Twin Sister

Twin Sister
eps 33


__ADS_3

Stella mengamuk menghamburkan barang di kamarnya. Dan dengan menghentikannya, Rangga mendekapnya dengan erat.


“Ja jangan pedulikan aku!” jelas Stella yang berusaha melepas dekapan Rangga darinya.


“Apa kau sudah puas melakukan ini! Sekarang minum obat mu agar kau merasa lebih baik!” bentak Rangga yang membuat Stella terkejut.


“A apa.. Apa pedulimu padaku! Kau tidak tau masalahku, penderitaan ku dan bahkan hidupku! Siapa aku? orang tua saja aku tidak tau! Dan kau.. Kau baru saja bekerja di sini, kau bahkan tidak tau semua tentang ku, pergi saja jangan pedulikan aku!” bentak Stella pula di tengah tangis dan sesaknya yang kian menjadi-jadi lantaran tak ingin meminum obat.


“Aku memang tidak tau banyak tentang mu, tapi biarkan aku membantu mu, perlahan aku akan tau tentang diri mu!”


“A aku tidak butuh teman!” jelas Stella kemudian bersimpuh di dekat ranjang menahan sakit dari dalam tubuhnya yang kian terasa.


“Jangan bicara lagi, cepat beri tau aku mana obat yang tepat untuk kau minum!” ucap Rangga yang kerap mencari botol-botol obat dan sesekali membacanya.


“Ja jangan beri aku obat itu, a aku tidak mau lagi! Le lebih baik aku seperti ini!” tegas Stella, tak ingin menuruti perkataan Rangga. Ia malah menanggung sakit itu dari pada harus meminum obat.


Sekarang ini Stella termakan api gelisah, pikiran sudah di penuhi hal-hal negatif. Pikirnya di dunia ini ia hanya sebatang kara, tak punya apa-apa lagi selain keluarga ini, tapi semua ini bohong. Keluarga tak mungkin menyimpan rahasia, orang yang sangat di sayangnya selalu membuatnya penuh teka-teki akan jati dirinya yang menyulut rasa terpendamnya meluap seperti ini.


“Semua ini bohong, aku tidak ingin bertemu mereka lagi! Mereka pembohong!” jelas Stella di sela sesaknya, tubuhnya kian mengigil bersama dingin dan bercucuran akan keringat.


“Aku tidak bisa percaya pada Oma..”


“Dia, dia membuang ku, bahkan penyakit ku saja tak pernah dia ungkit! Lebih baik aku seperti ini!”


“Sudah cukup, jangan bicara lagi!” tegas Rangga yang kian kesal mendengar ocehan Stella, ia bingung akan semua obat yang dilihatnya, entah obat mana yang akan ia berikan pada Stella, tanpa pikir panjang Rangga mengambil salah obat.


“Si siapa kau, kau hanya orang luar, jangan pedulikan aku! Biarkan aku menderita akan sakit ini!” jelas Stella yang kian meringkuk sakit di sana, menyuruh Rangga agat tak mendekat.


“Stella minum ini!” sodor Rangga memberikan obat itu.


“Sudah ku bilang aku tak mau minum!” tepis Stella.


“Cukup, kau jangan seperti ini! jangan berpikir tak ada orang yang peduli padamu! Aku di sini, dan aku peduli pada mu!” tegasnya yang kian panik menenangkan Stella yang sedari tadi mengoceh tak keruan.


“Sekarang minum obatmu.. ku mohon!” sambung Rangga yang kian mengambil kembali obat itu dan di sodorkan pada Stella lagi.

__ADS_1


“A aku bilang aku tidak mau, biarkan aku seperti ini sampai Oma tiba!” tegas Stella yang kembali menepisnya.


“Tidak akan, aku tidak bisa melihatmu seperti ini karena aku menyukaimu!” jelas Rangga yang kian memasukkan obat itu ke mulutnya kemudian mencium Stella bermaksud memberikan obat itu lewat ciuman karena Stella menolaknya, pikirnya ini cara yang ampuh.


Mendengar penuturan Rangga tadi, Stella tercengang, apalagi saat ini Rangga tengah mendaratkan bibirnya, berusaha memasukkan obat itu agar ia segera menelannya. Stella makin terkejut, nafasnya kian memburu tapi tangisnya terhenti. Matanya membulat sempurna menatap Rangga yang melancarkan aksinya mencium bibir mungil itu.


Merasakan obat itu masuk kedalaman tenggorokannya, Stella sudah tak bisa mengelak lagi, obat itu sudah tertelan. Dan Rangga masih belum melepaskan ciumannya, sedangkan Stella masih terkejut akan sikap Rangga ini. Tersadar, dengan sigap Stella mendorong tubuh di hadapannya yang sudah lancang menciumnya tanpa persetujuan.


