
Keesokan paginya.
Celine sudah mempersiapkan diri menghadapi meeting dengan Andy hari ini. Ia akan tampil seprofesional mungkin. Kalau mengenai hati, Celine masih enggan membahas kelanjutan hubungan mereka.
Tok.. Tok… Wajah Ardy muncul setelah beberapa ketukan di pintu ruangan Celine.
“Pagi, Cel. Ayo, ke ruang meeting. Andy sudah datang.”
Celine menganggukkan kepalanya. Ia mengancingkan blazernya dan mengikuti Ardy ke ruang meeting.
“Hai, Cel.” Sapa Andy ketika Celine dan Ardy memasuki ruangan meeting.
“Halo, Dy.” Balas Celine, lalu duduk di kursinya. Andy menatap Celine lekat, ada kerinduan dimatanya. Celine pagi ini tampil begitu cantik dengan dandanan naturalnya. Rambutnya yang berombak berwarna dark brown, blus putih dengan blazer dan celana panjang biru muda serta heels putih yang membuatnya tampil sangat profesional. Harum parfumnya juga masih sama, harum black musk yang dulu sering dinikmati Andy di ceruk leher Celine.
“Mari kita mulai meeting-nya.” Suara tegas Ardy membuyarkan lamunan Andy mengenai masa lalunya dengan Celine. Andy melirik Ardi, dia melihat tatapan tajam dan rasa tidak suka di mata Ardy. Ia tahu sesuatu, batin Andy. Apa ada sesuatu antara Celine dan Ardy?
Meeting dimulai. Ardy mempresentasikan pokok bahasan meeting mereka hari ini. Selama meeting, Andy sering mencuri-curi pandang ke Celine. Beberapa kali Ardy sengaja mengeraskan suaranya atau sekedar membanting pointers seakan-akan tidak sengaja untuk mengalihkan pandangan Andy dari Celine. Andy menatap gusar, Celine hanya tersenyum kecil namun tertawa dalam hati melihat perilaku Ardy. Cerdas kau, Ardy, pintar mencium situasi. Dasar bodyguard, batin Celine sambil tersenyum.
Sesi tanya jawab digunakan semaksimal mungkin oleh Andy. Dia sengaja banyak bertanya karena yang menjawab pertanyaan mayoritas adalah Celine. Andy sepuas-puasnya menatap Celine.
“Cel, bisa kita bicara setelah ini? Private, berdua saja.” Ujar Andy setelah meeting selesai. Andy berbicara sambil melirik Ardy.
__ADS_1
“Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, kan? Ini kantor, jam kerja juga. Nanti saja.” Jawab Celine tegas.
“Jam makan siang saja, itu diluar jam kantor kan? Sebentar saja, hanya satu jam.”
Celine melirik Ardy, meminta persetujuannya. Ardy tersenyum tipis, menaikkan matanya. Komunikasi ini tidak luput dari mata Andy. Ia semakin tidak suka pada Ardy.
“Ok, satu jam saja. Di restoran gedung sebelah, no private room.” Ucap Celine sambil menatap Ardy. Ardy mengangguk, mengerti perintah Celine.
Andy mengeluh dalam hati. Cuma di gedung sebelah, tidak di private room, hanya satu jam. Benar-benar tidak ada waktu berduaan. Celine benar-benar menghindari waktu berduaan dengan dirinya dan waktu pertemuannya sangat terbatas. Namun daripada tidak dapat waktu sama sekali, lebih baik Andy menerimanya. Andy mengangguk menyetujuinya.
----
“Kamu apa kabar, Cel? Aku kangen, sudah lama kita ga ketemu.” Andy membuka percakapannya dengan Celine siang itu di restoran samping gedung kantor papa Celine.
“Aku baik, sibuk, kerjaan lagi banyak.” Jawab Celine sambil menyesap minumannya.
“Aku pingin ajak kamu jalan-jalan, Cel. Kapan kamu ada waktu?”
Celine menatap Andy. Sejak meeting tadi, baru kali ini Celine memperhatikan Andy dengan lebih mendetil. Tidak ada perubahan berarti dari Andy, dia tetap rapi dan chic seperti pengusaha muda yang sukses. Tubuhnya proporsional, wajahnya serius dan mencerminkan kecerdasan. Lelaki yang cukup menarik, tapi entah kenapa hati Celine tetap bergeming dihadapannya.
Terus terang saat ini Celine mulai terbiasa dengan kehadiran Nico. Pemuda itu sering mondar mandir ke apartemennya. Celine sering menemukan kejutan di apartemennya saat dia pulang kantor. Pernah tersaji makan malam dimejanya, bunga mawar di atas kasurnya, dan yang paling mengejutkan adalah segelas juice dan sandwich di nakasnya pada pagi hari. Artinya, Nico mampir ke apartemennya sebelum pemuda itu berangkat sekolah.
“Cel?” Andy membuyarkan lamunan Celine.
“Hah?” Celine terkejut. “Oh, ok saja. Atur saja waktunya.” Jawabnya, agak ragu sebenarnya.
Andy tersenyum senang. Namun belum sempat dia berkata sesuatu, Celine menambahkan.
“Satu permintaanku, Dy.” Tambah Celine. “No ***.”
