Twin Sister

Twin Sister
eps-15


__ADS_3

Di kamar pasien 101. Stella yang tengah terlelap dengan merangkul leher Rangga dan membuat Rangga tak bisa bergerak bebas di tambah lagi bibir mereka yang tak sengaja bertemu membut Rangga semakin terkejut.


Deg.. deg..


"AAaakkk.. gadis ini.. bau sekali..". Batin Rangga berteriak.


Dengan paksa dan sedikit kasar Rangga melepaskan diri dari dekapan Stella kemudian dengan kesal ia menarik selimut dan menutupi seluruh badan Stella layaknya seorang mayat.


Dari luar dua orang pengawal Oma sudah tiba, tanpa pikir panjang, Rangga mengambil ponsel dan jaket nya dari sofa dan dengan langkah panik ia keluar seperti seorang pencuri yang takut ketahuan dengan wajah yang sedikit merona.


"Pak tolong jagain yang di dalam..". Ucap Rangga kesal tanpa menatap pengawal Oma seraya berjalan dengan langkah cepat yang membuat pengawal itu heran menatapnya.


"Ada apa sama den Rangga..". Ucap salah satu dari mereka seraya saling bertatapan heran.


Dua orang pengawal Oma menatap ke ranjang pasien dan mendapati Stella yang terbungkus selimut, mereka hanya menggeleng kepala seolah mengejek Stella.


*


*


Di sisi lain, Rangga kembali ke kediaman Cornelia. mengingat ia sekarang tinggal bersama keluaraga Cornelia, ia harus kembali dan berangkat ke kantor sebagai anak magang yang membuat ia sangat sibuk ditambah lagi dirinya yang menjadi bodyguard pribadi Stella.


Dari depan pintu, Oma sudah siap dengan supirnya ingin berangkat ke panti asuhan untuk bertemu dengan Vivin sesuai perkataannya kemarin. Oma berpapasan dengan Rangga yang juga akan memasuki rumah.


"Nak Rangga.. bagaimana dengan Stella.. apa dia bisa tidur..". Tanya Oma menghampiri dengan perlahan.


"Dia baru aja tidur saat saya kemari..". Balas Rangga polos dan berusaha menahan kesalnya.


"Apa dia memakan obat tidur..". Tanya Oma lagi dengan penasaran.


Rangga hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Oma. Dengan sedikit kecewa atas jawaban Rangga, Oma berdesah seraya menghampiri pak Ali yang tak lain adalah supir pribadinya.


Dengan sedikit heran Rangga melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang terletak di lantai dua sebelah kamar Stella.


Beberapa menit kemudian saat Rangga mulai bersiap, ia memakai dasi seraya mentap kaca yang berukuran besar di hadapannya, tiba-tiba ia teringat akan insiden yang tak sengaja itu dan perlahan tangannya menyentuh bibir tipisnya.


"aakk..apa aku sudah gila memikirkan hal seperti itu.. gadis cerewet itu.. dia mengambil ciuman pertamaku..". Ucap Rangga kesal seraya berjalan keluar ingin ke kantor.


*


*


bibbb.. bibbb..


Suara klakson mobil terdengar dari halaman yang mengagetkan anak-anak yang tengah bermain. Vivian menatap dari jendela seolah menunggu kedatangan Oma, ia tak ikut bekerja bersama Bella hari ini karena kedatangan Oma.


Dari balik mobil sedan berwarna hitam, Oma keluar bersama Bu Desi seraya menatap lingkungan panti yang begitu bersih dan rapi di tambah lagi anak-anak yang tengah bermain.


Vivian keluar saat melihat Oma. Ia menghampiri dan menuntun Oma seraya masuk bersama ke panti asuhan bibi Ratih, kemudian menuju ke ruang tamu yang sedari tadi duduk bibi Ratih yang menunggu kedatangan Oma.


"Maksud kedatangan saya kemari.. saya ingin membawa Vivian.. sekaligus saya akan menjadi donatur tetap untuk panti asuhan ini.. saya menunggu persetujuan anda..". Ucap Oma tanpa basa-basi saat setelah ia duduk bersama Bu Desi.


Mendengar ucapan oma, bibi Ratih tercengang seraya berfikir.


