
Keesokan harinya.
Sejak peristiwa ‘pertempuran’ Celine dan Shirley, Ardy dan Nico merealisasikan rencananya. Dimana ada Celine, ada Nico dan dimana ada Shirley, ada Ardy didekatnya. Mereka benar-benar berusaha agar Celine tidak hanya berduaan dengan Shirley, mencegah terjadinya perang susulan diantara mereka.
Bersyukur kabar tersebut tidak sampai ke telinga Pak Markus, tidak dapat dibayangkan bagaimana marahnya beliau pada Celine bila tahu putrinya ditampar Celine. Namun berita ini tidak dapat disembunyikan dari Pak Hendrawan.
Pak Hendrawan memanggil Celine ke ruangannya dan menasehatinya panjang lebar. Pak Hendrawan ingin Celine dapat meredam emosinya, tidak gegabah menampar orang lain didepan umum. Apalagi Shirley adalah sepupunya sendiri, masih terhitung keluarga dekat dengan Celine.
Celine hanya terdiam mendengarkan wejangan ayahnya. Nico yang mengekor Celine ketika Pak Hendrawan memanggilnya, malah sibuk membela Celine. Dengan sopan namun tegas, ia menyanggah kata-kata Pak Hendrawan dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Awalnya Pak Hendrawan mendengarkannya, namun lama-lama beliau tidak tahan dengan celetukan Nico.
“Nico, Papa minta kamu keluar dari ruangan.” Ujarnya pelan.
“Papa?” Tanya Nico bingung.
Pak Hendrawan menganggukkan kepalanya. “Keluarlah. Sebelum Papa minta Ardy yang mengeluarkan kamu.” Lanjut Pak Hendrawan sambil tersenyum. Tatapannya lembut, namun kata-katanya penuh ancaman.
Nico menoleh pada Celine. Celine menepuk lembut punggung tangan Nico sambil menganggukkan kepalanya. Dengan berat hati, Nico meninggalkan ruangan Pak Hendrawan.
“Ck!” Pak Hendrawan menarik nafas jengkel ketika Nico sudah menutup pintu ruangannya. Celine mengangkat kepalanya, menatap ayahnya.
“Calon suamimu itu menyebalkan! Dia terlalu membela kamu. Masak Papa mau bicara sama kamu saja mesti dia dampingi? Pakai membela-bela kamu, lagi. Dia pikir Papa ga kenal Shirley seperti apa? Dia pikir Papa mau apain kamu?” Gerutunya.
Celine tetap terdiam menatap ayahnya. Bahkan ketika Pak Hendrawan bertemu mata Celine, Celine tetap memandang mata ayahnya. Pak Hendrawan tersenyum.
“Lebih baik cepat kau kawini saja dia, supaya Papa tenang. Ga akan ada rebut-rebutan lagi seperti ini.” Omelnya lagi, namun kemudian bibirnya tersenyum. Celine tersenyum dan menghampiri ayahnya, lalu memeluknya.
“Terima kasih, Papa.”
------
Klik! Celine keluar dari ruangan Pak Hendrawan. Diluar dugaan, Nico sudah berdiri didepan ruangan Pak Hendrawan.
Nico yang tadinya menyandarkan tubuhnya di dinding seberang pintu ruangan Pak Hendrawan, sontak menegakkan dirinya ketika melihat Celine keluar dari ruangan.
“Kamu ga apa? Papa ga marah banget, kan? Papa ngomong apa aja?” Cecarnya sambil memegang lembut pergelangan tangan Celine, matanya menatap iba dan khawatir kepada Celine. Celine tersenyum melihat kekhawatiran Nico. Ia membelai dagu Nico perlahan. Lelaki baik, lelakiku…
__ADS_1
“Papa ga marah kok. Papa cuma mau aku lebih bisa menahan emosi. Aku akan belajar lebih sabar. Dampingi aku ya, Nic, ingatkan aku kalau aku sudah lepas kendali. ” Ucapnya pelan. Mereka mulai berjalan berjajar sambil bergandengan tangan, berjalan perlahan menuju ruangan PA.
