Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Lagi-Lagi Om Itu 1


__ADS_3

Setelah saling membuka hati di apartemen Celine waktu itu, hubungan antara Celine dan Nico berjalan lebih lancar. Sesuai permintaan Nico, Celine memberikan waktu pada Nico untuk mengejar cita-citanya. Namun sebagai konsekuensinya, Celine mulai menjaga jarak dengan Andy. Dan ternyata, Andy merasakan perubahan sikap Celine.


Andy semakin emosi bila berhadapan dengan Celine. Dia merasa Celine semakin menjauh, hubungan mereka tidak seintim dulu. Celine mulai sulit diajak keluar malam, ke klub, menginap di luar kota, atau bahkan sekedar tidur di hotel atau apartemen Celine. Padahal dulu, hampir setiap minggu Andy mendapatkan ‘jatah’ dari Celine, atau malah beberapa hari sekali sesuai permintaan Andy. Celine hampir tidak pernah menolaknya, mereka sama-sama suka dan Celine sedang tidak datang bulan. Sangat berbeda dengan saat ini, karena Celine lebih suka diajak berjalan-jalan di tempat terbuka dan privasi mereka tidak terjaga, dimana mereka tidak dapat terlalu mesra melampiaskan cinta dan nafsunya.


 


Andy merasa Celine membatasi diri bila berhubungan dengannya. Bila Andy menghubunginya, yang ada di otak Celine hanya bisnis. Bila Andy sudah mulai mengarahkan pembicaraan kearah hubungan personal mereka, Celine selalu menjawab dengan tawar. Bahkan, pernah Andy mengajaknya bertemu di lobby hotel dengan alasan pekerjaan, Celine datang membawa asistennya dan arsip-arsip pekerjaannya! Hal ini membuyarkan rencana Andy, yang sebenarnya telah mem-booking satu kamar di hotel itu untuk bermesraan dengan Celine.


Suatu sore, akhirnya Andy tidak tahan lagi. Ia meluapkan perasaannya ke Celine.


 


“Kamu ini kenapa sih?” Tembaknya dengan kening berkerut.


“Apanya yang kenapa?” Tanya Celine bingung, mengangkat kepalanya dari memandangi sepotong strawberry shortcake didepannya, ke wajah Andy. Mereka saat ini sedang minum teh di sebuah café dekat apartemen Celine, sepulang mereka dari bekerja. Andy yang mengajak Celine ke café ini sambil mengantarnya pulang, setelah siang tadi mereka bertemu di kantor Celine untuk meeting.


 


“Kamu berubah.” Protes Andy. “Kamu ga semesra dulu. Susah diajak keluar. Alasanmu banyak, selalu bawa-bawa pekerjaan. Kenapa, sudah bosan sama aku?” Cecarnya.


 


“Berubah bagaimana sih maksudnya, Dy? Aku ya begini-begini saja. Kerja ya kerja, pekerjaan masih banyak. Kantor Papa di luar kota sedang perlu pengawasan, disini aku juga harus mengawasi progress kerjasama kita.” Celine berusaha mengelak.


 


“Iya, tapi kamu berubah. Ga seperti dulu. Kita ga semesra dulu.” Andy ngotot.


 


“Sex maksud kamu?” Tohok Celine membuat Andy terdiam.


 


“Aku lagi ga kepingin aja. Kalau aku nanti kepingin, aku juga akan bilang sama kamu.” Timpal Celine sekenanya.


 


“Mana bisa seperti itu! Aku ini laki-laki, Cel! Aku…”


 


Belum selesai Andy berbicara, Celine menggebrak meja di depannya dan berdiri sambil menatap Andy tajam.


 


“Kalau pikiran kamu cuma tentang itu saja, lebih baik kita putus! Aku ga sudi hanya dijadikan pelampiasan nafsu kamu!” Celine berpaling dan mulai berjalan meninggalkan Andy. Meninggalkan Andy yang bengong terkejut dan pengunjung café yang meperhatikan mereka seakan mendapat tontonan drama gratis sore ini.


 


Andy terkejut. Celine tidak pernah seperti ini. Biasanya dialah yang dominan, Celine selalu menurutinya. Andy langsung bergerak mengejar Celine yang sudah hampir sampai di pintu keluar café.


 


Diluar, Andy melihat Celine yang sudah menaiki taksi. Andy segera berlari menuju mobilnya untuk mengejar Celine.


