Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Perjalanan Mendapatkan Restu


__ADS_3

Hari Sabtu pagi.


Nico mengejap-ngejapkan matanya. Dia merasa wajahnya diserbu ratusan kecupan dari berbagai sisi.


Nico tersenyum, Celine lah pelakunya.


"Nic..." Cup!


"Nic..." Cup! Cup!


"Nic..." Cup!


Nico tidak tahan, segera didekapnya tubuh Celine hingga Celine tidak bisa bergerak lagi. Wajah Celine tersembunyi di dada Nico.


"Nic! Nic!" Celine ngos-ngosan karena tidak bisa mengambil nafas. Nico melepaskan pelukannya setelah beberapa kali mengecup pucuk kepala Celine.


Nico mendorong tubuh Celine hingga akhirnya Celine terlentang terbaring diranjang dan Nico mengungkungnya, menjerat kedua pergelangan tangan Celine diatas kepalanya.


 


"Sayang, kamu pagi-pagi sudah berani menggangguku... Ada apa, hm?" Nico berbisik di ceruk leher Celine, sambil mengendus-endus lehernya. 


"Hmm.. Nic..." Celine tidak bisa menjawab, malah hanya menggumam. Rasa ketagihan akan sentuhan Nico mulai menggelitik Celine. "Hmm... Hmm..." Desahnya.


Tiba-tiba Nic menjauhkan wajahnya dari leher Celine dan menatap Celine tajam. Celine yang tadinya terlena, kini melotot menatap mata Nico.


"Ada apa?" Tanya Nico tegas.


"Mau tanya acara makan malam jam berapa..." Ujar Celine seakan terhipnotis.


Nico menaikkan kedua ujung bibirnya, lalu dia langsung menjatuhkan dirinya menindih Celine, melingkupi seluruh tubuh Celine dengan tubuhnya.


"Nic!" Celine tersentak kaget. "Berat!"


"Jam enam sore, Sayang. Dandan yang cantik, kita akan ke tempat spesial." Bisik Nico, lalu memeluk tubuh Celine dan secara tiba-tiba mengangkatnya dari ranjang. Celine menjerit, tangannya secara refleks memeluk leher Nico dan kakinya melingkar di pinggang Nico. Nico langsung berdiri dengan gagah sambil membawa tubuh Celine didepan tubuhnya, menuju ke kamar mandi. 


"Kita mandi! Bau!" Katanya tegas. Celine tidak bisa melawan lagi, akhirnya mereka mandi bersama pagi itu.


 


Jam enam sore, Nico dan Celine memasuki sebuah warung steak yang terletak di kawasan ruko kuliner di pinggiran pantai Jakarta. Walaupun sebutannya warung, namun sebenarnya cukup modern dan nyaman, sehingga menjadi tempat nongkrong anak-anak muda.


"Nic, aku salah kostum..." Bisik Celine sambil bersembunyi dibelakang Nico. Celine menggunakan dress hitam semata kaki dan high heelsnya, sedangkan Nico menggunakan kemeja formal berwarna hitam dan celana panjang hitam.

__ADS_1


Nico tertawa, ia membawa Celine ke tempat duduk outdoor warung itu yang sudah ia booking sebelumnya.


"Wow, indahnya..." Seru Celine kagum.


Pemandangan indah kelap kelip lampu gantung di area luar warung, meja yang tersusun rapi lengkap dengan center piece dan candle lightnya, membuat suasana romantis.


Nico menarikkan kursi untuk Celine. Setelah Celine dan Nico duduk, mereka mulai acara makan malamnya.


"Nic, gimana dengan starter up kamu? Kamu janji mau cerita kan?" Celine mengingatkan Nico akan janjinya.


Nico tersenyum dan menunjuk menu makan malam mereka hari ini. Sepiring sirloin steak yang tersaji didepan Celine.


"Steak?" Tanya Celine bingung.


Nico menganggukkan kepalanya. 


"Aku berhasil mengembangkan menu steak ready to eat kalengan yang human grade." Ujar Nico. Kemudian ia menerangkan keunggulan-keunggulan menu tersebut dan tentu saja peranan besar perusahaan Hendrawan dalam pengalengannya. Ternyata usaha ini sudah dalam tahap trial dan sudah diketahui oleh Papa Hendrawan.


Ketika Nico sedang berbicara, seorang pelayan menyajikan sekaleng steak yang baru dipanaskan. Celine terkagum-kagum melihatnya.


Nico mengambil steak itu lalu memotongnya sekerat, meniupnya hingga hangat lalu menyuapkannya kepada Celine. Ketika sedang mengunyahnya, mata Celine terbuka lebar, dia merasa menggigit sesuatu yang keras.


"Maaf..." Ujar Celine, lalu mengeluarkan makanan itu ke sebuah tissue. Mata Celine kembal melebar, sebentuk cincin terlihat ada diantara steak yg ada diatas tissue.