Nico menganggukkan kepalanya antusias. “Pasti, pasti aku akan damping kamu. Aku akan lindungi kamu. Kapanpun dimanapun, aku akan damping kamu.”
Celine tersenyum, dia meremas jari Nico.
-----
Didalam ruangan PA, Shirley duduk dikursinya dengan wajah mendung. Hatinya sedih namun jengkel. Dia merasa dikejai oleh Ardy hari ini, yang membanjirinya dengan pekerjaan.
Pagi ini saat Celine dipanggil menghadap ke ruangan Pak Hendrawan, Shirley juga menghadap Ardy. Ia berinisiatif meminta maaf pada Ardy. Dihatinya terselip sedikit kekhawatiran bila Ardy melaporkannya pada Pak Markus. Shirley tidak dapat memperkirakan reaksi Pak Markus nantinya, karena papanya itu walaupun mendukungnya dan selalu mengabulkan permintaannya, namun juga sering menasehatinya dengan panjang lebar dan menyakitkan hati.
Ia juga khawatir, Pak Markus akan langsung menariknya ke Surabaya, hingga akhirnya ia tidak dapat bertemu Nico lagi.
** Flashback on
“Pak, saya minta maaf.” Ujar Shirley tiba-tiba saat Ardy baru saja tiba dikantor pagi itu dan baru saja mendudukkan dirinya di kursi kerjanya. Ardy menoleh menatap Shirley.
“Minta maaf untuk?” Tanyanya.
“Kamu itu,” ujar Ardy sambil menunjuk, menyentuh lembut dahi Shirley dengan jari telunjuknya, “Harusnya kamu itu menyesal karena sudah kurang ajar ke Wakil Direktur kamu, bukannya karena membentak-bentak saya.”
“Dia memang pantas dibentak-bentak!” Ujar Shirley keras kepala.
“Ck, keras kepala!” Ardy kembali menunjuk dahi Shirley. “Kamu benar-benar perlu diajar sopan santun! Dikantor ini, Ibu Celine Hendrawan bukan sepupu kamu, tapi dia bos kamu! Kalau kamu itu keponakan Pak Hendrawan dan posisi kamu VIP, kedudukan dia VVIP! Dia lebih penting dari kamu. Jadi, sopanlah padanya. Dia juga lebih dewasa dari kamu, pengalamannya juga lebih banyak!”
Shirley memutar matanya malas.
“Hei!” Seru Ardy, melihat Shirley seperti meremehkan perintahnya. “Kamu mendengarkan saya nggak? Begini saja. Setiap kali kamu kurang ajar pada Bu Celine atau bentrok dengannya, kamu akan aku hukum! Satu kesalahan, satu kali dating di satu hari weekend.”
Shirley mendelikkan matanya. Apa lagi ini, main hukum-hukum, seperti anak sekolahan saja, gerutunya dalam hati. Dating pula, dasar pencari kesempatan dalam kesempitan, umpatnya.
Akhirnya dihari itu, jadilah Shirley tetap mendongkol. Disamping karena Ardy yang mendukung Celine, Ardy juga melimpahkan pekerjaan yang cukup banyak untuk Shirley.
** flashback off
Menjelang jam makan siang.
__ADS_1
Klik! Shirley melirik ke arah pintu, melihat Celine dan Nico yang memasuki area PA sambil bergandengan. Dia mendengus sebal dan membuang pandangannya.
Celine juga melihat ke arah Shirley, dia juga balas mendengus dan langsung membuang pandangannya. Lalu berjalan cepat menuju ruangannya sendiri sambil tetap menggandeng Nico. Celine merasa kesal melihat keberanian Shirley membuang muka kepadanya, namun mengingat nasihat ayahnya, akhirnya Celine menahan emosinya.
Ardy memandang Celine dan Shirley bergantian. Ia menahan tawa melihat kedua wanita itu saling mendengus tidak suka satu dengan yang lain.
