
"Kauuu..". Ucap Stella terkejut seraya menatap orang di depannya dengan tangan yang menunjuk orang itu.
"Kau lagiii..". Balas orang itu dengan kesal menatap Stella.
"Dia gadis di kamar rumah sakit itu? sekarang wajahnya lebih baik di pandang dari pada waktu itu..". Batinnya seraya menatap kesal pada Stella.
"Orang gila ini.. kenapa ada di sini sih..". Batin Stella kesal.
"Sungguh pagi yang menyebalkan.. jauh jauh dari ku.. dasar gadis aneh..". Balas orang itu seraya meninggalkan Stella dan berusaha tak berbuat keributan mengingat sekarang ia di kantor.
"Apa maksudmu.. kau yang aneh.. dasar pria gila..". Gumam Stella seraya menatap kepergian lelaki itu yang mulai memasuki lift.
Dari belakang, Rangga dan Vivian masih dengan santainya berjalan dan sesekali menyapa orang yang lewat dengan senyuman polos. Stella yang melihat mereka mendesah kecil seraya berjalan lebih dulu menuju lift.
"Stella..". Teriak seseorang yang membuat Stella mencari arah suara.
Stella mengamati sekeliling tapi tak mendapati seseorang yang mendekat atau menatap padanya dan juga tak mendengar suara panggilan itu lagi. Tak peduli, Stella terus berjalan dan meninggalakan dua orang di belakangnya.
"Stella.. gue nungguin lo kemarin.. tau-tau lo udah di rumah.. lo ngambek ya gara-gara gue lambat jemputnya.. sorry banget deh..". Ucap Kevin seraya merangkul Vivian dari belakang yang membuat Vivian terkejut akan kehadirannya.
Vivian hanya mentap heran pada Kevin yang seolah akrab dengannya seraya menebak siapa gerangan yang langsung merangkulnya ini.
"Pria ini teman Stella kah.. dia pasti mengira aku Stella..". Batin Vivian seraya menatap polos pada Kevin sambil berjalan beriringan.
"Hei.. singkirkan tanganmu darinya.. dia bukan..". Sahut Rangga dari samping dengan ketus seraya memukul tangan kanan Kevin yang menempel di leher Vivian.
"Heii.. dia temanku.. aku sedang minta maaf jangan ganngu ya..". Balas Kevin menyelah ucapan Rangga seraya mengeratkan tangannya di leher jenjang Vivian.
"Anu.. aku bukan..". Sahut Vivian ragu dengan wajah heran ingin menjelaskan.
"Ini hari pertamamu kan.. entar gue kenalin sama senior cantik yang waktu itu gue bilang..". Sahut Kevin yang tak membiarkan Vivian menyelesaikan ucapannya seraya senyum polos menatap Vivian dan menuntunnya menuju lift.
"Iya hari pertamaku tapi aku bukan..". Ucap Vivian lagi ingin menjelaskan bahwa ia bukan Stella.
"Haih.. istirahat nanti kita nongkrong yuk.. udah jarang nih nongkrong bareng..". Ajak Kevin seraya menyelah seolah tak peduli pada ucapan Vivian.
"Kevin..". Teriak seseorang dari depan lift yang tak lain adalah Stella.
Mendengar namanya, Kevin mencari sumber suara. Ia terkejut saat tatapannya tertuju pada Stella. Dengan ekspresi heran ia menatap orang di sampingnya seraya melepas rangkulannya dengan sigap kemudian menatap Stella yang berdiri di depan lift. Kevin mulai tak percaya pada apa yang ia lihat seraya menatap Vivian dan Stella bergantian.
"Ini.. Stella ada dua..". Ucap Kevin tak percaya dengan mata melotot heran.
"Sekarang bukan april mop kan.. Stella.. lo bercanda apaan sama gue..". Lanjutnya yang masih heran seraya menatap Vivian mengira dia Stella.
__ADS_1
"Anu.. tadi aku mau bilang.. kalau aku bukan Stella..". Sahut Vivian seraya menatap Kevin yang heran.
"Maksudmu.. kamu.. bukan Stella.. terus siapa dong..". Tanya Kevin yang masih heran.
"Vivian.. panggil vivi aja.. saya saudara kembar Stella..". Balas Vivian memperkenalkan diri.
Rangga yang sedari tadi juga ingin menegur dan memeberi tahu Kevin tertawa kecil menatap Kevin yang kebingungan akan situasi ini.
"Kevin.. lo ngapain sih..". Ucap Stella seraya menghampiri mereka dari depan lift.
"Lo kok ngga bilang ke gue.. kalau lo punya kembaran.. gue main nyosor aja meluk sembarang orang jadinya..". Protes Kevin seraya menatap kesal pada Stella.
"Itu sih kebiasaan lo main peluk segala.. dan ya.. jangan samakan Vivian dengan wanita gilamu.. aku mengawasimu..". Tegas Stella mengancam seraya mendekat menatap wajah Kevin yang masih heran.
"Aakk.. kau ini.. tidak kau katakan aku juga tau..". Balas Kevin Kesal seraya merangkul leher Stella dengan sengaja.
"Kau ini.. lepaskan aku.. rambutku jadi berantakan..". Ucap Stella tak terima seraya memukuli tangan kanan Kevin yang melingkar di lehernya.
Sari samping, Vivian hanya mentap heran akan sikap Stella dan Kevin yang begitu kekanak-kanakan kemudian tersenyum kecil menatap mereka. Rangga yang juga sedang menatap mereka merasa sedikit kesal.