"Usaha ini adalah modalku untuk meraihmu. Dengan menu steak itu, aku sudah membuka restoran ini dan hasilnya adalah cincin ini. Dengan ijin Papa, proses pengalengan steak segera berjalan. Dari hasilnya nanti, akan kupakai untuk resepsi kita." Ucap Nico melantur, dia mencampuradukkan pernyataan cintanya dengan rencana bisnisnya. Celine terisak sambil tertawa.


"Kamu mau lamar aku kok pakai bahas pengalengan segala sih Nic?" Suara Celine bergetar.


Nico duduk merapat dengan Celine, merangkul pinggangnya sambil tetap menyodorkan cincinnya. 


"Aku perlu meyakinkan kamu bahwa aku bisa merawat kamu dimasa depan dan mencukupi kebutuhan kamu. Aku sanggup membuat kamu menjadi ratu di rumah kita. Aku sudah minta restu Papa, untuk mengambil putri rajanya untuk jadi permaisuriku. Kamu mau kan, menikah denganku?" Ujar Nico lembut.


Celine makin terisak, namun kini ia menganggukkan kepalanya. Nico tersenyum, lalu menyematkan cincin itu di jari Celine. Keduanya berpelukan, bahagia.


-----


Minggu pagi.


Nico dan Celine sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah Celine. Rencananya hari ini, mereka akan bertemu dengan Papa Hendrawan. Dengan baju yang sama yaitu tshirt dan celana jeans, mereka tampak santai dan serasi.


Mereka bergandengan tangan, keluar dari gedung apartemen. Sambil bercanda, mereka naik ke mobil Nico.


"Mau beli apa untuk Papa dan Mama?" Tanya Nico sambil mengemudi.

__ADS_1


"Ciee, yang mau ngambil hati calon mertua!" Goda Celine sambil menjawil dagu Nico. Nico langsung menangkap jari Celine dan menggigitnya.


"Nic! Kamu dari kemarin gigit aku terus! Kamu manusia atau siluman guguk sih?" Jerit Celine. Walaupun efek gigitan Nic tidak menyakitinya, namun Celine terkejut dengan respon Nico yang sangat cepat hingga sempat menangkap jarinya.


Nico tertawa, lalu mengelus-elus jari Celine yang digigitnya tadi dan mengecupnya. Celine tersenyum dan akhirnya membiarkan tangannya digenggam Nico sepanjang perjalanan.


Akhirnya mereka tiba dirumah keluarga Hendrawan dengan berbekal beberapa menu makan siang kesukaan Papa Hendrawan dan Mama Michelle.


Mama Michelle memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Celine. "Mama kangen! Kamu kalau ga dipanggil pulang sama Papa, ga akan pulang ya! Apa kamu ga kangen Mama?" Tanyanya.


"Kangenlah, Ma." Ujar Celine. Ia agak malu Mama Michelle menegurnya didepan Nico.


"Nic, nanti kalau kalian sudah menikah, jangan lupa sesekali ajak Celine pulang, ya? Sekarang Celine suka lupa pulang, nanti kamu bantu Mama ingatkan Celine, ya." Ujar Mama Michelle sambil mengelus lengan Nico.


Nico tersenyum, hatinya begitu hangat melihat sambutan Mama Michelle untuknya.


"Siap, Tante. Nanti..."


"Mama! Panggil 'mama'! Kamu juga akan segera jadi anak Mama, kan?" Potong Mama Michelle.


Nico mengganggukkan kepalanya lagi. "Terima kasih, Ma." Jawabnya sambil sedikit membungkukkan badannya.


Mama Michelle tersenyum, beliau menggamit Nico dan Celine. "Ayo masuk, Papa sudah menunggu didalam."


Mereka berjalan beriringan menuju ruang tamu, tempat Papa Hendrawan sudah menunggu. Beliau sedang duduk sambil menggunakan ponselnya.


"Selamat siang, Pak."


Papa Hendrawan langsung menoleh. Mama Michelle refleks menepuk lengan Nico.


"Papa!" Seru Papa Hendrawan dan Mama Michelle bersamaan. Celine tergelak.


"Oh, iya. Maaf, Pa." Nico tergagap, ia merasa malu.


"Kalau diluar kantor, panggil 'papa'! Atau kamu mau Papa coret sebagai calon anak menantu?" Ancam Papa Hendrawan sambil melotot, tapi kemudian beliau tertawa melihat betapa piasnya wajah Nico.


"Papa!" Tegur Celine sambil tertawa. "Nico sudah tenang-tenang datang kesini, sekarang dia oasti deg-degan lagi!"


Papa Hendrawan dan Mama tertawa, sementara Nico masih pias terdiam, sibuk mengatur debaran jantungnya. Celine mengelus bahu Nico, menenangkannya.


"Duduklah, Papa mau bicara pada kalian." Ujar Papa lagi. Segera Nico dan Celine duduk di sofa yang berdampingan, bersebelahan dengan tempat duduk Papa. Mama Michelle duduk disebelah Papa.


"Nico, Papa mau tahu rencana kamu kepada Celine kedepannya. Apakah kamu betul-betul serius berhubungan dengan Celine?"

__ADS_1


__ADS_2