Twin Sister

Twin Sister
eps-07


__ADS_3

Stella heran menatap tingkah oma dan Rangga yang sedari tadi membuatnya penasaran. sampai saat Stella mendengar bentakan Rangga yang membuat ia semakin terkejut.


"oma ini ngebahas apa sih.. dari tadi bisik-bisik mulu..". ucap Stella yang mulai terganggu akan tingkah oma dan Rangga.


"anak nakal sepertimu tak perlu tau..". balas oma cuek kemudian meraih tangan Rangga dan menuntunnya keluar dari ruangan meninggalkan Stella dan Kevin juga Bu Desi perawatnya.


"oma ngebahas apaan sih sama Rangga.. pake alasan keluar segala..". tanya Stella heran sambil menatap Kevin dan juga Bu Desi yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


Kevin hanya terdiam sambil mengangkat bahunya menatap Stella yang menandakan ia tak peduli pada oma dan Rangga.


Di luar, oma menuntun Rangga duduk di salah satu kursi ingin membahas mengenai pekerjaan bersama Rangga.


"bagaimana.. apa nak Rangga setuju tawaran oma.. aku menawarimu karena sepertinya kau bisa melawan keras kepala Stella.. apa nak Rangga ini bersedia.. oma bisa membayar mu untuk itu.. saya jamin nak Rangga tak akan rugi..". ucap oma mengajak serta merayau Rangga agar setuju dengan tawarannya.


Rangga hanya menatap polos pada oma dari samping, ia berpikir mengenai tawaran oma. Rangga tak mempermasalahkan sikap Stella hanya saja ia harus mencari tempat tinggal untuk sementara waktu.


Mengingat taruhannya dengan papa sebelumya yang membuat ia terpaksa melakukannya dan benar saja, hari ini papa sudah memaksa agar Rangga segera membereskan barangnya dan keluar tanpa menggunakan identitas aslinya.


"oma.. saya bukannya mau menolak tawaran oma.. hanya saja saya masih harus mencari tempat tinggal untuk sementara..". ucap Rangga jujur pada oma sambil menatap dalam oma yang tengah berharap padanya.


"tempat tinggal.. kalau begitu kamu tinggal di rumah oma aja..". ucap oma memberi solusi.


"ngga usah deh oma.. nanti saya malah ngerepotin.. udah kerja masa di kasi tinggal juga..". balas Rangga polos menolak oma tak mau merepotkan.


"aduhh.. nak Rangga ini.. kamu tinggal di rumah oma sekalian bantu pak Amir jaga keamanan rumah.. lagian tambah satu orang ngga ngerepotin kok buat oma.. yaa.. hari ini juga kamu udah boleh pindah ke rumah oma.. nanti oma siapkan kamar untuk nak Rangga..". ucap oma memaksa dan membujuk Rangga agar menerima tawarannya sambil mengingat pak Amir salah satu anggota keamanan di kediamannya.


"ya udah deh.. saya terima kalau oma maksa.. saya jadinya ngga enak juga nolak rejeki..". ucap Rangga sambil mengiyakan tawaran oma yang memang sedari tadi jawaban yang ingin oma dengar dari Rangga.


"udah ngga papa.. yang pasti kamu mau jadi bodyguardnya Stella..". ucap oma bahagia sambil menepuk tangan kanan Rangga.

__ADS_1


"haduh.. iya sih dapat kerja plus tempat tinggal.. tapi setiap hari ketemu si cerewet.. hmm.. jalanin ajalah..". batin Rangga seolah tak rela.


Setelah mencapai kesepakatan, mereka berjalan perlahan kembali ke kamar pasien tempat Stella di rawat.


Stella yang sedari tadi menunggu bersama Kevin dan Bu Desi mendapati oma yang mulai memasuki pintu dan di ikuti Rangga dari belakang.


Tanpa basa-basi perlahan oma mendekati Stella ingin memberitahukan mengenai Rangga.


"Stella.. mulai hari ini Rangga jadi bodiguard kamu.. jadi kedepannya kamu jangan buat dia pusing..". ucap oma sambil duduk di samping Stella dengan penuh perhatian.


"apa.. bodiguard.. omaaa.. aku ngga butuh bodiguard.. lagian aku ini bukan anak kecil lagi..". balas Stella tak terima.