 


Mobil mereka susul menyusul sampai ke apartemen Celine. Andy memarkirkan mobilnya seenaknya di lobby apartemen demi menyusul Celine.


 


“Cel, Cel, tunggu Cel! Ga bisa begini caranya! Kita ga bisa putus, Cel! Ayo bicara dulu, apa kamu bosan sama aku? Apa perlu aku lamar kamu sekarang ke papa kamu? Kalau perlu, aku akan ke rumah papa kamu sekarang!” Kejar Andy.


 


Celine melotot mendengar kata-kata Andy. “Kamu bilang aku bosan sama kamu? Kalau aku bosan, kenapa kamu mau langsung melamar aku? Kamu ini aneh! Kalau aku bosan, yang ada aku menjauh dari kamu, bukannya malah menerima lamaran kamu!”


 


“Ini karena aku serius sama kamu, Cel. Aku sayang kamu. Mungkin cara aku salah, aku lebih bernafsu ke hal yang harusnya cuma boleh kita lakukan setelah menikah, tapi aku sungguh-sungguh sayang kamu! Aku bukan lelaki yang mau mainin kamu lalu meninggalkan kamu begitu saja. Aku serius dengan hubungan ini, Cel! Ayolah Cel, kita bicarakan ini dengan kepala dingin. Aku akan turuti kemauan kamu, aku ga akan memaksa kamu berhubungan bila kamu ga mau. Kita bicara dulu ya, kamu mau kan? Please?” Bujuk Andy.


 


Celine mengurut keningnya yang mendadak sakit.


 


“Besok-besok baru kita bicara ya, Dy. Aku capek. Kamu pulanglah. Nanti kita ketemu lagi baru bicara.” Jawab Celine pelan. Tiba-tiba dia merasa lelah. Ia memang sedang tidak berminat berhubungan dengan Andy dan jujur di hatinya mulai ada nama Nico tersemat disana. Celine merasa sedikit berdosa pada Nico bila dia masih bergandengan dengan Andy di belakang Nico.


 


“Ok, ok. Aku pulang sekarang. Kamu istirahat ya. Bye, Sayang.” Sahut Andy, lalu mengecup kening Celine. Andy sebenarnya kecewa, dia berharap mereka bisa berbicara di apartemen Celine malam mini juga, menyelesaikan masalah yang ada diantara mereka. Namun ternyata ia malah diusir pulang. Ya sudahlah, pembicaraan bisa dilanjutkan besok. Siapa tahu besok moodnya sudah berubah, pikir Andy.


 


Celine mengangguk dan berjalan menuju lift lobby. Andy memperhatikannya dari belakang. Aku ga bisa melepaskan kamu, Cel. Begitu banyak impian yang bisa aku capai dari hubungan kita.


 

__ADS_1


Setelah Celine menghilang ke dalam lift, baru Andy membalikkan badannya dan keluar dari lobby apartemen.


 


                “Tanteee….”


 


Suara Nico lembut memanggil Celine. Nico menelepon Celine ketika Celine baru saja selesai berendam dan mengeringkan rambutnya.


 


“Hei, lagi dimana kamu, Nic?” Sapa Celine sembil tersenyum.


 


“Di depan pintu Tante, hehehe…” Nico tertawa.


 


“Astaga, kalau begitu ngapain pakai telepon, Nic? Masuklah. Passcode-nya ga Tante ganti kok.”


 


“Ga ah, ga sopan, hehehe.” Nico tertawa lagi. “Bukain pintunya dong, Tante.”


 


Celine tertawa kali ini. Manisnya kamu, Nic…


 


Celine segera membuka pintu apartemennya. Belum sepenuhnya pintu terbuka, Nico sudah menabrakkan tubuhnya ke pintu sehingga pintu langsung terbuka lebar. Dia langsung memeluk tubuh Celine yang ada dibelakang pintu, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Celine. Celine yang terkejut secara spontan membalas pelukan Nico, mengaitkan kedua tangannya disekeliling pinggang pemuda itu.


 


“Tante, aku kangen. Kangen sekali.” Nico seperti bergumam di leher Celine.


 


Celine tersenyum, lalu mengelus rambut Nico. Setelah beberapa saat berpelukan dan menutup pintu, Celine menarik tangan Nico untuk duduk di sofa ruang tamunya.


