
"siapa.. siapa kau..". ucap Stella sambil menatap heran Vivian.
"siapa.. aku..". balas Vivian memperjelas.
"apa orang ini bicara dengan ku..". batin Vivian.
Stella masih menatap heran Vivian, memperhatikan seluk-beluk wajah Vivian, serasa ia tengah menatap dirinya.
Vivian terdiam menatap Stella kemudian ia mulai memasukkan cincinya ke jari tengah tangan kanannya.
Teringat akan kerjanya yang di tinggalkan, Vivian perlahan berbalik ingin kembali ke tempat kerja tanpa menghiraukan Stella sama sekali.
Stella hanya menatap Vivian yang perlahan menjauh. masih penasaran, Stella melangkah perlahan dan mulai mendekati Vivian, ia ingin menatap sekali lagi wajah Vivian.
Saat Stella mulai mengangkat tangan ingin menepuk bahu kanan Vivian, tiba-tiba dari belakang seseorang tengah berlari sambil memanggil nama Stella.
"Stella.. Stellaaaaa..". teriak seseorang dari belakang.
Terkaget Stella mengurungkan niatnya yang ingin menepuk bahu Vivian. ia berbalik dan tatapannya mulai tertuju pada orang yang semakin mendekat yang ternyata adalah Rangga.
Stella terkejut yang membuat ia mulai beranjak dari tempatnya, dengan langkah cepat ia berlari tanpa arah agar Rangga tak membawanya kembali ke rumah sakit karena ia belum menikmati es krim kesukaannya.
Rangga mulai mempercepat langkahnya saat melihat Stella mulai berlari.
"aaakkk.. gadis itu.. membuatku repot saja..". batin Ranggaa berteriak.
Saat mengejar Stella Rangga melewati Vivian yang juga tengah tergesa-gesa, ia tak menghiraukan Vivian sama sekali, tatapanya hanya tertuju pada Stella yang mulai menghilang dalam keramaian.
Vivian kembali ke tempat kerjanya menyambut para pelanggan yang masih berdatangan.
Dua orang pengawal yang menjaga sebelumya juga ikut mencari stella atas perintah Rangga, sambil memegang selembar foto di tangannya yang tak lain adalah foto Stella yang di berikan oleh Rangga.
*
*
Di sisi lain Stella mulai memasuki salah satu toko
seraya bersembunyi dari Rangga. ia mengatur nafas dalam-dalam karena lelah berlari.
Dengan wajah letih yang masih Semerah tomat, pakaian rumah sakit dan sendal yang masih melekat di kakinya sedari tadi, Stella berjongkok di samping ruang ganti. terdiam, Stella mengamati sekelilingnya, ternya ia memasuki salah satu toko baju pria.
Saat perasaannya mulai stabil, tiba-tiba dari samping berdiri Seorang lelaki yang baru saja keluar dari ruang ganti.
lelaki itu mulai menatap Stella dengan tatapan sinisnya, perlahan Stella juga mulai menengadah dan penasaran dengan sosok lelaki yang berdiri di sampingnya.
"aaakkk.. orang gilaaaa..". teriak lelaki itu terkejut menatap wajah Stella yang Semerah tomat, refleks ia mundur beberapa langkah menghindar dari Stella.
__ADS_1
Stella terkejut, ia langsung terduduk di lantai saat orang itu berteriak padanya. Stella terdiam kesal menatap lelaki itu. perlahan Stella mulai bangkit dan mendekati lelaki itu yang juga terus mundur, hingga tubuhnya mendapati dinding kaca yang membuat ia tak bisa mundur lagi.
Stella mendekat, dan dengan tatapan sinis ia menatap lelaki itu yang tengah terpojok ketakutan.
"heii.. apa kau baru saja mengatai ku orang gila..". ucap Stella dengan kesal dan perlahan menyodorkan wajahnya mendekat seolah memperlihatkan wajahnya yang Semerah tomat.
"aakk.. kau memang gila.. pergi dari hadapan ku..". ucap lelaki itu kesal dan mulai mendorong Stella agar menjauh darinya.
Stella menjauh akibat dorongan lelaki itu yang lumayan kasar. dari belakang penjaga toko mulai menghampiri.
"mba.. ini area VIP silahkan mba keluar..". ucap salah satu pegawai yang menyuruh Stella keluar dengan sedikit terkejut karena menatap wajah Stella.
Stella hanya terdiam mematung dengan tatapan sinisnya masih tertuju pada lelaki yang mengatainya gila.
"mba.. wanita gila ini.. usir aja.. saya ngga mau liat dia..". ucap lelaki itu kesal pada pegawai toko sambil membalas tatapan sinis Stella kemudian memperbaiki pakaiannya.
"iiiii... ngga perlu ngusir.. gue juga mau keluar kok.. malas gue berurusan sama cowok aneh kayak Lo..". ucap Stella kesal kemudian perlahan meninggalkan toko.
"heii.. siapa yang kau maksud aneh.. kau yang aneh bukan aku..". teriak lelaki itu tak terima sambil menatap kepergian Stella.