"Mereka ini apa apaan sih.. ini di kantor.. ngga sadar apa orang-orang pada ngeliat.. bikin kesal aja tau..". Batin Rangga kesal seraya menatap sinis pada mereka kemudian mendekat perlahan pada Stella dan Kevin.
"Heii.. kau ini apa apaan.. berhenti bercanda.. kita akan terlambat..". Sahut Rangga tiba-tiba seraya melepaskan tangan Kevin yang melingkar di leher Stella dengan sedikit kasar.
"Stella.. tunggu aku.. jelaskan hal ini nanti...". Ucap Kevin seraya mengikuti.
"Kau ini seperti anak-anak saja..". Sahut Rangga ketus seraya memasuki lift.
Tak butuh waktu lama, mereka sampai di lantai 9 area tempat mereka bekerja. Stella dan Vivian yang merasa masih baru menatap sekelilingnya seraya memeperhatikan orang-orang yang mulai sibuk.
Tanpa pikir panjang, Rangga menuntun Stella dan Vivian untuk menemui ceo yang tak lain adalah Shinta.
Krek
Pintu terbuka, mereka mendapati Shinta yang sibuk dengan tumpukan dokumen di mejanya dan di temani seseorang yang duduk tepat di sampingnya, perlahan Rangga mendekat dan di ikuti Stella dan Vivian juga Kevin dari belakang.
"Bibi.. aku datang..". Sahut Stella seraya mendekat dan mengejutkan orang yang duduk di samping Shinta.
Sontak Stella terkejut saat menatap orang itu yang tak lain adalah orang yang ia tabrak di lobi sebelumya.
"Dia lagi.. mengapa aku selalu bertemu dengan orang gila ini.. apa ini hari sialku.. akk..". Batin Stella mengoceh dan berusaha tak memperdulikan orang itu.
"Kauu.. gadis aneh.. kenapa kau bisa di sini..". Ucap orang itu dari samping Shinta yang membuat mata memandang Stella dengan heran.
__ADS_1
"Akkk.. orang ini.. aku berusaha untuk tidak memperdulikannya tapi dia.. akk..". Batin Stella kesal.
"Gadis aneh.. kau yang aneh bukan aku..". Tegas Stella kesal seraya menghampiri orang itu dengan tatapan sinisnya.
"Kalian ini.. sudah saling kenal kah..". Sahut Shinta seraya menatap pada heran mereka.
"Tidak..". Ucap Stella.
"Ya.. dia gadis aneh..". Ucap orang itu bersamaan dengan Stella.
"Hahaha.. kalian ini sungguh lucu.. hei tampan.. jangan bilang dia gadis aneh yang keu bicarakan waktu itu..". Tebak Shinta seraya menyeringai menatap orang di sampingnya.
"Gadis aneh gadis aneh.. berhenti menyebutku begitu.. aku punya nama..". Balas Stella yang kesal tak terima si sebut aneh.
Rangga dan Vivian serta Kevin yang juga ada di ruangan seolah tak di perhatikan. Mereka hanya menatap heran pada Stella dan orang yang duduk di samping Shinta itu.
"Ee.. apa senior kenal dengan Stella..". Batin Rangga seraya menatap dan menyimak pertengkaran kecil mereka.
"Baiklah-Baiklah.. Stella perkenalkan.. ini Dehan Satyawan, orang kepercayaanku sekaligus yang akan membimbing mu dengan Rangga..". Ucap shinta memperkenalkan dari samping.
"Apaaa.. pembimbingku..". Ucap Stella seolah tak terima.
"Dan ini Stella.. Keponakannku.. tolong bibimbing dia yaa.. aku sudah pernah mencerikan dia sebelumnya.. semoga kalian akur..". Lanjut Shinta memperkenalkan Stella dengan senyum polosnya sambil menepuk bahu Dehan.
"Heii.. apa kau ingin membunuhku.. aku tidak bisa membimbing gadis aneh seperti dia.. dia punya penyakit.. takutnya menular padaku..". Sahut Dehan tak terima seraya mengingat Stella yang sakit waktu itu.
"Apa kau bilang..". Tegas Stella kesal seraya menatap Dehan.
"Kau gadis aneh..". Tegas Dehan kesal seraya berdiri dari duduknya dan membalas tatapan Stella.
To
Be
Continue
"Reader.. author mau ngenalin nih.. visual dari Dehan.. ini menurut author aja yaa.. kalian bebas deh milih visual sendiri.. oke.. silahkan..". Ucap author mempersilahkan.
"Makasih thor.. Halo reader.. perkenalkan aku Dehan Satyawan.. kalian bisa memanggilku Dehan.. Usia 23 tahun.. status jomblo.. anak ke dua dari keluarga satyawan.. bekerja di cornelia compeny atas perintah kakak bodoh ku yang tak lain adalah sahabat Shinta.. Hobi masak, berisih-bersih dan apa lagi yaa.. aa pokonya banyak.. dan satu hal yang pasti.. aku ngga suka yang namanya kotor.. pokonya yang kotor.. oke.. sekian dulu deh.. kalian cari tau sendiri aja ya gimana aku dalam cerita ini.. jangan lupa dukung author ya.. bay bay.." Ucap Dehan.
"Oke oke.. makasih yaa Dehan ku.. oh iya.. reader.. jangan lupa like dan kasih masukan alias komen yaa.. salam sukses dan terima kasih untuk kedatangannya.. bay bay..". Ucap author mengakhiri.
__ADS_1
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.