
"Nico, Papa mau tahu rencana kamu kepada Celine kedepannya. Apakah kamu betul-betul serius berhubungan dengan Celine?"
Pertanyaan Papa Hendrawan lagi-lagi membuat jantung Nico berdebar. Ada apa ini, bukankah sebelumnya aku sudah ijin Papa, gumam Nico.
"Celine, ayo duduk di samping Papa!" Tegas Papa Hendrawan kepada Celine. Celine ragu-ragu, matanya berpindah-pindah antara Papa dan Nico. Ia tahu harus menuruti papanya, tapi dipihak lain ia tidak tega meninggalkan Nico.
Sebuah kode dari Mama Michelle membuat Celine akhirnya berpindah tempat duduk, dari samping Nico ke samping Papa Hendrawan. Celine menepuk bahu Nico terlebih dulu sebelum berpindah tempat duduk, sebuah tepukan yg bermaksud menguatkan Nico.
"Nah, Nic? Bagaimana? Papa tidak bisa menyerahkan putri Papa satu-satunya kepada kamu kalau kamu belum ada rencana apapun dan belum menunjukkan keseriusanmu padanya." Ujar Papa lagi.
"Saya serius, Pa." Ujar Nico dengan suara gemetar. Jantungnya masih berdegub keras, apalagi setelah Celine beranjak dari sisinya.
"Saya sudah melamar Celine." Jawab Nico lagi sambil menunjuk tangan Celine. Sontak Papa dan Mama Michelle menoleh, menyadari sebuah cincin telah melingkar di jari manis putrinya.
"Saya sudah berpenghasilan. Dari usaha steak yang sudah saya mintakan ijin ke Papa, sebelumnya sudah saya uji menjadi sebuah restaurant. Jadi nantinya, sudah ada 2 usaha yang menyokong hidup kami." Ujar Nico.
"Selain ekonomi?" Tanya Papa lagi.
Nico terpekur bingung, ia berpikir apa maksud Papa Hendrawan.
"Kamu sungguh-sungguh mencintai Celine?" Tanya Papa lagi. Nico menganggukkan kepalanya.
"Kamu sadar ia jauh lebih tua dari kamu?" Nico kembali menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu memilih Celine? Disekelilingmu pasti banyak gadis-gadis sebaya yang bersedia kamu jadikan pasangan hidup. Kenapa kamu memilih Celine?" Cecar Papa Hendrawan lagi.
"Hati saya yang sudah memilih, Pa." Jawab Nico jujur. "Sejak saya kecil, saya sudah nyaman dengan Celine. Kami terpisah empat belas tahun, di pertemuan kami berikutnya pun saya tetap nyaman dengan Celine. Mungkin Papa tahu, ada beberapa perempuan juga yg hadir ditengah hubungan kami. Tapi saya sudah mantap Pa, saya tetap memilih Celine. Tidak ada alasannya, hanya hati saya saja yang sudah memilih."
Papa Hendrawan termenung mendengar jawaban Nico.
"Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa Papa bertanya begini pada kamu. Papa cuma mau meyakinkan diri Papa sendiri, ini bukan cinta sesaat. Bukan karena Celine yang begitu cantik saat ini. Waktu terus berjalan, perbedaan usia tetap akah terlihat nantinya. Celine adalah anak kesayangan kami, Papa sudah melihatnya sakit hati satu kali. Papa tidak mau melihat hal itu terulang lagi." Ujar Papa Hendrawan.
"Kamu tahu Celine adalah anak angkat kami?" Tanya Papa Hendrawan tiba-tiba. Nico menganggukkan kepalanya.
"Papa tidak mau hal ini menjadi sandungan kalian di masa depan. Walaupun anak angkat, bagi kami Celine adalah anak kandung kami. Dia mendapat 100% cinta dan kasih sayang dari Papa dan Mama." Ucap Papa Hendrawan sambil menepuk punggung tangan Celine yang sedang melingkar di lengannya. Celine menyandarkan kepalanya di bahu Papa, ia terharu mendengar betapa sayangnya Papa padanya.
"Senin besok, sudah ada Shirley dikantor." Ujar Papa lagi. Celine dan Nico menoleh terkejut, Papa tahu tentang Shirley?
"Papa tahu tentang Shirley?" Celine tidak tahan untuk tidak bertanya. Papa Hendrawan menganggukkan kepalanya.
