
Terdapat rapat besar di kantor Celine. Rapat keluarga Hendrawan sudah seperti dipindahkan ke kantor.
Pemimpin tertinggi adalah Bapak Michael Hendrawan yang menduduki jabatan CEO, didampingi wakilnya yaitu Celine dan asisten ahlinya, Ardy. Pak Michael yang lebih akrab dipanggil Pak Hendrawan, adalah anak pertama di keluarga Hendrawan. Perusahaan pengalengan yang dijalankannya saat ini adalah murni perusahaannya yang dirintis sejak ia muda. Ayahnya hanya menyetorkan saham minimal di perusahaan itu, karena itu kekuasaan tertinggi tetap ditangan Pak Hendrawan.
Si anak nomor dua yang juga menduduki jabatan General Manager, Bapak Robert Hendrawan, hadir untuk memberikan masukan-masukan terhadap program yang akan dimerealisasikan keputusan rapat nantinya. Ia didampingi calon menantunya, Andy, yang juga merupakan seorang pengusaha teh kemasan yang sedang dikembangkan kemasan dan marketingnya oleh Celine dan team.
Si anak nomor tiga, yang tidak berkecimpung di perusahaan Pak Hendrawan, bernama Pak Markus Hendrawan. Ia memiliki perusahaan expor impor yang berpusat di Surabaya. Kali ini dia hadir untuk bekerjasama dengan perusahaan Hendrawan untuk memasarkan produk-produknya keluar negeri.
Dalam meeting tersebut, tatapan persaingan dan antipati masih terasa. Rasa cinta yang pernah ada, juga terasa. Pak Hendrawan menatap satu persatu rekan kerja dan anggota keluarganya. Ia memikirkan bagaimana cara membuat team ini bisa bekerja sama sedangkan aroma perang masih terasa satu sama lain.
Akhirnya meeting dimulai. Benar saja, Pak Robert mulai menyerang Celine mengenai pemasaran produk teh Andy. Celine dibela oleh Ardy. Andy memojokkan Ardy dan Celine. Yang mengejutkan, Pak Markus juga mulai menyerang Celine, menganggap apa yang dikerjakan oleh Celine dalam project teh Andy belum membuatnya layak untuk di-export.
Pak Hendrawan dan Celine saling berpandangan. Akhirnya Pak Hendrawan turun tangan, ia akan mendiskusikan plus minus project tersebut dengan Ardy dan Celine dalam meeting tersebut secara terbuka.
Celine tersenyum sinis. Perang telah dimulai.
-----
Celine membanting filenya sengit di meja kerjanya. Dia sangat kesal hasil pekerjaannya dianggap gagal oleh kedua paman dan mantan pacarnya. Untung saja ada Papa Hendrawan di meeting tersebut yang mem-backup-nya dan Ardy yang terampil menampilkan data dan membuktikan approval Andy atas segala sesuatu yang selama ini mereka kerjakan. Hasilnya, Andy tidak berkutik bila berhadapan dengan Ardy.
Ardy menyusul Celine ke ruangan kerjanya dan menenangkannya.
“Ada apa sih dengan Om Markus, Cel? Kenapa dia ikut-ikutan Om Robert jadi sinis sama kamu? Apa dia ada masalah sama kamu?”
Celine menghela napasnya. “Aku ga tahu kenapa.” Tuturnya. Celine berbohong, sebenarnya ia tahu persis mengapa Om Markus marah padanya.
**Flashback On
Hari Sabtu pagi. Seperti biasa, Nico datang ke apartemen Celine. Ia langsung naik ke apartemen Celine karena Celine telah memberikannya satu passcard.
“Tanteeee!!!” Nico menggabrukkan tubuhnya diatas tubuh Celine yang masih tidur. Dia sangat senang karena saat tiba di apartemen Celine, dia langsung disuguhkan pemandangan indah. Celine yang masih tertidur menggunakan gaun tidur yang sangat sexy sewarna dengan warna kulitnya dan selimutnya tersingkap.
“Hekk!!” Celine terkejut karena tubuhnya tiba-tiba terkungkung sebuah tubuh besar. Sebelum Celine benar-benar sadar, banjir ciuman telah menghantamnya. Diawali dari bibir, lalu merembet ke pipi, mata, telinga, rambut, leher, bahu, dada, dan terus turun menuju bagian-bagian yang semakin lama semakin sensitif. Membuat kantuk Celine perlahan hilang dan tergantikan oleh gairah. Apalagi bukan hanya ciuman, tapi tangan Nico juga sudah mulai bekerja, membelai dan meremas ke berbagai bagian tubuhnya.
