Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Cemburu 2


__ADS_3

Cemburu 2


Hari Minggu.


 


Nico seharian itu termenung di kamarnya. Ia tidak bersemangat, bayangan Celine dengan lelaki itu selalu melintas di benaknya. Tapi mengapa dia harus sakit hati? Celine wanita dewasa dan wanita bebas, ia berhak sepenuhnya atas jiwa dan tubuhnya sendiri. Namun entah mengapa Nico tidak rela melihat Celine disentuh lelaki lain. Mata itu, tangan itu, bibir itu, Nico selalu berharap bagian-bagian tubuh Celine itu hanya tertuju padanya. Apakah ini cinta? Aku mencintainya dan menginginkannya?


 


Memikirkan Celine, membuat Nico teringat Stella. Nico membandingkan perasaan yang ia miliki terhadap Stella dan Celine. Stella, yang tanpa bosan mengejarnya, bahkan sudah bagaikan hantu yang muncul dimana pun Nico berada; dan Celine, yang mengatakan peduli namun tindakannya seperti tidak mempedulikannya, ia begitu murahan memberikan tubuhnya pada seseorang yang belum sah menjadi suaminya.


 


Tapi seburuk apapun, hati Nico lebih sakit melihat Celine. Entah mengapa hatinya seperti telah memilih Celine. Apakah ini cobaan dalam cinta pertamanya? Cinta monyet, kalau kata orang-orang tua. Cinta anak-anak yang bertepuk sebelah tangan, cinta yang tidak serius.


 


Celine… Mengingat dan membayangkan Celine, Nico merasa ia begitu menginginkan wanita itu. Berbeda bila Stella yang sedang berada disampingnya, hatinya merasa tawar. Memang Stella juga cantik bahkan sangat memberikannya perhatian, tapi Nico tidak terlalu peduli padanya. Tapi Celine, pesan sapaan di pagi harinya saja bisa membuat Nico berjingkrak-jingkrak kesenangan.


 


Apakah aku harus mencoba berhubungan dengan Celine? Apakah laki-laki itu pacarnya? Atau bahkan calon suaminya? Bagaimana dengan perbedaan umur kami? Papa dan Mama, apa mereka mau menerima Celine? Berbagai pemikiran berkecamuk di benaknya.


 


Ting! Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dari Celine!


 


[Halo Nic, apa kabar….] Nico mendiamkannya.


 


[Nic, Kakak mau bertemu. Kamu ada waktu hari ini?] Nico menatap ponselnya sendu. Aku kangen, Kak…


 


[Nic, Kakak tunggu kamu di coffee shop supermarket jam 11 ya. Jangan ga datang.] Jari Nico sudah ingin membalas pesan Celine, namun ia tetap menahan diri.


 


[Kakak akan tunggu sampai jam berapapun kamu datang.] Nico tidak tahan lagi, ia menyambar ponselnya.


 


[Aku ke apartemen Kakak saja.] Nico membanting ponselnya dikasur, ia menyembunyikan wajahnya di diantara bantal kepala dan bed covernya. Perasaannya campur aduk, antara senang tapi sedih. Ia senang akan bertemu Celine lagi, tapi ia masih sedih membayangkan kejadian semalam.


 


Di apartemennya, Celine tersenyum membaca balasan pesan dari Nico. Dia akan menyiapkan cemilan untuk bahan mengobrol mereka nanti.


 


------


 


Jam sebelas siang, Nico sudah tiba di depan unit apartemen Celine. Seperti biasa, dia menyelinap, mengikuti penghuni lain yang menaiki lift.


 


Klik! Celine membuka pintu setelah Nico membunyikan bel. Mereka bertatapan dalam beku, canggung.


 


“Hai Nic, kenapa ga langsung masuk? Pakai bel pintu segala.” Tutur Celine sambil beranjak masuk ke apartemennya.


 


“Takut mengganggu Tante.” Jawab Nico pelan.


 


Tante? Celine terkejut dan sontak menoleh, menatap mata Nico.


 


“Tante? Kenapa kamu memanggil ‘tante’ lagi seperti dulu?”


 


“Karena aku ga berharga apa-apa buat Tante, bahkan hanya sebagai adik sekalipun. Jadi untuk apa aku panggil Tante ‘kakak’?” Jawab Nico datar. Jawaban yang membuat Celine sedih.


 


Mereka duduk di ruang tamu.


 


“Nic, kamu ga apa?” Tanya Celine sambil mempelajari wajah Nico.


 


“Aku ga apa. Kenapa?” Nico menganggapi pertanyaan Celine dengan wajah datarnya.


 

__ADS_1


“Semalam kamu kesini, kan?” Tanya Celine lembut. Celine dan Andy sempat menangkap bayangan Nico yang berlari meninggalkan apartemen Celine, bahkan Andy melihat sosok Nico dengan jelas saat Nico berlari turun di tangga darurat.


 


“Iya. Kenapa?” Nico menjawab sambil memandang wajah Celine. Sekarang Nico yang memperhatikan perubahan air muka Celine.