Nico memandang bingung ke tangannya yang masih digandeng Celine, namun ia tidak mengatakan apa-apa. Malah genggaman tangan Celine dirasanya semakin erat. Akhirnya, Celine dan Nico masuk ke ruangan Celine.
“Hahaha…” Akhirnya Ardy tidak tahan, ia tertawa. Shirley melirik sebal ke arahnya.
“Makan siang yuk. Hari ini saya ijinkan kamu makan siang lebih awal dari biasanya.” Senyum Ardy ke Shirley.
Shirley menghembuskan napas berat. Ia mau beranjak dari mejanya, namun berpikir lagi hendak makan siang dimana. Ia baru bekerja beberapa hari di perusahaan ini, jadi ia belum punya teman. Yang mengenalnya sebatas keluarganya dan Ardy saja.
“Ngg… Pak, kalau makan siang, biasanya kemana ya?” Tanyanya ragu.
“Bisa ke kantin, bisa beli di luar lalu makan di pantry, atau pergi saja ke restoran luar.” Jawab Ardy. “Kenapa?” Tanya Ardy lagi, melihat wajah Shirley yang tampak ragu-ragu.
“Ngg… Restoran luar ada dimana ya, Pak?” Tanyanya lagi.
Ardy tersenyum.
“Sudah, kamu makan siang saja dengan saya. Ayo!” Ujarnya sambil berdiri dan menyambar kunci mobilnya. Shirley tetap duduk terpaku di kursi kerjanya.
“Loh, kok masih duduk? Ayo!” Ajak Ardy lagi. Shirley tetap membatu.
Akhirnya Ardy berjalan menuju Shirley dan menyambar tangannya, lalu menyeretnya keluar ruangan. Shirley memberontak, berusaha melepaskan tangannya yang digenggam Ardy. Namun karena genggaman Ardy yang cukup kuat akhirnya ia pasrah dan membiarkan dirinya dibimbing sampai ke mobil Ardy.
Sepanjang jalan menuju mobil Ardy, mereka berpapasan dengan beberapa karyawan lain. Para karyawan itu memperhatikan genggaman tangan Ardy dan Shirley, kemudian mereka berbisik-bisik membicarakannya. Namun setelah Shirley membalas tatapan mata mereka dengan galak, mereka terdiam dan bergegas pergi. Ardy sendiri bersikap acuh dengan peristiwa itu.
Akhirnya mereka mengarah ke sebuah restoran yang berada di pinggir Jakarta. Sebuah restoran yang unik karena terdapat angkringan didalamnya. Ardy dan Shirley melepas sepatu mereka, lalu duduk di area belakang restoran yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai outdoor dengan danau sungai kecil ditengahnya. Mereka duduk beralaskan tikar dan menggunakan meja pendek untuk makan.
“Makannya kenapa jauh sekali, Pak? Apa ga dicari bos kalau kita terlambat kembali kekantor?” Tanya Shirley.
“Kamu tenang saja. Setelah ini kita ada meeting di area Tangerang.” Jawab Ardy santai.
Shirley menganggukkan kepalanya. Lalu Ardy memesan beberapa menu makanan dan minuman untuk makan siang mereka. Mereka makan siang dengan suasana kaku karena Shirley tetap menjaga jarak dengan Ardy. Ardy sendiri merasa santai, ia tidak terburu-buru meningkatkan status hubungannya dengan Shirley. Laki-laki ini percaya diri, perlahan-lahan Shirley akan jatuh dalam pesonanya.
__ADS_1
Sementara di kantor, Celine dan Nico memilih memesan makanan cepat saji menggunakan driver online. Mereka makan siang di ruangan Celine. Nico dengan tanpa ragu beberapa kali menyuapkan makanan ke mulut Celine dan Celine juga tanpa ragu membalasnya. Setelah itu dengan beberapa kecupan kecil, mereka beristirahat dengan tiduran sambil duduk di sofa kantor. Nico melingkarkan lengannya di bahu Celine dan Celine tertidur di bahu Nico sampai jam istirahat siang berakhir.