Lenguhan dan bunyi cecapan mulai terdengan bersahutan di kamar itu. Celine mulai membalas ciuman dan kelembutan yang diberikan oleh Nico. Dia juga ikut membelai dan meremas bagian-bagian tubuh Nico, membuat Nico melenguh. Celine bahkan menekan kepala Nico, semakin menenggemkannya di titik-titik sensitif di tubuhnya. Kegiatan ini baru terhenti setelah mereka berdua berhasil mencapai kepuasan duniawi, namun tetap tanpa penyatuan. Mereka tetap menjaga komitmen awal mereka.
Mereka terengah-engah ketika kepuasan itu mereka dapatkan. Nico memeluk cintanya di tempat tidur sambil terus memandang matanya. Celine pun berbuat yang sama. Mereka saling berpelukan dan memandang dengan penuh cinta, sampai akhirnya mereka tertidur kembali.
Celine terbangun lebih dulu, disusul Nico. Mereka tertawa, melihat betapa berantakannya mereka berdua. Nico hanya memakai boxernya, pakaiannya yang lain berserakan di lantai. Gaun tidur Celine berkerut, terkumpul di pinggangnya dan lingerie-nya hilang semua, entah terlempar kemana.
Mereka mandi bersama sambil saling bercanda dan membahas kegiatan yang baru mereka lakukan, betapa buasnya mereka satu sama lain.
Karena tidak sempat memasak, mereka memutuskan untuk sarapan dan makan siang di mall, kemudian dilanjutkan dengan berjalan-jalan.
Pada sore harinya, mereka kembali ke apartemen Celine. Saat itu Nico kembali mengganggu dan merayu Celine, sehigga terjadilah lagi apa yang mereka lakukan tadi pagi.
__ADS_1
Pada saat Nico masih menikmati sesapannya di tubuh Celine, bel di apartemen Celine berbunyi. Celine terpaksa mendorong tubuh Nico dan menggunakan gaun tidurnya, lalu membuka pintu apartemennya.
Diluar dugaannya, Shirley menyerbu masuk. Celine yang terdorong kebelakang secara mendadak, nyaris tidak dapat menahan keseimbangan tubuhnya.
“Dimana dia? Dimana!!!” Teriak Shirley. Celine terdiam kaku, dia sangat terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.
Shirley memperhatikan penampilan Celine. Ia segera menyadari sesuatu, matanya semakin memancarkan kemarahan.
“Pelacur!” Teriaknya. Kemudian ia berlari kearah kamar Celine. Saat itulah barulah Celine tersentak dan kesadarannya kembali.
“Shirley! Jangan kurang ajar!” Teriaknya, lalu berlari menyusul Shirley. Namun terlambat, Shirley terlanjur sampai di kamar Celine dan membuka pintunya.
Brak! Pintu terbuka dan Shirley menatap pamandangan didepannya penuh kemarahan. Nico sedang berbaring di ranjang Celine tanpa menggunakan tshirt-nya.
Nico langsung terduduk, terkejut melihat kedatangan Shirley. Celine langsung mendorong Shirley untuk keluar dari kamarnya.
“Keluar kamu! Kamu ga berhak menyerbu rumah orang seperti itu!” Bentak Celine marah.
“Kalian berdua bejat!” Teriak Shirley.
“Kami dua orang dewasa! Aku dan Nico saling mencintai! Apapun yang kami lakukan, bukan urusan kamu!” Bentak Celine lagi sambil menunjuk wajah Shirley.
“Akan aku adukan pada Papa dan Om Hendrawan, supaya Om Hendrawan sadar betapa sucinya anak angkatnya!” Sinis Shirley lagi.
“Silakan! Aku bisa menjelaskannya ke Papa! Yang pasti, Nico adalah milikku! Apapun yang kamu lakukan, aku ga akan melepaskan Nico!” Balas Celine lagi.
“Aku sudah bilang, kan? Aku sudah punya jodoh.” Suara tenang Nico tiba-tiba terdengar. Shirley dan Celine menoleh.
“Perkenalkan,” ujar Nico kepada Shirley, kemudian dia melambai ke arah Celine, “Ini calon istriku.” Lanjutnya.