"kami.. kami hanya bisa menerima tawaran baik dari anda.. lagian vivian memang keluarga anda tak perlu meminta ijin saya untuk membawanya..". Ucap bibi Ratih seraya menatap Vivian.


"Oh iya.. Vivi.. bukanya ada surat untuk keluargamu dari orang tua angkat mu..". Lanjut bibi Ratih mengingatkan Vivian.

__ADS_1


"aa.. tunggu sebentar.. aku akan mengambilnya..". Balas Vivian kemudian ia menuju kamarnya dan mengambil surat yang sudah lama ia simpan.


"Ini.. aku tak pernah membukanya..". Ucap vivian menyodorkan kertas itu pada Oma.


Dengan perasaan sedikit lega, Oma memberikan surat itu pada Bu Desi, ia tak bermaksud membukanya di depan Vivian dan orang lainnya.


"Vivian.. jadi bagaimana.. kapan kau mau ikut dengan Oma..". Tanya Oma sambil menatap vivian yang duduk bersama bibi Ratih.


"Aku.. aku masih butuh..". Ucap Vivian mencari alasan.


"Dia bisa pindah sekarang juga.. lebih baik pindah secepatnya kan..". Ucap bibi Ratih menyelah pembicaraan Vivian seraya menatap Vivian seolah memberi kode.


"Tapi..". Ucap Vivian menatap bibi Ratih.


"Sudahlah Vivi.. kapan pun kamu mau kamu bisa berkunjung kemari.. oke..". Balas bibi Ratih seraya membujuk Vivian untuk ikut dengan Oma.


"Ba.. baiklah.. tapi bibi ngga papa kan kalau ngga ada aku..". Ucap Vivian kecewa.


"Kau ini.. aku akan baik-baik saja.. lagian Bella juga masih disini.. oke..". Balas bibi Ratih meyakinkan Vivian.


"baiklah.. aku akan ikut dengan Oma.. nanti aku menghubungi Bella..". Batin Vivian.


"Oke.. Jadi sudah di putuskan.. Vivian.. kau bisa pulang bersama Oma sekarang juga.. mau kan..". Ucap Oma seraya menatap Vivian.


Vivian hanya mengangguk mengiyakan ucapan Oma denga sedikit ragu, bagaimana pun ia juga akan kembali pada keluarganya.


"Kalau begitu aku siap-siap dulu.. sekalian membereskan barang ku..". Ucap Vivian seraya berpamitan menuju kamarnya.


Beberapa menit kemudian, Vivian siap untuk ikut dengan Oma, ia berpamitan pada bibir Ratih dan anak-anak yang selalu bermain bersamanya.


"Kalian.. jaga diri baik-baik yaa.. kak Vivi akan sering berkunjung.. ingat.. jangan membuat bibi Ratih repot.. oke..". ucap Vivian seraya berpamitan pada anak-anak itu.


Bersama Oma, Vivian memasuki pintu utama keluarga Cornelia dan di sambut oleh beberapa pelayan.


"Vivian.. sekarang.. ini akan menjadi rumah mu juga.. kau harus membiasakan diri di sini.. oke..". Ucap Oma sambil berjalan bersama Vivian menyusuri ruang tamu.


Vivian hanya mengangguk mengiyakan ucapan oma dengan pandangan mata yang terus menatap kemewahan setiap sudut rumah.


"Rumah ini.. besar dan mewah sekali..". Batin Vivian kagum.


"Bu Ina.. tolong antar Vivian ke kamarnya.. saya ingin menelpon Shinta sebentar..". Ucap Oma pada salah satu pelayannya.


"Baik.. mari saya antar..". Ucap pelayan itu mempersilahkan seraya menuntun Vivian menuju lantai dua.


krekkk..


Pintu terbuka, Vivian melongo menatap kedalam ruangan yang tak lain adalah kamarnya. Setiap sudut kamar berwarna pink, dinding dan juga gorden bahkan seprai juga berwarna pink. Vivian hanya mengerutkan dahi menatap warna pink yang memenuhi ruangan.


"Bagaimana.. apa anda menyukainya..". Tanya pembantu itu seraya menatap Vivian yang masih melongo.