 


“Kamu ngapain masih bergentayangan jam segini?” Celine melirik jam dindingnya. Jam delapan malam.


 


 


“Kenapa bibirnya begitu?” Celine tertawa. “Ga suka belajar sama Bu Stella?”


 


“Sudah ga perlu tepatnya, Tante. Tapi Bu Stella seperti ga suka gitu kalau aku berhenti ambil pelajaran extra. Gratis sih, tapi aku sudah bisa belajar sendiri kok. Sudah bisa adaptasi juga, aku bisa join grup belajar sama teman-teman sekelas. Jadi buat apa lagi belajar extra sama Bu Stella malam-malam.” Jawab Nico.


 


“Ya sudahlah, hitung-hitung bonus. Kapan lagi bisa belajar gratis dengan guru sendiri? Siapa tahu kamu dapat bocoran soal, hehehe…” Celine berusaha menumbuhkan semangat belajar Nico.


 


“Masalahnya, Tan, kadang aku merasa Bu Stella ada maksud lain ke aku. Kita ga seratus persen belajar loh, Tan. Kadang aku malah disuruh temenin dia kemana-mana. Ke mall, makan malam, ke klub...” Nico terdiam, ia merasa keceplosan. Celine meliriknya.


 


“Seperti dulu waktu pertama kali kita ketemu di klub?” Tanya Celine datar.


 


Nico mengangguk. Kepalang basah, pikirnya. “Itu pulang-pulangnya mabuk lagi, Tan. Kami sampai hampir begitu…” Nico melirik. Celine juga melirik. Mereka saling melihat dengan ekor mata.


 


Nico tertawa. “Tapi nggak kok, Tan, tenang aja. Aku sampai kabur. Ga mau lagi temenin dia ke klub.”


 


Celine tersenyum. Polos sekali sih, kamu….


 


Celine berdiri dari duduknya dan pindah ke sofa disamping Nico. Ia meraih kepala Nico, meletakkan di pundaknya lalu mengelus-elus rambutnya.


 


“Lain kali hati-hati, ya. Kamu kan perjaka, jaga dengan baik.” Seloroh Celine. Nico yang sedang memejamkan mata sambil menikmati belaian Celine, sontak membuka matanya dan melirik ke wajah Celine.


 

__ADS_1


Celine terbahak. “Atau kamu mau coba buat pengalaman pertama? Biar tahu rasanya seperti apa.” Godanya lagi.


 


Nico memeluk pinggang Celine semakin erat, wajahnya semakin dalam bersembunyi di leher Celine. “Aku akan berikan ke Tante waktu umurku dua puluh lima nanti…” Gumamnya pelan.


 


Deg! Celine terpaku mendengar janji Nico. Anak ini, pinter banget bikin hati aku meleot…


 


Celine melanjutnya belaiannya. “Kalau begitu, jaga dengan baik ya.” Bisiknya. Nico meliriknya lagi.


 


Plak! Tiba-tiba Celine memukul paha Nico.


“Sudah ah! Pikiran kok mesum banget sih kamu!” Celine mencubit pipi Nico sampai Nico mengaduh. Celine segera berdiri dan menuju meja makan. Ia takut mereka akan bertindak lebih jauh bila mereka terus berpelukan seperti itu.


 


“Mau makan apa, Nic? Tante belum masak, tapi ada stok ramen tuh. Mau ramen? Sudah makan belum tadi di rumah Stella?” Tanyanya. Celine sedang mengulurkan tangannya, menjangkau ramen yang ada di kitchen cabinet diatas kompor.


 


“Mau Tan, tapi dimasakin ya.” Senyum Nico sambil kembali menjatuhkan kepalanya di bahu Celine.


 


“Iya, Tuan Manja. Sana duduk!” Perintah Celine sambil menunjuk kursi meja makan. Nico berlalu dan duduk di kursi makan. Celine memasak ramen sambil tersenyum-senyum. Kehadiran Nico sungguh menghiburnya. Mood-nya yang hancur akibat pertengkarannya dengan Andy sore tadi, sudah berubah total. Setelah ramen siap, mereka makan sambil ngobrol dan tertawa-tawa.


 


 


 


Rabu sore hari, sudah jam pulang kerja. Para karyawan di kantor papa Celine sudah mulai membubarkan diri. Ada yang mulai beranjak pulang, ada juga yang masih berkutat dengan pekerjaanya.


