Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Curahan Hati 2


__ADS_3

Celine masih terdiam mendengar pengakuan Nico.


 


“Kamu… Kangen aku?” Tuturnya terbata-bata.


 


Nico menganggukkan kepalanya.


 


“Sangat, Kak. Sangat. Aku sudah pergi jauh ke berbagai kota, berbagai pulau. Aku tidak punya banyak teman dekat, karena Papa hanya sebentar-sebentar saja di kota itu. Aku hanya punya satu kenangan dengan perempuan bernama Stella yang tidak kukenal wajahnya, tapi selalu berkesan manis di hati. Aku rindu, tapi tidak tahu apa yang kurindukan. Sekarang, aku merasa benar-benar pulang ke rumah…” Tanpa terasa, air mata mengalir di pipi Nico. Ia benar-benar merasa bebas dari sesuatu, entah apa, yang selama ini menghimpit dirinya.


 


Celine sangat tersentuh mendengar pengakuan Nico. Baru saat ini ia mendengar seseorang merindukannya dengan begitu tulus. Dengan posisinya sebagai anak pemilik perusahaan maupun sebagai seorang wanita, orang-orang yang berada di sekitarnya lebih banyak menampakkan wajah palsu dan mencari keuntungan darinya. Celine sangat terharu, ia mendekat ke Nico yang masih berbaring di ranjangnya, merengkuh tubuh Nico dan memeluknya.


 


“Terima kasih ya Nic, Kakak belum pernah menemukan kasih sayang setulus kasih sayang kamu untuk Kakak. Jangan khawatir ya, mulai saat ini Kakak akan selalu menemani kamu. Kalau ada sesuatu yang kamu perlukan atau sekedar ingin sharing, ga apa, bilang saja ke Kakak. Kakak akan selalu meluangkan waktu dan tenaga untuk kamu.” Celine menenangkan Nico dengan mengelus-elus punggungnya.


 


Nico terdiam dalam pelukan Celine, menikmati hangatnya pelukan Celine dan elusan di punggungnya. Tubuhnya yang lebih besar dari Celine agak mengkerut, seperti berusaha mengecil agar muat bersandar di dada Celine. Celine seperti menemukan adik kecilnya yang hilang selama ini. Ia terus mengelus punggung Nico, dan perlahan jari-jarinya merambat naik membelai rambut Nico. Kini wajah Nico sudah tersembunyi di cerukan leher Celine.


 


Mereka berpelukan dalam kesunyian, hingga akhirnya Celine menyadari bahwa Nico telah tertidur. Dengan perlahan, ia membaringkan Nico kembali dan menyelimutinya. Celine memandangi wajah Nico yang tertidur dengan kedamaian. Tiba-tiba Celine terbayang wajah Stella. Kira-kira apa rencana Stella yang melibatkan Nico? Apakah Stella tahu masa laluku dengan Nico, jadi dia menargetkan Nico sekarang? Tidak mungkin Stella suka pada Nico yang umurnya jauh dibawahnya, bila dia tidak ada maksud tertentu pada Nico. Berbagai pikiran berkecamuk di benak Celine.


 


Celine sudah tahu betapa liciknya Stella. Hubungan mereka yang dulu baik, lalu perlahan-lahan hancur karena rasa iri hati Stella. Saat itu orang tua Stella sangat menyayangi Celine, tanpa Stella tahu bahwa orang tuanya memiliki maksud pada Celine, yaitu menguasai perusahaan papa Celine. Selain itu, Celine yang lebih cantik dan baik hati dari Stella juga lebih menarik perhatian orang-orang. Rasa iri hati ini membuat Stella akhirnya bertindak selalu ingin menjatuhkan Celine  dan menjelek-jelekkan Celine. Namun di lain pihak, Stella selalu memperhatikan Celine dan meniru apapun yang Celine lakukan, lalu menarik perhatian orang-orang yang menyayangi Celine.


 


Melihat ini, Celine memutuskan untuk menjauhi Stella. Namun setelah beberapa tahun terpisah karena Celine mulai bekerja dan Stella menempuh pendidikan di Jogja, kini mereka dipertemukan di apartemen yang sama. Celine mencurigai Stella kembali memata-matainya, entah apa tujuannya. Dari sedemikian luasnya Jakarta, sungguh mencurigakan bila mereka bisa dipertemukan di pemukiman yang sama. Suatu kebetulan yang terlalu kebetulan. Apakah ini direncanakan oleh Stella? Apakah mungkin dendam dan irinya belum terbalaskan?


 


Beberapa kali mereka pernah berpapasan di lobby apartemen, mereka hanya saling melihat. Bila bertegur sapapun, hanya sekilas. Sungguh tidak seperti saudara.


 


Celine mengelus-elus rambut Nico. Nico tetap tidur, tidak bergerak. Aku akan menjagamu, Sayangku, gumam Celine. Hati Celine menghangat, dia merasa sangat sayang pada Nico.


 


-----


 


Nico terbangun pukul tiga sore dan kembali ke apartemennya pada pukul enam sore. Ia merasa kondisi tubuhnya sudah lebih baik dan lebih segar berkat perawatan Celine.

__ADS_1


 


Saat menuju lift di lobby apartemennya, Nico dikejutkan dengan suara seseorang yang memanggil namanya. Nico menoleh, dan terkejut melihat Stella yang sedang berjalan cepat menghampirinya.


