
Stella tengah asik di kamarnya, menikmati waktu sengangnya dengan bersantai. Di hadapannya ia menatap serius layar laptopnya yang tengah menonton drama korea. Siapa lagi kalau bukan deretan drama Lee Minho. Sejak SMA ia mulai menjadi bucin oppa yang satu ini.
Beberapa biskuit dan buah juga memenuhi sisi meja. Bak kapal pecah terbalik, kamar Stella sungguh nempak berantakan.
Sesekali ia masih meringis merasakan sakit pinggan akibat tamu bulanannya. Keasikan menonton, ia bahkan sudah lupa bahwa pembalut di kamarnya sudah habis digunakannya.
Di waktu yang seperti ini sifat malasnya mulai muncul, ia sunggguh tak ingin bergerak dari tempatnya duduk sekarang. Matanya masih menatap lekat layar laptopnya, di tontonnya drama yang kain membuat penasaran.
Mengingat Vivian yang sekarang berada di kampus, ia mulai beranggapan ingin menyuruh Vivian membelikannya pembalut. Maklumla sesama wanita pasti akan mengerti, pikirnya.
Ia mulai mencari keberadaan ponselnya, matanya memandang kasana-kemari dalam ruangan yang berantakan itu. Di ingatnya, ponselnya ia letakkan di balik bantal sebelum tidur semalam.
Benar saja, ia mendapatinya di sana. Stella melanjutkan tontonannya, seraya tangannya juga mulai sibuk mencari nomor Vivian. Tanpa sadar jarinya menekan nomor Rangga, di kiranya itu nomor Vivian, ia pun mulai mengetik pesan di sana.
"Aku minta tolong ya Vi.. pulang nanti beliin aku pembalut!!". Gumamnya polos seraya mengetik.
"Kirim". Ucapnya girang.
Saat pesan sudah terkirim, ia keluar dari laman ketiknya, di dapatinya foto yang nampak berbeda dan membuatnya mulai heran.
"Ehh.. Rangga? Aaaakkkkkk". Teriaknya terkejut seraya melempar ponselnya ke atas bidang empuknya.
"Gue salah kirim.. malu banget.. aaakkk..". Lanjutnya yang panik sambil mengacak rambutnya yang sedari tadi memang nampak acak-acakkan karena belum melakukan ritual pagi.
"Hapus.. oh iya harus di hapus.. moga aja Rangga belum baca pesan itu". Lanjutnya seraya beranjak dari duduknya mengambil kembali ponselnya dengan sigap.
"Aakkk.. udah di baca lagi". Bentaknya yang mendapati pesan telah di baca Rangga yang menyisakan tanda centang dua berwarna hijau di bawah pesan itu.
"Huhu.. gue malu.. maluuuu.. mau di taruh di mana nih muka ku pas ketemu Rangga..". Teriaknya kesal.
"Tapi.. Vivian.. aaakk udah ketahuan pasti.. dia pasti udah sadar kalau yang ke kampus bukan aku, harus gimana nih..".
"Rangga bakal ngomong ke Oma ngga ya soal ini.. aaakk..". Lanjutnya berfikir yang sedang panik.
"Aku bodoh banget sih!!". Serunya memaki diri sendiri seraya membuang tubuhnya ke atas bidang empuknya dengan pasrah.
*
*
"Ternyata memang benar aku menyukainya!!". Gumam Rangga seraya menatap Kevin yang tengah berjalan bersama Vivian tepat di depannya yang juga masih mengira itu adalah Stella.
"Sekarang, melihat dia dengan sahabatnya saja sudah membuatku kesal begini..". Lanjutnya merana.
"Sejak kapan aku menyukainya?". Lanjutnya dengan senyum pasrah di ikuti nafas lemahnya.
"Haihh.. apa aku harus mengatakannya? tidak tidak tidak.. dia nanti mengejekku!!". Pikirnya.
Tring..
