine di lift. Celine melongo, habislah aku...