Tunggu Aku, Tante

Tunggu Aku, Tante
Menarik Perhatian


__ADS_3

Hari Senin pagi, di parkiran motor apartemen.


 


“Halo Co, selamat pagi.”


 


Sebuah suara lembut membuat Nico menoleh. Dilihatnya ibu wali kelasnya sudah berdiri di samping jok belakang motornya sambil menenteng tas kerjanya, siap berangkat ke sekolah. Nico tersenyum.


 


“Selamat pagi, Bu. Silakan Bu, mau kita berangkat sekarang?”


 


Stella tersenyum dan mengangguk. Melihat senyum Stella, Nico teringat adegan saat Stella mabuk pada Sabtu malam kemarin. Jantung Nico berdebar-debar lagi mengingat hal itu.


 


Apa perlu aku tanyakan tentang Celine ke Stella? Mumpung sekarang cuma berdua, batinnya.


 


“Ibu sudah baik-baik saja?” Tanya Nico membuka percakapan. Saat ini mereka sudah berboncengan menuju sekolah.


 


“Saya baik. Kenapa, Co? Oh, pasti yang gara-gara saya mabuk Sabtu kemarin ya?” Stella tertawa. “Saya sudah ok kok. Sudah selisih dua hari juga kan? Maaf ya, saya kalau mabuk memang agak malu-maluin. Kamu ga kenapa-kenapa kan, Co?” Sambung Stella lagi sambil tertawa.


 


“Saya ga apa, Bu. Cuma Ibu menyebutkan nama seseorang saja. Boleh saya tanya tentang orang itu, Bu?” Tanya Nico hati-hati.


 


“Oh ya? Nama siapa?” Tanya Stella lagi.


 


“Celine.”


 


Wajah Stella berubah. Dia melirik ke Nico sambil mengatupkan rahangnya. Jemari tangannya yang sedang memegang tas dipangkuannya kini meremas tasnya itu. Kemudian dia menghela napas.


 


“Ya sudah, kamu mau tanya apa?”


 


“Siapa Celine, Bu?”


 


Stella menghela napasnya lagi.


 


“Sekarang masih pagi. Bisa mampir ke minimarket di ruko depan? Kita sarapan dulu saja. Ibu akan jawab yang ingin kamu tanyakan.


 


Nico menganggukkan kepalanya. Ia mengarahkan motornya untuk parkir di sebuah minimarket yang terletak di kompleks ruko didepan mereka, sebuah minimarket yang menyediakan snack siap saji.


 


Mereka berdua kini duduk berhadapan sambil menikmati kopi.


 


“Maaf sebelumnya Bu, bila kesannya saya ingin tahu.”


 


“Celine itu saudara sepupu saya. Kami hanya berbeda umur tiga tahun, saya lebih muda dari Celine. Celine lebih segala-galanya dari saya. Lebih cantik, lebih pintar, lebih berbakat. Semua orang lebih sayang padanya, bahkan sampai orang tua saya. Mereka selalu membanding-bandingkan saya dengan Celine, padahal Celine hanya anak angkat.”


 


“Maaf Bu, Celine saudara Ibu ini apakah Celine yang tinggalnya di apartemen yang sering saya datangi?”


 

__ADS_1


Stella tersentak. “Kamu tahu dari mana?” Segera setelah ucapan tersebut keluar, wajah Stella berubah menyesal. Ia telah keceplosan.


 


Wajah Nico juga berubah.


 


“Jadi selama ini Ibu tahu Celine yang saya cari? Kenapa Ibu tidak beri tahu ke saya, Bu? Padahal Ibu tahu saya mencarinya, saya menceritakan semuanya ke Ibu. Ibu tahu kan betapa sulitnya saya mencari informasi mengenai Celine? Tidak cuma sehari dua hari Bu, sudah beberapa bulan kita selalu menggedor pintu apartemen itu.”


 


Stella bisa merasakan kekecewaan dalam suara Nico. Nico merasa dibohongi. Stella adalah orang pertama yang mengetahui segala kegundahan Nico tentang masa lalunya, namun ia bukan membantu mengungkapnya, malah menutupinya.


 


“Ibu minta maaf Co, bukannya Ibu tidak terbuka selama ini ke kamu. Tapi lebih baik kamu tidak usah mengenal Celine. Dia bukan perempuan yang baik.”


 


Bayangan Celine yang sedang berciuman di klub malam melintas di kepala Nico.


 


“Terlepas dia perempuan yang baik atau bukan, itu bukan urusan kita, Bu. Saya mencari dia karena ada kenangan di antara kami.”


 


“Tapi dia akan memberi pengaruh buruk ke kamu nantinya, Co.” Stella berkeras membenarkan tindakannya selama ini.


 


Nico menggelengkan kepalanya.


 


“Mulai sekarang, saya yang akan menyelidiki Celine sendirian, Bu. Saya juga sudah dapat nomor teleponnya.”


 


Stella tersentak lagi.


 


“Dapat darimana?”


 


 


“Kamu sudah ketemu Celine? Dimana? ”


 


“Kemarin kami ga sengaja bertemu di supermarket. Mama yang mengenalkan kami berdua. Tante Celine sudah memberikan nomor ponselnya ke saya.”


