Twin Sister

Twin Sister
eps 32


__ADS_3

Beberapa menit kemudian mereka tiba di kediaman Cornelia. Tampak Stella di tarik paksa oleh Rangga keluar dari mobil menuju pintu utama. Tak ingin di tarik lagi, Stella kian berlalu dengan langkah kasar memasuki rumah.


“Sepertinya Oma harus bisa membujuk Stella agar menjalani perawatan seminggu di rumah sakit! Saya takut obat yang kita berikan tidak terlalu ampuh untuk mempertahankan organ dalamnya!” ujar dokter Rahma yang duduk di sana bersama Oma di ruang tamu.


Mendengar itu Stella berhenti dari langkahnya, ia bersembunyi di balik pintu menyimak pembicaraan mereka di sana. Stella mengajak Rangga bersembunyi bersamanya, berharap Rangga tak bersuara.


“A apa yang mereka maksud tentang ku!” gumam Stella.


Ingin mendengar lebih banyak pembicaraan Oma dan Dokter Rahma, Stella kerap mengendap-endap memasuki rumah dan mendekati belakang sofa di mana Oma dan dokter Rahma duduk.


“Apa yang kita lakukan?” bisik Rangga bertanya.


“Stttt.. Diam!” perintah Stella.


Selama ini Stella penasaran, mengapa setiap minggu Oma melakukan pemeriksaan untuknya, padahal menurutnya ia baik-baik saja.


“Apakah obat yang selalu di minum Stella tak bisa membantu memperbaiki organ dalamnya!” ujar Oma.


“Sepertinya begitu, makanya lebih baik setiap satu minggu kita usahakan membawa Stella ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, agar dokter Justin juga bisa menelitinya lebih dalam lagi!” saran dokter Rahma agar Oma segera menyetujuinya, jaminan akan perawatan Stella sendiri tak lain adalah dokter Justin, salah satu dokter organ yang paling di banggakan di rumah sakit.


“Aku akan berusa membujuknya!” jelas Oma.


“Oh iya, bukankah anak yang satu itu sudah datang? Kapan kita bisa memulai pemeriksaan untuknya juga, takutnya dia malah lebih parah dari keadaan Stella!” tmujar dokter Rahma yang mencari sosok Vivian.


“Besok saja dokter, hari ini fokuskan untuk memeriksa Stella lebih dulu, katakan padaku jika ada hal yang menjanggal!” jelas Oma yang di balas anggukan oleh dokter Rahma.


“Se sebenarnya kamu sakit apa?” tanya Rangga, baru kali ini ia mendengar tentang keadaan Stella yang sepertinya sungguh parah.


“A aku juga tidak tau?” bisik Stela, selama ini penyakit itu selalu di rahasiakan darinya.


“Apa maksudmu tidak tau, kau sakit apa tidak bertanya pada dokter!”


Di balik sofa mereka berdua mulai gaduh akan pembicaraan yang tak kunjung selesai. Sementara Oma dan dokter Rahma yang masih asik mengobrol mulai merasakan kehadiran Stella dan Rangga di sana.


Oma mengintip, penasaran ada apa di balik sofa. Benar saja, Oma melihat sosok yang sedari tadi di tunggunya bersembunyi di sana. Oma menyuruh dokter Rahma untuk diam, setelah dokter Rahma menerima perintah itu, Oma mulai melangkah dengan pelan menghampiri Stella dan Rangga yang masih gaduh.


“Sudah jangan bertanya lagi, kita akan ketahuan!” ujar Stella memberi peringatan.


“Ketahuan?” ujar Oma.

__ADS_1


“Sudah diam!” tegas Stella lagi yang mengira bahwa Rangga yang baru saja bersuara.


“Ta tapi bukan aku yang bersuara!” ujar Rangga membela diri.


“Kalau bukan kau sia..” ujar Stella lagi, tiba-tiba ia terhenti karena melihat Oma yang berdiri tepat di belakang Rangga, tengah menatap tajam padanya.


“Ada apa?” tanya Rangga yang mulai gugup melihat ekspresi Stella yang tercengang.


“O Oma..”


“Oma?” jelas Rangga yang kian menatap arah pandang Stella, dan benar saja ia mendapati Oma di belakangnya.


“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Oma dengan tatapan serius.


“A.. Tidak ada.. Kami baru saja tiba!” ujar Stella gelagapan tak bisa mengelak dari pertanyaan itu, yang tanpa memberi tahu pun, Oma juga tau akan apa yang mereka lakukan.


“Kemari..” seru Oma menyuruh Stella duduk di sampingnya bersama dokter Rahma.


Rangga juga ikut bergabung, duduk di salah satu sofa mengamati mereka.


“Oma.. sebenarnya aku sakit apa?” tanyanya Stella memberanikan diri mengajukan pertanyaan itu.


“Kau sakit parah, diam dan jangan bertanya lagi! Dokter Rahma sudah lama menunggu mu!” ujar Oma yang malah memberi perintah, mengelak dari pertanyaan Stella.


Perlahan dokter Rahma mulai memeriksa Stella, mulai dari detak jantung kemudian denyut nadi. Setelah merasa cukup, dokter Rahma memberi resep obat untuk Stella. Tanpa menjelaskan apa pun pada Stella, dokter Rahma hanya memberi anggukan kecil untuk Oma kemudian berpamitan dengan sopan.