__ADS_1
Ponselnya bergetar dari balik saku baju yang membuatnya terkejut dari lamunan singkatnya. Ia segera meraih ponselnya dan mencari siapa gerangan yang mengiriminya pesan lewat watsap.
Rangga terkejut saat mendapati nama Stella di sana, lebih terkejut lagi setelah ia membaca pesan itu yang membuatnya membulatkan mata keheranan.
"Pembalut? bukannya itu barang wanita ya!!". Gumamnya heran.
"Ngga salah nih dia ngirim pesan kayak gini!!". Lanjutnya yang masih heran seraya menatap Kevin dan Vivian yang kian menjauh dari pandangannya.
Ingin memastikan keheranannya, Rangga berlari mengejar kevin dan Vivian dengan maksud ingin menjelaskan pesan itu pada Vivian.
Rangga mengikuti Kevin dan Vivian memasuki auditorium, sudah banyak mahasiswa yang mengisi tiap bangku yang membentang luas hingga lantai dua.
Tak terkecuali mereka bertiga. Mereka juga ikut duduk di salah satu deretan kursi itu. Sedari tadi Rangga ingin memperlihatkan dan mempertanyakan tentang pesan itu pada Vivian. Tapi ia masih menunggu waktu yang tepat, mengingat pesan itu berisi ke butuhan wanita yang membuatnya sedikit malu.
Saat Rangga ingin membalas pesan itu, pikirnya lebih baik membahasnya lewat watsap sekaligus memberi kode pada Stella yang sedari tadi nampak serius berbicara pada Kevin.
Rangga melotot heran saat mendapati pesan telah di hapus. Dalam diamnya ia menatap Vivian dari samping, tapi tak mendapatinya memegang ponsel. Rangga malah fokus pada cincin yang melingkar di jari tengah tangan kanan Vivian yang membuat insting detektifnya beraksi.
"Hmm.. sejak kapan Stella pakai cincin". Batinya yang mulai curiga seraya mengingat bahwa sebelumnya Stella tidak pernah memakai aksesoris berupa cincin.
"Biasanya kan yang pakai cincin tu Vivian!!". Lanjutnya yang mengingat Vivian selalu mengenakan cincin pemberian orang tua angkatnya.
"Vivian? ya vivian.. kalau yang ini Vivian, jadi yang di kamar Stella sebelumnya ternyata Stella sendiri..".
"Pantas saja dari tadi dia tak mengoceh seperti biasa, orang ternyata Vivian..".
"Terus kenapa dia ngga masuk.. malah nyuruh Vivian gantiin dia..".
"Dia pasti malu.. makannya pesannya di hapus!!". Batin Rangga yang berfikir seraya mencerna situasi.
"Hehe.. gue kerjai ajalah". Gumamnya dengan seringai tipis menatap ponselnya dan beranjak dari dusuknya menuju salah satu sudut ruangan yang tampak sunyi.
*
*
Panggilan masuk pada ponsel Stella yang membuatnya terkejut dari lamunannya, yang sedari tadi merenungi kecerobohannya dan membuatnya malu.
Di gapainya ponsel yang ia lempar di atas kasur sebelumnya. Ia menatap terkejut saat mendapati nama Rangga calling pada layar bidang itu.
"Ngapain sih Rangga pake Vc segala!!". Gumamnya penasaran yang juga terkejut berharap Rangga tak memarahinya.
"Mau aku beliin pembalut merk apa". Ucap Rangga lagsung tanpa basa-basi yang meluapkan ke kekesalannya.
"Apa perlu aku beliin obat nyeri juga". Lanjutnya.
"Atau aku ngaduh aja ke oma kalau kamu nyuruh Vivian ke kampus!". Ancamnya.
"Eee.. ya ampun Rangga yang baik.. plis dong jangan ngaduh ke Oma, iya aku ngaku salah, aku yang salah.. oke!". Balas Stella akhirnya dengan nada memohon yang tengah menatap Rangga di layar posel seraya senyum paksa terlukis di bibir tipisnya.