Papa Hendrawan menoleh ke Nico. "Kamu tahu apa artinya ini?"
Nico menganggukkan kepalanya. "Saya akan menjaga komitmen saya, Pa."
Papa Hendrawan menggelengkan kepalanya. "Bukan, bukan itu yang Papa minta." Celine dan Nico memandang Papa Hendrawan dengan bingung.
"Papa mau kamu mempelajari lagi hati kamu. Adanya Shirley bisa kamu gunakan untuk menguji hati kamu apakah kamu tetap mencintai Celine atau tidak. Yang Papa minta, bila kamu merasa kamu lebih memilih yang lain, segera tinggalkan Celine dengan baik-baik. Bicarakan dengan Papa, jangan sakiti hatinya."
__ADS_1
Hiks! Celine tidak tahan lagi, dia terisak. Walaupun selama ini Celine tidak pernah meragukan cinta Nico, namun kata-kata Papa seperti ancaman di depan matanya. Celine merasa hatinya sakit, seakan-akan kejadian itu sudah didepan pelupuk matanya.
"Papa..." Celine terisak, memeluk Papa Hendrawan. Papa balas memeluk Celine, dan mengecup pucuk kepalanya beberapa kali.
"Saya tidak akan meninggalkan Celine, Pa." Ujar Nico yakin. "Papa boleh bertanya sekali ataupun seratus kali, jawaban saya akan tetap sama. Saya sudah berkomitmen untuk tidak menyakiti hatinya. Saya sudah melamarnya, kalau saya meninggalkannya, saya menyakiti hatinya. Kalaupun saya menyampaikannya lewat Papa, Celine tetap akan tersakiti. Saya tidak akan menyakitinya, jadi saya tidak akan meninggalkannya." Ujar Nico yakin.
Nico berjalan menghampiri Celine, lalu berlutut didepannya. Celine menatap Nico dengan mata berkaca-kaca.
"Aku janji, didepan Papa dan Mama, aku tidak akan mengkhianati kamu. Aku akan jaga komitmen ini. Sejak dulu, hati ini sudah memilih kamu. Sampai seterusnya, akan tetap jadi milik kamu. Cincin yang kamu kenakan ini, " Nico menyentuh cincin yang semalam ia kenakan di jari Celine, "Akan mengikat kita selamanya. Aku tidak akan meninggalkan kamu, dan aku hanya minta dua hal dari kamu. Tolong dampingi aku dan cintai aku selamanya." Nico menggenggam tangan Celine.
Celine masih terisak, dia menghapus air matanya lalu menoleh pada Papa Hendrawan.
"Papa, kami minta restu Papa dan Mama..." Isak Celine.
Mata Papa Hendrawan berkaca-kaca, beliau menganggukkan kepalanya lalu menoleh pada Nico.
"Jangan hancurkan kepercayaan Papa dan Mama. Jaga Celine dengan baik!" Ucapnya tegas. Nico mengangguk mantap sambil tersenyum. Mama Michelle berdiri dan menghampiri Celine, lalu memeluk putrinya itu.
"Sayangi Celine, Nic. Kamu akan menggantikan Papa untuk melindunginya." Ujar Mama sambil mengelus rambut Celine.
"Nico janji, Ma. Papa dan Mama bisa pegang janji Nico." Jawab Nico tegas.
Setelah Celine lepas dari pelukan Mama Michelle, Nico memeluknya dan membelai bahunya dengan sayang.
__ADS_1
Mereka melanjutkan pertemuan yang mengharu biru itu dengan makan siang. Nico selalu menggandeng tangan Celine, dan hal ini tidak luput dari pengawasan Papa Hendrawan. Mama Celine menggenggam tangan suaminya, ada rasa khawatir dan resah diwajahnya karena ia mulai merasa waktu untuk melepas putrinya semakin dekat. Papa Hendrawan menggenggam tangan istrinya dan tersenyum. Mereka saling menguatkan.
Dalam benak Celine sudah tersusun rencana. Ia tidak akan menyerah begitu saja, terutama pada Shirley. Ia akan mempertahankan Nico dengan segala cara. Dan dia akan melibatkan Nico dan Ardy dalam rencananya. Namun untuk awalnya, ia akan membicarakan hal ini pada Nico lebih dulu.