Jelaslah Stella merasa bingung akan situasi ini. Dokter Rahma bahkan tak menjelaskan apa pun padanya, tentang penyakit apa yang ia derita hingga harus menelan banyak macam obat.


“Ingat.. minum obat ini!” tegas Oma kemudian mulai beranjak dari sana, tanpa penjelasan apa pun layaknya dokter Rahma.


“Oma, sebenarnya ada apa dengan ku!” Stella meraih tangan Oma, menahan Oma dari langkahnya sebelum menjawab pertanyaannya.


“Kau sedang sakit!”


“Aku tau, tapi sakit apa? kenapa setiap hari aku harus meminum obat seperti ini, dan lagi obat ini juga berbeda dari obat bulan lalu!” rengek Stella yang mulai sendu.


“Sudah.. Kamu ikuti saja resep obat itu, jangan membuat Oma sakit kepala, ini juga demi kebaikan mu!”


“Tapi jelaskan dulu, ada apa dengan ku! Kalau tidak aku tak akan meminumnya!”

__ADS_1


“Stella, mengetilah! Ini demi kebaikan mu, apa kau lebih memilih tinggal di rumah sakit untuk pemeriksaan!” tegas Oma.


“Ti tidak.. Tapi!” ujar Stella yang masih berharap Oma memberi kejelasan yang hakiki untuknya.


“Jangan bertanya lagi dan makan obat itu!” jelas Oma kemudian menepis tangan Stella dan berlalu meninggalkannya.


Setelah kepergian Oma, Stella terdiam, ia temenung memikirkan apa yang terjadi dengan dirinya. Selama ini Oma selalu saja menyembunyikan sesuatu.


Kali ini apa pun yang di sembunyikan Oma sama sekali tak membuatnya terkejut. Pertama kali Stella tau bahwa ia bukan cucu kandung Oma, ia sudah sangat syok, berusaha ia menyembunyikan fakta bahwa ia belum tau tentang identitasnya itu, agar mereka tak khawatir.


Stella sadar, selam ini pula ia belum pernah melihat foto dari sosok wanita yang ia anggap ibu. Oma sengaja menyembunyikannya, bukan saat yang tepat baginya jika harus menceritakan semuanya sekarang, itulah kata yang selalu Oma ucapkan pada Stella. Harapan palsu agar Stella tak banyak bertanya lagi, karena bagi Oma menceritakannya bukanlah hal tepat, ia lebih memilih menyimpan rahasia itu selamanya.


Sampai sekarang Stella sudah bersabar, bersabar menunggu kebenaran dari Oma. Tapi tanpa sadar satu persatu kebenaran muncul di hadapan Stella secara kebetulan. Kemarin malam, tak sengaja Stella mendapat sebuah kertas penting di ruangan Oma, surat yang berisikan pesan untuk memberi Vaksin padanya sedikit demi sedikit.


Dan hari ini ia mendengar sendiri saran dari dokter Rahma, saran agar perawatannya di lakukan di rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Jelaslah hal itu bukan masalah kecil, entah penyakit apa yang di derita Stella. Terlebih lagi mereka juga ingin memeriksa keadaan Vivian, ada apa sebenarnya?.


Memikirkan semua ini, membuat Stella jadi pusing. Banyak hal yang terjadi, banyak pula rahasia yang tak ia ketahui tantang dirinya sendiri.


Pikiran negatif mulai merajai otaknya, perlahan-lahan ia mulai menangis, di sela tangisnya Stella berjalan luntai menuju kamarnya. Rangga hanya menatap heran seraya mengikuti Stella dari belakang. Ia sedikit mengerti keadaan Stella sekarang.


Stella mulai sesak nafas di sela tangisnya. Perlahan langkahnya kian lemah, setelah sampai di lantai dua, tepatnya di depan pintu kamarnya sendiri, ia berjongkok.


Stella menangis sejadi-jadinya. Rangga yang melihatnya kerap merasa sedih, walau sebenarnya ia tak tau alasan dari tangis dan sedih itu.


“Ka kau mengapa menangis.. Sudah-sudah jangan menangis lagi!” bujuk Rangga yang kian tak tega.


Kata-kata Rangga sama sekali tak di dengarkan oleh Stella, tangisnya semakin menjadi. Rangga berjongkok, berusaha menenangkan Stella dalam pelukannya.


Nafas Stella kian tersengal, ia mulai tak bisa menahan sesaknya. Buru-buru Stella bangkit membuka pintu, di carinya obat yang sering ia minum. Tapi saat ia mendapati obat itu, sebaliknya Stella malah membuang semuanya.


“Le lebih baik aku mati dari pada meminum racun ini lagi!” ujar Stella di sela sesak nafasnya yang menjadi jadi.


Semua obat ia hambur kan, bahkan obat yang baru saja di resepkan padanya juga ia buang sembarangan sehingga berserakan di lantai. Rangga heran akan apa yang terjadi pada Stella yang kian menggila.


“Ada apa denganmu?” tanyanya yang berusaha menenangkan Stella dengan mendekap erat sosoknya.


To


Be

__ADS_1


Continue


Jika terdapat kesamaan nama tokoh, karakter, dan tempat, saya selaku penulis meminta maaf. Cerita ini hanya fiktif belaka tidak bermaksud menyinggung para pembaca dan pihak lainnya.


__ADS_2