__ADS_1
"Buat apa kamu ngaku salah ke aku.. kan lebih baik kamu ngaku salah ke oma deh!!". Lanjut Rangga yang ingin mendesak Stella karena Oma pasti akan menghukumya jika tau hal bodoh yang di lakukan Stella ini.
"Jangan dong.. kali ini aja, aku bakal nurutin apa mau mu deh.. tapi jangan ngaduh ke Oma ya.. plisss..". Bujuk Stella dengan wajah imutnya berharap Rangga akan mengurugkan niatnya.
"Oke.. kamu sendiri yang bilang mau nurut ama aku.. ngga bakal nyesel nih!!". Ucap Rangga mengoda.
"Iya iya.. aku ngga bakal nyesel!!". Tegas Stella yang mulai tak terima perlakuan Rangga.
"Oke deal.. tapi, kamu nyuruh Vivian kemari apa maksudnya!!". Tanya Rangga penasaran.
"Aakk.. kau tak akan mengerti, ini urusan wanita..". Tegas Stella yang sedari tadi menahan kesal.
"Sudah.. aku masih ada urusan.. kau juga pasti sibuk.. tapi ingat pesanan aku ya.. soal merk terserah aja.. bay..". Lanjutnya mengakhiri yang tak ingin berbicara dengan Rangga lagi.
"Pesanan? hei.. pesanan apa?". Tegas Rangga yang masih ingin bertanya tapi Stella sudah memutuskan panggilan.
"Jangan bilang pesanan yang dia maksud.. pembalut!! aakk.. gadis ini apa sedang membalasku.. mana pernah aku membeli barang wanita seperti itu, tadi itu aku hanya.. hanya mengodanya saja!!". Gumamnya kesal tak terima.
"Lebih baik aku minta tolong Vivian aja.. tapi kalau Vivi nanya, aku juga yang bakal malu, yang mau pake kan Stella!!". Lanjutnya berfikir.
Sedari tadi Rangga berdiri di sudut ruangan yang sepi itu, tapi siapa sangkah tingkahnya malah mengundang tatapan heran yang tertuju padanya. Sedikit malu, Rangga kembali ke tempat duduknya bergabung bersama Vivian dan Kevin.
"Rangga bikin kesal aja sih!!". Tegas Stella saat setelah ia memutuskan panggilan.
Tok.. tok.. tok..
Baru saja ia memutuskan panggilan, terdengar suara ketukan pintu dari luar. sepertinya suara itu tak berasal dari depan pintu kamarnya yang membuat ia juga tak peduli siapa gerangan yang tengah mengetuk.
"Vivi.. kamu di dalam ngga!!". Sahut seseorang dari luar pintu yang sepertinya tengah mencari Vivian.
Stella mendegar ucapan samar-samar itu yang membuatnya mulai penasaran siapa gerangan yang mencari Vivian, mengingat Vivian berada di kampus sekarang.
Stella membuka kecil pintu kamarnya, ia mengintip sosok yang berdiri di depan pintu kamar Vivian. Ia terkejut, di dapatinya sosok Bella dengan wajah yang nampak pucat.
"Vivi.. ini aku Bella, bibi masuk rumah sakit vi.. dari tadi ponsel kamu ngga aktif, makanya aku nyarih kamu kemari!!". Ucap Bella dengan nada sendu berharap Vivian akan keluar dari balik pintu itu.
"Aku harus gimana!! Vivi lagi keluar, dari tadi memang ponselnya ngga aktif.. kalau gini sih aku aja yang gantiin dia!!". Batin Stella berfikir kemudian membuka pintu dan menghampiri Bella.
"Bella..". Sapa Stella yang membuat Bella terkejut dan langsung mendekapnya.
Stella tardiam kaku, tak tahu harus berbuat apa. perlahan ia juga mulai membalas dekapan Bella yang kian erat seolah sedang melepaskan ke khawatirannya.
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belak tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen.
Salam sukses dan terima kasih.