Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Menghibur Tante


__ADS_3

“Kenapa kamu ga jujur ke Tante, Nic?” Celine terisak-isak. Hatinya hancur, dia merasa dikhianati. Lelaki yang katanya menyayanginya ternyata telah menduakannya. Terlebih lagi, penghancur hubungannya adalah Stella, adik sepupunya sendiri. Nico yang mengetahui hal ini juga tidak memberitahukannya. Celine harus mengetahui pengkhianatan ini dengan cara yang miris.


 


*** Flashback on ***


 


Kembali ke satu bulan lalu, saat Celine bertengkar dengan Andy di café dan berlanjut di lobby apartemen.


 


Setelah Celine masuk ke lift untuk naik ke apartemennya, Nico tiba di lobby apartemen itu juga. Ia ingin menyelinap ke apartemen Celine, namun dia sempat melihat Andy yang akan keluar dari lobby namun dicegat oleh Stella.


 


“Hai, kenalkan. Aku Stella, sepupu Celine. Bisa kita bicara?”


 


Nico mengetahui hubungan Celine dan Stella tidak baik. Jadi kalau Stella sampai mengajak Andy berbicara, pasti bukan karena Stella ingin membela Celine. Nico langsung membuntuti Stella dan Andy yang menuju ke kios kopi yang ada disamping lobby apartemen.


 


Di pembicaraan itu, Stella menawarkan kerjasama dengan Andy untuk mengembangkan bisnisnya dengan bantuan papa Stella. Stella membuka rahasia asal usul Celine, membuat Andy yang belum mengetahuinya terbelalak, menjatuhkan nilai Celine di matanya. Stella juga membujuk Andy untuk mau berhubungan dengannya, dia menjanjikan servis ‘plus plus’ seperti yang biasa dilakukan Celine kepada Andy. Andy yang sudah lama tidak mendapatkan servis semacam itu, tentu saja tergiur.


 


Stella sebenarnya mengetahui Nico menguping pembicaraannya. Sehari sesudahnya, Stella memanggil Nico di sekolah. Ia mengancam Nico, bahwa Nico akan menyakiti hati Celine bila menceritakan hal tesebut kepada Celine. Stella mengatakan ia akan melepaskan Nico dan memiliki Andy sebagai gantinya. Dengan demikian, Nico akan bebas mendekati Celine.


Nico yang polos mempercayai ucapan Stella. Ia lebih memilih menyembunyikan rahasia itu daripada melihat Celine sakit hati.


 


*** flashback off ***


 


 


“Maaf, Tante. Aku takut Tante sakit hati. Aku pikir si Om akan memutuskan Tante saja. Aku tidak menyangka juga kalau kejadiannya akan seperti ini. Maaf, Tante, aku tidak bermaksud menyembunyikannya dari Tante.”

__ADS_1


 


Nico merasa sedih melihat Celine menangis. Sesayang itukah Tante pada Om Andy? Dengan ragu-ragu, Nico mendekati Celine dan memeluk bahunya dari samping.


 


“Tante, jangan menangis lagi. Aku akan selalu mendampingi dan menemani Tante. Janjiku pada Tante dapat Tante pegang. Aku sudah mau kuliah, Tante. Aku akan belajar sungguh-sungguh supaya aku layak mendampingi Tante. Tante jangan sedih lagi, masih ada aku yang menemani Tante.”


 


Isakan Celine perlahan terhenti. Celine mulai tenang mendengar kata-kata Nico. Dia terdiam dalam pelukan Nico, bahkan perlahan-lahan tubuhnya semakin bersandar pada Nico dan tangannya juga meraih pinggang Nico. Mereka semakin erat berpelukan.


 


Semenit, dua menit, sepuluh menit. Isak tangis Celine sudah sepenuhnya hilang. Nico merenggangkan pelukannya dan mengintip, melihat wajah Celine. Ternyata Celine tertidur. Dengan perlahan, Nico menggendong Celine menuju kamar tidurnya.


 


Nico membaringkan Celine di tempat tidurnya, lalu duduk di pinggir ranjang, memperhatikan Celine. Tiba-tiba terlintas ide di kepala Nico, ia ingin tidur juga dengan memeluk Celine. Dengan perlahan, ia melepas sepatunya, lalu naik ke ranjang Celine. Ia berbaring disamping Celine, tangannya meraih pinggang Celine. Wajahnya ia masukkan ke ceruk leher Celine.


 


Segera wangi parfum Celine memenuhi hidungnya. Nico mengendus-endus, mencari titik pusat keharuman itu. Ia menemukannya, di dekat cuping telinga Celine tercium sangat harum. Nico mengecupnya, namun setelah itu bibirnya tidak bisa berhenti. Ia terus mengecupi titik itu dan area sekitarnya, lalu perlahan-lahan turun kearah dada Celine. Dikecupnya terus, dan terus, sampai akhirnya dia terhalang oleh kancing kemeja Celine. Dengan bibir yang belum berhenti mengecup, jarinya mulai bekerja menjentikkan kancing tersebut hingga terbuka.


 


 


Celine melenguh beberapa kali. Ia merasakan sentuhan itu, begitu halus dan lembut. Celine membuka matanya, dan terkejut melihat tindakan Nico. Namun sentuhan itu sungguh membuat Celine kecanduan, dia tidak berharap Nico berhenti. Sungguh sebuah sentuhan yang memabukkan.