"oma ngga mau denger penolakan kamu.. keputusan oma sudah bulat.. lagian ini juga demi kebaikan kamu..". jelas oma menekan Stella.


"dan yaa.. nak Rangga ini akan tinggal di rumah buat jagain kamu.. udah itu aja.. oma masih ada urusan.. kamu di sini aja sampai badanmu udah normal.. nanti oma tinggalin pengawal di depan pintu.. ingat.. kamu harus disini sampai besok.. besok oma datang jemput kamu.. kamu betahin diri aja di rumah sakit.. oke.. oma pergi dulu.. yuk nak Rangga..". ucap oma mengoceh sambil mempersiapkan diri meninggalkan Stella kemudian mengajak Rangga bersamanya dan di ikuti Bu Desi meninggalkan Stella dan Kevin yang melongo menatap oma.


"omaaa.. aku mau pulang.. aku mana betah di rumah sakit.. oma bilang besok, paling juga dua hari lagi oma jemput Stella.. oma sengaja yaa ngurung Stella..". ucap Stella manja tak mau tinggal di rumah sakit sambil menatap kepergian oma yang mulai menghilang di balik pintu.


"Kevin.. lo bakal jemput gue besok kan.. atau temenin gue aja.. yaa..". ucap Stella manja menatap sambil memegang tangan Kevin.


"aduh Stella.. gue masih ada urusan.. gue ngga bisa nemenin Lo terus.. lagian gue juga bukan babysiter Lo.. jadi nikmati aja yaa.. lagian besok juga Lo udah bisa balik..". ucap Kevin menolak dengan lembut sambil melepaskan tangan Stella yang terus memegang lengannya.


"hmm.. iya deh.. tapi Lo janji ya jemput gue.. soalnya gue ngga yakin oma bakal jemput gue..". ucap Stella manja meyakinkan Kevin.


"iya.. iya.. gue janji.. telpon gue aja kalau perlu oke.. gue balik dulu..". ucap Kevin meyakinkan Stella kemudian melangkah menuju pintu ingin keluar.


Saat keluar dari pintu, Kevin mendapati dua orang pengawal suruhan oma yang juga baru sampai, ia menyapa dengan ramah kemudian melambai pada Stella dari jendela dan perlahan menghilang.


Kamar mulai sunyi, Stella berbaring di bidang datar dengan memaksa matanya tertutup. ia merasa tak nyaman dan matanya juga tak bisa ia istirahat kan.

__ADS_1


Merasa bosan, Stella mulai mencari cara agar bisa keluar, ia mengambil dompet kecil dari tasnya berisikan uang dan perlahan membuka pintu.


Para pengawal oma bertanya tentang tujuan Stella. Dengan jawaban santai ia berkata akan ke toilet. dan benar saja pengawal itu percaya akan kebohongan yang Stella lontarkan.


Dengan sigap Stella keluar dari rumah sakit menuju pusat perbelanjaan yang tepatnya di sebelah rumah sakit.


Dengan pakaian pasien dan dompet berwarna oranye yang bertengger di tanganya, ia berjalan menuju mall yang membuat mata memandang keanehan dirinya di tambah lagi wajahnya yang masih semerah tomat membuat ia semakin aneh.


Tak mau jadi pusat perhatian Stella membeli topi dan sweter panjang untuk menutup alerginya yang mencolok.


Saat berjalan mengelilingi mall, tak sengaja Stella menginjak sebuah cincin yang membuatnya hampir terjatuh. Stella memperhatikan cincin itu dan tiba-tiba seorang wanita berjongkok mengambil cincin di dekat sendal Stella.


Stella terdiam menatap wanita itu, penampilannya sangat familiar bagi Stella. orang itu mulai bangkit dari jongkoknya sambil membersihkan cincin yang di injak Stella sebelumnya.


Dengan ekspresi tak percaya Stella menatap wanita itu, ia seolah mendapati dirinya sedang bercermin.


"siapa.. siapa kau..". ucap Stella tak sadar sambil menatap wajah orang itu.


"siapa.. aku..". jawab wanita itu memperjelas bahwa Stella sedang berbicara dengannya.


To


Be


Continue


jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


jangan lupa like dan komen ya..

__ADS_1


salam sukses dan terima kasih..


__ADS_2