Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Kenangan Indah Bersamamu


__ADS_3

Selama beberapa hari ini, Nico terus memperhatikan wali kelasnya. Ia bahkan pernah nekat menyelinap naik ke lantai tiga Tower Adeline sambil membuntuti Stella. Hasilnya, Stella memang menempati unit nomor sembilan di tower tersebut. Ia juga berkali-kali naik ke lantai sepuluh, namun unit apartemen itu seperti tidak berpenghuni.


 


Nico tidak patah semangat. Ia yakin, ada hubungan antara Stella wali kelasnya dan Stella yang selama ini dia cari. Karena itu, Nico mulai mencari informasi sebanyak-banyaknya dari orang-orang yang kemungkinan besar mengenali Stella. Orang pertama yang menjadi sasarannya adalah mamanya.


 


“Ma, dulu sesayang apa sih aku ke tetangga itu?” Tanya Nico saat sore hari sambil memperhatikan mamanya yang sedang sibuk mempersiapkan makan malam.


 


“Kenapa kamu, penasaran?” Senyum mama. “Sayang banget, kamu mah. Kalau Mama ijinkan, mungkin kamu sudah pindah apartemen ke apartemen perempuan itu.” Tambah mama sambil tertawa.


 


Nico tersenyum tipis mendengar penuturan mamanya.


 


“Umur berapa dia, Ma?” Tanyanya lagi.


 


“Waktu itu mungkin sekitar awal dua puluhan ya. Dia baru lulus kuliah, kerja jadi sekretaris di perusahaan kontraktor yang ada di deretan ruko sana. Kalau dulu misalnya umur dua puluh dua, berarti sekarang sekitar tiga puluh enam ya. Sudah menikah, kali. Patah hati ga kamu, Co?” Tawa mama, meledek Nico.


 


“Idih si Mama, memangnya aku mau nikah sama dia? Ini kan cuma penasaran, Ma. Udah lama ga ketemu, kan.” Kilah Nico.


 


“Ah, kamu. Nanti ketemu malah kepincut.” Senyum mama lagi. “Dia cantik loh, seperti boneka. Eh, Mama baru ingat. Kamu dulu sering panggil dia ‘Ella, Ella.’ Apa ini maksudnya Stella? Padahal namanya bukan Stella loh, Mama yakin!” Tegas mama.


 


Nico terkejut karena topik bahasan dari mamanya mendadak beralih ke Stella.


 


“Jadi namanya siapa sebenarnya, Ma? Selama ini yang aku ingat cuma nama ‘Stella’, tapi Mama yakin namanya ada unsur ‘Lin’ bukan?”


 


“Iya, Mama yakin namanya bukan Stella. Tapi dulu kamu yang sering panggil dia Ella. Kamu yang kasih dia nama Stella, kali.” Timpal mama.


 


Nico menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukannya mendapat keterangan tambahan yang memberi titik terang, yang ada kepalanya makin pusing mendengar informasi baru ini. Akhirnya Nico memilih beranjak ke kamarnya, ia mau tiduran saja sambil menunggu waktu makan malam.


 


-----


 


Tok… Tok…


 


“Nico? Makan, Co!” Panggil mama dari depan pintu kamar Nico. “Papa sudah tunggu di meja makan, ayo keluar, Co.” Timpalnya lagi.

__ADS_1


 


“Iya, Ma.” Nico beranjak keluar dari kamarnya. Dan benar saja, papanya sudah terlihat duduk di kursi meja makan, sedang menuangkan air minum ke gelas-gelas anggota keluarganya.


 


Ditengah kegiatan makan malam, Nico kembali mulai bertanya tentang kisah masa lalu, mengenai tetangga sebelah mereka.


 


“Papa ga ingat namanya, Co. Tapi memang seperti yang Mama bilang, kamu sering sebut panggil dia Ella.”


 


“Seperti apa sih orangnya, Pa?” Tanya Nico semakin penasaran.


 


“Cantik.” Jawab papa spontan. Setelah sadar, segera ia melirik istrinya. Mama melengos, segera berdiri dan mengangkat piring kotor dengan bibir mengerucut. Nico tergelak, sudah terbayang nanti malam akan ada perang dingin antara kedua orang tuanya.


 


“Ah, kamu ini mancing-mancing saja!” Gerutu papa gusar. “Alamat Papa puasa deh malam ini!”


Tawa Nico semakin kencang.


 


“Cantikan mana sama Mama, Pa?” Godanya.


 


Papa tidak menjawabnya, beliau malah membuang muka. Nico merubah air mukanya, berusaha agar lebih serius agar papanya bersedia memberi tambahan informasi untuknya.


 


 


“Ah kamu, Papa baru bilang dia cantik saja, mama kamu sudah ngambek begitu. Apalagi kalau Papa punya fotonya, bisa perang dunia!” Sungut papa.


