
Sebelumnya.
Stella menelpon Kevin agar menjenguknya, berharap Kevin akan menghiburnya.
tut..tut..
"Halo ada apa stella..". ucap Kevin saat tau Stella yang menelpon.
"apa kau bisa datang kemari.. temani aku.. temanmu ini lagi bersedih..". ucap nya manja mengadu pada Kevin.
"aaiih.. aku banyak urusan.. tidak bisa menemani mu.. kau cari orang lain saja..". ucap Kevin dengan sedikit acuh seraya menolak ajakan Stella.
"apa maksudmu.. aku tidak punya banyak teman.. kau pasti hanya sibuk dengan para gadis aneh mu itu.. temani aku yaa.. pliss..". ucap Stella yang masih setia dengan manjanya.
"aiihh.. aku tidak bisa menemanimu oke.. aku akan menjenguk mu besok..". balas Kevin kemudian mematikan ponselnya seolah tak mau mendengar kemanjaan Stella.
tut..tut..
"aaakkk.. Kevin juga tak mau menemaniku.. sekarang aku terjebak di sini..". teriak Stella kesal yang membuat dua orang pengawal Oma terkejut dan menatap ke dalam.
"oh iya.. besok bukannya aku kerja.. baiklah.. aku akan pergi kerja..". ucap Stella teringat akan interview sebelumnya kemudian dengan senyum sinis ia menatap hpnya dan menelpon Oma.
tut..tut..
"ada apa kau menelpon ku..". ucap Oma kesal.
"heii.. jangan begitu.. besok aku akan ke kantor untuk bekerja bukan.. jadi..". ucap Stella lembut seraya ingin membujuk Oma.
"tidak ada kerja untukmu.. diam saja di sana selama dua hari..". balas Oma kesal kemudian memutuskan panggilan.
tut..tut..
"apaaaaaa.. tidak ada kerja.. apa Oma sengaja.. akkk.. aku bisa gila di sini terus..". ucap Stella kesal seraya meletakkan ponselnya dengan kasar.
Dan di sinilah Stella, yang berbaring dengan berusaha membuat matanya terpejam dalam selimut kemudian seseorang datang padanya yang entah siapa.
"aaaaaa..". teriak orang itu yang membuat stella terkejut dan penasaran akan sosoknya.
"siapa yang berteriak.. membuatku emosi saja..". batin Stella seraya duduk dari baringnya dengan tatapan sinis mental orang itu.
"aaakkk.. orang gilaaaa..". lanjutnya berteriak saat menatap Stella.
"kauuuu.. orang aneh..". tegas Stella saat menatap orang itu yang ternyata orang yang ia temui di toko sebelumya.
"apa yang kau lakukan di kamarku..". lanjut Stella dengan sinis kemudian menghampiri orang itu yang tersandar terkejut di dinding seraya melotot menatap Stella yang kian mendekat.
"jangan mendekat..". bentak orang itu kemudian mengambil vas bunga dari meja dan menyodorkan nya pada stella dengan tujuan melindungi diri.
"aaiih.. sudahlah.. aku tidak akan mendekat.. kita bicara baik-baik oke..". ucap Stella menahan emosi dan berusaha berbicara lembut padanya.
"kau di sana saja.. aku bisa tertular penyakitmu itu jika kau mendekat..". ucap orang itu seolah mengejek Stella.
"apaa..". tegas Stella kesal.
Saat stella ingin memulai pembicaraan, tiba-tiba ponsel berbunyi yang ternyata ponsel dari orang aneh itu.
Tringg..Tringg..
__ADS_1
Suara nada ponsel mengagetkan orang itu, kemudian dengan sigap ia mengangkat telpon di depan Stella seraya berusaha ingin keluar dan menghindar dari Stella yang terus saja menatapnya.
"halo.. kau dimana.. aku menunggumu dari tadi..". ucap seseorang lewat telpon dengan kesal yang membuat orang itu menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"aku sudah sampai.. aku bahkan ada di kamar mu sekarang..". balas nya panik seraya melirik Stella dari ranjang.