"Ini.. apa warnanya bisa di ganti..". Balas Vivian dengan ragu.


"Apa anda tidak menyukainya.. ini adalah warna pilihan nyonya..". Ucap pembantu itu sopan dan sedikit heran.


"Se.. sebenarnya saya tidak suka warna pink..". Ucap Vivian yang membuat pembantu itu terkejut.


"Apa.. aduuhhh.. kalau begitu warna apa yang anda sukai saya akan mendekor ulang kamar anda..". Ucap pembantu itu panik.

__ADS_1


"Tidak apa.. saya tidak bermaksud merepotkan..". Ucap vivian sopan dan berusaha menenangkan kepanikan pembantu itu.


"Kalau begitu saya permisi dulu.. saya ingin melaporkan ini pada nyonya..". Ucap pembantu itu kemudian melangkah meninggalkan Vivian yang masih di depan pintu.


*


*


Pukul 12:09


Di kamar pasien 101, Stella masih terlelap dalam selimut yang sedari tadi menutupi badannya. Rangga memasuki kamar pasien saat pekerjaannya di kantor telah selesai. Ia membawa beberapa makanan, mengingat Stella yang sedari pagi belum makan. Perlahan Rangga mendekati Stella yang ternyata masih terlelap.


"Gadis ini.. belum bangun juga.. dasar kebo..". Ucap Rangga mengejek Stella yang masih tidur seraya membuka selimut yang menutupi Stella dengan kasar kemudian duduk di sofa.


Modeun ge gunggeumhae how's your day oh tell me oh yeah oh yeah, ah yeah ah yeah.


Suara nada dering ponsel Stella berbunyi dan membangunkannya. Perlahan Stella mencari keberadaan ponselnya dengan setengah sadar dan mendapati ponselnya di balik bantal. Stella mengangkat panggilan tanpa mengetahui siapa yang menelpon.


"Halo..". ucap Stella tak bersemangat dengan mata yang tertutup.


"Stella.. gue di depan.. otw masuk nih.. belum makan pasti Lo.. gue bawain makanan kesukaan Lo nih..". Ucap Kevin bersemangat sambil berjalan menuju kamar Stella.


"Hmm.. terserah deh.. gue masih ngantuk..". Balas Stella lemah kemudian memutuskan panggilan dan melanjutkan tidurnya.


tut..tut..


Rangga yang tengah duduk di sofa hanya menatap Stella dengan heran. Ia takut pada stella, takut Stella akan menodainya tanpa sengaja seperti sebelumnya.


BRAK..


Pintu terbuka lebar, Kevin memasuki kamar sambil menenteng kantong plastik di tangannya dan menghampiri Stella yang masih terlelap.


"Stella.. bangun.. gue udah bawaan nih baksonya pak Ucup.. kemarin-kemarin Lo bilangkan mau makan bakso..". Ucap Kevin seraya membangunkan Stella dengan manja.


"Bakso.. mana..". Ucap Stella sambil duduk dari baringnya dengan mata yang masih tertutup kemudian dengan manjanya ia melingkarkan tangannya di pinggang Kevin.


"Kau ini.. duduk yang benar..". Ucap Kevin seraya mengelus rambut Stella yang acak-acakan dengan lembut kemudian meletakkan bakso itu di atas meja.


Rangga terdiam menatap tingkah Stella dan Kevin yang sedang bermesraan yang sepertinya tak memerhatikan ke beradaan Rangga yang diduduk menatapnya dari sofa.


"Dasar wanita ini.. tadi pagi di menciumku.. dan sekarang dia memeluk temanya dengan manja.. sungguh tak bisa di percaya..". Batin Rangga kesal.


"Heii.. kalian ini.. seperti pengantin baru saja.. berhenti bermesraan.. Kalian bukan muhrim..". Tegas Rangga kesal menatap mereka dengan sinis.


"Apa.. siapa..". Ucap Stella dengan mata setengah tertutup yang tak sadar akan kehadiran Rangga.


To


Be


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh karakter dan tempat saya selaku penulis meminta maaf. saat


cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


Jangan lupa like dan komen ya.

__ADS_1


Salam sukses dan terima kasih.


__ADS_2