 


“Jadi bagaimana, Pa?” Keluh Nico. “Bantu Nico dong, Pa, masa belum apa-apa Nico sudah mentok begini sih? Nico penasaran sekali dengan Stella ini, Pa. Sejak lama loh Nico ingat Stella. Apa Papa ga penasaran siapa itu Stella yang sering Nico sebut?” Nico terus berusaha agar papanya bersedia memberikan solusi.


 


Papa memandang Nico serius.


 


“Hm, sekilas Papa masih ingat. Dia benar cantik loh, Co, seperti artis-artis Korea itu. Kulitnya putih, tingginya kira-kira 165 cm. Rambutnya panjang, lurus.” Bisik papa, sepertinya takut kedengaran mama.


 


“Begini saja, coba minta tolong mama kamu. Mama kan kenal dengan perempuan itu, coba saja bel apartemennya. Jadi kamu ga perlu main detektif-detektifan begitu.”


 


“Nico sudah pernah bel apartemennya, Pa. Tapi ga ada yang membukakan pintu.” Keluh Nico.


 

__ADS_1


“Coba lagi, siapa tahu di hari lain pintunya dibuka. Mungkin saat itu perempuan itu tidak dirumah.”


 


Nico termenung mendengar usul papanya. Dia berniat akan mencoba lagi, mengetuk pintu apartemen Tower Adeline unit sebelas. Mudah-mudahan kali ini Dewi Fortuna berpihak padanya.


 


-----


 


Beberapa minggu kemudian, pagi hari. Karena kesibukan sekolahnya sudah dimulai, Nico sudah tidak seintens dulu untuk melacak Stella. Mereka hanya sebatas bertemu di sekolah, namun Nico merasa Stella sangat baik dan perhatian padanya melebihi pada teman-teman lain sekelasnya.


 


Nico sudah siap untuk berangkat ke sekolahnya. Dia sudah duduk diatas motor baru pemberian papanya. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya sehingga Nico menoleh.


 


“Selamat pagi. Mau berangkat ya? Saya boleh barengan?” Stella sudah berpakaian rapi dengan kemeja berwarna merah muda, rok span hitam, sepatu pantofel dan menjinjing tas tangannya, berdiri di samping motor Nico. Nico sambil memegang helmnya, tersenyum melihat Stella.


 


“Pagi, Bu. Boleh Bu, setiap hari nebengnya juga boleh.” Jawab Nico sambil tertawa.


 


“Wah, benar ya Co? Lumayan nih, betis Ibu ga terlalu kencang kalau dapat tumpangan tiap hari.” Jawab Stella sambil duduk menyamping di boncengan motor Nico. Tangannya merangkul pinggang Nico hingga telapak tangannya menyentuh perut rata Nico, dan tangan satu lagi memegang tasnya yang diletakkan di pangkuannya. Rangkulan Stella membuat darah Nico berdesir. Duh Bu, coba turun sedikit Bu, gumam Nico sambil pikirannya mengawang kemana-mana.


 


“Jangan ngebut ya, Co.” Pesan Stella sambil mengeratkan rangkulannya. Nico semakin merasa diawang-awang.


 


Mereka pun berangkat ke sekolah bersama sambil ngobrol. Karena sambil berboncengan, Stella meletakkan kepalanya di atas bahu Nico. Walaupun tidak sampai menempel, tapi Nico masih dapat mencium harum rambut Stella.


 


“Bagaimana pelajaran kamu, Co? Ada kesulitan ga?”


 


“Lumayan Bu, mungkin karena perbedaan cara pembelajaran yang buat saya agak sulit menangkap inti pelajarannya. Mungkin masih perlu adaptasi lagi.” Papar Nico.


 


“Kamu mau Ibu bantu? Kalau bisa Ibu bantu, Ibu akan bantu. Tapi jangan kasih tahu teman-teman kamu ya, sebenarnya Ibu tidak boleh buka kelas tambahan untuk anak didik Ibu sendiri. Tapi kalau private untuk kamu, Ibu bisa bantu.”


 


Nico tertegun mendengar penawaran dari ibu wali kelasnya. Terus terang selama beberapa bulan bersekolah di sekolah baru ini, Nico punya ketertarikan kepada Stella. Selain masih tampak muda, cantik dan selalu rapi, ia juga sangat ramah, terutama kepada Nico. Namun karena umur mereka yang berbeda jauh, Nico masih menahan perasaannya. Dilain pihak, penawaran Stella ini membuka kesempatan Nico untuk lebih dekat dengan Stella.


 


“Kalau Ibu ga keberatan, saya akan berterima kasih sekali, Bu.” Sahutnya senang namun agak ragu. Stella tersenyum mendengar tanggapan Nico.


 


“Kalau begitu, info saja kamu mau hari apa saja ya. Ibu available setiap jam enam sore keatas.”

__ADS_1


 


Nico tertegun lagi. Pelajaran sore menjelang malam? Nico mengangguk, namun hatinya kembali bergetar.


__ADS_2