"apa maksudmu.. dari tadi aku di kamar.. apa kau benar ke kamar 102.. kau pasti salah kamar lagi.. cepat kemari..". lanjut orang itu lewat telepon dengan kesal seraya memberi perintah.
"apaaa.. kamar 102.. ahhh sial.. aku akan ke sana.. tunggu aku..". balasnya kesal sambil menatap nomor yang melekat di depan pintu seraya beranjak keluar dan meninggalkan Stella dengan banyak pertanyaan tanpa mengucap satu kata pun.
"orang itu.. memang aneh..". gumam Stella kesal menatap kepergian orang itu yang tergesa-gesa.
Tepat setelah orang itu keluar dengan ponsel yang masih melekat di telinganya, Rangga berdiri di luar seraya berbincang dengan dua orang pengawal Oma.
Perlahan pengawal itu beranjak dari tempatnya kemudian menatap Stella dari dalam seraya berpamitan karena sudah larut.
Perlahan Rangga memasuki kamar pasien dengan membawa kantong plastik bertengger di jarinya yang membuat stella penasaran.
"heii.. apa yang kau bawa..". ucap Stella saat Rangga menghampirinya dengan menyodorkan kantong plastik itu padanya.
"siapa pria yang keluar dari kamar mu sebelumnya.. tengah malam begini.. apa dia pacarmu..". tanya Rangga mengingat seseorang yang berpapasan dengannya.
"dia.. ngga tau.. orang gila kali..". balas Stella santai seraya menatap kantong plastik berisikan makanan ringan.
"yeeiii.. cemilan tengah malam.. eee tunggu.. soda..". ucap Stella saat mendapati dua botol soda dalam plastik yang membuatnya sedikit heran seraya menatap Rangga.
"itu punyaku.. kau kan alergi dengan itu..". ucap Rangga kemudian mengambil dua botol itu dari kantong plastik.
"apa yang kau lakukan disini..". tanya Stella.
"aiihh.. apa perlu menemaniku di rumah sakit.. aku tak akan kabur.. aku tak punya tempat tujuan tengah malam begini..". ucap Stella pasrah sambil menikmati biskuit.
Rangga duduk di sofa seraya sibuk dengan hpnya dan sesekali ia menikmati sodanya. dari ranjang pasien, Stella sesekali menatap Rangga yang sibuk kemudian dengan kesal ia mendesah.
"aiihh.. dia ternyata bisa juga tak cerewet.. aaa.. setidaknya seseorang menemaniku disini.. aku mana bisa tidur di rumah sakit..". batin Stella.
Rangga mulai membaringkan tubuhnya seraya masih sibuk dengan ponselnya dan sesekali ia tersenyum mentap layar hpnya entah apa yang ia lakukan.
Stella yang sedari tadi hanya terduduk diam menikamati cemilanya. Mengira Stella sudah terlelap Rangga mentap Stella dengan mengerutkan dahi saat mendapati stella yang ternyata masih asik dengan cemilannya.
"heii.. kenapa kau belum tidur.. ini sudah larut..". tanya Rangga cuek dan masih sibuk dengan ponselnya.
"aku tak bisa tidur di sini.. rasanya tidak nyaman.. bolehkah kau tukar dengan ku.. aku tidur di sofa.. kau..". Ucap Stella lemah seraya meminta pada Rangga untuk bertukar tempat.
"tidak bisa.. kau pasiennya.. bukan aku.. paksakan saja matamu tertutup..". Balas Rangga menyela ucapan Stella dengan ketus sambil menatap ponselnya.
"hhaiiihh.. baiklah..". Ucap Stella kecewa.
"oh iya.. apa besok kau ke kantor..". Lanjut Stella saat mengingat besok hari pertama kerja.
"iya.. aku ke kantor jam 08:00.. pengawal Oma akan menjagamu dari luar.. ingat.. jangan berbuat ulah lagi.. lusa kau akan pulang..". Balas Rangga cuek tanpa menatap stella sama sekali.