 


“Kamu melihat pacar Kakak? Kamu melihat kami?” Tanya Celine hati-hati. Ia tahu, hati Nico masih sakit.


 


“Iya. Tante murahan!” Akhirnya Nico meledak.


 


Celine meringis mendengar teriakan Nico. Dia menggeleng pelan.


 


“Itu bukan murahan, Nico. Kakak sudah dewasa. Kebetulan kita berbeda cara pandang terhadap cara kita menjalani hidup.”


 


“Terserah Tante saja. Yang jelas, aku ga suka perempuan yang aku suka tingkah lakunya seperti itu.” Jawab Nico tegas, masih tetap memperhatikan wajah Celine.


 


 Celine terkejut.


 


“Su… Suka? A.. Apa maksud kamu?” Celine tergetar mendengar jawaban Nico. Ia melihat ke arah Nico yang menatap yakin padanya.


 


“Iya, aku suka Tante. Aku tahu, kita berbeda cukup jauh. Halangan kita banyak, tapi aku akan memperjuangkan Tante. Itu sudah keputusanku. Aku akan berjuang supaya hubungan kita tidak ada halangan lagi. Tapi perlu aku sampaikan di sini, aku juga minta Tante berperilaku adil. Aku sedang berjuang, aku juga minta Tante tidak berpihak. Aku ga suka Tante dekat-dekat dengan Om yang semalam.”


 


Om? Celine hampir meledak dalam tawa. Entah bagaimana muka Andy bila ia mendengar ia dipanggil ‘om’.


 


“Aku ga rela, perempuan yang aku suka disentuh lelaki lain. Yang sudah lewat ya sudah, aku akan anggap sudah berlalu. Tapi mulai sekarang, aku minta Tante bisa menjaga diri. Aku akan berjuang. Aku minta Tante menunggu. Targetku di umur dua puluh lima nanti, aku sudah bisa melayakkan diri untuk Tante.” Jawab Nico tegas.


 


Celine tercenung mendengar pernyataan Nico. Kemudian ia tersenyum.


 


 


Nico tersentak mendengarnya. Ia terlalu memikirkan hatinya sendiri, dia lupa memikirkan apa yang Celine rasakan dan inginkan.


 


“Nic, Tante itu anak tunggal dan hanya anak angkat. Orang tua Tante tidak banyak menuntut ke Tante, tapi tentu saja Tante merasa harus membalas budi pada mereka. Mereka sangat baik selama membesarkan Tante. Passion mereka hanya bekerja. Jadi Tante akan membalas budi mereka melalui kerajaan bisnis mereka.” Celine memaparkan rencananya, yang sudah dipikirkannya dari dulu.


 


“Selama ini, semua sudah berjalan sesuai rencana Tante. Tante sudah menjaga perusahaan Papa dari cacing-cacing kecil yang mengganggu dan mengawasi perkembangannya juga. Lelaki yang kamu lihat kemarin, namanya Om Andy. Kami sudah berhubungan selama delapan bulan belakangan. Dia orang yang baik, dan dapat membantu perkembangan perusahaan Papa juga.” Sambung Celine.


 


“Karena itu Tante memilihnya? Demi bisnis?” Sinis Nico. Celine menghela napas.


 


“Kamu dengar ucapan Tante tadi, Nic? Dia orang yang baik. Laki-laki yang baik. Jadi Tante menerimanya karena dia memang baik, dan sampai saat ini kami cocok. Nilai tambahannya, dia cukup sukses dalam bisnis, ini poin yang dapat membantu usaha Papa.” Jelas Celine.


 


“Lelaki yang baik tidak akan menyentuh wanitanya sebelum menikah!” Sanggah Nico.


 


“Itu menurut pandangan kamu, Co. Seperti yang Tante bilang tadi, pandangan kita berbeda tentang bagaimana menjalani hidup. Kalau Tante, selama orang itu tidak bermaksud buruk kepada kita, mereka bukan orang jahat.” Kilah Celine.


 


“Tante cinta dia?” Tembak Nico.


 


Celine memutar matanya. “Cinta… Untuk Tante, cinta itu dapat tumbuh bila terbiasa dan nyaman. Kalau suka, ya, Tante suka padanya.” Jawab Celine, membuat Nico lesu. “Sampai saat ini tidak ada nilai minus dari dia, Nic. Dan apa yang kami lakukan selama ini adalah suka sama suka. Kami hanya bersenang-senang.” Lanjut Celine lagi.


 


Nico menekur menatap lantai. Mereka terdiam untuk beberapa waktu.


 


“Apa… Tante bisa memberikan kesempatan yang sama untukku?” Tanya Nico pelan. Celine menoleh.


 

__ADS_1


“Maksud kamu?”


 


Nico kembali menatap Celine. Celine melihat tekad di mata Nico.


 


“Aku minta kesempatan yang sama dengan om itu. Bila ia bisa bersama Tante, aku juga.”


 


Celine melongo.


 


“Bila ia bisa memegang tangan Tante, aku juga mau. Bila dia bisa mencium Tante, aku juga mau. Bila ia bisaa…. Tidur dengan Tante…” Bibir Nico bergetar. “Aku juga mau…”


 


Celine melotot.