 


Stella terdiam. Di dalam hatinya, ada setitik kekecewaan yang muncul. Ia merasa perhatian Nico akan segera beralih ke Celine.


 


Nico melirik ke Stella. Ia masih kesal, tapi juga sedikit tersentuh melihat Stella yang menjadi lebih diam.


 


“Jangan khawatir Bu, saya akan baik-baik saja. Saya hanya ingin mengingat memori saya dengan Tante Celine saja. Dulu ia orang yang baik.”


 


“Tapi nanti kamu akan lebih perhatian ke dia. Awalnya hanya ingin tahu, setelahnya kamu lebih dekat dengan dia. Seperti orang-orang lain, semua lebih sayang Celine daripada saya.” Stella menjawab Nico dengan sendu.


 


Bu Stella cemburu? Kali ini bayangan ciuman panas mereka di kamar Stella melintas di pikiran Nico. Apa Bu Stella suka padaku? Dan aku sendiri bagaimana, apa aku juga suka kepadanya seperti seorang pria ke wanita? Kali ini Nico yang terdiam, dia menelaah sendiri pemikirannya. Bayangan betapa sexynya Stella malam minggu kemarin juga terbayang kembali di benak Nico. Apakah Stella benar-benar suka padanya? Tapi mereka adalah guru dan murid, apakah pantas bila mereka bersama?


 


Diamnya Nico dianggap Stella sebagai pembenaran atas perkiraannya. Ia segera berdiri, wajahnya keruh.


 


“Saya jalan kaki saja. Sudah dekat ke sekolah.” Stella berjalan cepat menjauhi tempat mereka duduk. Nico bergegas berdiri dan mengejar Stella.

__ADS_1


 


“Bu, Bu, jangan begini. Ayo saya antar. Tadi dari apartemen kan kita barengan, masa sampai sini saja, ke sekolahnya kita pisah?” Kejar Nico.


 


“Ga apa, saya sudah biasa sendiri. Kamu kejar Celine saja sana, ga usah mikirin saya lagi!”


 


Loh, ngambeknya kok kayak pacar? Pikir Nico semakin kebingungan. Kalau dia ngambeknya kayak pacar, ya sudah aku perlakukan seperti pacar saja kali ya?


 


Nico memberanikan diri meraih tangan Stella. Stella menoleh ketika merasa jari tangannya digenggam oleh tangan Nico yang lebih besar dari tangannya dan hangat.


 


“Jangan begini, Bu. Kita sama-sama ke sekolah, ya? Saya ga akan beralih secepat itu ke Tante Celine, saya hanya mau tahu tentang dia. Hanya ingin tahu, Bu. Saya akan tetap di samping Ibu.” Nico berkata pelan sambil mengiringi langkah Stella yang mulai melambat.


 


“Betul? Kamu janji akan tetap di samping saya?” Stella memastikan sambil melihat mata Nico. Nico mengangguk sambil menunduk.


 


“Ya sudah, ayo kita ke sekolah. Sudah mulai siang. Nanti sore kita pelajaran extra lagi ya?” Tutur Stella sambil berjalan perlahan, tanpa melepaskan genggaman tangan Nico.


 


 


Duh bagaimana ini, keluh Nico dalam batinnya. Aku terjebak cinta Ibu Guru…


 


-----


 


Nico telah memutuskan, ia harus berbicara juga dengan Celine. Rasa tidak suka Stella kepada Celine, membuat Nico tidak dapat mempercayai Stella lagi untuk segala yang berhubungan dengan Celine.


 


[Selamat sore, Kak. Sedang sibuk?] Nico menghubungi Celine lewat aplikasi hijau di ponselnya.


 


[Sore juga, Nic, masih di kantor nih. Ada apa?] Balas Celine.


 


[Pingin ngobrol-ngobrol saja, Kak. Kakak ada waktu kapan? Nico datang saja ke apartemen Kakak, mau nostalgia, hehehe…] Balas Nico.


 


[Oooo, boleh. Tapi saya selalu pulang malam, loh. Kalau hari Sabtu saja gimana? Sekitar jam dua sore?] Celine dengan cepat membalas pesan Nico.


 


[Jam dua sore apa ga kesorean, Kak? Kalau pagian bagaimana, sekitar jam sembilan?] Nico ingin berlama-lama di apartemen Celine, banyak yang ingin ditanyakannya. Bila jam dua siang dirasanya akan terlalu cepat berlalu ke malam hari.


 


[Takut Kakak belum bangun, Nic, hehehe… Biasa Kakak kalau Jumat malam pulang lebih larut dari biasanya.]


 


Ke klub malam dulu ya, Kak? Nico bertanya dalam hati. Pikirannya sudah negatif saja bila Celine mengatakan bahwa ia akan pulang malam.


 


[O ya sudah, ga apa Kak. Memang kalau hari biasa Kakak pulang jam berapa?]


 


[Kalau hari biasa bisa sekitar jam sepuluh atau sebelas malam, kalau weekend bisa subuh.]


 


Masih ingat pulang, Tante? Pikir Nico sendu. Mungkin betul kata Stella, Celine bukan perempuan baik-baik.


 

__ADS_1


Nico sudah tidak membalas pesan Celine lagi. Hatinya kecewa, wanita yang disayangnya pada saat ia masih kecil, ternyata begitu murah menjajakan dirinya.


 


__ADS_2