"mba.. lain kali jangan biarkan orang lain masuk saat saya lagi ganti baju..". lanjut lelaki itu tegas pada pegawai toko.
"I..iya pak.. saya minta maaf atas kelalaian saya..". balas pegawai itu sambil tertunduk.
"sudahlah..". ucap lelaki itu kemudian berjalan ke arah kasir.
*
*
Tanpa pikir panjang Stella memasuki toko. ia mulai memesan banyak es krim kesukaannya tanpa menghiraukan orang-orang yang tengah menatapnya. sembari menunggu, Stella menundukkan topinya berharap alerginya tak terlalu mencolok.
Di sisi lain Rangga yang tengah mencari Stella mulai merasa lelah. ia tak tau harus mencari kemana lagi.
"si cerewet mana sih.. gue udah muter-muter tapi ngga ke temu juga..". ucap Rangga sambil mengatur nafas dalam-dalam.
"haduh.. kalau bukan di suruh Oma.. gue mana mau balik ke rumah sakit jagain Stella..". lanjutnya.
"pengawal Oma juga ngga becus ngurus si cerewet.." gumam Rangga sambil berjalan perlahan mengamati sekeliling mall berharap bertemu dengan Stella.
Dan benar saja ia mendapati Stella sedang menikmati es krim di dalam toko dengan santainya. dari luar, Rangga menatap Stella dengan kesal yang tengah asik dengan es krim nya, tanpa pikir panjang ia memasuki toko dan menghampiri Stella.
"heii gadis cerewet..". bentak Rangga pada Stella sambil memukul meja dengan kesal dan tatapan kesalnya ia tujukan pada Stella.
"uhuk.. uhuk..". refleks Stella karena kaget sambil menatap Rangga.
"dasar gadis ini.. apa kau memakan es krim seperti memakan nasi..". ucap Rangga kemudian ia duduk di samping Stella sambil mengambil sebungkus es krim yang tergeletak di atas meja.
__ADS_1
"heii.. itu punyaku..". ucap Stella menatap Rangga yang mulai melahap es krimnya.
"aiihh.. sudahlah..". ucap Stella pasrah.
"kau ini.. apa kabur dari rumah sakit karena ini..". ucap Rangga mulai teringat tujuannya sambil menatap kesal Stella dan menunjuk beberapa es krim yang ada di meja.
"iya.. ahh tidak juga.. aku masih harus membeli beberapa biskuit..". ucap Stella polos sambil menikmati es krim.
Rangga hanya menatap heran dan kesal pada Stella atas jawaban yang ia lontarkan. Rangga mulai mengamati sekeliling dan mendapati tatapan orang-orang tertuju padanya, tidak, lebih tepatnya tertuju pada Stella yang masih memakai pakaian rumah sakit, serta wajah dan tangan yang juga masih memerah karena alergi.
Tak tahan di perhatikan, Rangga denga kesal mulai memasukkan es krim yang ada di meja kedalam kentong plastik kemudian menarik tangan Stella dengan paksa keluar dari toko.
"heii.. Lo apa-apaan sih.. pake narik segala..". ucap Stella kesal dari belakang dan masih menikmati es krim yang ia pegang dan tangan lainya di tarik Rangga.
"Lo yang apa-apaan.. kalau mau es krim kan tinggal bilang aja.. ngga perlu keluar dari kamar pasien.. apa lo ngga sadar.. orang-orang memandang aneh Lo..". ucap Rangga kesal sambil menarik tangan kanan stella dan menuntunnya.
"gue sadar kok.. karena alergi gue..". sahut Stella dari belakang.
Mendengar itu Rangga tiba-tiba berhenti dari langkahnya dan perlahan berbalik menatap Stella yang masih menikmati es krim nya.
"terus.. kalau kamu sadar.. kenapa ngga balik ke rumah sakit..". ucap Rangga sambil menahan kesal.
"mau makan es krim..". jawab Stella polos.
"akkkk.. Lo nyusahin gue aja.. udah.. balik ke rumah sakit.. ini udah mau malam..". ucap Rangga kesal sambil melanjutkan langkahnya dengan menuntun Stella agar Stella tidak kabur lagi.
Rangga dengan kesal menuju kamar pasien nomor 101 yaitu kamar Stella sembari masih memegangi tangan Stella, dan Stella yang sedari tadi masih sibuk dengan es krim nya.
Saat hampir sampai di depan pintu, dua orang pengawal yang sebelumnya berjaga juga telah kembali dan berdiri di depan pintu dengan ekspresi wajah heran menatap Rangga dan Stella.
Rangga tak peduli dengan ekspresi mereka, dan dengan sigap ia masuk ke kamar pasien bersama Stella.
"aaaaaaaa..". teriak Rangga saat mendapati seseorang tengah duduk di samping pintu yang membuat ia terkejut.
Stella mulai menatap wanita itu yang sepertinya tidak asing baginya. wanita itu mulai menengadah dari tunduknya menyadari kehadiran seseorang, terkaget, ia melotot menatap Stella.
"kau..". ucap Stella menatap wanita itu.
To
Be
Continue
jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
jangan lupa like, dan komen.
__ADS_1
salam sukses dan terima kasih.