 


“Pokoknya aku mau semuanya!” Pekik Nico lagi. “Termasuk kesempatan berkarier dengan Tante, aku juga mau! Aku akan buktikan, aku juga bisa! Aku masih muda dan masih belajar, itu malah keuntunganku! Aku akan buat usaha di bidang bisnis yang juga bisa mendukung usaha Tante! Aku akan berjuang, kita akan serasi dan cocok. Aku akan layak untuk Tante.” Tegasnya lagi.


 


“Tante bilang, cinta bisa tumbuh karena nyaman dan terbiasa kan? Aku minta kesempatan itu, Tante. Aku akan berusaha mendampingi Tante, aku akan membuat Tante nyaman dan terbiasa dengan keberadaanku. Aku akan…”


 


Nico berhenti bicara ketika melihat Celine meneteskan air matanya.


 


“Tante… Tante kenapa? Kenapa Tante menangis?” Bingung Nico.


 


“Kamu… Kamu serius? Apa kamu mencintai aku sejauh itu? Masa depan kamu masih sangat panjang, Nic. Pilihan kamu masih sangat banyak.” Gagap Celine, suaranya bergetar menahan tangis.


 


Nico berdiri dari sofanya, perlahan dia berjalan menghampiri Celine. Dia duduk disamping Celine, menghapus setitik air mata Celine yang sempat menetes.


 


“Aku serius, Tante. Aku akan berjuang, berjuang keras. Aku hanya minta satu hal dari Tante. Beri aku waktu. Jangan cepat memutuskan apapun tentang om itu, Tante. Tolong tunggu aku. Tunggu aku mengembangkan usahaku sampai aku pantas mendampingi Tante. Saat itu, Tante bisa dengan bangga memamerkan aku ke sekeliling Tante, bahwa aku pasangan yang cocok untuk Tante.” Tutur Nico lembut, lalu ia meraih kepala Celine dan menyandarkannya ke dadanya. Memeluknya, lalu mengelus-elus rambutnya lembut.


 


Celine mulai terisak. Selain dari papa dan mamanya, baru kali ini dia merasakan kasih sayang yang tulus. Kasih sayang Nico berbeda dengan kasih sayang yang selama ini diberikan oleh Andy. Dengan Andy, Celine merasa nyaman, namun masih ada beberapa ketidakcocokan yang masih ia cari jalan keluarnya. Sifat Andy yang agak arogan dan pencemburu membuat Celine selalu berfikir dua kali sebelum berbicara dan bertindak di depan Andy.


 


Celine masih menikmati belaian Nico di kepalanya. Tiba-tiba, Nico berbisik di dekat telinganya.


 


“Tante, ijinkan aku tetap memanggil Tante sebagai ‘tante’ ya. Aku nggak mau panggil ‘kakak’ lagi, karena aku ga mau dianggap sebagai adik. Seorang adik tidak akan pernah memiliki kakaknya. Aku akan memanggil ‘tante’, supaya aku selalu diingatkan akan target hidupku, supaya dimasa depan aku bisa memanggil Tante dengan sebutan ‘sayang’…”


 


Celine langsung memeluk erat pinggang Nico. Nico memang sudah membuatnya nyaman. Kepolosan dan kelembutannya sudah menyentuh hati Celine. Ia merasa bebas berekspresi dan bertindak bila didepan Nico. Celine berharap keadaan ini tidak akan berubah selamanya.


 


“Nic, sudah mau makan siang? Aku sudah masak.” Ajak Celine, ia mengangkat wajahnya dari dekapan Nico dan memandang wajah Nico.


 


“Boleh, Tan, aku lapar.” Jawab Nico. “Gara-gara patah hati semalam, pagi ini aku ga semangat sarapan.” Sambungnya.


 


Celine tertawa. Mereka berjalan menuju dapur. Nico menyambar tangan Celine dan menggandengnya. Celine hanya menengok sekilas lalu terus berjalan, membiarkan Nico menggengam tangannya.


 


Celine mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Nico.


 


“Makan yang banyak, biar gizinya cukup, sekolahnya pintar, dewasa jadi pengusaha sukses dan bisa bahagiakan aku dimasa depan.” Ujar Celine sambil menyodorkan piring yang hampir penuh dengan menu makan siang hasil masakannya. Wajahnya merona, ia agak malu karena merasa telah berusaha menggombali Nico.


 


Nico menyambutnya sambil tersenyum. “Siap Tan, aku akan belajar dengan rajin. Tante lihat saja, target kita akan tercapai.” Ucapnya sambil mengepalkan tangan kirinya, lalu tangan kanannya mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. “Uh, nikmatnya masakan calon istri…” Ujarnya sambil mengedipkan matanya genit.


 


Celine tergelak. “Hus, Nico! Genit kamu ya, belajar dari mana?” Nico menggeleng-gelengkan kepala sambil menggerakkan bahunya, membuat Celine semakin keras tertawa. Mereka menikmati makan siang sambil ngobrol dan tertawa.


 


 

__ADS_1


__ADS_2