Rangga terkejut, ia terbawa suasana dan sadar akan apa yang di lakukannya ini “A aku minta maaf!” ujarnya yang merasa bersalah tak berani menatap Stella.


“Be berani sekali kau...”


“Ka kau memberiku obat apa?” ujar Stella yang kian hilang kesadaran saat setelah menelan obat itu.


Bruk..


Stella langsung terbaring lemah dan Rangga makin terkejut.


“Stella! A apa yang terjadi, apa aku salah memberi obat, bagaimana ini!” gumam Rangga kemudian mengangkat tubuh itu ke atas ranjang yang kian berantakan.


Sebelumnya, saat Oma di kamar menelepon dokter Bram ia mendengar amukan Stella di lantai dua. Perasaan cemas mulai menghampirinya, hingga Oma berusaha mencari Stella di kamarnya. Dan saat hampir tiba di depan kamar Stella, di sana sudah menyambut beberapa barang yang berserakan.


Dan benar saja, sekarang di hadapannya ruangan itu kerap berantakan. Obat berhamburan di mana-mana bergabung bersama alat kecantikan yang sangat di sayangi Stella. Oma mendekat dan langsung meraih tangan Stella.


“Nak Rangga, ada apa dengan Stella!” tanya Oma yang kian panik, ingin ia mendapat kepastian dari kejadian ini.


“Saya juga tidak tau Oma, tadi aku hanya memberinya obat ini!” jelas Rangga menunjukkan obat yang baru saja ia berikan pada Stella.


Oma mengamati obat itu, jelaslah sekarang Stella tertidur karena obat itu tak lain adalah obat tidur. Rangga menjelaskan kejadian tadi, dan Oma hanya mendesah kasar setelah mendengarnya, ia seolah tau akan keadaan Stella sekarang ini. Tidak hanya satu atau dua kali Stella mengamuk dan menggila.


Hal ini di karena kan pikiran negatif Stella yang merajai otaknya, pikiran negatif berisikan kesendiriannya, berisikan pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban, terlebih lagi hal itu menyangkut rahasia hidupnya.


“Nak Rangga, terima kasih sudah peduli pada Stella! oma harap ke depannya nak Rangga selalu bersamanya!” ujar Oma sendu.


“Ta tapi sebenarnya ada apa dengan Stella?” tanyanya yang kerap heran.

__ADS_1


“Oma tidak bisa menceritakan nya nak, oma harap nak Rangga bisa mengerti!” jelas Oma.


“Kalau begitu, nak Rangga tolong jaga Stella, Oma mau menelepon dokter Rahma lagi!” ujar Oma seraya beranjak dari sana.


Rangga masih heran, ada apa sebenarnya sampai-sampai Oma tak mau menceritakan tentang keadaan Stella. Sungguh banyak rahasia dalam keluarga ini. Baru kali ini Rangga mendapati keluarga kaya yang rumit seperti ini. Walau ia sudah lama tau akan keluarga Cornelia dari sang ayah, tapi tetap saja ia masih tak bisa memahami kerumitan di sini.


“Aku tidak tau ada apa di keluarga ini, tapi aku tidak ingin melihatnya terluka atau menangis seperti tadi!” ujarnya yang kerap menatap Stella di bidang empuk itu seraya menata kembali ruangan ini yang sudah seperti kapal pecah.


“Mungkin ini yang di maksud Kevin, oma yang menjadi tangis Stella, tapi kenapa?”


“Aku tak akan memikirkannya lagi!” desahnya pasrah.


Beberapa menit kemudian Rangga selesai membereskan ruangan Stella, ia mendesa kasar seraya menatap Stella di sana.


“Kau lihat ini, aku sudah membersihkan kamar ini untuk mu!” jelasnya.


“Aku ingin tidur, ijin kan aku tidur di sana dan jangan berulah lagi!” sambungnya seraya menunjuk salah satu sofa panjang dan mendekat di sana kemudian membaringkan tubuhnya yang lelah.


Perlahan Rangga juga terhanyut dalam dunia mimpi, menyusul Stella.


Dua jam sudah terlewat, dan dua insan itu masih rapat menutup mata. Di tengah dentuman jam, kesadaran Stella mulai kembali. Matanya perlahan membulat menatap langit kamar ke arah pandangnya yang lurus. Ia mulai mengembalikan kesadaran dan ingatannya terakhir kali.


Pandangannya beralih menatap sosok Rangga yang terbaring di sofa. Dan ciuman tadi langsung terngiang bagai kilat yang menyambar. Stella tak merespon, ia hanya terlihat lemah dan perlahan menyentuh bibirnya.


“Padahal itu ciuman pertama ku!” batinnya lemah.


“Aku menyimpannya untuk orang yang ku suka nanti, tapi dia sudah mengambilnya!” sambungnya kecewa.


To


Be


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.

__ADS_1


__ADS_2