Celine terpaku mendengar kata-kata Nico. Ia menatap mata Nico. Nico menatapnya hangat, kemudian ia tersenyum.
Di lain pihak, Shirley merasa terbakar mendengar kata-kata Nico. Ia membanting kaki, lalu meninggalkan apartemen Celine.
Celine menghambur ke pelukan Nico setelah Shirley berlalu. Nico membelai kepala dan punggungnya, lalu mengecupi wajahnya yang penuh air mata haru. Celine sangat terharu dengan kata-kata Nico yang secara tegas memilihnya. Hilang sudah keraguannya atas perasaan Nico terhadap Shirley.
“Kita hadapi bersama. Apapun halangannya, akan kita hadapi bersama.” Bisik Nico di telinga Celine.
** Flashback off
Ardy memicingkan matanya. “Kamu yakin?”
Celine kembali menghembuskan nafasnya. Dia berkata pada Ardy, “Duduklah, ada yang mau aku ceritakan. Kemudian Celine menceritakan kisah penangkapannya sore itu kepada Ardy.
Ardy terpaku mendengar cerita Celine.
__ADS_1
“Jadi, ini dendam pribadi?” Tanyanya sambil duduk membeku.
“Ada lagi.” Sahut Celine. Lalu ia menceritakan masalah penyelewengan Stella dan Andy. Ardy menggelengkan kepalanya.
“Kacau sekali hubungan keluarga kalian.” Keluhnya.
“Ada lagi. Aku anak angkat, apa kau sudah tahu?” Ardy kembali terdiam sambil menatap Celine. “Ini yang membuat Om Robert merasa dia lebih berhak atas perusahaan ini daripada aku. Dan salahnya, kau ada di pihakku.” Celine tersenyum. Ardy terpekur sejenak menatap sepatunya.
Sesaat kemudian, ia mendongak. “Aku akan tetap ada di pihakmu. Sudah kepalang tanggung.” Katanya.
Celine tersenyum lagi. “Mau dengar satu hal lagi?”
Ardy mendelik. “Masih ada lagi? Hell, no! Sudah cukup untuk hari ini!”
Celine tergelak. “Padahal ini yang paling penting, hanya kita berdua yang bisa menyusun strategi untuk ini.”
“Oh ya? Apa?” Ardy akhirnya terpancing.
“Papa mau menjodohkan kita berdua.” Sambung Celine, membuat Ardy melongo.
“Hell, no!” Ucapnya sambil berdiri, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya keras. Celine tertawa keras. Reaksi Ardy sungguh sebuah hiburan untuknya.
“Aku ijin keluar siang ini. Aku pusing, lebih baik aku tugas luar kantor dulu. Besok pagi baru kita bahas ini lagi.” Jawab Ardy sambil melangkah keluar ruangan Celine.
-----
Keesokan harinya, pagi hari.
“Cel.” Ardy sudah duduk di hadapan Celine. Celine yang sudah duduk di kursinya, mendongak dan memandang Ardy.
“Kau sayang Nico kan?” Celine mengangguk.
“Mencintai dia?” Tanya Ardy lagi. Celine kembali menangguk.
“Kalau begitu, aku juga menolak perjodohan ini.” Kata Ardy tegas. “Tapi bagaimana cara membicarakan ini pada papamu?”
“Aku juga belum tahu,” jawab Celine, “Aku harus menunggu sampai umur Nico dua puluh lima tahun, saat dia sudah merasa pantas menghadap Papa.”
“Dua puluh lima tahun?” Kening Ardy mengenyit. “Mau jadi apa di umur dua puluh lima?”
“Jangan remehkan anak muda yang bersemangat seperti dia,” senyum Celine, “Pendidikannya untuk jadi pengusaha. Cita-citanya menjadi sesukses Andy.” Tambahnya.
Ardy berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. “Ok, kita tunggu kalau begitu.”
Celine ikut menganggukkan kepalanya. “Tugas kita saat ini adalah menjaga perasaan masing-masing, aku dan kau, supaya tidak tumbuh perasaan lebih dari sekedar partner kerja. Ingat, kita akan selalu bersama. Aku tidak mau jadi Whitney Houston dan kau Kevin Costnernya.” Celine tertawa diikuti Ardy.
“Ok, siap kalau begitu. Mari kita selesaikan pekerjaan kita.” Ujar Ardy.
__ADS_1
Dan mereka mulai mengerjakan berbagai pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu.