
Sebuah mobil angkutan umum berhenti di depan gerbang. dengan keadaan mobil yang penuh penumpang, Bella keluar dari mobil sambil membawa tas di punggungnya.
Perlahan ia mulai memasuki halaman utama panti asuhan, sembari berjalan, tiba-tiba ia berhenti di depan lampu taman saat pandangannya tertuju pada Adit dan Vivian yang sedang bermesraan. Bella hanya menatap mereka dalam diamnya dengan perasaan cemburu.
"ciihh.. mereka itu.. apa tidak takut anak-anak akan melihatnya..". ucap Bella sedikit kecewa kemudian melanjutkan langkahnya berusaha tak menghiraukan Adit dan Vivian di taman samping.
deg.. deg..
Vivian mendengar suara degup jantung Adit dengan samar-samar. perlahan ia melangkah mundur sambil melepaskan tangan Adit yang memegangnya.
Seperti biasa Vivian tak merasakan apapun saat bersama dengan Adit, dan sebaliknya Adit malah selalu berdebar dan merona di dekat Vivian.
Vivian memegang sudah tau perasaan Adit padanya, hanya saja di sisi lain Vivian juga melihat Bella mulai menyukai Adit. Vivian memberi jarak pada Adit sebelum Adit mengungkapkan perasaannya.
Vivian memang hanya menganggap Adit sebagai saudaranya atau sebatas teman saja tidak lebih. Vivian juga telah menjelaskan mengenai hal ini pada Adit.
Agar hubunganya dengan Adit tak retak, ia berusaha menghibur Adit dengan candaannya dan bersikap layaknya seorang adik untuk Adit.
"hei tampan.. apa kau masih berdebar di dekatku..". goda Vivian menyeringai dengan sengaja sambil menatap Adit kemudian melanjutkan kerjanya menjemur kain.
Adit hanya terkejut mendengar ucapan Vivian dan tak menghiraukan senyum sinis yang di tunjukkan Vivian padanya, dan tanpa sadar tangannya mulai merambah dadanya merasakan debaran yang mulai stabil.
"kau ini.. jangan meledekku terus.. nanti aku malah tak bisa jauh darimu..". ucap Adit sedikit santai sambil menatap Vivian kemudian mulai membantu menjemur beberapa kain.
"makanya kau cari pacar sana.. jangan ganggu aku terus.. aku tak suka lelaki mencolok seperti mu..". balas Vivi jujur memberi perintah.
"ciihh.. katakan saja bahwa aku ini rupawan dan tampan..". ucap Adit bangga sambil menyodorkan wajahnya dengan sengaja.
"ya ya.. terserah kau saja.. tampan..". balas Vivian kemudian membereskan keranjang dan perlahan berjalan menuju pintu samping.
"heii.. tunggu aku..". ucap Adit dari belakang sambil menyusul Vivian.
Sebenarnya Adit tau bahwa Vivian tak menyukainya, Vivian mengaggapnya sebagai seorang kakak, yang mendorong ia juga mulai melepas Vivian dan menganggap Vivian sebagai adiknya, walau sedikit sulit baginya untuk melupakan perasaannya.
Malam pun tiba, saat setelah makan malam Adit baru kembali ke kediamannya. Adit berjanji pada Vivian bahwa ia akan mengantarnya ke tempat kerja. dan kebetulan tempat kerja Vivian bersebelahan dengan rumah sakit tempat Reva bekerja yang tak lain adalah saudara perempuan Adit.
Malam semakin larut, menyisakan suara jam dinding yang terus bergerak. di salah satu kamar, Vivian dan Bella tidur bersama dan kamar lain terisi penuh oleh anak-anak.
Vivian menatap ponselnya dalam gelap, ia menatap sedih saat melihat foto kedua orang tua angkatnya. dari samping, Bella yang ternyata belum tidur menatap Vivian. kerana Tak mau membuat Bella terganggu, vivian segera mematikan ponselnya dan menyembunyikannya di balik bantal.
"Vivi.. Lo kenapa..". tanya Bella lembut.
"ngga papa..".
"Vi.. gue mau nanya..".
"apa.."
__ADS_1
"sore tadi aku liat kamu sama Adit.. kenapa sih kamu ngga mau sama Adit.. dia baik loh..".
"hmm.. Aku bukannya ngga suka.. cuman.. aku udah anggap dia seperti saudara.. ngga lebih.. dia memang baik.. perhatian.. dewasa.. tapi bukan tipe ku.. apa aku yang aneh yaa.. nolak pria seperti dia..". ucap Vivian menjelaskan sambil menatap langit-langit dalam gelap.
"sudahlah.. kau memang aneh.. lalu seperti apa pria idamanmu..". jawab Bella menatap Vivian dari samping.
"hmm.. pria idaman yaa.. aku sih suka sama pria imut dan sedikit nakal.. periang dan lucu seperti anak-anak..". balas Vivian yakin sambil berimajinasi mengenai pria idamannya.
"pilihanmu memang aneh.. sudahlah.. lebih baik kau tidur.. besok kita kerja loh..". ucap Bella sambil mengubah posisi tidurnya dengan senyum kecil menghiasi wajahnya.
"heii.. aku bahkan belum bertanya tentang pria idamanmu.. kau ini..". ucap Vivian sambil menyenggol bahu Bella dan perlahan memeluk Bella dengan sengaja.
tak..tak..tak..
suara jam didinding seolah sedang menghipnotis, Vivian dan Bella terlelap dalam tidurnya menuju dunia mimpi.
*
*
*
krinnnggg... kringgggg...
Vivian membuka mata setengah sadar, matahari mulai masuk dari sela-sela jendela menyilaukan matanya. dari samping suara alarm terus berdering membuat telinganya tak tahan mendengar bisingnya.
Dari samping terdengar suara lembut tengah membangunkannya. Vivian tak berkutik, ia malah semakin larut dalam mimpinya. Suara itu mulai terdengar kasar hingga akhirnya makin keras di iringi tangan yang terus mengguncang tubuh Vivian.
"Vivi..Vivi bangun.. Vivi.. bangun.. ya ampun anak ini.. banguunnnnn...". bentak bibi Ratih sambil memupuk bahu Vivian kemudian dengan sengaja ia mengguncang tubuh Vivian yang sedari tadi terlelap.
Terkejut, Vivian langsung bangkit dari tidurnya dengan mata yang perlahan terbuka lebar. keadaan rambut yang acak-acakan dan wajah yang masih suntuk, Vivian menatap sekelilingnya dan mendapati bibi Ratih yang mulai meninggalkan ruangan.
Tersadar, Vivian mulai merenggangkan badannya yang masih terasa kaku sambil mencari keberadaan Bella yang semalam tidur dengannya.
Pintu terbuka, Bella berjalan memasuki kamar dan mendapati Vivian yang melongo menatapnya. Vivian terkejut saat menatap Bella masuk dengan penampilan rapi, ia mulai teringat hari ini hari pertamanya masuk kerja.
Tanpa pikir panjang ia mulai berlari ke kamar mandi saat setelah menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 07:18.
Bella hanya terdiam sembari berdesah menatap Vivian, sebelumya bella terbangun kerena tak tahan ingin ke toilet kemudian ia membantu bibi Ratih menyiapkan makanan lalu siap-siap.
Bella juga telah membangunkan Vivian sebelumnya tapi Vivian tak berkutik dari lelapnya yang membuat ia pasrah dan memanggil bibi Ratih untuk membangunkan nya.
bippppppppp...
Suara klakson mobil terdengar dari luar, terparkir mobil sedan berwarna putih di halaman, sesuai janjinya Adit datang menjemput. Vivian bersiap di kamar dengan terburu-buru saat mendengar klakson mobil dari luar, tau bahwa Adit telah tiba.
Bella menunggu di meja makan bersama anak-anak sambil menikmati hidangan yang tersaji di atas meja.
__ADS_1
Dengan langkah panik, Vivian keluar dari kamar kemudian berpamitan pada bibi Ratih yang tengah duduk di meja makan. melihat Vivian yang terburu-buru, Bella juga mulai beranjak dari duduknya mengikuti Vivian dari belakang.
"Vivi.. ngga sarapan dulu..". ucap bibi Ratih di meja makan sambil menatap Vivian yang akan keluar dari pintu.
"ngga sempat bi.. Vivi udah telat nih..". balas Vivian sambil melangkah cepat menuju halaman dan menghampiri Adit yang tengah menunggu.
Meraka menuju ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota ini tempat Vivian dan Bella bekerja. Vivian dan Bella bekerja sebagai pegawai di pusat perbelanjaan itu, awalnya mereka hanya mengajukan surat lamaran, tapi siapa sangka meraka akan di terima di sana.
Dan di sinilah Vivian berada, menjaga toko dan melayani pelanggan yang berkunjung. hampir saja ia terlambat pagi tadi. tak terasa waktu berlalu begitu cepat, istirahat tiba.
waktu istirahat Vivian habiskan bersama Bella sekaligus berkeliling sambil menikmati cemilan yang meraka pegang hingga akhirnya mereka kembali lagi melayani pelanggan saat istirahat selesai.
Bella melayani pelanggan yang berdatangan, di sisi lain Vivian hanya terdiam menyambut pelanggan dengan senyum polosnya. merasa gatal, vivian mulai tak nyaman akan rasa gatal di tangannya.
Tanpa pikir panjang ia menggaruk tangan kanannya. sebuah cincin pemberian ibu angkatnya melilit di jari kananya.
Tangannya semakin terasa gatal, dengan sengaja ia melepaskan cincin itu kemudian menggaruknya hingga tangannya terlihat memerah. dari samping seseorang tak sengaja menabraknya sehingga membuta cincin yang ia pegang terpental entah kemana.
Vivian mencari cincin itu, meninggalkan posisinya yang melayani pelanggan. Vivian mendapati cincin itu tengah bergelinding tanpa arah dalam keramaian. Vivian menatap cincinnya dan kemudian mendapati seseorang tengah menginjaknya.
"aaaaaa.. cincinku.. terinjak..". batin Vivian berteriak melihat salah satu kaki seseorang tengah menginjak cincinnya.
Dengan sigap Vivian berlari ke arah orang itu dan berjongkok mengambil cincinya berharap cincinnya tidak rusak.
"untung aja.. ngga rusak..". batin Vivian menatap cincinnya sambil berdiri dari jongkoknya.
Vivian tak sengaja menatap wanita di depannya yang tengah melongo menatapnya. Vivian juga mulai menatap orang itu dari kepala hingga kaki. memakai pakaian rumah sakit, sendal rumah sakit, tas orange yang ia bawa, wajah merah yang terlihat aneh dan sedikit mencolok.
"apa wanita gila ini dari rumah sakit sebelah..". batin Vivian yang menyimpulkan orang di hadapannya gila.
Tiba-tiba wanita itu mengangkat tangan menunjuk Vivian dengan ekspresi herannya yang membuat Vivian semakin yakin bahwa ia orang aneh.
"siapa.. siapa kau..". tanya wanita itu.
"siapa.. aku..". balas vivian memperjelas bahwa wanita itu bicara dengannya.
To
Be
Continue
jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
jangan lupa like dan komen yaa.
salam sukses dan terima kasih.
__ADS_1