Andy tertegun. Runtuh sudah angan-angannya. Dia baru saja membayangkan liburan romantis akhir pekan di villa di Puncak. Ia ingin ada berenang, makan malam romantis dan mengakhiri malam sekaligus mengawali pagi yang baru berduaan di kamar dengan Celine.
“Kenapa begitu?” Cetusnya spontan. Celine meliriknya.
“Aku ingin mengubah diriku. Tidak ada lagi free ***. Aku akan mempersembahkan ‘hubungan’ku yang berikutnya dengan suamiku.” Tutur Celine sambil membuat tanda kutip dengan kedua jari telunjuknya. Dimatanya terbayang wajah Nico, wajah yang penuh tekad kuat ingin memantaskan diri untuk Celine. Sebaliknya, Celine juga ingin memantaskan diri untuk Nico, bila nanti dia ternyata berjodoh dengan Nico.
__ADS_1
“Untuk apa? Kamu kan sudah…” Andy terdiam. “Kita sudah sering melakukannya.” Tambahnya lagi. Andy mengubah kata-katanya, takut menyinggung Celine. Ia tidak mau Celine yang baru mau menunjukkan sedikit respon positif, marah lagi kepadanya.
“Aku tahu. Memang aku sudah tidak virgin lagi, itu kan yang kamu maksud? Tapi, apakah kamu tidak merasa spesial bila nanti dimasa mendatang, kita melakukannya lagi setelah sekian lama, di malam pertama kita?” Papar Celine. “Itu kalau kamu yang jadi suamiku.” Tambahnya lagi.
Andy melotot mendengar pernyataan terakhir Celine.
“Apa? Apa ada calon lain selain aku?” Emosinya mulai naik.
Celine diam memperhatikan wajah Andy yang sudah mulai memerah.
“Ardykah orangnya?” Tembak Andy.
Celine tertegun mendengar tuduhan Andy. “Ardy? Kenapa kamu bisa menuduh Ardy?”
“Pasti Ardy kan? Aku tahu itu! Aku sudah lihat gelagatnya. Dia selalu menghalangi aku menemuimu. Dia tidak suka aku dekat kamu. Di ruang meeting tadi, aku sudah lihat semuanya. Apa dia sudah tahu masalah kita? Kamu menceritakannya? Sedekat itukah kamu sama dia? Ya, pasti Ardy, aku yakin! Sudah berapa lama, Cel? Kenapa kamu membohongi aku?” Cecar Andy bertubi-tubi. Dia sudah tidak memperhatikan intonasi suaranya lagi. Celine melongo, melihat sekelilingnya dan menyadari mereka sudah jadi tontonan orang-orang. Emosi Celine mendadak naik, dia tidak terima dipermalukan didepan umum.
Celine menggebrak meja, lalu berdiri. Andy terkejut dan baru menyadari bahwa dia kembali melakukan kesalahan.
“Jangan pernah menemui aku lagi! Kita putus!” Celine langsung membalikkan tubuhnya dan meninggalkan café itu.
Andy tersadar, dia segera berlari mendekati Celine. Permasalahan mereka belum ada yang terselesaikan, tapi sudah muncul masalah baru. Andy menyesali emosinya yang tidak bisa dia kendalikan.
“Cel! Tunggu Cel!” Andy berhasil menangkap tangan Celine di halaman gedung.
“Lepasin!” Celine memberontak. “Memang sudah typical kamu seperti begini! Kamu arogan, cemburuan, suka nuduh yang macam-macam! Yang kamu anggap benar cuma perkiraan kamu sendiri! Ga usah dengar penjelasan aku lagi, percaya saja sama yang ada di otak kamu itu!” Celine marah-marah sambil berjalan menuju kantornya.
“Cel, jangan begitu! Maaf kalau aku punya salah. Aku emosi, Cel! Kamu ga angkat telepon aku, ga balas pesan aku. Reaksi Ardy juga seperti itu, dia over protektif ke kamu. Lelaki mana yang ga cemburu kalau di depan matanya, pacarnya main kode-kode dengan lelaki lain?” Bela Andy.
“Curigaan, cemburuan, ga percaya sama orang lain, itu memang watak kamu! Jujur ya Dy, aku ga nyaman sama sifat kamu itu. Itu yang bikin aku seratus kali berpikir apa hubungan kita ini bisa dipertahankan. Sifat itu ga bisa berubah, jangan janji ke aku kalau kamu akan berubah, itu ga akan bisa. Dan itu juga bukan alasan buat kamu bikin aku malu didepan umum! Emosi kamu itu selalu meledak, ga bisa dikendalikan! Bikin malu saja, nuduh-nuduh ga jelas didepan umum. Ini tuh kawasan kantor aku, orang-orang kenal sama aku!” Sambil mengomel, Celine tetap berjalan meninggalkan Andy, dan Andy sambil mendengarkan tetap setia mengekor dibelakang Celine.
“Sorry Cel, sorry. Aku ga akan ulangi lagi, ok? Kita pergi ya Cel, kita jalan-jalan, refreshing. Kapan kamu ada waktu? Please?” Kejar Andy lagi. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kondisi hubungan mereka.
“Nanti saja kalau kepala kamu sudah dingin! Aku sudah ga mood!” Celine masuk ke lobby gedungnya. Andy terpaku di drop off lobby, membanting kakinya, lalu berbalik meninggalkan gedung itu.
__ADS_1