 


“Eh, halo Bu, selamat sore.” Sapa Nico gugup.


 


“Halo, halo… Sore, sore…” Stella mengomel. “Kamu katanya sakit, tapi kenapa malah kemana-mana? Katanya mau istirahat saja di apartemen? Ditelepon juga ga bisa, dikirimi pesan ga dibaca dan ga dibalas. Kamu kemana saja sih?” Cecar Stella sambil menatap Nico dengan tajam, membuat Nico semakin gugup.


 


“Ehh, habis cari makan siang, Bu. Badan sudah enakan, jadi saya cari makan siang dulu.” Nico *******-***** jarinya sendiri, dia takut ketahuan bohong oleh Stella.


 


“Makan siang? Jam segini?” Stella semakin melotot.


 


“Ehh, iya Bu, tadi saya ketiduran, bablas sampai sore. Kan lagi istirahat sakit Bu, jadi ketiduran, hehe..” Nico tertawa gugup, berusaha agar Stella bisa lebih santai dan menerima penjelasannya.


 


“Lah, katanya ada mama kamu. Masa mama kamu ga masak, kan anaknya lagi sakit?” Stella semakin penasaran. Ia merasa Nico sedang menutupi sesuatu.


 


 


Stella memicingkan matanya. Ia memandang wajah Nico, lalu memandang Nico dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nico semakin gugup, ia merasa Stella akan menemukan kebohongannya. Untung saja tadi dia tidak menuruti perintah Celine untuk mandi dulu sebelum pulang. Kalau dituruti, mau alasan apa lagi dia? Restoran mana yang menyuruh pelanggannya mandi dulu sebelum pulang?


“Kamu jujur kan? Kamu ga lagi bohongin saya kan?” Tembak Stella lagi. Nico secara spontan langsung mengangkat dua jari tangan kanannya, membentuk huruf V.


 


“Suer Bu, ga bohong. Hehe…” Duh Tuhan…


 


Stella menghela napasnya, lalu kembali melihat Nico dengan tatapan yang lebih teduh dari sebelumnya.


 


“Ya sudah, badan kamu sudah enakan? Mau ke apartemen saya? Kita makan dulu, saya siapkan bubur supaya kamu cepat sembuh.” Ajaknya.


 


“Ngg, ga usah Bu, sudah jauh enakan dan sudah makan, hehe… Saya mau pulang dan mandi saja, Bu, sudah kesorean. Lagi sakit kan ga boleh mandi malam-malam, hehe…” Kembali Nico membuat alasan agar ia dapat segera pulang ke apartemennya.


 

__ADS_1


Stella terlihat kecewa, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


 


“Ya sudah, kamu pulang saja dan istirahat. Besok sekolah kan? Kita berangkat bareng seperti biasanya, ya?”


 


Nico menganggukkan kepalanya. “Siap, Bu.” Jawabnya sambil memberi hormat, seperti petugas upacara. Stella tersenyum, lalu membalikkan badannya dan berjalan keluar dari lobby apartemen Nico. Nico menghela napas lega, ia puas bisa lepas dari Stella kali ini.


 


-----


 


Stella kembali ke unit apartemennya. Dia tahu Nico menyembunyikan sesuatu, namun Stella sendiri belum pasti apakah itu. Sampai saat ini Stella mencurigai Nico sudah berhubungan akrab dengan Celine.


 


“Bagaimana cara supaya aku bisa mempertahankan Nico?” Gumamnya. Sesaat kemudian, wajah Andy terbayang dimatanya.


 


Dia ingin memanfaatkan Andy untuk menyakiti Celine. Tapi bila dia dekat dengan Andy, apakah Nico akan tersakiti? Sampai saat ini, Stella tidak dapat memastikan perasaan Nico kepadanya. Frekuensi pertemuannya dengan Nico pun sudah mulai berkurang, kelihatannya Nico sudah berhasil beradaptasi dengan lingkungan baru di sekolahnya.


 


“Aku harus tetap dekat dengan Nico.” Gumamnya lagi. “Aku akan coba mendekati Andy tanpa sepengetahuan Nico. Aku mau semua orang menjauhi Celine.” Lanjutnya lagi.


 


Stella segera mengambil ponselnya. Dia ingin kembali mendekati Nico.


 


[Co, sudah tidur?] Sapanya.


[Halo, Bu. Belum bu, masih menyiapkan pelajaran untuk besok.] Nico langsung menjawab pesan Stella. Stella tersenyum.


[Mau saya bantu? Saya ada di apartemen, datang saja kalau perlu extra.] Pancingnya.


[Terima kasih Bu, tapi ga usah dulu untuk malam ini. Saya sedang menunggu papa saya pulang Bu, mau kumpul keluarga.] Balas Nico.


Alasan lagi, pikir Stella.


[Tapi Ibu bawa soal ujian yang tadi. Kamu ga mau latihan dulu?] Stella masih mencoba agar Nico menghampirinya.


Lama Nico tidak menjawab sampai akhirnya Stella ketiduran sambil meletakkan ponsel di dadanya.


 


Ketika pagi harinya, Stella baru membaca pesan dari Nico. [Terima kasih, Bu. Saya belum pegang Fisika dulu, Bu, masih pusing.]

__ADS_1


 


Stella kembali menggerutu. 


__ADS_2