 


“Hhh… Nic…” Desahnya. Nico terkejut dan membuka matanya. Ia merasa bersalah dan ingin berhenti, namun Celine malah mendekap kepalanya. Semakin menenggelamkan wajah Nico pada gundukannya dan sesekali membelai rambut Nico sambil menciumnya.


 


“Jangan berhenti, Nic… Teruskan saja… Tapi cukup sampai disini ya, Nic, jangan lebih jauh lagi…” Desahnya. Nico sangat bahagia mendengarnya. Ia menganggukkan kepalanya sambil meneruskan hisapannya, semakin memperdalam kulumannya dan mempererat pelukannya pada pinggang Celine. Jadilah sore itu, suara lenguhan pria dan wanita terdengar cukup intens di ruang kamar tersebut.


 


-----

__ADS_1


 


Nico menepati janjinya.


 


Nico kini sudah kuliah di Jurusan Bisnis sebuah universitas yang memang terkenal unggul mencetak para calon pengusaha. Nico sudah bertekad, dia tidak akan kalah dari Andy. Dia harus lebih unggul segala-galanya, agar Celine bangga padanya. Andy kini menjadi patokan targetnya.


 


Kampus Nico berada di ujung timur kota Jakarta, sudah termasuk area Jawa Barat. Karena jaraknya yang jauh dari rumahnya, maka orang tua Nico mengontrakkan sebuah apartemen kecil untuk Nico, yang letaknya tidak jauh dari kampusnya. Setiap hari, Nico dapat berjalan kaki kekampusnya bila dia sedang tidak terburu-buru. Namun untuk mempermudah hidupnya, motor pemberian papanya tetap Nico bawa.


 


Untuk bertemu Celine pun, otomatis tidak bisa sesering biasanya. Yang paling praktis, Nico harus naik kereta commuter line untuk mencapai kantor Celine yang berada di area SCBD. Atau bila mau ke apartemen Celine, Nico perlu menaiki angkutan umum lain sebagai tambahannya.


 


Papa dan mama Nico sudah tidak tinggal di apartemen lagi. Satu tahun setelah kepindahan mereka ke Jakarta, rumah yang dijanjikan papanya akhirnya diserahterimakan oleh developer, dan mereka segera pindah kesana. Sebuah rumah yang asri dan terletak di selatan Jakarta, dekat dengan kantor papanya.


 


Nico hanya sesekali pulang ke rumah orang tuanya, paling sering seminggu sekali. Bila sedang tidak ingin pulang, ia akan beralasan sedang banyak tugas di kampusnya sehingga harus menyelesaikan tugasnya dulu. Kebanyakan penyebab Nico tidak ingin pulang adalah karena ia ingin menginap di apartemen Celine untuk melampiaskan rindunya.


 


Ya, Nico memang sering menginap di apartemen Celine, terutama di weekend. Mereka sering berjalan-jalan, nonton, ngobrol, atau sekedar masak-masak di apartemen, dan yang pastinya berpelukan di ranjang. Hanya sebatas itu. Nico memegang teguh janjinya untuk menyerahkan dirinya disaat umurnya dua puluh lima tahun dan dia sudah merasa pantas untuk Celine. Celine pun memegang janji Nico tersebut, dan menggunakannya sebagai pemicu pada saat semangat Nico melemah.


 


Celine dan Nico masih tetap merahasiakan hubungan mereka dari keluarga dan orang-orang terdekat mereka, sangat sedikit orang yang mengetahuinya. Alasannya juga masih seperti semula, agar orang-orang dilingkup mereka tidak serta merta mengajukan keberatan atas hubungan mereka. Celine dan Nico menganggap orang-orang itu hanya akan berkomentar berdasarkan apa yang tampak di depan mata mereka, walaupun hanya sekedar tahu sebatas kulit namun memberikan penilaian seakan-akan mereka mengetahui segala-galanya. Hal ini tentu akan membuat masalah lebih runyam dan memberikan bumbu yang tidak penting pada hubungan mereka.


 


Sedikit dari yang mengetahuinya adalah Andy dan Stella, namun sampai saat ini mereka menutup mulut mereka sendiri, karena membeberkan rahasia Celine sama dengan membuka aib mereka sendiri. Mereka berdua saat ini sudah terikat pertunangan, walaupun sebenarnya tidak saling mencintai. Hubungan mereka sarat dengan balas dendam dan saling memanfaatkan.


 


Celine berniat membalaskan sakit hatinya pada Stella. Kalau mau main air, jangan mau kena cipratannya aja. Buat sampai basah kuyup sekalian, begitu pemikiran Celine. Ia tahu Stella hanya memanfaatkan Andy, namun tidak mencintainya.


 

__ADS_1


Celine mengadukan penyelewengan Andy dan Stella ke keluarga Andy dan Om Robert, bahkan memperlihatkan video hasil penggerebekannya waktu itu. Kedua keluarga itu mencak-mencak, bahkan papa Andy tak henti meminta maaf pada Celine karena anaknya telah mengkhianati Celine. Dalam waktu singkat, kedua keluarga bertemu dan memutuskan tanggal pertunangan kedua anaknya. Sanggahan Stella dan Andy tidak didengar lagi, kedua keluarga telah memutuskan untuk menikahkan mereka daripada mereka melakukan hubungan bebas lagi. Hal ini semakin membuat Stella membenci Celine, dan dia bertekad akan benar-benar membuat Andy berhasil menguasai perusahaan Om Hendrawan.


__ADS_2