 


Celine menggeliat di kursi kerjanya. Dia lelah fisik dan mental. Pekerjaannya bertumpuk seharian ini, membuatnya tidak bisa beranjak dari kursinya walaupun sekedar untuk makan siang. Laporan dari kantor cabang sang papa sudah tiba dan menunggu untuk diperiksa. Kerjasamanya dengan perusahaan Andy juga sudah memasuki tahap penjualan awal, sehingga perlu di-review keefektifitasan promosinya. Ditambah lagi, hari ini sudah menjelang weekend, dimana menjelang hari libur kesibukan Celine biasanya bertambah.


 


Tok.. Tok.. Pintu ruang kerja Celine diketuk. Celine menoleh, ia melihat Ardy, tangan kanan Pak Hendrawan sang papa, memasuki ruangannya.


 


“Sore Cel. Capek? Istirahat dulu saja, kamu belum istirahat seharian ini.”


 


Celine tersenyum walaupun dia lelah. Ardy adalah asisten Celine yang banyak membantunya dalam menyelesaikan pekerjaannya. Ardy yang tadinya adalah tangan kanan Pak Hendrawan, dimutasikan tiga tahun lalu oleh sang papa menjadi asisten Celine untuk mengarahkan dan mempermudah pekerjaan Celine. Pengalaman yang dimiliki Ardy terbukti banyak membantu Celine. Celine sangat menghormati Ardy, walaupun usia Ardy dan Celine terpaut hanya lima tahun. Hubungan mereka yang akrab juga membuat keduanya saling menyapa lebih dekat daripada hubungan atasan dengan karyawan.


 


“Lumayan, Ar. Tuh, masih ada yang menunggu antrian.” Sahut Celine sambil melirik tumpukan dokumen yang belum tersentuh disudut mejanya.


 


Ardy tertawa. “Kalau mengikuti tumpukan dokumen mah ga akan habis, Cel. Dikerjakan saja pelan-pelan, di dalam jam kerja. Yang penting fokus. Setelah jam kerja, pulanglah, istirahat. Tadi siang juga kamu belum istirahat. Makan siang juga saya yang belikan dan makan di meja kerja kan?” Sambung Ardy sambil tersenyum.


 


Celine tertawa kali ini. “Aku sudah seperti kutu busuk dimeja ya?” Gelaknya. “Iya deh, sebentar lagi aku pulang. Capek banget hari ini. Otak juga penat.” Keluhnya lagi.


 


“Ok kalau begitu, aku duluan ya. Oh ya, besok Andy mau datang, kita ada meeting jam sepuluh pagi. Dia mau bahas review marketing campaign yang terakhir. Jangan kuatir, review-nya sudah selesai. Besok pagi aku kasih ke kamu, kamu pelajari setengah jam sebelum meeting juga selesai. Setelah itu tinggal aku yang presentasi, kamu tinggal back up aku saja.”


 


Celine mengangguk dan menghembuskan nafas lega. Ardy sungguh membantu penyelesaian pekerjaannya. Tinggal Celine saja yang perlu mempersiapkan dirinya untuk bertemu Andy.


 


Sebulan setelah pertengkaran mereka di café itu, Celine belum bertemu dengan Andy. Telepon dari Andy tidak pernah diterimanya, pesannya tidak dia balas. Semua meeting yang terkait Andy, diserahkan oleh Celine ke Ardy untuk diselesaikan. Entah kenapa hatinya tawar bila mengingat Andy. Karena itu Celine belum mau bertemu Andy, Celine merasa hatinya belum siap. Namun kali ini dengan alasan profesionalitas, Celine tidak dapat mengelak lagi. Biarlah, toh ada Ardy didalam meeting ini juga, jadi pasti Andy tidak bisa macam-macam padanya.


 


“Ok, aku akan datang pagi-pagi besok.” Senyumnya.


 


Ardy mengangguk, membalikkan badannya lalu melambaikan tangan. “Bye.” Ucapnya sambil beranjak keluar ruangan.


 

__ADS_1


Tinggallah Celine kembali sendiri di ruangannya. Bayangan wajah Andy terlintas sekilas, Celine teringat kenangannya dengan Andy. Ada yang menyenangkan, namun juga ada yang memberatkan hatinya.


 


__ADS_2