"baiklah..". Ucap Stella seraya membaringkan tubuhnya bersama sebungkus biskuit di tangannya dan berusaha melelapkan matanya.
tak..tak..tak..
Suara jam seraya menghipnotis, Rangga sudah terlelap dalam tidurnya di sofa dekat ranjang pasien. Malam semakin larut menyisakan Stella yang tak bisa tidur dan masih mengunyah biskuit dengan tak berselera lagi.
__ADS_1
Sesekali Stella menatap jam kemudian menatap Rangga yang terlelap.
"aiihh.. aku tak bisa tidur sama sekali..". gumam Stella seraya menatap Rangga.
kringgggg.. kringgggg..
Suara alarm berdering dari hp Rangga yang membuat ia mulai mengulurkan tangan mencari keberadaan ponselnya, dengan mata yang setengah tertutup ia mematikan alarm ponsel kemudian berusaha membuka mata dan duduk dari baringnya.
"aaaaaaaa..". teriak Rangga saat mendapati zombi di depannya, yang tak lain adalah Stella yang masih memeluk cemilan di tangannya sambil bersimpuh di dekat sofa.
"apa yang kau lakukan..". tanya Rangga terkejut kemudian duduk menatap Stella dengan heran.
"aku tak bisa tidur..". balas Stella lemah kemudian mengunyah cemilannya dalam keadaan rambut yang acak-acakan dan baju yang sedikit kotor akibat serpihan biskuit yang ia makan.
"astaga.. lihat kantong matamu.. aku seperti melihat hantu saja.. tak bisa tidur.. lalu apa yang kau lakukan semalaman..". tanya Rangga seraya bangkit dan merenggangkan badannya yang terasa kaku.
"aku hanya makan cemilan.. kemudian menonton drama Korea sampai bosan.. dan aku baru ingat dengan obat tidurku pagi ini.. haiihh...". Ucap Stella tak bersemangat seraya matanya terasa berat.
"sudah ku bilang aku tak bisa tidur.. aku bahkan belum memejamkan mata dari semalam..". lanjutnya lemah.
bruk..
Stella tersungkur di lantai bersama cemilannya layaknya orang yang tengah pingsan yang membuat Rangga terkejut.
"hei.. hei cerewet.. ada apa denganmu..". Tanya Rangga menghampiri kemudian mengguncang tubuh Stella.
"jangan ganggu aku.. tidur..". Ucap Stella setengah sadar dan lemah seraya memperbaiki posisinya.
Rangga hanya tercengang menatap Stella yang sepertinya tak apa, kemudian ia menatap sebotol obat di atas meja yang ternyata adalah obat tidur.
"aihh.. dia baru saja minum obat tidur.. mengagetkan ku saja..". Ucap Rangga menatap obat dan kemudian menatap Stella yang terlelap di samping sofa.
Tanpa pikir panjang ia memopong Stella menuju ranjang pasien.
"Oma.. jangan hukum aku.. ku..mohon..". Ucap Stella tiba-tiba dengan nada lemah sambil menggenggam erat baju Rangga dari belakang dengan mata yang masih tertutup.
Rangga hanya terkejut akan apa yang stella ucapkan dan perlahan membaringkannya di bidang datar pasien serta berusaha melepas genggaman tangan stella yang terus memegang bajunya.
"Oma.. kumohon..". Ucap Stella lagi yang membuat Rangga tercengang menatap keanehannya seraya berusaha melepas tangan Stella.
"Gadis ini.. apa kau selalu mengigau seperti ini.. sungguh gadis aneh..". Batin Rangga menatap Stella seraya melepas tangan Stella.
Tiba-tiba Stella melingkarkan tangannya ke leher Rangga yang membuat Rangga masuk dalam dekapannya dan tanpa sengaja bibir tipisnya mendarat dalam bibir lembut Stella yang membuat ia terkejut setengah mati.
Deg.. deg.. deg..
To
Be
Continue
Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.
Jangan lupa like, dan komen yaa.
Salam sukses dan terima kasih.
__ADS_1